Jadilah Pendukung Yang Biasa-Biasa Saja (2)

Saya dulu adalah penggemar Persib. Ketika mempunyai kesempatan untuk menonton pasti saya sempatkan. Stadion Siliwangi dulu adalah stadion satu-satunya jika Persib bertindak sebagai tuan rumah. Belum ada Stadion Jalak Harupat atau yang terbaru Stadion Gelora Bandung Lautan Api atau lebih dikenal dengan GBLA. Belum sempat menonton di GBLA. Entah karena kehabisan tiket atau waktunya tidak ada.

Hari Minggu kemarin adalah hari yang kelabu bagi persepakbolaan Indonesia. Telah kita ketahui bersama kalau ada suporter Persija menjadi korban penganiayaan oleh suporter Persib. Kejadian yang berlangsung dua jam sebelum Persib lawan Persija bertanding ini lagi-lagi mencoreng muka sepakbola Indonesia. Semua orang menyayangkan kenapa ini terjadi. Kemenangan Persib atas Persija pun yang dirasa manis sebelumnya menjadi pahit. Menjadi tak bermakna. Rasanya kalau boleh memilih, saya lebih memilih kalah asalalkan Haringga Sirla tetap hidup dan menonton bola dengan nyaman.

Hukuman apa yang pantas untuk klub Persib? Pertandingan tanpa penonton? Sudah pernah. Pembekuan liga? Sudah pernah juga. Pertandingan digelar di tempat netral? Sudah pernah juga. Saya serahkan ini kepada ahlinya saja. Saya tidak mempunyai jawaban. Selama itu bisa mengurangi korban jiwa di pertandingan selanjutnya maka akan saya dukung.

Tragedi Heysel yang melibatkan 39 korban jiwa dan ratusan luka di kubu suporter Liverpool dan Juventus pada tahun 1985. Akibatnya klub dari Inggris dilarang untuk tampil di ajang kompetisi Eropa selama lima tahun dan tiga tahun tambahan untuk klub Liverpool, padahal klub Inggris sedang jaya-jayanya pada saat itu. Salah satu musuh bebuyutan Liverpool di Liga Inggris adalah Manchester United. Jika kedua tim sedang bertanding maka dijamin tensi akan memanas. Di luar dan di dalam lapangan.

Tetapi ada kejadian lucu yang terjadi. Gary Neville adalah mantan pemain Liverpool sementara Jamie Carragher adalah mantan pemain Liverpool. Keduanya mempunyai posisi yang sama, yaitu bek atau pemain bertahan. Pernah juga memperkuat timnas Inggris. Keduanya adalah pundit dan mempunyai acara TV di Sky Sport. Di salah satu acaranya mereka bertarung untuk adu penalti dan yang kalah harus mengenakan jersey dari tim yang menang.  Jamie memenangi adu penalti, yang artinya Gary harus mengenakan jersey Liverpool. Haram hukumnya seorang penggemar sejati Manchester United untuk mengenakan sesuatu yang berbau Liverpool dan begitu juga sebaliknya. Bisa diliat di bawah videonya.

Saya sekarang jadi membayangkan bagaimana jika Kang Ridwan Kamil dan Pak Anies Baswedan hadir dalam salah satu talk show di TV, Kang Ridwan mengenakan jersey Persija dan Pak Anies mengenakan jersey Persib. Saya kira ini patut dipikirkan. Untuk meredakan tensi. Sebagai pengingat bahwa sepakbola hanyalah hiburan. Bahwa fanatisme berlebihan itu tidak pernah membawa manfaat. Dalam hal apapun.

Advertisements

Crazy Rich Asian itu Yusaku Maezawa

Baru pagi ini SpaceX, perusahaan roket Elon Musk, mengumumkan Yusaku Maezawa sebagai penumpang pertama yang berani membayar sekitar $60 juta dollar pulang pergi agar bisa mengelilingi bulan. Siapakah Yusaku Maezawa ini sebetulnya? Yusaku adalah milyarder dari Jepang, pemilik Start Today dengan anak perusahaannya Zozotown. Menurut Forbes, Yusaku membunyai kekayaan tiga milyar dollar. Zozotown adalah online mall terbesar di Jepang yang bergerak di bidang fashion. Dia termasuk ke dalam 20 orang terkaya di Jepang.

IMG_20180918_113710_672

Selain itu dia juga pecinta seni. Ketika anda pecinta seni dan kaya raya, maka tindakan selanjutnya adalah menjadi kolektor lukisan. Ini hal yang wajar dan biasa. Ketika Muhammad Bin Salman, pewaris tahta kerajaan Saudi, memiliki koleksi lukisan Yesus dari Leonardo DaVinci, yang merupakan lukisan termahal di dunia, maka Yusaku mempunyai koleksi lukisan Basquiat seharga $110 juta dan lukisan Pablo Picasso seharga $80juta. Kantornya dikelilingi karya dari Andy Warhol dan Isamu Noguchi.

basquiatyusaku

Jika di film Crazy Rich Asians, kita melihat orang yang super kaya, memilih untuk menghindari publisitas. Maka itu tidak terjadi pada Yusaku Maezawa. Yusaku masih mempunyai media sosial, Instagram & Twitter, dan keduanya aktif. Itu pilihan dan tidak ada yang salah apabila anda mempunyai menjadi “high profile atau low profile”. Yusaku mengumumkan melalui Instagram bahwa dia akan pergi ke bulan. Apakah dia sombong? Atau jujur? Tapi bukankan media sosial dibuat untuk itu? Crazy Rich Asians di mata saya itu Yusaku Maezawa. Selain kaya, mereka juga melakukan hal yang tidak biasa. Dan pergi ke bulan dengan $60 juta itu sepertinya biasa saja dibanding dengan membeli lukisan ratusan juta dollar.

