Ketika Babi Bersayap

Jaafar, seorang nelayan miskin dari Gaza yang sudah lama tidak mendapat ikan, akhirnya “ketiban rejeki nomplok”. Masalahnya, si “rejeki” ini muncul dalam wujud seekor babi hitam yang hanyut terbawa ombak dari Vietnam.

When Pigs have Wings

Saya masih ingat betapa sakitnya perut ini menahan tawa di menit-menit pertama menonton “When Pigs Have Wings” (2011). Film satir yang menyorot konflik Israel-Palestina ini beda dari biasanya. Jauh dari kesan serius, film ini berhasil menyajikan bagaimana denyut sosial masyarakat di daerah konflik dan membalutnya dengan humor-humor yang akrab di telinga.

whenPig

Bayangkan saja bagaimana repotnya Jaafar. Si babi ini sudah tidak halal, tidak kosher pula. Dia harus mencari cara bagaimana caranya membuang si babi. Berbekal kemampuan Bahasa Inggris yang sangat seadanya ia menawarkan babi (yang disebutnya “big) ke petugas PBB. Gak hanya itu, ia juga mencoba memusnahkan si babi dengan meminjam senjata AK47 milik sahabatnya. Sampai ke.. berusaha menjual si babi ke perkampungan Yahudi!

Advertisements

Wadjda

Saya selalu percaya kalau tempat-tempat yang penuh konflik itu sumber film yang ceritanya menarik. Gak hanya film, sih, buku juga bisa. Lihat saja Iran dan Arab Saudi. Siapa yang menyangka dua negara itu bisa menghasilkan film-film kelas atas (menurut saya, tentu) padahal masyarakatnya hidup dibatasi budaya dan agama.

Karena paham Wahabi yang begitu totok, di Saudi tidak ada satupun bioskop. Bayangkan bagaimana mahal dan susahnya jomblo-jomblo Saudi kalau mau ngajak nonton gebetan. “Neng, nonton pelem yuk?” “Boleh, bang, mau ke Qatar apa ke Kuwait?”

Tahun 2013 lalu saya menonton satu film Saudi yang sampai sekarang berbekas di kepala. Wadjda. Film ini jadi sangat spesial karena ia adalah film pertama yang seluruh pengambilan gambarnya dilakukan di Arab Saudi. Dan gak hanya itu aja, sang sutradara, Haifa Al Mansour, adalah perempuan. Jangankan di Saudi, sutradara perempuan negara barat saja mungkin masih bisa dihitung dengan jari. Saya bisa membayangkan betapa susahnya Haifa ini membesut film Wadjda. Dia harus ekstra hati-hati, kucing-kucingan menyutradarai Wadjda dari dalam mobil van supaya tidak diganggu orang-orang konservatif.

Harusnya, sih, dua alasan itu sudah cukup bikin orang melirik dan akhirnya mau nonton Wadjda, tapi cerita Wadjda juga tak kalah cantik. Sekilas mengingatkan saya dengan sosok Marji dari Persepolis. Jadi rebel dengan caranya sendiri.

Bayangkan sosok gadis SD yang tomboy. Lebih senang bermain dengan kawan laki-laki dibanding teman-teman perempuan; sangat menginginkan sebuah sepeda berwarna hijau ketimbang boneka. Si sepeda hijau inilah poros cerita dan mungkin juga jadi metaphor “kebebasan”. Di Saudi, anak perempuan tidak akan diperbolehkan naik sepeda. Khawatir kalau jatuh selaput dara jadi rusak, katanya. Kalau Marji harus melawan clerics-nya Khomeini di Iran, maka Wadjda harus hidup di dalam lingkungan Islam Orthodox dan keluarga dysfunctional. Berbagai cara ia lakukan untuk mendapatkan sepeda idaman. Mulai dari jualan gelang sampai ikut lomba tajdwid Al Quran di sekolah. Dan tentu, semua ia lakukan dengan diam-diam.

Gimana, penasaran gak?

Lovely Man Is Lovely

Cahaya nekat pergi ke Jakarta naik kereta. Ia ingin mencari ayahnya dengan hanya berbekal alamat di secarik kertas lecek. Betapa kagetnya Cahaya ketika menemukan Saiful, ayah yang sudah 15 tahun tak jumpa, telah berubah menjadi “Ipuy”, seorang waria.

Premisnya yang menarik dan ide cerita yang tidak biasa untuk feature film Indonesia berhasil bikin saya mikir “ke mane aje lo?” sepanjang film. Iya, saya menyesal sudah terlambat beberapa tahun menonton film cantik yang dibesut Teddy Soeriaatmadja ini. Lovely Man begitu cantik. Secantik akting Donny Damara yang memerankan Ipuy. Caranya duduk menumpangkan kaki, gaya bicaranya, kerlingannya seperti sudah dipikirkan matang-matang. Padahal katanya film ini sangat low budget.

lm1

Dandanan Ipuy yang menor, baju ketat merah mengkilat, gayanya yang centil menggoda para lelaki di daerah Taman Lawang, jelas membuat Cahaya (Raihaanun) yang lulusan pesantren itu kaget. Film ini menampilkan banyak sekali pertentangan. Penampilan Cahaya yang berjilbab begitu kontras dengan dandanan Ipuy yang over the top. Cahaya begitu santun, sementara Ipuy sangat emosional dan meledak-ledak. Oh, dan ada juga Syaiful yang ternyata masih “hidup” di balik gincu merah Ipuy, diam-diam khawatir akan kabar sang anak. Semua pertentangan tadi mendadak pudar ketika Cahaya tau Ipuy lah yang membiayai pendidikannya selama ini.

lm2

Saya jadi ingat, kawan saya Chika Noya, yang sering membantu teman-teman transgender, pernah cerita tentang bagaimana getirnya kehidupan kupu-kupu Taman Lawang ini. Mereka diperlakukan seperti binatang, dirazia (dan tak jarang diperkosa), bahkan mereka harus mengumpulkan sumbangan agar salah satu kawan waria yang ditemukan terbunuh bisa dikuburkan secara layak. Sedih memang.

