Sebatang Rokok

Pada satu waktu, sebatang rokok jatuh cinta pada sang tuan.

Ia memuja. Kepadanya, dibiarkan sang tuan mengambil bagian penting dalam hidupnya.

Ia pasrah, kalau pada ujungnya ia menguap tak bermakna.

Meninggalkan hanya sisa abu.

Ia rela pelan-pelan disakiti, dibakar api.

Tidak apa. Mengabaikan kebendaan, cinta sejatinya adalah energi luar biasa.

Sebentar lagi, karena cinta, esensi hidup sebatang rokok menemukan tempat nyaman.

Ia akan selamanya memeluk lengket menempel pada Sang tuan.

Mengalir bersama darah.

Ia menunggu dengan sabar.

Giliran untuk terambil dari bungkusan.

Ia berteriak memanggil. Tapi nasib memilih tidak berteman.

Satu demi satu, sang Tuan mengambil batang demi batang.

Sampai tinggal Ia seorang.

“Sekarang giliranku”, Pikirnya penuh suka.

Kemudian terdengar bunyi kematian.

Sang tuan memutuskan untuk berhenti merokok.

Ia gundah bukan kepalang.

Sedih tiada tertahan.

Cinta tak bertemu muara.

Malam ini aku akan berdoa sepenuhnya, semoga besok waktu ku tiba.

Malam pun berganti.

Pagi tiba.

Sebatang rokok membuka mata.

Gelap.

Di mana gerangan sang tuan?

Kenapa matahari pun tak ada?

Sebatang rokok berujung, di tempat sampah.

Dengan cintanya.

Advertisements

Cinta yang Menghidupkan

Setelah dibaca lagi, kenapa judulnya seperti roman picisan ya? Ah, sudah lah.

Dua hari yang lalu saya menonton film “Coco” di bioskop. Film animasi keluaran Disney Pixar.

Aduh, aku tidak pandai bercerita. Jadi, lebih baik tonton saja sendiri ya.

Mexico, punya cara yang indah soal kematian. Dias De Muertes: perayaan cinta kasih, menghidupkan kembali yang mati untuk kembali pulang dan dikenang oleh yang mencintai mereka semasa hidup.

Kasih, mampu membuat seseorang kekal di dalam benak.

Cintai aku, maka aku akan selalu hidup untukmu.

Sebulan ini, Eyang kakung dan Eyang putri. Orang tua dari Ibuku ini diputuskan untuk tinggal bersama di rumah kami di Semarang. Dianggap sudah terlalu renta untuk tinggal sendirian. Keduanya sudah pikun. Bahkan untuk mengerjakan hal-hal keseharian pun, sudah harus perlu dibantu oleh Ibuku. Mandi, misalnya.

Saat kemarin saya pulang kampung. Perasaan saya campur aduk. Kita ini sejatinya rapuh. Dua orang yang saya kasihi itu menjadi lemah karena waktu.

Kita bisa menggunakan apa saja sebagai penanda untuk kita menggantungkan rasa.

Setiap saya makan sayur kare kentang, tempe goreng, dan sambel bawang dadakan. Di mana pun. Saya ingat Ibu. Dia tahu, kombo makanan ini kesukaan nomor satu. Entah kenapa. Padahal ya sederhana saja. Dimakan sambil mendengarkan Ibu bicara ngalor ngidul, membahas hal yang mungkin saya tidak akan peduli isinya. Tapi mendengarnya bicara ini itu, selalu saja berhasil membuat hati tentram. Selain perasaan kenyang sesudahnya, tentu saja.

Dulu, waktu saya masih kecil. Liburan panjang sekolah adalah masa paling menyenangkan. Waktunya dilempar ke rumah eyang.

Setiap pagi, sebelum membuka bengkel sepedanya tidak jauh dari pasar Godean, saya dibonceng Eyang Kakung pergi membeli sebungkus belut goreng di pasar itu. Dimakan sambil menemani beliau membuka bengkel. Elusan tangan kasarnya di kepala, surga rasanya.

12479558_137376739979440_1622564778_n

Dulu, Eyang putri punya permainan yang saya sangat suka. Hadiahnya uang, 100 perak buat jajan. Setiap sore.

“Aku tunjuk barang, kamu ndongeng soal barang itu ya. Yang bagus!”

“Korek api!”

“Sendal jepit!”

“Ehmmm tunggu sebentar… ah, itu… cangkir!”

Dan kami punya banyak dongeng soal barang-barang remeh yang ditunjuknya. Oh tentu saja, banyak uang jajan untukku waktu itu.

Sebulan lalu saya pulang kampung. Dua orang itu tetap sama di benak saya. Walaupun Eyang kakung perlu dibantu,

“Iki Agus, eyang…. putu lanang saka njakarta!”

Aku rasa benar. Kasih, mampu membuat seseorang kekal di dalam benak.