Yusaku juga seorang penikmat musik. Dia dulunya juga mempunyai band punk bernama Switch Image. Dia sering menghadiri konser-konser di belahan dunia. Start Today, parent company dari Zozotown, namanya diambil dari judul lagu dari band New York hardcore Gorilla Biscuits. Dia adalah penggemar berat dari band tersebut. Dia juga piawai bermain drum dan pernah ngejam bersama mereka.  Ya wajar kalo kamu kaya raya mau melakukan hal apa saja pasti bisa. Start Today juga maknanya luas. Mirip dengan Just Do It kepunyaan Nike.

Kita sekarang melihat kalo sekarang sudah ada “pergeseran kekayaan”. Menjadi kaya dan orang Asia adalah hal yang biasa. Yang mau saya tekankan di sini adalah janganlah kita rendah diri menghadapi bule. Karena mental inferior ini masih dimiliki bagi sebagian rakyat Indonesia. Kita sekarang sudah mempunyai Nadiem, pemilik Gojek yang baru saja melebarkan sayapnya ke Vietnam, melalui Go-Viet. Kita juga tau Jack Ma, pemilik Alibaba Group, yang sering berkunjung ke Indonesia, adalah orang terkaya di China.

Jadi janganlah minder kalo liat bule. Biasa aja. Yang penting mulai dari hari ini. Start today!

Film Wiro Sableng Yang Kurang Gendeng

Wiro Sableng adalah serial buku silat yang sangat terkenal di Indonesia. Dan uniknya, setau saya, buku ini tidak hadir di toko buku besar. Di kota saya, ini bisa dicari di toko buku Palasari, atau toko buku emperan di Cikapundung, bersandingan bersama buku stensilan Enny Arrow dan Nick Carter. Di era 80-90an Wiro Sableng adalah primadona buku silat Indonesia. Kalau Marvel mempunyai Stan Lee maka Indonesia punya Bastian Tito.

wiro2.jpg

Sebelum difilmkan sebetulnya Wiro Sableng sempat dibuat sinetron di RCTI sekitar medio 90an kalo saya tidak salah, dengan Ken Ken sebagai Wiro Sableng. Lalu pada tahun ini Wiro Sableng dibuat film dengan Vino G. Bastian, yang juga anak dari Bastian Tito, sebagai Wiro Sableng. Tentunya film ini sangat ditunggu untuk pembaca buku Wiro Sableng seperti saya. Saya penasaran bagaimana hasilnya.

Tetapi setelah saya menonton film ini saya merasa kecewa. Walaupun kabarnya sampai hari ini sudah tembus 600 ribu orang yang menonton film ini tapi saya merasa terganggu dengan jalan cerita dari film ini. Saya tidak mempermasalahkan CGI, karena saya pikir film Wiro Sableng tidak begitu banyak memerlukan teknik CGI. Tapi spesial efek menurut saya perlu. Karena banyak jurus yang membutuhkan spesial efek agar terlihat dahsyatnya bagaimana jurus Pukulan Sinar Matahari atau Benteng Topan Melanda Samudra divisualkan. Saya tidak lihat ada di film ini. Saya lupa apa Wiro mengeluarkan jurus Kunyuk Melempar Buah di film ini atau tidak. Saya sangat menantikan itu. Sama seperti saya menantikan Wong Fei Hung mengeluarkan jurus Tendangan Tanpa Bayangan di film trilogi Once Upon A Time In China.

wiro1

Saya melihat di sini, Seno Gumira Ajidarma, sebagai penulis skenario terlihat memaksakan untuk memasukan banyak karakter, baik musuh maupun lawan ke dalam film ini. Ini bisa menjadi keuntungan tapi bisa juga menjadi kerugian. Terhitung ada tujuh penjahat di film ini yang hadir sebagai lawan Wiro Sableng. Sementara dari kubu Wiro Sableng saya hitung ada empat karakter. Total sebelas karakter yang kesemuanya penting dan mempunyai cerita sendiri di bukunya. Tapi itu tidak dijelaskan di filmnya. Semuanya menjadi kabur dan tidak fokus. Tidak jelas asal-usulnya. Tiba-tiba muncul. Ini siapa? Itu siapa?

Angga Dwi Sasongko, sebagai sutradara pun terlihat kewalahan untuk memasukan semua karakter dalam satu film yang hanya berdurasi dua jam. Jadinya editing sedikit berantakan. Agak dipaksakan. Yang pada akhirnya hanya Wiro Sableng dan Bujang Gila Tapak Sakti yang menonjol. Mahesa Birawa memang komandannya, tapi siapa itu Kala Hijau? Pendekar Pemetik Bunga ini menarik. Lelaki tetapi kemayu. Kita semua ingin tau latar belakangnya. Iblis Pencabut Sukma ini dari mana datangnya? Koq misterius dan perannya minimal sekali. Kenapa sekonyong-konyong Anggini dan Dewa Tuak bertemu di tengah hutan dengan Wiro? Semuanya serba cepat. Tidak ada kontinuitas. Angga pun sering sekali memakai zoom untuk adegan filmnya. Bahkan di adegan duel. Mata saya agak pusing lihatnya. Apakah teknik ini mengambil dari film-film Jason Bourne? Saya tidak tahu.

wiro3

Film Wiro Sableng ini mengingatkan saya pada film Batman Forever atau Batman & Robin yang dibintangi oleh Val Kilmer sebagai Batman. Di film ini pun banyak karakter yang terlibat. Ada The Riddler, Mr. Freeze, Bane, Poison Ivy, Robin, Harvey Two-Face, Chase Meridien dan lain-lain. Semuanya dibintangi bintang film kelas atas. Tapi hasilnya film ini jadi samar. Parade penjahat dan protagonis. Kabur. Semua berusaha mencuri panggung dan Jim Carrey sebagai The Riddler adalah pemenangnya. Dan beruntung film ini punya sontrek yang lagunya abadi dari Seal. Walau saya lebih suka U2.