Lovely Man menampilkan sisi ke-manusia-an dari seorang waria dengan sangat apik. Film ini bukan tentang hitam atau putih. Tidak menghakimi kehidupan mereka, tidak juga ngoyo ingin jadi film yang bijaksana nan moralizing wasaising. Pesan-pesannya tersaji seperti makanan yang diletakkan di atas meja rumah makan Padang. Terserah kita mau menyantap yang mana, ambil suka-suka tanpa ada paksaan. Terserah kita mau menyimpulkan seperti apa.

lm3

Menonton Lovely Man rasanya sama seperti menguping pembicaraan khas ayah dan anak yang sudah lama tidak ketemu. Ada rindu, kesal, bingung, juga cinta yang tetap sama walau sudah bertahun-tahun ditinggalkan; semua jadi satu. Malam semakin larut dan mereka pun hanyut dalam obrolan yang semakin dalam. Ternyata ada hal lain yang ingin disampaikan Cahaya selain kerinduan. Saya dibuat penasaran. Rasanya ingin terus menguping dan membuntuti Cahaya dan Ipuy, berharap malam jangan lekas-lekas berakhir.

”Kamu masih ingat, kan, dulu kamu suka sekali main hujan-hujanan? Kira-kira hidup seperti itu, Cahaya. Kamu tidak perlu takut dan bersembunyi untuk berteduh…”

[JAWABAN] Main Tebak-Tebakan

Tengah Desember lalu saya iseng menulis Tentang Jilbab. Sampai sekarang tulisan itu masih sering dibaca, komentarnya pun beragam. Ada yang setuju, ada yang ndak, ada juga yang ndak urus. Bebas.

Minggu lalu saya mengajak kalian, teman-teman Linimasa, main tebak-tebakan. Iseng-iseng tak berhadiah, lah. Ada total 12 foto perempuan dengan tutup kepala yang berasal dari sekte/agama yang berbeda. Pertanyaanya gampang: Bisa kah kalian membedakan mana yang islam dan mana yang Yahudi? Mana yang Coptic dan mana yang Syiah?

Dari sekian banyak pertanyaan yang dituliskan di kolom komentar, ada satu yang menarik perhatian saya. Jawaban dari @moelmoelmoel. Berbeda dari yang lain, Moel justru tidak memberikan jawaban A, B, C, atau D. “Semua jawaban ada pada pertanyaanya.” Katanya. Hahaha.. saya setuju.

Jadi ingat. Dulu, saya pernah mengambil mata kuliah Women Studies. Ndak, isinya ndak ada perempuan dengan bulu kaki lebat dan ketiak yang tidak dicukur seperti yang sering diasosiasikan dengan feminis-feminis garis keras. Kelas ini juga gak cuma  untuk perempuan saja. Semua ras, semua gender, semua agama ikut.

Suatu hari, ketika ada sesi tanya jawab setelah kuliah, ada satu perempuan asal Jordania yang bertanya begini: “Kenapa ketika seorang perempuan Muslim berjilbab itu dikategorikan sebagai opression, sementara pada biarawati Katolik, penutup kepala adalah simbol kepatuhan dan keimanan?” Hari itu ndak ada yang bisa jawab, tapi kami sepakat kalau seharusnya ndak ada masalah. Mau pake jilbab atau ndak, mau percaya tuhan atau nyembah gentong, suka-suka aja. Manusia kadang terlalu fokus sama perbedaan.

Sebelum tulisan ini jadi kepanjangan dan bahasannya jadi kelebaran, ini jawaban dari Main Tebak-Tebakan minggu lalu:

1. Perempuan-perempuan ini beragama Kristen. Sebagian dari Coptic Orthodox, lanjutan dari Church of Alexandria. Mereka mukim di wilayah Ethiopia, Eritrea dan Nubia (sekarang Sudan).

2. Muslim:

3. Yahudi: Banyak yang gak tau kalau perempuan Yahudi Orthodox juga memakai niqab.  Sungguh syariah, kan? gak cuma perempuan-perempuannya aja. Para laki-laki juga mengenakan penutup kepala bernama kippeh (kopiah – sepertinya akar katanya sama), memanjangkan janggut dan jambang, dan.. bercelana cingkrang!

4. Sabian: Mirip dengan Zoroastrian di Iran, tapi yang ini berpusat di Baghdad, Irak. Al Shabiin atau Sabians ini pernah begitu ramai dianut semasa Muhammad (pbuh) hidup. Dalam kepercayaan mereka juga ada ritual seperti wudhu, menyucikan diri di tepi sungai Eufrat sebelum beribadah.  Sekarang populasi Sabians semakin menurun. Dan kabarnya, mereka adalah target ISIS yang utama.

Jadi…. salah berapa? :p

Main Tebak-tebakan

Selamat Tahun baru 2015, semua!

Tulisan saya Tentang Jilbab jadi salah satu tulisan Linimasa yang paling banyak diintip di 2014 kemarin. Nah, dalam rangka masih mood liburan males banget ngapa-ngapain menyambut tahun yang baru dan semangat ngelilingin Matahari satu putaran lagi, maka hari ini saya ingin mengajak kalian semua, termasuk Linimasmas dan Linimakmak, main tebak-tebakan.

Topiknya masih sama, masih soal “perempuan dan penutup kepala”. Saya akan posting gambar-gambar perempuan dari berbagai agama, dan kalian tinggal tebak mereka berasal dari sekte/agama apa sesuai pilihan yang disediakan dan silakan jawab di kolom komentar. Gampang to?  😀


1. Women1a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


2.

women2

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


3.

women3

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


4.

women4

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


5.

women5

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


6.

women6

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


7.

women7

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


8.

women8

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


9.

women9

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


10.

women10

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


BONUS:

women11

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian

women12

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


Selamat berlibur dan menebak-nebak! 😀

 

 

Empat Sekawan dan Pohon Persik

Alkisah.. adalah Dharma, seorang bhiksu muda yang baru saja menyelesaikan pertapaannya dan ingin pergi ke sebuah desa di negeri seberang. Desa ini jaraknya jauh sekali, sementara ia sudah harus sampai di sana besok lusa. Dharma punya dua pilihan: ikut jalur yang biasa, dan kemungkinan sampai beberapa jam atau bahkan sehari lebih telat. Atau, mengambil jalan pintas melewati hutan lebat.

Kalau lewat hutan, ia akan sampai lebih dulu. Tapi siapa yang tau ada apa di dalam sana? Binatang buas yang sigap mengintainya jadi mangsa kah, atau justru tanaman beracun yang sekali sentuh bikin kulit melepuh? Karena diburu waktu, Dharma akhirnya memilih pilihan kedua. Akhirnya tibalah ia di mulut hutan. Hari sudah gelap, mau tidak mau ia harus bermalam di sini sebelum melanjutkan perjalanannya esok pagi-pagi sekali.

