HiPPO

Sudah satu jam Wahyu dan kawan-kawan sekerjanya berdiskusi di ruang meeting. Saat itu ada 6 orang dari sektor yang berbeda-beda dari toko online mereka yang sedang saling bertukar pendapat. Wahyu dari sektor layanan pelanggan duduk di bagian tengah; persis berdampingan dengan Lina dari bagian pengembangan aplikasi dan Dito dari desain dan produksi. Mereka sedang menimbang sebuah masukkan dari sekitar 800-an pelanggan mereka yang minta Sofa set yang ditawarkan punya opsi untuk ruangan yang relatif kecil. Minimal bisa pilih setengan set-lah.

Dito menyambut positif saran ini dan memastikan kalau Sofa yang dimaksud juga bisa menghasilkan margin lebih banyak dengan menjualnya satuan ketimbang per set. Bahkan, Dito pun menyarankan variasi bahan dan corak untuk memikat lebih banyak pembeli. Lina mencerna semua perubahan itu dan bersiap dengan kerangka waktu yang ia ajukan hingga aplikasi mereka siap.

Proses selanjutnya tentu saja harus diikuti dengan rangkaian hitungan finansial dan rasionalisasi target dari perubahan yang diminta pelanggan tadi. Itulah sebabnya, banyak pihak ikut hadir dalam diskusi. Termasuk Bapak CEO yang terhormat, Ardi, yang baru saja masuk ruangan karena terlambat. Ia segera menyapa semua yang ada dalam ruangan dan menanyakan sampai mana diskusinya.

Belum juga Wahyu selesai menjelaskan, Ardi segera memotong dan memutuskan: “waduh repot lah. Udah, kita tetep jual Sofa seperti biasa dan lebih baik fokus ke Meja Kerja yang penjualannya low banget. Kita akan buat promo Meja Kerja mulai minggu depan. Coba hubungi bank-bank yang bisa memberikan cicilan 0%…

Seketika diskusi selama 1 jam 15 menit terbuang percuma hanya karena beberapa patah kalimat yang keluar ndak lebih dari 15 detik. Ndak ada yang bisa melawan keputusan Ardi. Analisa Dito dan kawan-kawannya juga ndak lagi diperlukan. Lebih tragis, perusahaan baru saja mengabaikan 800-an suara pelanggan yang ndak ternilai harganya. Ini yang disebut Highest Paid Person’s Opinion (HiPPO) atau Pendapat Seorang Dengan Gaji Tertinggi (Pesangigi?).

HiPPO. Sumber: Google.

Entah berapa banyak waktu meeting di bumi ini yang terbuang sia-sia karena HiPPO. Di beberapa perusahaan, semua keputusan adalah HiPPO. Pegawai lain cuma orang yang menerima perintah tanpa tahu alasannya. Atau, mereka sudah ndak peduli lagi. Yakinlah, HiPPO bahkan dianggap lumrah dan menjadi bagian etika bekerja di banyak perusahaan sekarang ini. Jangankan keputusan perusahaan. Meeting sederhana saja banyaknya hanya jadi bahan pembenaran HiPPO. Jadwal meeting manajerial mingguan sebaiknya diganti jadi “Jadwal Minggunan Mendengarkan Keputusan Pak Direktur.

Lalu, berapa besar kemungkinannya HiPPO benar? Hasil studi the Rotterdam School of Management menyimpulkan ndak lebih dari 5.2% keputusan tersebut benar dan mencapai target. Artinya, 94.8% HiPPO sok tau! Studi ini juga menjawab kecurigaan kalau kekuasaan dan jabatan membuat orang sewenang-wenang. Studi yang sama menyebutkan bahwa suatu proyek yang dipimpin oleh manajer junior lebih sering sukses ketimbang proyek yang dipimpin langsung oleh pegawai yang lebih senior, karena sang junior leluasa mengutarakan kritik dan mempertanyakan langkah-langkah perusahaan melalui pertimbangan yang jauh lebih matang daripada sekedar intuisi pak bos.

HiPPO adalah penyakit yang melumpuhkan perusahaan. HiPPO juga obat bius yang menjadikan pegawai malas berfikir, apalagi mengambil risiko. HiPPO menomorduakan data dan fakta. Menyangkal kebutuhan yang paling mendasar dari perdagangan: pelanggan.

Advertisements

Bomb Joke

28 Mei 2018. Beberapa penumpang Lion Air JT 687 di Bandara Internasional Supadio Pontianak berhamburan keluar pintu darurat karena ada yang teriak BOM di dalam. Singkat cerita, seperti semua insiden serupa; pelaku ditangkap, ndak ada bom meledak, beberapa terluka, pesawat kembali terbang meski tertunda.

Pesawat Lion Air JT 687 di Bandara Internasional Supadio Pontianak yang mengalami delay karena Bomb Joke. Sumber: tribunpontianak.co.id

Dalam satu dekade terakhir saja, tercatat 211 insiden. 80%-nya disebabkan oleh guyon. Secara Internasional dikenal dengan sebutan “Bomb Joke.” Artinya, ada 169 orang yang punya selera humor lethal yang ndak lucu. Tapi, karena macam-macam alasan, mereka harus memainkan candaan tersebut. Ada motif psikologis di balik tiap tindakan. Sampai saat ini belum didapati alasan finansialnya. Misal, ada yang memberi imbalan pada pelaku. Meski bisa saja terjadi mengingat persaingan bisnis yang keras.

Industri aviasi sudah mengantisipasi ini. Beragam prosedur reaktif disiapkan. Pelatihan penanganan “Bomb Joke” diterapkan. Seluruh maskapai mematuhinya. Yang terjadi di Pontianak: Pramugari dengan sigap dan tenang mengeluarkan penumpang berurutan melalui pintu keluar teraman. Hanya sekitar 7 orang yang panik, lalu merangsek ke luar dari pintu darurat. Mereka inilah yang mengalami luka sebab melompat dari sayap pesawat.