wiro4.jpg

Lalu kita bandingkan dengan Batman Trilogy versi Nolan. Kita lihat di Batman Begins. Jonathan dan Chris Nolan hanya fokus pada bagaimana proses Bruce Wayne menjadi Batman. Penjahatnya cuma dua, Ra’s Agul dan Scarecrow. Bukan penjahat utama. Karena puncak dari trilogi ini ada di sekuelnya, The Dark Knight, di mana Batman bertemu dengan musuh bebuyutannya yang sulit dikalahkan, Joker. Sementara di The Dark Knight Rises, Batman bertemu dengan Bane. Kita lihat bagaimana Nolan Bersaudara meramu trilogi ini tanpa harus memaksakan semua karakter berada di dalam film. Walaupun sebetulnya mereka bisa melakukan itu. Tapi mereka akan menghadapi resiko yang sama dengan Batman Forever atau Batman & Robin. Dan penggemar Batman pun akan tahu bahwa Michael Keaton dan Christian Bale lebih superior dari Val Kilmer ataupun George Clooner.

wiro5

Kenapa saya membandingkan Wiro Sableng dengan Batman Trilogy? Selain keduanya adalah superhero, di post-credit scene juga saya lihat ada Pangeran Matahari. Ini artinya bakal ada sekuelnya, bahkan saya dengar akan dibuat trilogi juga film ini. Pangeran Matahari adalah Joker atau Lex Luthor versi Wiro Sableng. Dia sangat sakti. Sinto Gendeng pun kerepotan melawannya. Dan kalau boleh saya berharap, agar penulis naskah dan sutradara agar lebih fokus kepada satu karakter ini. Buatlah Pangeran Matahari seperti Joker di The Dark Knight. Saya ingin melihat visual yang sama ketika saya membayangkan Pangeran Matahari di bukunya. Bujang Gila Tapak Sakti boleh dipertahankan. Sambil ditambah mungkin Pendekar Hidung Belang Berkipas Sakti buat menyemarakkan suasana.  Ini semua saya tulis karena kecintaan saya terhadap buku favorit masa kecil saya. Saya ingin sekuelnya dipoles mendekati sempurna.

nb: Oiya satu lagi. Prostetik Sinto Gendeng itu sangat mengganggu dan tidak perlu. Saya jadi curiga Sinto Gendeng itu satu almamater dengan Haji Jeje. Rikues Renny Djayusman boleh gak? Dia tidak usah akting juga sudah gendeng dari sananya.

 

 

Sepakbola Dan Political Correctness

Kemarin adalah terakhir kita melihat event empat tahunan Piala Dunia di Rusia. Sepakbola walau bagaimanapun adalah olahraga paling populer di seluruh dunia. Penggemarnya banyak. Kita sudah mempunyai pemenangnya, Prancis. Untuk kali kedua mereka menjadi Juara Dunia. Pertama kali, 20 tahun lalu, Didier Deschamps yang menjadi kapten memenangi kejuaraan ini. Kali ini bertindak sebagai pelatih, Deschamps memenangi kembali kejuaraan ini. Deschamps adalah legenda. Karena hanya ada dua orang sebelumnya yang bisa memenangi kejuaraan ini sebagai pelatih dan pemain. Franz Beckenbauer dari Jerman dan Mario Zagallo dari Brasil. Sekarang tambah orang Prancis. Tidak sembarang orang bisa masuk kategori ini.

Maker:0x4c,Date:2017-12-12,Ver:4,Lens:Kan03,Act:Lar01,E-Y

Tapi ada satu yang mengganjal dari Piala Dunia kali ini. VAR, yang kependekan dari Virtual Assistant Referee, ini mulai diperkenalkan pertama kali, setelah sebelumnya Liga Italia dan Amerika Serikat sudah mulai menggunakan teknologi ini. VAR ini dipergunakan untuk meminimalisasi kesalahan yang dilakukan oleh wasit di lapangan. VAR terdiri dari beberapa asisten wasit yang berada di dalam ruangan yang mengamati pertandingan melalui beberapa monitor TV. VAR bisa memberi rujukan ke wasit di lapangan jika terjadi pelanggaran yang berpotensi kartu merah atau penalti. Di sini masalah timbul. VAR belum bekerja maksimal. Mungkin VAR sudah berhasil mengurangi kesalahan yang di buat oleh wasit. Tapi ada yang lebih penting, VAR dianggap membunuh permainan sepakbola itu sendiri. Karena prosesnya yang relatif lama itu bisa membunuh tempo permainan. Sepakbola yang di mainkan 2 x 45 menit adalah permainan strategi dan tidak mengenal kata time out. Tempo permainan bisa berhenti seketika ketika proses VAR berjalan. Ini artinya permainan kembali ke nol. Serangan yang sudah dibangun tiba-tiba bisa hancur seketika. Ini pun dirasakan oleh penonton yang ketika VAR diberlakukan. Saya menyebutnya dijitalisasi emosi. Mengambil emosi dengan alasan tidak perlu. Tidak organik. Untuk gampangnya bayangkan jika anda sedang menonton film yang sedang tegang-tegangnya lalu tiba-tiba ada iklan di televisi. Ngedrop kan. Lalu film mulai lagi. Tapi kita sudah memiliki emosi yang berbeda. Itu kenapa nonton film itu lebih enak di bioskop. Nyaris tidak ada gangguan. Kecuali kalo ada yang maen hape atau nendang-nendang kursi. Nah ini yang membedakan sepakbola dan bola basket yang terdiri dari 4 babak dan permainan bisa berhenti sesuka hati. Hitungan detik bisa menjadi poin tapi tempo tetap terjaga. Tapi tidak begitu dengan sepakbola.