Setelah menyusuri hutan itu beberapa lama, dilihatnya ada sebuah pohon persik yang begitu rindang. “Mungkin aku bisa bermalam di sini”, pikirnya. Dharma pun terlelap tak lama setelah menyenderkan tubuhnya di batang pohon.

Beberapa saat kemudian, ia dibangunkan oleh seekor kera yang duduk tepat di depannya.

“Siapa kamu?” Tanya Si Kera.

“Aku Dharma.”

“Ngapain kamu tidur di bawah pohon ini?”

“Maaf, aku berjalan jauh sekali dan kelelahan. Bolehkah aku bermalam di sini?”

“Tentu saja boleh.” Belum sempat dijawab Si Kera, jawaban justru datang dari seekor gajah.

“Terima kasih, Gajah. Kau kah penjaga pohon ini?”

“Bukan, bukan aku saja. Aku, Si Kera, Si Kelinci, dan Si Burung Pipit lah yang menjaga pohon persik ini.”

Tidak lama kemudian, seekor kelinci melompat dari balik semak dan seekor burung pipit terbang dari balik dahan.

“Bermalamlah di sini.” ujar Si Kelinci.

“Kamu lapar? Biar kami ambilkan buah, ya?” Tanya Si Burung Pipit.

Si Kera kemudian menaiki punggung Si Gajah, ia kemudian mengangkat Si Kelinci dengan belalainya dan mendudukkannya di punggung Si Kera. Si Burung Pipit terbang ke atas kepala Si Kelinci, menggapai ranting terdekat dan memetik buah persik untuk Dharma. Buah-buah ini kemudian ditangkap oleh Si Kera.

Dharma kagum, sambil memakan buah pemberian empat sekawan ini ia pun penasaran dan akhirnya bertanya.

“Jadi, sebetulnya, siapa di antara kalian yang jadi pemimpin?”

Si Gajah, Si Kera, Si Kelinci, dan Si Burung Pipit terkejut mendengar pertanyaan Dharma. Mereka tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Mereka bersahabat lama sekali dan menjaga pohon persik bersama-sama.

“Jelas aku, dong. Akulah yang paling cerdik di antara kami semua.” Jawab Si Kera.

Mendengar jawaban Si Kera, Si Gajah pun protes.

“Mana mungkin kau pemimpinnya, sudah tentu aku yang pemimpin. Aku kan yang paling kuat di sini.”

“Tunggu dulu.” Ujar Si Kelinci. “Gajah, kamu mungkin yang paling kuat. Dan, Kera, kamu memang yang paling cerdik. Tapi aku yang lebih dulu di sini. Kan aku menggemburkan tanah sehingga pohon ini bisa tumbuh.”

“Kamu lupa, Kelinci?” Tanya Si Burung Pipit. “Aku kan yang membawa biji itu ke sini setelah buahnya kumakan. Jadi, harusnya aku yang jadi pemimpin. Karena kalau bijinya gak kubawa dari bukit sebelah, pohon ini gak mungkin ada di sini sekarang.”

Mereka kemudian beradu argumen, terus berdebat dan saling ngotot. Semua tidak mau kalah. Semua menganggap jadi yang paling benar.

Dharma pun berusaha melerai. “Sudah, sudah, jangan bertengkar. Maafkan aku yang sudah bertanya hal yang aneh, ya.”

“Tidak bisa.” jawab Kera. Kami harus tau siapa pemimpinnya ini sekarang juga.

“Menurutmu, siapa yang benar?” tanya Gajah.

“Menurutku? Hmm..” Dharma bingung.

“Siapa dari kalian yang paling lama di sini?”

“Akuuu!” jawab mereka serentak.

“Duh. Kalau begitu, siapa yang paling banyak kerjanya biar pohon ini tumbuh?”

“Akuuuuu!” semua masih menjawab berbarengan.

“Aku yang menanam bijinya.” kata Si Burung Pipit.

“Tapi aku yang menggemburkan tanahnya.” Kelinci tak mau kalah.

“Kalau tak kusirami, pohon ini tak mungkin tumbuh.” ujar Kera.

“Dan kalau tak kujaga, pohon dan buahnya pasti sudah habis dicuri binatang-binatang lain.” Gajah menimpali.

“Nah, kalau begitu kalian menjaga bersama-sama kan?”

“Iya.” jawab mereka.

“Kalau tidak ada salah satu dari kalian, pohon ini tidak akan tumbuh jadi sebesar ini.”

“Benar juga, ya..” Burung Pipit setuju.

“Kalau pohon ini rusak atau mati, bagaimana perasaan kalian?”

“Sudah pasti akan sedih sekali.” jawab Gajah.

“Ya, betul. Pohon ini hidup kami.” Kelinci mengiyakan.

“Dan kalau tidak ada pohon ini, aku tidak akan bertemu Burung Pipit, Gajah, juga Kelinci. Mereka keluargaku sekarang.”

“Kalau begitu, menurutku, tidak perlu kalian terus berdebat tentang siapa yang paling benar, atau siapa yang paling kuat. Karena yang paling penting adalah pohon ini bisa terus tumbuh, kan?”

“Iya.” empat sekawan itu setuju.

“Ya sudah, sekarang, kalian fokus saja merawat pohon ini biar tetap sehat dan meneduhkan orang yang lewat di bawahnya. Biar kita bisa makan buahnya bersama-sama.”

Keempat sekawan itupun sepakat dengan Dharma, mereka menghabiskan malam bersama di bawah pohon persik, saling bercanda dan bercerita.


Cerita di atas aku adaptasi dari folktale Buddhism.

Sekarang, yuk kita bayangkan kalau pohon persik tadi adalah Indonesia. Sementara kita semua adalah Si Kera, Si Gajah, Si Burung Pipit, dan Si Kelinci. Beragam; berbagai suku, kelas sosial, karakter, juga kultur. Semuanya berbeda. Pohon persik itu, sama seperti kehidupan kita, bisa langgeng kalau semuanya selaras.

Natal baru saja lewat sehari. Tapi aku sudah mendengar perdebatan tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat kepada kawan-kawan beragama Kristen dari berbulan-bulan lalu. Dan mungkin, beberapa bulan lagi kita akan kembali mendengar perdebatan yang sama. Basi. Begitu terus setiap tahun.