Panik. Ini yang diharapkan pelaku. Kepanikan biasanya diikuti oleh kekacauan, dan tentu saja ada korban dari tiap kekacauan. Minimal, kerugian material yang harus diidap penumpang lain dan maskapai karena keterlambatan atau pembatalan terbang. Kalau betul motif pelaku adalah menimbulkan kepanikan, apalagi menginginkan jatuhnya korban. Walaupun ndak betul-betul ada bom yang ia rakit, ia sudah melakukan teror. 7 orang yang melompat dari sayap pesawat tadi merasa terancam. Mereka adalah korban langsung dari teror “Bomb Joke.” Atau dalam hal ini, sudah berubah menjadi “Bomb Threat.”

Bagi siapapun yang bercanda soal bom di lingkungan bandara dan pesawat dapat dikenakan sanksi penjara paling lama satu tahun. Peraturan ini tertuang dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang penerbangan yang bunyinya: “Setiap orang yang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud Pasal 344 huruf e dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.”

Kenyataannya, setelah 10 tahun peraturan di atas berlaku, ndak berhasil menghentikan lawakan ndak lucu itu di dunia penerbangan. Sama seperti rambu dilarang STOP di jalanan Indonesia. Lengkap dengan aturan dan sanksi. Ia ada di situ. Berdiri tegak 24 jam sehari. Sebagai tiang penyangga warung Pecel Lele 89 yang sambelnya lebih galak dari peraturan yang ia langgar.

Sebagai evaluasi saja, pelaku bom biasanya ndak memberikan informasi apapun dalam menjalankan aksinya. Apalagi berteriak BOM! Jadi, orang yang berteriak BOM pastilah bukan perakit bom. Toh pada akhirnya ndak ditemukan bom yang dicurigai mengancam nyawa banyak orang. Seperti namanya, “Bomb Joke” akan tetap jadi joke. Tapi SOP adalah SOP, ia harus dijalankan, bahkan jika pengalaman satu dekade bilang percuma.

Belajar dari pengalaman, ada baiknya isi Undang-Undang penerbangan di atas dilengkapi sedikit menjadi: “menyampaikan informasi palsu dan tindakkan yang membahayakan keselamatan penerbangan.” Hal ini memperluas teriakkan BOM, mencakup teriakkan ALLAHU AKBAR dan doa-doa perang Badar.

Catatan: tulisan ini terbit atas tekanan ndak berperasaan pemilik Linimasa, Roysayur, melalui Instagram yang bilang “mungkin linimasa lebih banyak ngumpulnya daripada nulisnya.” Bayangin…

Iman

Suzuki Ignis biru melesat zig-zag di antara beberapa mobil yang berjalan lambat karena macet. Bajingan kecil ini hampir seperti motor roda dua di ruas jalan berkapasitas empat baris. Mobil yang cocok dengan kebutuhan Iman yang harus segera sampai di kantor cabang utama tempatnya bekerja sebelum pegawainya bubar jalan habis makan siang. Ini mobil ke tiga Iman setelah dua sebelumnya ndak mampu mengimbangi kesibukannya.

Suzuki Ignis Biru pilihan Iman. Sumber: magiccars.gr

Iman hapal betul, tuntutannya ndak bakal diproses kantor pusat tanpa otorisasi kantor cabang utama. Kantor cabang utama ndak akan dengar tanpa restu kantor cabang pembantu. Dan cabang pembantu ogah repot kalau ndak disetujui pihak operasional kantornya. Perusahaan thogut ini pantas bubar, pikir Iman. Mau didengar saja berbelit-belit.

Iman sedang goyang. Pasalnya sekretaris baru bosnya pakai rok mini. Ndak bisa dibiarkan. Bukan hanya bisa mengotori pikirannya, tapi akan mengundang bencana di lingkungan kantor Iman. Laknat yang cuma Iman yang bisa mencegahnya. Bagian personalia diam saja. Kawan satu divisinya sering pergi ke luar kota. Tinggal Iman yang bisa diandalkan. Ia harus bertindak, sekarang juga!

Iman punya enam kualitas personal yang menakjubkan. Ia percaya diri, ndak suka menunggu, teguh pendirian, kompetitif, sukar didebat dan sensitif pada lingkungannya. Dosen kuliahnya dulu menjuluki Iman sebagai mahasiswa yang paling cemerlang dan keras kepala di antara kawan-kawan satu angkatan. Ndak salah kalau karir Iman meroket. Ia tumbuh jadi manajer pemasaran paling dipercaya setelah meraih gelar Master hanya dalam waktu satu tahun sejak kelulusan sarjana strata satu. Apapun yang ia jual, pasti ada yang beli. Laku keras. Ia sentuh kayu, kayu jadi emas. Sentuh emas, emas jadi berlian. Pencapaian luar biasa yang tak terbandingkan, bahkan oleh atasannya sendiri.

Kualitas setara Iman tentu saja jadi aset vital perusahaan. Ialah ujung tombak saat perusahaan mau memperluas pasarnya. Atau memperkenalkan produk baru, entah dibutuhkan maupun ndak oleh orang banyak. Tingkat kepercayaan pelanggan pada Iman sudah menembus batas nalar. Beberapa bahkan rela menggadaikan semua milik mereka. Sekarang ini, bualan imanpun akan diamini banyak pelanggan.

Suzuki Ignis biru sudah sampai di gerbang masuk. Satpam kantor cabang utama siap siaga tiap kali bajingan kecil ini datang. Ia tiup peluit keras-keras memanggil petugas valet yang berjarak sekitar lima puluh meter di dekat pilar lobby. Seketika petugas valet berhamburan menghampiri Suzuki Ignis biru. Iman keluar dengan wajah bertekuk menandakan tingkat kegentingan yang ndak bisa ditunda lagi. Melemparkan kunci ke salah satu petugas terdekat. Lalu masuk melalui pintu VIP tanpa mesin pemindai keamanan. Iman ndak punya waktu untuk memperhatikan bahwa petugas yang menerima lemparan kuncinya bukan petugas valet, melainkan petugas kebersihan yang baru saja selesai mengemasi sampah di lobby. Ia tercekat sesaat, sampai seseorang meraih kunci tersebut dari tangannya.