VAR

Ini kenapa FA, PSSI-nya Liga Inggris musim ini pun menolak penggunaan VAR ini karena bukannya mengurangi masalah tapi malah menambah masalah baru. Kita lihat di ajang Piala Dunia ini. Di babak 16 besar sangat sedikit sekali VAR campur tangan dan hasilnya kita mendapatkan permainan yang enak ditonton. Mengalir sampai jauuh.. dan di final dan kita menemukan lagi VAR beraksi di babak pertama. Di sini kontroversi mulai. Kedudukan ketika itu 1-1 dan VAR menunjukan ada handsball oleh Perisic, pemain Kroasia. Wasit membutuhkan waktu lama untuk memutuskan. Dia sempat balik lagi ke layar VAR untuk meyakinkan keputusannya dan terjadilah penalti. Perancis menang 2-1 di babak pertama. Banyak pundit yang mempertanyakan keputusan ini. Wasit pun nampak tidak yakin dengan keputusannya. Tidak penalti pun tidak apa-apa. Tidak ada pemain Prancis di sekitar Perisic yang bisa membahayakan dan berakibat gol. Jika wasit memang tidak begitu yakin dengan VAR lalu buat ada VAR. Jika dibiarkan VAR itu akan menjadi norma dan ini berbahaya.

VAR ini buat saya semacam political correctness yang masuk ke ranah sepakbola. Maksudnya tentu baik agar sepakbola berjalan dengan adil dan lancar. Tapi yang terjadi adalah kebalikannya dan banyak yang menganggap VAR ini bisa merusak jiwa sepakbola. Kita memang hidup di abad 21 di mana semuanya menggunakan sentuhan teknologi. Tetapi bukan berarti semuanya harus menggunakan teknologi. Digital Line Technology itu tepat digunakan di sepakbola untuk melihat apakah bola masuk atau tidak ke gawang. Rugby sudah lama menggunakan VAR dan banyak keluhan yang datang kalau rugby sudah tidak menarik lagi. Saya tidak mengikuti MLS ataupun Liga Italia tapi saya memilih wasit yang tidak sempurna daripada teknologi yang malah membuat rumit seperti saya lebih memilih customer service yang improvisasi kata-kata daripada mereka yang kaku dengan protokol membuat saya seperti bicara dengan robot.

PC1

Political correctness itu gampangnya polisi bahasa atau polisi pikiran. Ada sekelompok orang yang mengatur bagaimana sebaiknya bersosialisasi dan berbahasa yang baik tentu saja dengan tujuan yang luhur atas nama minoritas atau mereka yang tertindas. Mereka itu musuh dari free-speech. Tetapi banyak penggemarnya karena bersembunyi dalam balutan kebaikan dan belas kasih.  Saya pernah bahas di sini sedikit. Dalam sepakbola itu masih dugaan saja jika VAR adalah bagian dari political correctness. Tapi gejala ke sana sudah saya rasakan walaupun hanya melalui riset kecil-kecilan.

Minggu depan ya saya lanjut.

Obituari: Bule Keren Bernama Bourdain

Sebelum dia menulis essai Don’t Eat Before Reading This di usia 40. Dia adalah bukan siapa-siapa. Dia hanyalah seorang chef di kota New York. Tapi setelah tulisan itu rilis di New Yorker pada tahun 1997 maka namanya melesat dan bintangnya pun langsung bersinar terang.

Bourdain2

Good food, good eating, is all about blood and organs. Cruelty and decay.

Kalimat awal tulisan itu begitu mentah dan menghujam. Makanan itu tak lebih dari sekedar darah dan organ tubuh. Kekejaman dan kebusukan. Dia juga melanjutkan bahwa gastronomi adalah ilmu mengenai kesakitan. Tulisan ini mengungkap sisi gelap bagaimana makanan yang lezat dihidangkan. Tulisan ini memberitahu pembaca agar jangan membeli hidangan mengandung ikan tuna di hari Senin, karena ikan tersebut bisa jadi dibeli empat hari sebelumnya yang artinya ikannya sudah tidak segar. Dia juga bilang kalo di hari Selasa kita akan menemukan hidangan yang segar dan kebanyakan chef tidak bekerja pada hari Senin. Chef adalah pekerjaan yang keras dan kotor. Kita tidak tahu bahwa kita hanya tinggal menikmati hidangan yang hangat dan segar di meja yang dibalut kain putih bersih. Menjadi chef di dapur restoran di kota New York membuat dia menguasai permasalahan yang ada. Dia tidak sekedar menulis. Dia tahu banyak makanan yang tidak habis didaur ulang. Roti yang tidak termakan dihidangkan kembali. Sisa mentega disajikan menjadi hollandaise.

Esai ini tentu menimbulkan kontroversi. Tapi tidak ada yang menafikan bahwa essay ini ditulis dengan jujur yang hasilnya dia mendapatkan tawaran untuk membuat buku yang kelak mengubah jalan hidupnya. Kitchen Confidential adalah merupakan buku pertamanya yang laku keras. Bourdain pun dengan kepribadian yang unik mendapatkan tawaran dari Food Network untuk membawakan acara A Cook’s Tour. Yang dilanjutkan dengan No Reservations dan juga Parts Unknown.