Gak cuma ngucapin selamat aja yang dibikin susah, sampai sekarang teman-teman GKI Yasmin mau ibadah dan merayakan Natal pun gak bisa. Padahal kepala daerahnya udah diganti.

Menurutku, perdebatan soal “Ucapan Natal” ini seperti borok yang terus-terusan dikopeki padahal belum kering. Akhirnya ya gak sembuh-sembuh. Kalau Gus Dur masih hidup, mungkin dia akan komen “Gitu aja kok repot?”.

Gitu aja kok repot?

Kalau tidak mau memberi selamat, ya sudah. Ndak perlu kan pengumuman? Toh ndak ada yang salah dengan beropini. Tapi, ada opini yang lebih baik disimpan saja di dalam hati karena kalau diucapkan malah menyebarkan sentimen negatif atau bikin orang salah paham. Malah nambah masalah. Kalau ndak salah, Ali Bin Abi Thalib pernah bilang begini “Ucapkanlah hal-hal yang baik saja, atau mendingan diam sama sekali.” Jadi, kalo ucapan dan pikiran kita akan menyakiti orang lain, mendingan ya mingkem ae.

Kalau mau ikut memberi selamat? ya bagus. Tapi ya ndak perlu juga merasa jadi yang paling benar dan berakal. Merasa jadi paling toleran. Karena, sebenernya ya, toleransi beragama itu ndak cuma sama teman-teman agama lain. Tapi juga sama teman-teman seagama yang mungkin pendapatnya berbeda. Ndak perlu saling paksa pendapat, ya ndak?

Udah, ah.

Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan. Selamat liburan untuk semua. Semoga kita bisa semakin bijak dalam berpikir, berbuat, dan berucap. Dan semoga semua mahluk berbahagia. *kecup*

religious-tolerance

Tentang Jilbab

Henrietta Edwards' 165th Birthday

Tadi pagi saya kaget melihat Google Doodle ini. Rupanya hari ini Henrietta Edwards berulang tahun yang ke-165. Beliau ini salah satu tokoh utama perjuangan hak-hak perempuan di Amerika Utara, khususnya Canada.


Ngomong-ngomong soal perempuan, saya jadi ingat, beberapa hari lalu saya menonton film asing yang premisnya begitu menarik dan menggelitik. Judulnya The Source (La Source Des Femmes).
Mengambil tempat di wilayah utara Afrika, ada sebuah desa kecil yang daerahnya begitu tandus dan berbatu-batu. Karena mereka masih hidup dalam budaya Muslim yang begitu kental, maka para perempuan di desa ini diwajibkan untuk mengurus rumah. Mulai dari memasak, mengurus anak, sampai ke mengambil air bersih yang jaraknya berkilo-kilo meter dari desa.

La-source-des-femmes-poster
Karena jalannya begitu terjal dan menanjak, tak jarang para perempuan ini jatuh hingga menyebabkan keguguran. Ke mana para pria desa ini? Ada, tapi setiap hari mereka hanya sibuk minum teh dan ngobrol-ngobrol. Dan akhirnya, karena muak melihat para pria yang begitu malas dan mengatasnamakan agama, para perempuan di desa ini pun punya ide brilian. Mereka sepakat untuk melakukan mogok massal. Mogok untuk bersetubuh dengan para suami, sampai mereka mau membantu para istri membangun saluran air ke desanya.

Tentu saja jalan untuk meyakinkan para suami ini tidak mudah. Ada satu adegan yang dialognya sangat membekas di kepala. Waktu itu ada seorang anak laki-laki yang begitu soleh, beliau memengaruhi pria-pria lain di desa itu agar semua perempuan mengenakan jilbab. Sang ibu yang sudah paruh baya pun sontak marah dan berkata kalau pada awalnya anjuran berjilbab itu untuk membedakan perempuan terhormat dan perempuan budak, tapi karena saat ini sudah tidak ada perbudakan, ya ngapain pake jilbab?

Argumen sang ibu ini benar. Mungkin ada yang belum tau, tapi budaya berjilbab untuk perempuan memang bukan budaya bawaan Islam.


Dulu, sekitar abad 13 BC, jilbab hanya boleh digunakan para perempuan ningrat di Assyiria. Perempuan kebanyakan dan para pekerja seks dilarang mengenakan jilbab. Begitu juga halnya di masa Mesopotamia, Iberian Peninsula, juga Yunani dan Romawi Kuno. Para perempuan di jaman itu digambarkan mengenakan pakaian serupa jilbab yang menutupi bagian kepala dan wajah. Pada waktu itu jilbab menunjukkan status dan strata sosial, gak semua orang bisa punya privilege untuk menutupi wajah dan kepalanya.

Digambar oleh: Malcolm Evans

Digambar oleh: Malcolm Evans

Menurut Leila Ahmed, seorang pakar Islam kontemporer dari Mesir, anjuran untuk berjilbab bagi perempuan Muslim justru datangnya bukan dari Muhammad SAW. Pada masa itu, jilbab sudah banyak digunakan oleh perempuan Palestina dan Syria. Kemudian karena mereka hidup berpindah-pindah dan berdagang, maka budaya mengenakan jilbab inipun semakin meluas.

Dan anjuran untuk mengenakan Jilbab untuk istri-istri Muhammad SAW (QS 33:33) pun jadi kewajiban moral karena kedudukan sosial mereka yang berbeda dari perempuan lainnya di masa itu. Para ahli sejarah berpendapat kalau, di era Muhammad, jilbab digunakan untuk membedakan perempuan Muslim dari perempuan Pagan dan budak.

Perlukah berjilbab? Jilbab yang benar itu bagaimana? Kenapa jilbab jadi sebuah keharusan padahal jaman perbudakan sudah gak ada lagi? Kalau urusannya sudah menyangkut fiqh dan yurisprudensi Islam, saya nyerah. Gak berani jawab. Saya cuma berani menjawab dari pendekatan sejarah dan budaya saja. Tapi, ada tulisan menarik tentang ini. Ditulis oleh KH. Husein Muhammad, seorang ulama yang juga feminis.