“Ayo cepet ngucap. Untung Pak Iman lagi buru-buru. Bisa kena marah kamu sembarangan pegang kuncinya…”
“Loh, wong Pak Iman sendiri yang salah lempar kok…”
“Udah diem kamu! Dikasih tau kok malah balik nyalahin Pak Iman. Dipecat kamu nanti.”

Iman memasuki salah satu dari enam elevator yang saling berhadapan tiga-tiga. Empat orang di belakangnya mengurungkan niat untuk naik satu tarikan dengan Iman. Mereka pilih menunggu elevator lain. Iman ndak pikir lama, ia tekan tombol 7 diikuti tombol tutup pintu meninggalkan keempat orang tadi saling berpandangan di hadapan elevator.

“Mbak Teges, saya mau melaporkan Cinta, sekretaris baru yang pakai rok pendek. Kalau bisa dikeluarkan segera. Hal seperti ini nggak bisa dibiarkan.”
“Pak Iman. Baru kemarin lusa lho kami memproses pak Sabar atas laporan bapak soal nyanyian Pak Sabar di toilet.”
“Ini beda!”
“Seminggu lalu pak Adil juga keluar karena Pak Iman keberatan sama lukisan beliau.”
“Gambar Palu Arit dilarang!”
“Mas Tentrem juga baru…”
“Sesat si Tentrem itu. Kejawen!”

Iman menandatangani laporannya dengan harapan Cinta segera angkat kaki seperti Sabar, Adil, Tentrem dan lainnya yang sudah berhasil ia singkirkan. Perusahaan tempat ia mengabdi haruslah bersih dari perilaku-perilaku meresahkan, ndak sesuai tatanan atau menyimpang. Ia tancap gas lagi sebelum macet semakin parah. Ndak sampai satu jam Iman sudah sampai di apartemennya. Menunggu cemas jawaban dari kantor pusat atas keluhannya barusan.

Baru saja Iman mau menghubungi Mbak Teges lagi menanyakan kelanjutan laporannya, sebuah e-mail berkedip di layar ponsel. Dari kantor pusat.

“Kepada YTH Iman,

Kalau betul kamu Iman yang sesungguhnya, apapun yang dilakukan orang lain di atas bumi ini tidak akan menggoyahkanmu. Perusahaan tidak membutuhkan Iman yang mudah luntur hanya karena nyanyian, lukisan, apalagi rok mini

Tabik,
Direktur Utama dan Satu-Satunya.

Catatan: Kembalikan Suzuki Ignis biru karena cicilannya belum lunas.

Dito

Guntur susul-menyusul di kejauhan. Awan kelabu bergerak lambat-lambat dari seberang jendela. Anakku pulang tepat waktu sebelum hujan tumpah dengan derasnya. Ia harus membawa informasi penting dari sekolah. Informasi yang bisa mengusir awan gelap di grup Whatsapp orang tua siswa yang membumbung sejak seminggu lalu.

Sumber: Google.

Dito menikmati situs porno bersama dua kawannya di rumah. Mereka membanggakannya di sekolah. Selingan rehat makan siang itu, entah bagaimana, sampai ke telinga guru mereka. Ini bukan yang pertama kali. Hal serupa pernah juga terjadi setahun lalu, dilakukan dua orang murid yang lain. Kami yakin, sekolah punya rumus jitu untuk menghadapi Dito dan dua kawannya tadi; selain pengalaman. Mereka dipanggil kepala sekolah. Dinasihati.

Hal yang lumrah dilakukan anak remaja saat hormon seksualnya berhamburan. Satu penelitian mengatakan bahwa 5 dari 8 anak terpapar pornografi pada usia 9 tahun. Dan hampir semua remaja berumur 17 tahun saat ini sudah pernah melihat pornografi berat. Baik sengaja maupun ndak sengaja. Kita sedang ndak membicarakan pengalaman seksual ya, beda lagi itu.

Sama seperti narkoba dan minuman keras, mereka bisa menimbulkan kecanduan. Semakin dini kita mendeteksi, semakin baik. Untuk kasus pornografi, alangkah baiknya jika dibicarakan dengan santai. Jangan berekasi secara berlebihan. Marah, dosa, neraka apalagi rasa malu justru akan menutup kesempatan diskusi dengan anak yang membutuhkan bimbingan. Seperti biasa, arus informasi ndak bisa kita lawan. Bagaimana anak menyikapinya yang mesti dipersiapkan. Menjerumuskan anak pada ancaman dosa yang berakibat laknat tuhan menurutku tindakan ndak bertanggung jawab. Dan kita justru menjadikan tuhan sebagai algojo untuk kesalahan diri sendiri dalam menghadapi anak kita.

Pertama, belajarlah. Baca banyak buku tentang pornografi. Pelajari sejarahnya, industrinya, efek psikologisnya, sampai bagaimana menanganinya. Bagikan itu dengan remaja kesayangan kita. Siapkan batasan-batasannya. Ceritakan bahayanya. Dan tutuplah dengan, “kasihtau mama/papa kalo kamu ndak bisa ya…” Cara inipun belum tentu langsung berhasil. Dalam kasus kecanduan berat yang berakibat seseorang sangat tertutup bahkan menghindari sex sesungguhnya; membebaskan mereka butuh proses bimbingan-konsultasi yang panjang. Ribet? Well honey, you don’t deserve a fucking child!

Entah apa yang sekolah bicarakan dengan Dito dan dua kawannya. Tapi, tiga hari lalu kami dengar Mamanya Dito dipanggil ke sekolah. Hanya mamanya Dito. Ndak ada bukti kalau Dito yang menginisiasi kegiatan ini, kan? Bukannya masih ada dua kawannya yang sama bersalahnya dengan Dito? Tahun lalupun ndak ada orang tua siswa yang dipanggil? Tentu kami ndak berdiam diri. Empati sesama orang tua murid bangkit. Kami minta klarifikasi dari pihak sekolah, ndak diberi. Antara diam saja atau menolak memberi keterangan. Mereka terkesan menutup-nutupi kasus ini. Tindakan yang diambil terlalu mencurigakan. Sampai kami memutuskan menggunakan anak masing-masing sebagai informan.