Banyak chef yang mempunyai acara TV tapi hanya sedikit yang mempunyai banyak penggemar. Bourdain mempunyai wawasan yang luas. Dia menyukai film dan teknik perfilman dia terapkan di acaranya. Ini yang membuat dia banyak mendapatkan penghargaan. Kesukaannya akan musik rock membuat ia bisa dengan mudah banyak mengundang musisi rock ke acara televisinya. Dan yang paling penting adalah dia bisa melebur dengan kebudayaan dari masyarakat lokal di manapun dia berada di lebih dari 100 negara yang sudah dia kunjungi. Dia tidak mempunyai pantangan. Dia bisa memakan apa saja. Ini yang membuat dia banyak disukai. Dia pernah makan sup darah berisi otak babi di Thailand. Makan testikel kambing di Maroko. Telur semut di Meksiko. Tidak banyak bule yang bisa melakukan ini. Di televisi. Seorang chef apalagi. Dia merangkul kearifan lokal, bagaimana kita banyak menyebutnya. Ini yang tidak dipunyai vlogger semacam Logan Paul. Ataupun juri Masterchef yang bilang rendang itu harus renyah. Atau bahkan Marko Simic yang melakukan pelecehan seksual terhadap Via Vallen. Atau mungkin kebanyakan bule di Melly’s dan Jalan Jaksa.

Bourdain1

Tony, begitu dia dipanggil oleh teman dan koleganya, mempunyai banyak julukan. Hemmingway of Gastronomy, the Elvis of bad boy chefs, dan banyak lagi. Dia adalah rock star di dunia kuliner. Dia bisa dengan seenaknya mengeluarkan kata-kata kotor di televisi. Dia juga bisa mengkritik siapa saja, sesama chef atau kaum vegetarian. Dia memang dibesarkan ketika musik punk sedang berkembang. Ini yang ikut membentuk kepribadiannya Di tahun 70an akhir di New York, CBGB, dan narkoba adalah kegiatan yang lazim. Dan Tony pun ikut tenggelam di dalamnya. Dia menjadi pecandu heroin dan kokain. Dia bahkan mengaku dia sering kali dalam kondisi pengaruh narkoba ketika bekerja sebagai chef sambil mendengarkan The Ramones atau Grateful Dead. Bukunya yang berjudul The Nasty Bits, dia dedikasikan untuk Johnny, Joey, dan Dee Dee Ramone.

Anthony Bourdain juga merupakan seorang penggagas gerakan #MeToo. Asia Argento, kekasihnya, adalah korban perkosaan yang dilakukan oleh produser kondang bernama Harvey Weinstein. Dia ikut mendorong Asia agar mengungkap kasus ini, dibantu oleh Rose McGowan dan juga yang lainnya. Gerakan ini telah membuahkan hasil. Harvey Weinstein sekarang sedang menjalani proses pengadilan.

bourdain3

Sebelum berhubungan dengan Asia Argento, dia sudah dua kali menikah. Nancy Putkoski adalah istri pertamanya yang dinikahi pada tahun 1985 hingga bercerai di tahun 2005. Lalu di tahun 2007, dia menikahi Ottavia Busia yang memberinya puteri bernama Ariane. Mereka bercerai di tahun 2016. Tuntutan pekerjaan yang harus keliling dunia selama 250 hari selama setahun ikut menjadi andil mengapa mereka berpisah. Di bukunya Medium Raw,  dia menjelaskan bahwa kehidupannya menjadi tidak bermakna setelah perceraian pertamanya.

bourdain4

Empat hari lalu, saya mendapatkan berita bahwa Anthony Bourdain, ditemukan meninggal karena bunuh diri di kamar hotelnya yang mewah di Paris, di tengah kegiatan syutingnya untuk acara CNN, Parts Unknown, edisi Paris.

 

Understanding Kanye

Baru seminggu ke belakang, warganet dihebohkan oleh Kanye West, seorang rapper yang juga suami dari Kim Kardashian. Sebetulnya Kanye West memang seseorang yang menyukai kontroversi. Tapi kali ini dia menyatakan bahwa dia mendukung dan memuji Donald Trump dan memperlihatkan foto topi MAGA yang ditandatangani oleh sang presiden itu sendiri.

IMG_20180426_032655_713

Tentu saja ini menimbulkan kericuhan di dunia maya. Mana mungkin seorang kulit hitam dan juga rapper mendukung Donald Trump. Sudah terciptakan stigma bahwa seniman dan juga kulit hitam di Amerika itu sudah hampir dipastikan sebagai Demokrat. Di Amerika sudah lama terpolarisasi sayap kiri yang diisi oleh Demokrat yang dikenal juga dengan liberal dan sayap kanan yang dihuni oleh Republik yang terkenal konservatif dan relijius. Di Indonesia pun politiknya sudah mulai terpolarisasi menjadi seperti di Amerika.

IMG_20180429_161149

Kanye West menjadi pendukung Trump banyak dianggap sebagai gimmick atau publicity stunt. Karena biasanya memang dia selalu caper ketika akan mengeluarkan album atau rilis sepatu Yeezy. Dia menghendaki semua perhatian terpusat kepadanya. Hal yang wajar ketika seseorang ingin menjual produk. Dan memang sudah terbukti kalau Yeezy ataupun albumnya selalu laku baik fisik maupun digital. Pernyataan dukungan Trump ini membuat dia mempunyai fans baru di kalangan Republikan. Tapi sebaliknya mendapatkan makian dari kalangan Demokrat yang merasa kecewa karena telah dikhianati. Tapi Kanye tidak berhenti. Di rangkaian twit berikutnya dia menyatakan Emma Gonzalez sebagai pahlawannya. Pernyataan ini tentu saja membuat bingung. Karena Emma Gonzalez adalah seorang aktivis dari Demokrat yang meminta pemerintah untuk membuat regulasi untuk pengendalian penjualan senjata api. Kanye bisa menjadi demokrat dan republikan sekaligus hanya dalam rangkaian hari.