Tentu saja, kalau soal jilbab, jawaban setiap orang pasti berbeda.
Ada yang memutuskan untuk langsung berjilbab karena kewajiban, ada yang bilang mau menjilbabkan hatinya dulu. Ada yang hanya menutup kepala dan membiarkan leher terbuka (seperti yang dilakukan nenek saya dan nenek-nenek lainnya), ada jilboobs, ada juga yang berjilbab syar’i. Bebas. Pilihan masing-masing.
Tapi yang jadi masalah adalah ketika sekelompok perempuan yang sudah mengenakan jilbab sesuai syariat yang mereka percayai, malah merendahkan perempuan lain yang tidak seperti mereka. Atau sebaliknya. Ya ndak?

Kado Natal Terindah

Aku sigap menutup mulutku dengan kedua tangan sebelum jeritan bahagia sempat keluar. Jantungku berdegup keras sekali. 12 Desember 2014. Aku tidak akan pernah lupa hari ini. Natal memang masih dua minggu lagi, tapi buatku, inilah kado paling indah.

Sarah, anakku, berdiri memegangi pinggiran tempat tidurnya. Mencoba berjalan, sambil terhuyung-huyung, selangkah-demi selangkah.
Ini yang pertama kali!
Ia tersenyum lebar sekali. Aku diselimuti bangga campur haru. Campur aduk. Akh… Seandainya Adam ada di sini, ia pasti sama histerisnya denganku. Dulu, suamiku itu pernah bilang, dia ingin bisa menyaksikan momen-momen pertama anak kami bersamaku. Sesibuk apapun akan ia sempatkan.

Air mataku jatuh berhamburan. Memang, manusia bisa berencana sebanyak-banyaknya, tapi kalau kematian dan Sang Empunya hidup sudah memutuskan, kita bisa apa? Ulu hatiku masih ngilu mengingat hari-hari terakhir aku melihat Adam. Pasrah memang satu-satunya jalan. Tidak hanya ikhlas merelakan, tapi juga berserah.

Sarah masih terus ngotot mencoba berjalan walau tertatih. Tangannya memegangi ujung meja plastik, badannya agak limbung ke kanan. Jalannya seperti orang mabuk. Hahaha.. Lucu sekali! Aku tau ia ingin berjalan ke arah pintu kamar, mencoba memegang gagangnya yang masih terlalu tinggi untuk ia gapai.

Anak ini keras kepala. Sama seperti papanya. Aku berjalan mendekat. Ia mengangkat tangan kanannya, melepaskan pegangan dari meja. Direntangkannya tangannya, jari-jarinya menutup dan membuka, seperti mencengkeram udara. Matanya semakin membesar, sepertinya ia mengumpulkan keberanian untuk bisa melangkah sendiri tanpa bantuan.

Aku di belakangnya. Siap menangkap kalau-kalau ia jatuh. Ia berjalan selangkah, lalu berhenti sebentar. Ia maju selangkah lagi. Dan sebelum ia menuntaskan langkahnya, Sarah limbung ke depan! ia tersandung kakinya sendiri. Badannya jatuh menghantam lantai. Ia menangis menjerit-jerit. Langsung kudekap dia erat-erat.

“Mamaaaa…. mamaa…”

Adam membuka pintu, berlari mengambil Sarah yang masih tertelungkup di lantai.

“Ma-maa…”

Digendongnya Sarah, diciuminya keningnya, dihapusnya air matanya.

“Iya, sayang… papa juga rindu sekali sama mama. Rindu sekali..”

****

Foto dicomot dari Google

Foto dicomot dari Google

Laksmi

Ia memasuki rumahnya. Dilihatnya secarik undangan yang disisipkan di bawah pintu. Kaget. Entah dari mana si pengirim tau alamat ini. Ia lalu menutup pintu. Diputarnya anak kunci dua kali ke arah kanan. Ditariknya gagang pintu, lalu ditekan. Dua kali, biar pasti terkunci.

Dilemparkannya tasnya ke atas sofa. Ia Berjalan ke arah meja makan sambil kedua tangannya membuka kaitan beha di punggungnya. Hanya perempuan sejati yang bisa melepas beha tanpa perlu menanggalkan baju terlebih dahulu. Dan ia salah satunya. Disampirkannya behanya di atas kursi kayu berwarna putih. Diletakannya undangan merah jambu dengan kembang-kembang itu di atas meja. Dilihatnya lagi. Ia lalu menyalakan CD player yang umurnya lebih dari sepuluh tahun itu. Ah, Joni Mitchell. Diambilnya handuk di pojok kamar, ditanggalkannya bajunya.

Kaca-kaca kamar mandi kemudian diselimuti uap air panas. Dan mungkin juga resah.


“Bows and flows of angel hair and ice cream castles in the air
and feather canyons everywhere, I’ve looked at clouds that way.
But now they only block the sun, they rain and snow on everyone.
So many things I would have done but clouds got in my way.”


Namanya Laksmi. Tanpa huruf H di antara S dan M. Setidaknya begitu katanya. Tidak ada yang tau nama belakangnya. Umurnya mungkin 55, atau mungkin 52. Tidak pasti. Ia jarang ngobrol dengan tetangga. Paling hanya sekali-sekali kalau ada yang meninggal atau menikah. Itupun hanya basa-basi kanan-kiri.

Laksmi artinya cantik. Dan memang, masih terlihat jelas jejak-jejak kecantikannya ketika muda. Kulitnya yang coklat itupun masih begitu terawat. Orang tuanya dari Sulawesi, katanya. Itu saja. Ia tidak pernah mau bercerita lebih jauh. Tapi keriput-keriput di wajahnya seolah bisa mewakili. Garis-garis halus di sudut matanya itu bisa saja saksi ketika ia terpuruk. Dan mungkin sepasang garis di antara bibir dan hidungnya adalah tanda kalau ia pernah bisa bebas tertawa sampai terpingkal-pingkal. Juga uban yang ia biarkan tumbuh menghiasi rambutnya; mungkin setiap helainya menyimpan cerita.

Sudah lebih dari 20 tahun Laksmi hidup sendiri. Tak ingat pastinya kapan. Dulu ia sempat menikah dan berumah tangga. Biasalah orang kampung, dijodohkan dengan sepupu tiga kali dari pihak ayahnya. Tapi pernikahannya tak bertahan lama. Hanya sempat punya satu anak. Setelah itu ia tak sanggup. Kalau dasarnya sudah ndak cinta, mau bagaimana lagi. Daripada dipaksa jadi orang yang bukan dirinya dan dicintai orang yang salah, Laksmi memilih pergi. Tekadnya sudah mantap. Ia harus mengejar kebahagiaan dan cinta apapun resikonya. Termasuk meninggalkan keluarganya dalam kesedihan dan patah hati.