“Dito bilang dia udah biasa pegang-pegang perempuan telanjang gitu, Om…”
“Siapa Kak?”
“Mamahnya…”

Seketika semua pengetahuan pornogafiku runtuh. Aku ndak tau harus gimana. Aku ndak siap, tepatnya. Masalahnya bergeser jauh dari yang bisa aku hadapi. Yang bisa pihak sekolah mediasi. Hujan semakin deras. Udara lebih dingin dari biasanya. Suaranya mendayu-dayu membawa pikiran terburukku saat itu. Aku kok agak menyesal tau soal ini ya? Dan, sudah empat hari grup Whatsapp kami sepi.

Sepuluh Perintah Tuhan + Diet

Tiap kali ditanya soal resolusi tahun baru, Jawabanku sama aja: the 10 commandments + diet. Sejak 26 tahun lalu. Untung ndak ada yang cukup ganggu untuk melanjutkan pertanyaannya dengan “gimana dietnya?” dua bulan sejak tanggal 1 Januari, misalnya.

Soal diet, aku udah sampai pada kesimpulan bahwa satu-satunya jenis diet yang efektif adalah reinkarnasi. Napas aja jadi daging, kok mau diet. Soal sepuluh perintah tuhan. Tuhan yang mana nih?

The 10 commandments + diet jadi semacam boneka aja. Yang sengaja aku tampilkan kalau-kalau resolusi tahun baru jadi norma. Biar keliatan normal. Orang baik punya resolusi tahun baru. Mengumumkannya lewat semua akun sosial media. Lupa. Lalu mengulanginya lagi taun depan. Begitu kira-kira, seperti sekarang ini untuk Linimasa, persis di awal 2018. 

Di antara letupan mercon, teriakkan terompet dan rentetan ucapan selamat tahun baru di WhatsApp; ingatanku justru merambat mundur. Pelan tapi meyakinkan. Menelusuri lagi apa yang terjadi sepanjang 2017… 

Dan, astaga! Dilamar partai politik, perusahaan bangkrut, PHK, tawaran kerja di Hong Kong, tugas di Shanghai dibajak  orang, anakku naik kelas, Mama stroke, sampai putus cinta! 

Coba deh, tutup mata. Ingat-ingat. Jangan terlalu jauh. Apa yang terjadi Juni 2017 lalu? Ya, ulangi lagi. Sekarang lebih jauh. Jangan dulu buka mata sebelum terbuka semua. Jangan menghindar. Nikmati jika indah. Hadapai kalau menyakitkan. Seru kan hidup kita?

Resolusi apa yang mesti kita bangun untuk 2018? Bahkan sepuluh perintah tuhan + diet ndak bisa menyiapkan mental dan fisik untuk apa yang kita hadapai 2017 lalu. Ndak ada pula jaminan 2018 akan lebih baik, pun lebih buruk. 

Jangan-jangan, kita hanya bertahan. Ndak lebih. Melakukan yang terbaik yang kita bisa untuk bertahan hidup. Menyambung nafas satu ke nafas selanjutnya. Jatuh, lalu bangun lagi. Bardiri, lalu jatuh lagi. Begitu seterusnya. Ndak peduli tahun ini akan berhenti atau berganti ke tahun berikutnya. 

Hati jadi peta yang mengarahkan ke mana kita akan berjalan. Otak yang menentukan bagaimana caranya. Dan wajah menunjukkan apa yang telah kita lalui.

Maka, belajar dari 2017. Rupanya aku butuh hati yang luas, otak lebih cerdas dan suntikan botox di tahun 2018

Selamat tahun baru 2018!

10 Fakta yang Berstatus Dalam Perdebatan di 2017

Banjir Jakarta. Sumber: Aksi Cepat Tanggap.

1. Bhineka Tunggal Ika

2. ‎Status kewarganegaraan di Indonesia: Warga negara Indonesia, Asing, dan Aseng.

3. Golongan Islam di Indonesia: Nahdlatul Ulama, Muhamadiyah, dan 212. 

4. ‎Di Indonesia, suara semua orang adalah setara. 

5. ‎Seseorang yang memanfaatkan tendensi agama untuk tujuan politik adalah orang yang ndak baik. 

6. ‎Seorang tersangka/narapidana adalah orang yang ndak baik. 

7. ‎Secara logis ndak mungkin untuk mengatakan “setiap orang harus diperlakukan sama” lalu diteruskan dengan “kecuali” dalam satu kalimat yang sama.

8. ‎Korupsi adalah haram dan bertentangan dengan ketentuan agama. 

9. ‎Banjir dan kemacetan di suatu kota adalah karena buruknya tata kelola dan infrastruktur kota tersebut. 

10. ‎Bumi bulat. 

Gara-Gara Bacang

​Bacang Ny. Lena menurutku salah satu Bacang terbaik di Jakarta. Porsinya relatif besar dengan isian ayam atau babi yang padat. Bumbunya seperti pernyataan damai bersama nasi atau ketan. Berpadu seimbang di mulut. Meleleh selagi hangat di antara kuning telur asin dan jamur shitake dalam balutan daun bacang yang wangi tanah basah. 

Bacang Ny. Lena. Boleh pesen di instagram: @bacang_special_ny_lena

Aku pesan 5! Dua babi, tiga ayam. Untuk besok lusa. Hari Jum’at. 

Persis di hari yang dijanjikan, pesanan Bacang Ny. Lena datang. Karena aku ndak dirumah, bacang diterima oleh Arni, penjaga rumahku.

“Gimana, Bacangnya aman?” tanya Om Penol (Pendek Bahenol) penjual dan pengantar Bacang Ny. Lena di hari Sabtu.

“Loh, baru di antar ya? Aku lagi di rumah Mama, Om.”

“Udah dari Jum’at kemarin. Yang terima pembantumu yang gemuk itu.”

“Oh, sebentar aku tanya ya.”