Kanye menganggap dirinya independen dan seorang free-thinker. Dia tidak mau diasosiasikan sebagai demokrat atau republikan. Dia bisa mencintai Hillary dan Donald Trump sekaligus. Kulit hitam tidak harus menjadi demokrat. Kanye tidak mau terjebak di stereotip ini karena (terbukti) akan menyesatkan. Pola pikir biner itu memicu perselisihan. Jika tidak A maka anda B. Jika B sudah pasti A. Ini tidak sehat. Itu pula kenapa saya netral dan pernah saya bahas di sini. Kanye sudah tercerahkan. Dia juga banyak mengumbar kata cinta. Semua perkataannya mengandung kebenaran dan fakta. Dia melihat rakyat Amerika sudah terpecah dengan terpilihnya Donald Trump. Terlalu banyak kebencian diumbar. Kanye menawarkan jalan tengah. Semua yang dituduhkan kaum demokrat bahwa Donald Trump seorang rasis, misoginis, dan lain sebagainya dibuat untuk membunuh karakternya dan membuat tidak bisa melihat sisi baik dari Donald Trump. Bahwa sebetulnya dia sudah bekerja dan nyata hasilnya.

Ini adalah kedewasaan dari Kanye West. Dia sudah mempunyai tiga anak. Dan dia juga melihat masalah dengan jernih. Dia sudah tercerahkan. Saya bisa mengerti kenapa dia mendukung Donald Trump. Saya juga pernah membahas tentang kemungkinan menangnya Donald Trump di sini. Kanye menyatakan mendukung Donald Trump bukan tanpa alasan. Dia melihat ada kesamaan antara keduanya. Menyukai kontroversi. Trump juga sudah menorehkan prestasi di tahun pertamanya menjadi presiden. Trump sudah menurunkan pengangguran di kalangan kulit hitam Amerika ke titik terendah. Obama, Clinton, atau bapak anak bernama Bush pun tidak bisa melakukannya. Ini yang tidak diekspos oleh media mainstream. Trump juga patut diberi kredit dengan damainya dua Korea. Ini adalah momen bersejarah. Bahkan dikabarkan mereka akan melucuti senjata nuklirnya. Ancaman perang nuklir berkurang.

Kanye memberikan perspektif baru dalam berpikir kita bisa mendukung presiden dengan tidak melihat asal usulnya, tapi berdasarkan prestasinya. Pola pikir ini membuat kita menjadi bebas menjadi diri sendiri tanpa ada kekangan. Tapi masih banyak yang susah untuk membuka mata. Kanye dianggap menghianat dan hanya mencari popularitas. John Legend bahkan langsus SMS Kanye untuk segera mengubah pendiriannya. John Legend belum tercerahkan tapi Kanye adalah Kanye dan mereka masih berteman. Agree to disagree adalah kata yang sederhana tapi begitu dalam maknanya. Kita kadang terlalu memaksakan kehendak agar sesuatu berjalan seperti yang diinginkan dan tidak mau melihat perbedaan.

IMG_20180501_002012

Kanye kehilangan ibunya di tahun 2007 dikarenakan serangan jantung sehari setelah operasi sedot lemak payudara. Dia menyalahkan dokternya, dan juga dirinya sendiri karena ia yang membiayai semua operasinya. Hidup Kanye berubah setelah kejadian ini. Dia mengalami depresi dan ketergantungan narkoba. Butuh waktu lama untuk pulih. Tapi dia sekarang sudah bisa memaafkan dokternya. Bahkan dikabarkan dia akan menggunakan foto dari dokter Jan Adams untuk dijadikan sampul album terbarunya nanti. Pada akhirnya cinta akan mengalahkan segalanya. Buat apa saling membenci kalau bisa saling mencintai? Terlalu sayang hidup ini dibuang percuma hanya untuk mencaci maki.

LOVE EVERYONE

Jadilah Pendukung Yang Biasa-Biasa Saja

Dulu di tahun 90an awal saya adalah penggemar metal. Jika membeli kaset ke Aquarius Dago, maka harus dipastikan apakah kaset itu memiliki stiker “Parental Advisory”, atau memiliki bulatan merah di sisi kaset. Biasanya rilisan dari Roadrunners Record atau Earache Records. Itu patokan saya membeli kaset. Karena waktu itu referensi musik sangat terbatas. Membeli kaset seperti berjudi karena yang kita beli itu kadang kita tidak pernah mendengar nama band tersebut. Jika ternyata ternyata setelah didengarkan kita suka itu adalah sebuah bonus. Tapi jika tidak, biasanya kita barter dengan teman yang suka dengan kaset yang kita beli.

IMG_20180416_205942

Tapi beruntungnya saya dibesarkan ketika semua genre musik bisa besar dan berjalan beriringan. Saya bisa melihat Michael Jackson dan Nirvana di tangga Top 40 Billboard saling bersanding. Atau Whitney Houston dengan R.E.M., atau mungkin Mariah Carey dan Beastie Boys. Pada waktu itu ketika seorang remaja pria mendengarkan musik yang menye-menye semacam R&B adalah sebuah “aib”. Kurang keren. Pokoknya rock atau metal sisanya sampah. Begitu kurang lebih kasarnya.

Fanaticism-Idealism.jpg

Ini mau tidak mau membuat saya mendengarkan banyak jenis musik. Sekarang saya tidak malu untuk menyukai dan mendengarkan bayak musik dengan berbagai genre. Karena saya berfikir, jika saya hanya mengagungkan satu jenis musik saja. Maka saya adalah seorang fasis. Fasis-genre saya menyebutnya. Ini tidak sehat. Referensi musik jadi terbatas. Seperti katak dalam tempurung. Karena saya hanya melihat dari satu sisi dan menafikan sisi yang lain walaupun itu bagus. Kalo musik bagus ya dengarkan apa pun jenisnya. Lebih beragam lebih bagus. Tidak ada ruginya. Referensi kita jadi kaya. Ini pun saya lakukan di berbagai bidang. Saya tidak mau menjadi seorang fanatik karena saya tidak melihat ada sisi positifnya. Ini bisa berlaku di mana saja. Bisa berlaku di dunia film. Bisa juga diterapkan di ideologi. Di sepakbola. Di mana saja. Fanatisme hanya membuat saya menjadi bebal dan pikiran saya terbuka sedikit.