“Moons and Junes and ferris wheels, the dizzy dancing way that you feel
as every fairy tale comes real; I’ve looked at love that way.
But now it’s just another show. You leave ’em laughing when you go
and if you care, don’t let them know, don’t give yourself away”


Ia berjingkat keluar kamar mandi, berjalan ke arah lemari baju. Rambutnya yang basah dililit handuk. Titik-titik air dari tubuhnya jatuh meninggalkan jejak di lantai. Diambilnya sepotong daster abu abu yang bagian kantongnya sudah sobek, juga celana dalam yang lebar hampir menutup pusar. Ini rumahnya. Di sini ia jadi perempuan merdeka, bebas tanpa tekanan kutang berkawat dan himpitan g-string renda-renda.

Dikeringkannya rambutnya dengan handuk. Matanya kembali tertuju pada undangan di atas meja. Ia lalu duduk. Diambilnya lagi undangan tadi. Dipandanginya, juga sepasang nama yang tertera di atasnya. Diletakkannya lagi. Pandangannya masih juga tidak lepas. Laksmi lalu menyulut rokoknya. Diambilnya alas dari cangkir kopinya tadi pagi untuk menampung abu. Matanya memejam, dihisapnya rokoknya dalam-dalam. Seolah segala persoalan ikut terhirup dan terembuskan kembali bersama asap, lalu akhirnya sirna.


“Tears and fears and feeling proud, to say “I love you” right out loud,
dreams and schemes and circus crowds, I’ve looked at life that way.
But now old friends are acting strange, they shake their heads, they say
I’ve changed.
Something’s lost but something’s gained in living every day.”


Siang itu terik sekali. Jalan tampak lengang. Taksi membawanya menuju pusat kota. Laksmi sudah berdandan pol-polan. Kebaya Melayu dan songket warna marun berpadu emas. Persis ibu pejabat.
Ia melangkah keluar taksi. Jantungnya hari ini bergedup ekstra cepat. Lebih cepat dari langkahnya yang pelan-pelan menuju pintu masuk sebuah masjid. Masih dua puluh meter lagi. Ia berhenti sesaat. Takut. Mungkin juga ragu. Ternyata ia tak cukup berani, nyalinya tak sebesar perkiraannya. Laksmi gagal untuk tidak memikirkan apa kata orang-orang di dalam nanti.

Tapi janji adalah janji, harus ditepati tak peduli sudah berapa lama. Ia pun berjalan masuk. Tebakannya tak salah. Semua pandangan langsung tertuju padanya. Untung saja ijab qabul belum dimulai. Ada wajah-wajah yang dikenal, ada yang tersenyum, tapi ada juga berbisik-bisik. Keringat dingin jatuh di keningnya. Lima menit lagi begini, ia bisa pingsan. Terjun bebas menghantam lantai.

Laksmi lalu menghentikan langkahnya. Dilihatnya sang pengantin pria tengah berbincang-bincang dengan penghulu. Lelaki itu pun menoleh ke arahnya. Senyumnya seketika merekah. Ada embun yang mengembang di sudut mata. Ia lalu menghambur lari menghampiri Laksmi. Diciuminya tangannya berkali-kali, dipeluknya erat-erat, tidak mau lepas. Bahu Laksmi basah.

 

“Ayah.. terima kasih.”

 

cigs****

Susah(nya) Tidur

circadianclocksBerbahagialah mereka yang bisa tidur nyenyak di malam hari. Gak cuma asal tidur aja, tapi tidur yang berkualitas. Waktunya pas waktu tidur, durasinya cukup, dan nyenyak. Dengan jam kerja yang nggilani, bagi saya sebagian orang, hal ini adalah sebuah kemewahan.

Gak ingat kapan terakhir kali punya “quality sleep”. Sejak lulus SMA, ritme tidur saya berubah total. Jam biologis jadi amburadul karena tugas-tugas kuliah dan pekerjaan. Apalagi sejak tinggal di Canada. Perbedaan waktu 12-13 jam dengan WIB & WITA itu asoy banget. Ada aja pesan yang masuk di jam-jam tidur, mulai dari obrolan penting sampai basa-basi yang basi banget. Suara dan sinar dari layar ponsel itu sangat menggangu dan intrusif. Mau matiin ponsel tapi orangtua jauh, kalo ada emergency gimana? *amit-amit* (hashtag: nasib) (hashtag: firstworldproblem).

Tapi saya gak sendirian. Di Linimasmas ada Long-long dan Masagun yang punya masalah sama. Di Twitter? lebih banyak lagi. Sampai-sampai ada kelompok Tarekat Al-Insomniyyah. Liat aja timeline Twitter setiap dini hari. Pasti ada aja yang ngetwit “insom nih..”

insom

Tapi apa penyakit susah tidur yang kita alami ini Insomnia? belum tentu. Ternyata ada yang namanya Delayed Sleep Phase Disorder (DSPD).

  • Kalau kamu susah untuk tidur, gak nyenyak, durasi tidur sangat pendek, dan masih ngerasa capek banget pas bangun tidur, itu Insomnia.
  • Kalau kamu susah tidur, tapi bisa nyenyak, dan durasinya normal, berarti DSPD. Tidur lebih larut dan bangun lebih siang.

sleepphase

Saya sendiri mengidap DSPD. Kata seorang dokter, cukup kronis. Karena sudah menahun, akibatnya DSPD ini berpengaruh ke produksi hormon saya. Gak sehat banget lah pokoknya. Walaupun selalu digampangkan, tapi masalah tidur ini bisa berakibat buruk buat tubuh kita. Mulai dari depresi sampai pemicu kanker dan juga obesitas.


Kalau Insomnia bisa diobati dengan hypnotherapy, DSPD gak bisa. Gak mempan, katanya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan dan mengurangi DSPD:

  1. Chronotherapy:

Bahasa simpelnya: ngatur jam tidur. Setiap harinya kita tidur dua-tiga jam lebih lama, sampai akhirnya jam tidur kembali ke waktu yang normal. Ini agak susah dilakukan buat mereka yang kerja kantoran.