Arni baru bilang ada kiriman bungkusan Jum’at kemarin. Ia lekas masukkan freezer supaya ndak basi. Karena Bacang berharga itu disimpan bukan pada tempatnya, maka ndak terlihat. Sampai aku pulang, hari Minggu. 

“Keluarin dulu dari Freezer Ni. Biarin di atas meja 20 menitan. Terus dikukus ya.”

“Semuanya Pak?”

“Dua aja deh. Tiga lagi kembaliin ke kulkas. Yang bawah ya. Jangan Freezer.”

Entah ada angin apa, aku buka kulkas dan tampak seonggok bacang di tempat yang benar. Seonggok. Kok cuma satu?

“Loh kok tinggal satu ya? Dua lagi ilang. Coba Ni bungkusnya tadi mana, jangan-jangan kebuang.”

“Enggak Pak, nih kosong.”

“Loh, kemarin dikirim berapa kamu liat ndak?”

“Enggak pak. Saya langsung masukin kulkas.”

“Waduh. Mestinya 5 nih.”

“… Saya makan dua Pak.”

“Ooh udah kamu makan dua. Lain kali bilang ya Ni, daripada aku protes sama yang jual kan malu. Eh kamu makan yang talinya putih?”

“Iya pak.”

“Sebentar aku cek ke om Penol.”

Ndak lama. 

“Yang kamu makan, babi! Enak kaaan?”

“Astagfirullah pak! Astagfirullah! Kok babi sih pak?”

“Ya aku emang pesen babi sama ayam sih. Aku juga baru tau sekarang ini mana yang babi mana yang ayam.”

Arni menangis. Makin lama makin kenceng. Sesenggukkan. Dia ambil air minum. Lalu masuk ke kamarnya. Ndak keluar lagi sampai Senin pagi. Aku pikir sakit.

Hasil renungannya semalam suntuk berbuah SMS ke Ibuku: Arni minta berhenti kerja. Dia minta pulang ke kampungnya hari itu juga karena dikasih makan babi. Aku ulangi, DIKASIH MAKAN BABI!

Ibuku sontak marah: “Cari pembantu ndak gampang sekarang ini. Itu aja mesti nunggu berapa bulan baru dapet. Udah ada yang mau kerja, mbok ya diawet-awet. Jangan masak yang haram yang ndak sesuai ajaran agamanya.”

“Loh Ma. Aku ndak bisa bikin bacang. Itu mesen. Terus dia makan sendiri. Ndak bilang-bilang. Kebetulan yang dimakan bacang babi.”

“Ya makannya jangan mesen yang babi bawa ke rumah dong!” lalu mamaku ndak mau bantu carikan penjaga rumah lagi. 

Seketika konteksnya berubah. Dari mengambil tanpa ijin, alias mencuri, jadi apa yang dicuri. Lebih absurd lagi, korban pencurian sekarang jadi terpidana.

Dengan analogi yang sama. Kejadian di atas sama dengan: ada seorang maling TV. Pas mau dijual, TV nya rusak. Dia marah sama yang punya TV. Yang punya TV dipenjara karena TV-nya rusak ndak bisa dijual! 

Aku curiga, kalau dibawa ke pengadilan. Jangan-jangan aku yang masuk bui. Bukankah Ahok dan Ariel juga kena perkara yang sama?

Ketagihan Pedes

Ndak ada yang sevulgar Maicih dalam menjual pedas. Dalam website resmi Keripik Pedas Maicih karya Bob Merdeka, diceritakan bahwa ia ndak punya strategi khusus kecuali menjual keripik pedas seunik dan sekreatif mungkin. Unik dan kreatif yang kemudian diimplementasikan dalam kemasan, jenis produk dan cara pemasarannya. Tanpa menyebutkan secara kronologis, ada juga ramen aneka level, mie aneka level, nasi pedas, serba sambal, sampai tahu jeletot yang semuanya pakai bendera PEDAS!

Cabe-cabean. Sumber: Google.

Bob dan para pionir kuliner Nusantara ini ngerti banget kebiasaan orang Indonesia, selain “belum makan, kalau belum nasi.” Belakangan, pedas juga berarti enak. Enak yang tadinya bermakna luas dan subjektif, tiba-tiba menyempit jadi pedas. 

“Cobain beli ayam penyetnya deh, enak.”
“Oya?”
“Iya, pedes gitu.”

Kenapa orang Indonesia sampai gini banget sih sama pedes? Pertama, tentu saja kebiasaan. Ketahanan pedas seseorang sangat dipengaruhi oleh jam terbang mulutnya mengunyah bahan makanan yang memberi sensasi itu. Sebagai orang Asia, kepedasan melimpah. Ndak kurang sedikitpun. Bukan cuma cabai; juga jahe, bawang putih, lada, pala, kunyit, wasabi, dan lainnya yang panjang sekali daftarnya.

Kedua, pedas bukan bagian dari rasa. Lidah kita ndak punya reseptor rasa pedas seperti halnya manis, getir, asin, asam dan gurih. Pedas adalah sensasi panas yang timbul karena stimulus makanan yang kita konsumsi. Sensasi ini yang diidam-idamkan banyak orang. Sekarang pertanyaannya bergeser menjadi: kenapa mulut kebakar gitu pada suka sih?

Seperti cintapatah hati dan kebiasaan menyakiti diri sendiri (self-injury). Pertanyaan ini bisa dijawab oleh biokimia. 

Kebakaran yang bikin panik karena cabai berasal dari senyawa capsaicinoids; yang paling terkenal adalah capsaicin. Lucunya, capsaicinoids merupakan turunan senyawa vanillin, yang memberi rasa dan bau vanila yang lezat itu. Semua jenis cabai di bumi ini punya capsaicin dalam konsetrasi berbeda-beda. Antara paprika sampai bhut jolokia (cabai terpedas asal India).