Di era pilkada sebelumnya jujur saya memilih Ridwan Kamil sebagai Walikota Bandung dan Jokowi sebagai Presiden Indonesia. Saya juga dulu suka Ahok tapi saya tidak punya hak pilih di sana. Di periode ini saya memilih untuk golput. Kenapa begitu? Dengan tidak memilih justru saya memiliki kebebasan. Khususnya di media sosial. Saya juga terhindar dari cercaan dan makian yang menghabiskan energi. Saya bisa lebih jernih melihat persoalan. Saya tidak bias melihat suatu permasalahan. Jika jelek ya kritik. Jika bagus ya puji. Enak kan?

“you’re either with us or against us”

Kita tahu sekarang politik di Indonesia sudah terpolarisasi. Cuma dua pilihan pro atau anti. Media sosial memperburuk keadaan. Banyak badut berkeliaran mencari popularitas. Banyak pengamat politik umbar kebodohan demi mendukung salah satu calon hanya demi sesuap nasi. Ini sesungguhnya hal yang sangat menyedihkan apalagi jika mereka ternyata “berpendidikan tinggi”. Ketika situasi sudah menjadi “you’re either with us or against us” saya tahu saya harus segera ke luar arena. Melihat dari tribun lebih nyaman daripada harus jadi bidak dan berkelahi entah untuk apa. Saya tidak mau terjebak di hiruk pikuk (apalagi masalah) politik. Saya hanya menganggapnya sebagai hiburan. Lucu-lucuan. Menghadapi masalah berat tidak harus menanggapinya dengan kening berkenyit. Selipi dengan sedikit humor.

Everything in moderation, including moderation. 

Kita bisa saja pasif mendukung salah satu calon. Tapi bisakah kita netral dan tidak bias dalam menyikapi suatu isu yang menyudutkan salah satu calon? Di era internet ini sulit dilakukan. Di media sosial kadang kita tanpa sadar bisa terbawa arus. Karena kita mempunyai insting untuk bertahan hidup. Kita mempunyai kecenderungan untuk membela apa yang kita yakini. Fanatisme buta hanya membuat kita berbuat liar dan tak terkendali. Seperti pendukung sepakbola Inggris jika bertanding ke luar negeri. Kita mendukung salah satu ideologi atau calon tapi yang terjadi malah kita justru menjadi benalu. Saya ambil contoh, teori saya, pendukung garis keras Ahok adalah salah satu penyebab Ahok tidak terpilih menjadi gubernur. Dengan mendukung membabibuta dan mengeluarkan kata-kata kasar ke pendukung Anies justru menjadi bumerang yang melemahkan Ahok. Hanya ajang gagah-gagahan. Menang jadi arang, kalah jadi abu.

Jadilah pendukung yang biasa-biasa saja. Buang energi untuk hal yang lebih bermanfaat. Dukung secukupnya. Jangan anti kritik juga. Woles aja. Kecuali jika jagoanmu menjanjikan jabatan atau proyek ya silakan bela habis-habisan. Karena masalah perut itu tidak bisa dibohongi.

 

 

Podcast: Awal Kematian Radio Konvensional

Di Norwegia, mulai akhir tahun lalu memutuskan untuk menutup radio  konvensional. Radio konvesional itu radio yang biasa kita dengarkan melalui frekuensi FM. Alasannya? Radio konvensional itu mahal biayanya. Sementara dari segi kualitas suara biasa saja. Mereka memutuskan untuk pindah ke radio digital. Karena biaya jauh lebih murah dan bisa dilakukan di kamar rumah dengan perangkat seadanya.

podcast2.jpg

Kita mungkin sekarang lebih mengenalnya dengan nama podcast. Podcast sejarahnya sebetulnya sudah agak lama. Konon katanya di awal tahun 2000an sudah ada. Saya ingat ketika dulu pertama mempunyai iTunes di komputer. Mungkin sekitar 2000an akhir. Saya suka melihat ada fitur podcast di iTunes. Tapi sebetulnya tidak begitu mengerti apa fungsinya. Saya klik tetapi tidak ada pengaruh apa-apa. Lalu saya tidak pakai lagi iTunes. Karena itu bukan favorit saya. Saya lebih menyukai Winamp untuk memutar musik dan media lain untuk menyetel film. Nama Podcast sebetulnya ada hubungan dengan produk Apple. Ini adalah gabungan dua kata: iPod dan Broadcasting.  Karena yang memopulerkan kata ini adalah mereka.

podcast

Lalu kenapa podcast menjadi populer di era internet ini? Apa yang mereka tawarkan? Sebetulnya sama saja seperti kita mendengarkan radio dengan narasumber. Wawancara. Membicarakan suatu topik yang sudah ditentukan sebelumnya. Untuk mendengarkan podcast tentang ekonomi atau hal yang berhubungan dengan topik tersebut ada Freakonomics. Podcast ini cukup populer. Yang menjadi keunggulan podcast sebetulnya karena mereka bisa didengarkan kapan saja, di mana saja. Selama kita mempunyai jaringan internet. Tetapi kita sebetulnya bisa mengunduhnya dan didengarkan sesudahnya, tanpa harus ada jaringan internet.