  1. Bright Light Therapy:

Katanya, yang paling ampuh adalah sinar matahari. Kita tinggal duduk berjemur setiap paginya selama 30 menit – 1 jam. Ini susah dilakukan mereka yang tinggal di bagian utara bumi. Waktu musim dingin, malamnya jauh lebih panjang dan jarang banget ada matahari. Cara yang lain adalah dengan menggunakan sinar lampu yang sangat terang. Tapi ini jadi mirip anak ayam 😐

  1. Chamomile Tea & Lavender Oil:

Cara pengobatan herbal/holistik banyak banget digemari, mungkin karena efek samping yang hampir gak ada. Katanya teh bunga chamomile ampuh bikin rileks dan ngantuk, apalagi kalau dicampur dengan spearmint. Terus tambahkan, deh, essential oil di bantal biar tidurnya bisa nyenyak. Cara lainnya adalah dengan mandi air hangat 1-2 jam sebelum tidur. Dengan begitu kita mengirim sinyal ke tubuh untuk beristirahat.

  1. Melatonin:

“Hormon ngantuk” yang memang diproduksi oleh tubuh kita ini banyak di jual bebas. Katanya bisa ngobatin DSPD sampai jet lag. Dosis yang dijual juga bermacam-macam, mulai dari 1-10 mg. Katanya, dosis yang rendah justru ampuh mengobati DSPD. Tapi pemakaian di atas 4-6 minggu tidak dianjurkan.

crythm

Atas anjuran si dokter, saya akhirnya mencoba melatonin. Siapa tau bisa normal lagi.

Semalam saya sudah niat tidur cepat. Semua gawai disimpan jauh-jauh. Konsumsi melatonin jam 10 malam, jam 11 sudah lelap…….

 

tapi saya harus terbangun karena mimpi duduk satu ruangan dengan kuntilanak. Rupanya salah satu efek samping Melatonin adalah ‘vivid dream’ pada fase REM! Duh… susahnya tidur..

 

calvin-hobbes

 

garfield

Lucky Number 13

Ini tulisan ke-13 saya di sini. Tidak terasa. Sudah tiga bulan saya dan teman-teman bergantian menulis untuk Linimasa.
Sudah serupa warteg. Tulisan-tulisan yang disuguhkan rasanya berbeda-beda. Beda orang beda karakter, katanya.

Tulisan Nauval seringnya melankolis, kerap menyentil pojok hati yang kadang sudah berdebu karena ditinggalkan—atau malah sengaja dilupakan. Setiap membaca tulisan-tulisannya ulu hati selalu hangat. Kadang mata pun berembun.

Long-long paling piawai mengajak merenung lewat kata-kata. Rasanya adem. Sementara tulisan-tulisan Masagun selalu penuh analisa dan matang. Yang paling lembut di antara kami bertujuh justru Gandrasta. Orang ini penuh rasa cinta.

Aku suka sekali gaya tutur Papah Glenn yang apa adanya. Suka atau ndak suka, semua dijembrengin. Sementara Masungu itu Linimasmas yang paling puitis. Kaya diksi. Romantis. Lihat saja betapa indahnya resensi yang dia buat setiap pagi. Kalau tulisan-tulisan kami ini film, maka Masungu adalah Roger Ebert-nya.


 

Selain mereka berenam, ada beberapa orang lain yang “rumah”nya sering saya kunjungi. Hari ini saya ingin mengenalkan mereka kepada kalian:

1. SASTRI

sastri

Sama seperti namanya. Blog ini milik Sastri, seorang travel journalist. Tulisan-tulisan Sastri begitu “bersih”. Deskriptif sekali. Mengalir. Sekilas mengingatkan saya dengan tulisan Ahmad Yunus.

Gak cuma pintar bertutur, Sastri juga pintar motret. Tulisan-tulisan dia yang cantik itu ditunjang dengan foto yang gak kalah bagusnya. Keliatan jelas kalau setiap perjalanan dia selalu pakai hati.

2. CHIPPING IN

eva

Sama seperti Long-long, tulisan-tulisan mbak Eva Muchtar selalu bikin adem. Di saat yang sama tulisannya begitu… dalem. Mengajak kita untuk mendengar. Satu hal yang sering banget terlupakan.

3. TERSENGAT KALIMAT

teguh

Teguh Afandi mahir sekali menulis cerpen. Gayanya antara surealis dan realis, tapi ndak “ketinggian”. Saya paling suka kalau dia sudah bahas soal kultur atau kebiasaan masyarakat tertentu. Semoga suatu saat tulisan dia ini bisa dibukukan.

 

Apa blog favoritmu? bolehkah dibagi di kolom komentar? 🙂

HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 4

“Katakan, Sayangku, siapakah lelaki yang paling berkuasa di negeri ini? Adakah yang lebih kuat dan hebat dariku?”

“Ada. Bukan kau.” jawab sang kekasih dengan tenang.

Ia pun terperanjat. Kaget. Ia tak mungkin tertandingi. “katakan, siapakah dia?”

“Aku.”

“Kamu..? Tapi… Bagaimana mungkin kamu bisa lebih berkuasa dariku?”

“Aku tidak mengerti..”

“Iya. Kamu memang penguasa terhebat negeri ini, tak ada raja yang lebih berani darimu. Tapi, kamu dikuasai hatimu, Sayangku. Dan aku, akulah penguasa hatimu.”


Ilustrasi Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz. Digambar oleh Ryan Grant Long

Ilustrasi Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz. Digambar oleh Ryan Grant Long

Abad 8 masehi. Islam sedang jaya-jayanya. Abbasiyyah berhasil merebut hampir semua wilayah jajahan Umayyah. Hanya menyisakan Al Andalus. Mereka lalu membuat pasukan elit dan merekrut para budak keturunan Turki. Mamluk. Terkenal paling piawai di medan perang, tidak pernah tidak menang.

Wilayah kekuasaan Abbasiyyah pun semakin meluas. Dan, konsekuensinya, Islam pun semakin menyebar. Dan pada abad ke-10 akhirnya bisa memasuki wilayah India. Si Mahmud yang keturunan Mamluk akhirnya berhasil menaklukkan Ghazni. Jadilah ia ‘Sultan’ pertama dalam sejarah Islam.

Gak puas hanya jadi raja kecil di Ghazni, Mahmud pun terus berambisi menaklukkan daerah-daerah lain. Akhirnya wilayah Iran, Turkmenistan, Uzbekiztan, Kyrgyzstan, Pakistan, dan juga wilayah utara India semua masuk jadi wilayah kekuasaanya. Siapa yang tak kenal mahmud. Bagi rakyatnya, ia dianggap seorang patron sastra dan seni. Mahmud dipuja puji. Punya sembilan istri. Lusinan selir.