Ketika mereka mencapai lidah, capsaicinoids berinteraksi dengan protein Transient Receptor Potential Cation Channel Subfamily V Member 1 (ampun lah panjang banget, kita singkat aja jadi TRPV1 ya) yang terletak di permukaan sel saraf. TRPV1 bertindak sebagai sensor sel yang memberikan informasi tentang dunia luar. Biasanya, TRPV1 diaktifkan oleh panas fisik, seperti api atau air dengan suhu di atas 43˚C. Sinyal ini akan diteruskan sel saraf (neuron) satu dan lainnya hingga pesannya sampai ke otak untuk merespon suhu tinggi tadi (bayangkan neuron kita sedang bermain pesan berantai). Ketika capsaicinoids berinteraksi dengan TRPV1 mereka juga menyebabkan sinyal yang sama dengan panas, meskipun ndak ada kandungan panas yang nyata. Catatan: TRPV1 ini tersebar pada sel-sel saraf di banyak lokasi di tubuh sehingga sensasi terbakar bisa saja dialami di tempat lain. Makannya, selalu cuci tangan setelah berurusan dengan cabai, terutama sebelum pegang mata atau kelamin!

Capsaicinoids menipu otak sehingga ia berpikir sedang terjadi kebakaran, yang juga menyakitkan. Ingat, neuron kita sedang bermain pesan berantai. Salah satu pesan yang dihasilkan oleh capsaicinoids adalah zat P (neuropeptida dari residu 11 asam amino), yang mentransmisikan sinyal nyeri. Respon darurat otak kita terhadap zat P adalah menetralkan suhu di pusat kebakaran. Maka keluarlah segala keringat, ingus, air mata dan muka jadi merah padam. Untuk kasus kebakaran fisik, konsentrasi cairan tubuh ini akan berujung pada lepuhan. Maka jangan heran, kalau pedas juga bisa bikin bibir terasa bengkak dan mati rasa. Kita akan membahas soal mati rasa ini di bawah.

Respon yang lebih lambat dari otak kita adalah dengan melepaskan jenis neurotransmiter lain yang dikenal sebagai endorfin dan dopamin. Endorfin adalah cara alami tubuh untuk menghilangkan rasa sakit dengan cara menghalangi kemampuan saraf untuk mengirimkan sinyal nyeri. Ya, mati rasa tadi. Sedangkan dopamin yang bertanggung jawab atas rasa kepuasan dan kesenangan. Kedua neurotransmitter inilah yang menyumbangkan efek singkat kesenangan psikotik, yang bisa saja bikin beberapa orang ketagihan. Singkatnya, bagi sebagian orang yang makan makanan pedas memicu rasa euforia yang mirip dengan runner’s high atau senyawa psikotropika ringan lainnya. 

Berarti berbahaya dong? Ndak juga. 

Oh, ya berbahaya kalau dikonsumsi dalam jumlah besar dan waktu yang lama. Tapi apa sih yang ndak berbahaya kalau berlebihan? 

Uniknya, TRPV1 tadi lama-lama jadi kebal. Kepekaannya berkurang karena kerja neurotransmitter berbahan kalsium (calcineurin) yang dilepaskan dari tulang untuk membantu dua kawannya di atas menyelesaikan kebakaran yang dirasakan TRPV1. Hal ini menyebabkan orang naik level kepedasan. Ramen level 3 udah ndak lucu lagi. Ia pesan level 7 yang diimpor langsung dari neraka! Ia butuh lebih banyak capsaicin agar TRPV1 berfungsi lagi sehingga endorfin dan dopamin bisa disintesa secara normal. Sampai titik tertentu, hingga TRPV1 jadi betul-betul jenuh dengan tipuan panas ini. Ia butuh istirahat beberapa waktu agar bisa menghadirkan sensasi itu kembali. 

Lagi pula, sebelum TRPV1 jenuh, perut kita akan teriak lebih dulu. Kebakaran juga dirasakan dinding usus karena paparan capsaicin. Osmosis terbalik terjadi. Cairan masuk ke dinding usus sebagai bentuk respon darurat. Alhasil, mencret, sakit perut dan dubur panas. Beberapa kasus bahkan menyebabkan demam dan tukak lambung. Rupanya bolak-balik ke WC bisa mengalahkan ketagihan. Minimal kapok sampai pencernaan kembali normal. Antara 3 sampai 7 hari, tergantung tingkat ketahanan tubuh masing-masing. Lalu kita mesti mulai lagi dari awal. Pesen level 1.

Mana Sampah, Mana Berlian

Aku berdiri di tepian. Menunggu awal yang baru. Ndak mampu menengok ke bawah. Ndak mau liat ke belakang. Tapi untuk maju, aku harus tau. 

Berat sekali kaki ini. Sekejap jadi pengecut. Jutaan suara menjerit-jerit di kepala. Ribuan bisikkan jadi bentakkan. Kenapa ndak sekarang? Apa bedanya dengan besok? Lusa? Kapan? Menerror tiap sunyi turun dari puncak gunung ragu-ragu yang dingin abu-abu.

Aku yakin, aku akan menyerah. Tinggal satu langkah lagi untuk pergi gitu aja. Persetan lah! Sampai…

Kehilangan mengajarkanku banyak hal. Satu di antaranya: Katakan! Ndak ada yang salah. Akibatnya juga gampang ditebak, bukan? 

Maka, aku kumpulkan semua beban. Menimbangnya sampai puluhan malam. Menyaring dari yang sekedar monyet-monyetan, selangkangan, atau kekonyolan lain yang kadung terjadi. 

Rupanya ada tiga orang yang ndak tau. Atau tau, tapi diam. Yang jelas, mereka berhak tau. Kalau aku mencintai mereka. 

Kuhampiri yang satu. Setelah satu dekade. Jatuh sama-sama. Bangun sama-sama. Mereka bilang aku gila. Udah lah, tinggalin aja. Setia ndak berbalas apa-apa. Percuma. Nyatanya, aku masih di sini. Tak pikir pantang menyerah. Ternyata, aku mencintaimu. Senyumnya merekah. Sekarang dia tau. Aku tau. 

Kucari kontak yang kedua. Sewindu ndak saling sapa. Entah kenapa. Aku yang pergi waktu itu. Aku biarkan dia punya kekasih. Bertukar kabar lewat sosial media. Menikah. Berkeluarga. Pikirku soal harga diri. Ternyata, aku mencintaimu. Terima kasih katanya. Sekarang dia tau. Aku tau. 