Tapi ke-sembilan istri dan lusinan selir tadi tidak ada yang bisa mengambil tempat paling spesial di hati Mahmud, padahal, hasil perkenthuannya sudah menghasilkan lebih dari lima puluh anak. Cintanya hanya untuk Ayaz.

Ayaz tidak rupawan. Wajahnya biasa saja. Kulitnya gelap. Seperti buah zaitun, katanya. Apalagi ia hanya seorang budak hasil rampasan. Tapi cinta Mahmud begitu tulus. Bahkan, di dalam cerita para sufi, kisah cinta antara Mahmud dan Ayaz ini dijadikan contoh ‘Ishq. Sebuah perasaan kasih yang begitu dalam, sampai-sampai bisa mengalahkan ego. Pengejawantahan cinta yang paling sempurna.

Rakyat bingung. Seorang sultan yang paling hebat justru melupakan para istri dan selirnya dan lebih memilih Ayaz. Udahlah mukanya biasa aja, cowok pula. Ada satu pujangga terkenal yang menulis tentang mereka. Kalau diterjemahkan seperti ini: “Bagaimana mungkin seorang burung bulbul (nightingale) lebih memilih mawar yang sudah tidak berbau, tidak juga memiliki warna yang indah?”

Namanya juga cinta. Susah dimengerti. Malik Ayaz jadi orang kepercayaan si sultan. Gak cuma soal hati, tapi juga soal pemerintahan. karirnya semakin lama semakin menanjak. Mulai dari prajurit, diangkat jadi panglima, dan akhirnya ia dihadiahi wilayahnya sendiri. Lahore. Di bawah pemerintahan Ayaz, Lahore yang tadinya porak-poranda karena perang menjadi begitu maju.

Dan pada suatu hari, ketika Mahmud sedang berdua-duaan dengan kekasihnya, Ayaz, ia bertanya:

“Katakan, Sayangku, siapakah lelaki yang paling berkuasa di negeri ini? Adakah yang lebih kuat dan hebat dariku?”

Puisi tentang Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz

(bersambung)

(Baca cerita sebelumnya di sini.)

HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 3

(sambungan dari Part 1 & Part 2)

Ruangan besar itu begitu lengang. Hanya ada dua kursi yang saling berhadapan dan dipisahkan sebuah meja. Lelaki itu bernama Amir. Di depannya duduk seorang panglima Taliban. Berjubah putih, sorban yang sewarna, dan janggut yang panjang melewati dagu. Mereka tidak saling berbicara. Di dekat pintu ada seorang penjaga yang berdiri tegap dengan senapan di punggungnya.

Tak berapa lama pintu pun dibuka. Suara musik serta-merta menghambur ruangan. Disusul derap-derap langkah. Seorang lelaki yang juga berjanggut, bersorban, dan bersenapan berjalan masuk. Ia menjinjing radio player usang. Di belakangnya terlihat seorang anak kecil. Sohrab namanya. Gemerincing gelang-gelang di kakinya melengkapi musik yang mengalun.

Sohrab memasuki ruangan sambil menari. Berjinjit lalu berputar. Begitu gemulai. Badannya berbalut kain sutera warna biru tua. Wajahnya yang halus dan matanya yang lebar dibingkai maskara dan celak warna hitam. Rautnya murung. Dua orang penjaga bersenapan tadi terus bertepuk tangan, seolah memaksa Sohrab untuk terus menari.

Amir mengalihkan pandangannya. Ia tidak tahan. Anak lelaki yang dipaksa menari ini keponakannya.

***

Cerita di atas adalah sepenggal adegan dari film The Kite Runner. Film adaptasi dari buku berjudul sama karangan Khaled Hosseini.


Bacha Bazi di awal tahun 1900an

Bacha Bazi di awal tahun 1900an

Bacha Bazi berasal dari bahasa Persia, Baacheh Baazi. Simpelnya, mereka adalah anak laki-laki penghibur. Ini merupakan tradisi Afghanistan yang sudah berumur ratusan tahun. Katanya, sih, adaptasi dari kebudayaan Persia Kuno dan Romawi.

Para lelaki Taliban mengambil anak-anak lelaki yatim piatu atau mereka yang dari keluarga tak mampu untuk didandani seperti perempuan. Mereka dijual bak budak. Dipaksa menari dan benyanyi di depan puluhan lelaki dengan iring-iringan musik. Untuk menghibur hati dan juga pemuas hasrat seksual.

Bacha merupakan symbol kekayaan dan kekuasaan laki-laki Taliban. Semakin manis rupa, semakin halus kulit, semakin lentik jemari ketika menari, maka semakin tinggi pula status sosial sang tuan.

Biasanya para “tuan” ini memiliki lebih dari satu Bacha dengan rentang umur yang bervariasi. Rata-rata usia 8-17 tahun. Dan sudah “aturan main”-nya ketika para Bacha ini beranjak dewasa, biasanya mereka juga membeli anak-anak lelaki untuk dijadikan Baacha Bazi. Begitu seterusnya. Kalau mereka coba kabur, anak-anak ini akan dipukuli bahkan tak jarang dibunuh.

Sangat ironis. Untuk negara yang sudah jelas-jelas menyandang cap ‘homophobic’ dan dengan tegas menjalankan memaksakan hukum Shariah, Bacha Bazi yang merupakan konsep jaman batu ini justru tumbuh begitu subur. Memang, pada praktiknya hal ini illegal. Tapi karena para tuan ini adalah orang-orang yang berkuasa, jadi kebiasaan ini tetap dijalankan.

Satu pasal di undang-undang Taliban bahkan menyatakan “Mujahiddin dilarang membawa anak laki-laki tanpa ‘facial hair’ ikut masuk ke dalam kamar-kamar pribadi mereka.”
Ironis, kan? Kelompok fundamentalis Islam garis keras bahkan merasa perlu secara spesifik mencantumkan ini ke dalam undang-undang mereka.

Sepertinya memang praktik ini sudah jadi rahasia umum dan diterima secara diam-diam, sekeras apaapun hukum syariah yang dijalankan. Sampai-sampai ada perumpamaan seperti ini: “Ketika seekor burung terbang melintasi Kandahar, ia hanya mengepakkan satu sayap. Satu untuk terbang, sedang yang satu lagi untuk menutupi bokongnya.”

(bersambung)