Yang ketiga, pulangnya sore terus. Basket lah. Kerja kelompok. Latian drama. Mulai susah dijemput. Aku nanti diantar Kirana, katanya. Belajarnya pakai YouTube. Om Gendut ketinggalan jaman. Persamaan Trigonometri, dunia prokaryota dan agama ndak lagi bisa kami bahas. Aku udah lupa semua. Apalagi bahasa Jepang. Pikirku ndak bisa. Taunya, aku cinta. Aku juga om. Aku selalu tau. 

Selama kita diciptakan lengkap dengan perasaan, kadang beberapa diantaranya jadi beban. Mengendap. Berkerak puluhan taun. Mengotori pikiran. Kecuali, kita membaginya sama rata. Aku tau. Dia tau. 

Kalau akhirnya mereka pergi karena aku cinta. Jadinya terang-benderang: mana sampah, mana berlian

Solusi Masalah Kekinian

  1. Jangan baca apapun yang ditawarkan LINE Today kecuali menyangkut diri, keluarga, dan kawan Anda.

  2. Hapus apapun yang menghasilkan kurang dari 10 Likes. 

  3. Foto makanan ndak pernah salah. 

  4. Tanda tangani semua petisi online tanpa perlu membaca isinya. 

  5. Hapus Browser’s history tiap Senin jam 13:00. 

  6. Kalau detox gagal, Botox!

  7. Kalau diet Keto gagal, jangan ceritakan pada siapapun di bumi ini. Apalagi lewat internet. 

  8. Hindari timbulnya perasaan atas siapapun dan apapun. 

  9. Perbanyak selfie sebagai motivasi. 

  10. Ativan, Xanax, Lexapro, Ritalin, Percocet, Antangin.

  11. Yoga, jogging, sex, Silverqueen. 

  12. Instagram Story: sementara tapi ada.

  13. Google. Jangan melawan Google. 

  14. Jangan komentar. Jangan baca komentar. Hindari komentar. 

  15. VPN app. 

  16. Tonton kucing lucu di YouTube untuk meringankan stress bekerja. If you’d rather watch porn, use your goddamn phone!

  17. Tokopedia. 

  18. Waspada. Jangan salah bicara, karena hampir semua WhatsApp group ada agen Meikarta-nya.

Panduan Makeup buat Militan ISIS

Berita dari Mosul 10 Juli 2017 lalu mengatakan kalau kota itu berhasil direbut kembali oleh tantara Irak. Pihak pecundang, kelompok ISIS, harus segera angkat kaki. Kalau ndak mau ditangkap dan dipenjara. Dengan segala cara, termasuk jadi wanita.

Bisa jadi, cara ini dihalalkan demi nyawa dan cita-cita. Sayangnya, mereka sejak lama meremehkan wanita dan gender lain lewat sistem patriarki yang kaku. Jadi perempuan itu bukan cuma asal tempel bedak dan lipstik, terus keliatan cantik.

Amit-amit. Sumber: Tribunnews.

Ada langkah-langkahnya. Terutama kalau punya banyak rambut wajah, karena sunnah atau ndak sempat cukur. Namanya juga lagi perang. Perhatikan berikut ini:

Searah jarum jam

1 dan 2. 

Seperti perintah hadits dari Ibnu Umar, Nabi bersabda:

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR. Muslim no. 623). Jadi, ya babat habis kumis. Tinggalkan sedikit jenggot. Ini memudahkan aplikasi makeup tanpa mengabaikan syariah

3. 

Terima kasih pada semua finalis Rupaul’s Drag Race yang mengajarkan penggunaan lem kertas batangan untuk menutupi alis. Ini penting untuk membentuk kontur area mata yang feminin. Usapkan perlahan lem kertas melawan garis tumbuh alis. Ratakan dengan tangan atau sisir kecil ke arah luar. Biarkan hingga mengering. Ulangi sampai mencapai tekstur permukaan yang halus. Tutupi dengan concealer putih dan foundation tabur yang sewarna dengan kulit wajah. Gunakan concealer dan foundation yang sama untuk area kumis, bawah mata, dahi dan garis hidung.

4. 

Kira-kira jadi seperti itu, lah.

Mari kita sebut keempat langkah di atas sebagai “kanvas.” Sekarang saatnya menggambar di atas kanvas.

Searah jarum jam

5. 

Mulai dengan area mata. Aplikasikan full metal black eyebrow pencil dari pangkal hidung menukik ke atas. Ulangi hingga alis tampak hitam sempurna. Gunakan aqua liner untuk membentuk garis terluar mata. Ingat, lanjutkan meski perih. Ndak ada waktu untuk bilas. Bubuhi matte ground eyeshadow dari lipatan mata dan sedikit di atasnya. Pertegas di bagian luar mata. Jangan terlalu tebal kalau ndak mau berakhir seperti memar.

6. 

Area bibir. Gambar garis terluar bibir dengan soft precision lipliner. Lebarkan sedikit dari garis aslinya untuk menambah volume. Aplikasikan aqua rouge matte lipstick dengan porsi liberal hingga seluruh bagian tertutup sempurna. Pakai yang matte ya, supaya ndak gampang luntur kalau-kalau harus makan di tengah pelarian.

7. 

Sempurnakan wajah dengan foundation tabur yang sewarna dengan leher. Sekali lagi: YANG SEWARNA DENGAN LEHER! Bukan cuma di kalangan ISIS, kesalahan ini sering terjadi, bahkan oleh kaum perempuan, beneran. Beri sedikit sheer plum blush di pipi. Jangan terlalu tebal, nanti kayak udang baru mateng. Biar ndak nanggung, pakai contact lenses yang menyempurnakan penyamaran.

8. 

Kenakan wig! Atau rambut siapapun yang bisa dipinjam, kalau toko wig di Mosul sana sudah rata tanah karena gempuran artileri. Karena semua bertudung rapat. Kemungkinan sulit menebak, apa warna rambut rata-rata perempuan Irak. Untuk amannya, hindari wig pirang! Udah jangan tanya kenapa. Nurut aja.

Cantik di dalam yang sesungguhnya

9. 

Sentuhan terakhir. Bagian ini membuat langkah 1 sampai 8 tampak sia-sia. Tapi ya gimana, kan harus berbaur dengan perempuan lainnya. Gunakan warna biru untuk aksen. Bosen kalau hitam terus.

Disclaimer:  Tips ini ndak menjamin keselamatan siapapun dari pemeriksaan tentara Irak. Juga ndak menjamin tentara Irak ndak terangsang secara seksual dengan anda setelah mengikuti seluruh langkah di atas. Bawa juga kondom dan pelumas dubur, selain senjata di balik busana anda. Ya, siapa taaauu…

Syirik

Satu dekade lalu, seorang dosen dan insinyur teknik sipil, Indrawan Sastronagoro melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi atas Undang-undang Nomor 30 tahun 2007 tentang Energi karena mengandung syirik dan menyekutukan allah. Ia juga menilai bahwa UU tersebut bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 1 yang berbunyi:

Negara Berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.” 

Pasal 1, angka 4 tersebut menunjukkan menyekutukan Tuhan atau syirik. Karena yang menggunakan teknologi baru adalah manusia, bukan hewan, berarti manusia dengan teknologi baru bisa menghasilkan sumber energi baru, jadi sama pintar, menyamai Tuhan Yang Maha Esa. Inilah yang disebut syirik. Karena, dalam agama Islam, tidak ada yang menyamai Tuhan Yang Maha Esa,” kata Indrawan; dikutip dari Risalah Sidang MK Perkara Nomor 84/PUU-XIV/2016

Singkat cerita, sejak persidangan Oktober 2016 itu MK akhirnya menolak gugatan Indrawan. Mahkamah berpendapat, untuk memahami maksud satu ketentuan dalam suatu undang-undang, haruslah secara sistematis dengan membaca pula ketentuan-ketentuan lain dalam UU tersebut. 

Pembacaan secara sistematis yang dilakukan Mahkamah terhadap UU 30/2007 tidak menemukan indikasi apapun, bahwa UU tersebut telah menyekutukan Allah SWT melalui rumusan Pasal 1 angka 4, angka 5, dan angka 6,” ujar majelis MK yang dibacakan pada 10 Juli 2017.

Indrawan menjelaskan akibat dari adanya pasal ini menjadikan pikirannya terganggu. Ia jadi kurang produktif, yang tadinya bisa mengajar hingga 34 SKS dalam sebulan, jadi cuma bisa 20 SKS. Akhirnya, membuat pendapatannya menurun. Kerugian immaterialnya tentu ia tersinggung tuhannya disekutukan sedemikian rupa. Lewat Undang-undang ciptaan manusia pula. 

Jika saja Indrawan menelaah lebih dulu lewat kaidah bahasa, lengkap dengan konteksnya; tuhan, baik itu allah maupun tuhan kaum lain yang secara adil-merata juga dipercaya terlibat dalam penciptaan, ndak lagi perlu dideskripsikan. Energi yang berulang kali disebutkan dalam Undang-undang Nomor 30 tahun 2007 adalah energi yang sepenuhnya bersumber dari alam semesta. Alam yang dihuni oleh manusia yang berhak dan wajib dengan segala usahanya mengonversikan sumber daya tersebut menjadi energi yang siap pakai. Usaha manusia inilah yang salah satunya disebut sebagai teknologi baru (inovasi) dalam Undang-undang yang ia masalahkan tadi. Dan pasal tersebut ndak sekalipun meragukan maupun menyangkal kalau Alam yang dimaksud adalah ciptaan tuhan. Hingga batas ini, MK telah melakukan hal yang benar. Tapi ndak efisien. Satu dekade untuk menolak kegilaan ini?

Logika yang sama juga pernah dipermasalahkan oleh satu rombongan pengajian Ibuku. Mereka menilai lirik pembuka lagu “Engkaulah Segalanya” yang dinyanyikan Ruth Sahanaya menyekutukan allah.

Terutama bagian “mungkin hanya tuhan yang tahu segalanya.” Iman mereka bilang: pasti hanya tuhan yang tahu segalanya. Kenapa mungkin? Tuhan tahu segalanya dan sudah jadi kepastian karena sudah tertulis dalam kitab suci. 

Untungnya Ibu-ibu pengajian tadi hanya mencoret lagu itu dari daftar lagu wajib yang akan dinyanyikan dalam acara halal-bihalal awal Juli 2017 lalu. Ndak diteruskan ke ranah hukum dengan tuntutan memasukkan Ruth Sahanya dalam bui, misalnya. 

Lagi-lagi soal konteks berbahasa, untuk ndak menyebutkan gampang banget kebakar. Yakinlah Tito Sumarsono, penggubah lagu tadi, ndak punya niat buruk terhadap allah. Cukup dengan meneruskan bait selanjutnya dari kalimat yang dicurigai syirik:

Mungkin hanya Tuhan yang tahu segalanya apa yang kuinginkan di saat-saat ini.

Kalimat di atas bukan meragukan tuhan atas pengetahuannya. Tapi meragukan apakah ada pihak lain yang tau selain tuhan. Dan ya, mungkin aja ada. Mungkin juga ndak ada. Kalimat itu bersifat ratapan dengan konteks “segala yang kuinginkan saat ini.” 

Pemahaman bahasa adalah soal berlogika. Gramatikalnya berkembang melalui budaya dan keseharian penuturnya. Bahasa selalu tumbuh, apalagi arti dan tafsirnya. Bahasa juga mengajarkan kita lebih terbuka, kritis sekaligus rendah hati terhadap perubahan.

Yang bikin khawatir dari dua kejadian di atas adalah: atas nama iman, bahkan logika diabaikan. Implikasinya bisa seremeh dikeluarkan dari daftar lagu, satu dekade perkara pengadilan, atau… memenjarakan orang yang ndak bersalah.