podcast3

Youtube juga sebetulnya bisa menjadi podcast. Hanya Youtube berupa audio-visual. Podcast lebih ke audio saja. Streaming Youtube lanjutkan aktivitas menyetrika baju maka kita mempunyai podcast favorit. Saya sekarang lagi suka dengan podcast punya Steve Jones, namanya Jonesy’s Jukebox. Steve Jones adalah mantan pendiri dan gitaris dari band punk dari Inggris era 70an akhir, The Sex Pistols. Dia adalah sekarang seorang penyiar radio KLOS, radio rock di Los Angeles, California. Karena kebesaran namanya ia bisa mengundang seleb ke podcast-nya. Banyak musisi kenamaan sudah menjadi tamunya. Yang menarik dari podcast-nya adalah ia tidak pernah mempersiapkan naskah. Apa yang akan ditanyakan. Semuanya serba spontan. Pertanyaan di luar dari kebiasaan. Pertanyaan mengenai keseharian. Justru ini yang menarik karena celeb terkadang merasa bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Episode favorit saya adalah ketika dia mengundang Brian May, gitaris Queen, yang sedang promosi buku barunya. Yang lucu dari episode ini adalah Brian May tidak sadar kalo Steve Jones yang ini adalah gitaris dari The Sex Pistols. Daripada membicarakan bukunya mereka malah membicarakan alam semesta dan apakah ada kehidupan setelah kematian. Brian May juga seorang doktor astrofisika. Pembahasan menjadi menarik ketika dua orang gitaris rock membicarakan masa tua dan banyak teman-teman mereka yang sudah tiada. Banyak easter eggs di podcast ini. Banyak hal yang belum kita ketahui sebelumnya.

podcast5.jpg

Satu lagi yang menjadi favorit adalah The Osbournes Podcast. Iya. Ini adalah podcast mengenai keluarga Ozzy Osbourne. Mungkin ada yang masih ingat dengan reality show The Osbourne Show di MTV akhir 90an? Iya. Ini kurang lebih sama. Hanya saja ini versi audio saja. Baru masuk episode ketiga. Mereka di sini lebih bebas membicarakan apa saja. Tanpa ada sensor. Tidak seperti di televisi yang semuanya dipabrikasi.

podcast4.jpg

Saya perhatikan di sini juga sudah mulai banyak bermunculan podcast. Untuk menyenangi podcast yang pertama itu kita harus punya keinginan dulu. Apa yang ingin kita dengarkan? Siapa yang ingin kita dengarkan. Dari situ kita bisa punya bayangan. Entah itu politik. Atau bisa berupa hobi atau yang menyangkut ke pekerjaan. Atau mungkin sudah punya podcast favorit? Share dong di kolom komen kalo boleh tau..

Oscar 2018: Gary, Jonny, Sufjan, Mary dan Gael Garcia

Minggu depan awal Maret sudah dimulai perhelatan Oscar 2018. Tidak akan ada banyak kejutan. Jimmy Kimmel masih jadi pembawa acara tahun ini. Seperti tahun lalu. The Shape of Water masih merajai dengan 13 nominasi. Dunkirk dengan 8 nominasi. Sementara Three Billboards Outside Ebbing, Missouri meraih 7 nominasi. Dunkirk banyak nominasi di kategori teknis layaknya film perang. Kategori Editing, Sound Mixing, Sound Editing dan Production Design sepertinya akan direbut film ini.

oscar

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini Film Terbaik ini sepertinya akan dimiliki oleh Three Billboard Outside Ebbing, Missouri. Kenapa? Momennya pun sepertinya pas karena beberapa hari yang lalu penembakan di sekolah di Florida menggunakan “strategi” yang sama yaitu dengan memasang iklan di tiga truk yang isinya meminta pemerintah untuk memperketat pengawasan penjualan senjata api. Di beberapa penghargaan lain pun film ini muncul sebagai film terbaik. Hollywood pun sedang dilanda badai pelecehan seksual dan perkosaan. Film ini pun sangat feminis. Bisa mewakili.

director.jpg

Sementara untuk kategori Sutradara Terbaik ini pun sepertinya akan diraih oleh sutradara Meksiko, Guillerme Del Toro di film The Shape of Water. Di berbagai ajang penghargaan beliau banyak mendapatkan trofi. Kejutan bisa terjadi bila Oscar ternyata memilih Christopher Nolan di film Dunkirk. Hal ini mungkin terjadi jika Oscar menginginkan kejutan kepada penonton. Oscar kerap kali melakukan hal demikian. Del Toro pun sepertinya tidak akan keberatan jika Nolan mendapatkan penghargaan ini. Dunkirk bukan film mudah. Film perang dengan hampir tidak ada dialog ini seperti menonton film bisu.

gary

Tahun ini pun adalah tahun yang tepat untuk Gary Oldman meraih Oscar pertamanya. Sudah waktunya Gary Oldman naik podium. Akting beliau di banyak film memang mengagumkan. Gary Oldman bisa menjadi siapa saja. Dari Sid Vicious sampai Drakula. Dari Winston Churchill hingga Mason Verger. Dia adalah bunglon. Perannya lebih komplit dari Daniel Day Lewis yang banyak memerankan pria dari jaman baheula.

Frances McDormand akan meraih Oscar keduanya di kategori Aktris Terbaik. Aktingnya terlalu kuat. Seperti di film Fargo ketika dia meraih Oscar pertamanya, aktingnya sangat natural. Saingan terberatnya di kategori ini adalah Sally Hawkins di The Shape of Water.  Memainkan wanita yang bisu dan bercinta dengan seorang “manusia ikan” tentunya memerlukan akting yang luar biasa.

Lawan main Frances McDormand di Three Billboards.. adalah Sam Rockwell yang akan memenangkan Oscar pertamanya di kategori Aktor Pembantu Terbaik. Aktingnya sebagai polisi yang rasis sangat memukau. Relatif tidak mempunyai saingan yang berat di kategori ini. Sementara untuk kategori Aktris Pembantu Terbaik pun maka Allison Janney di film I, Tonya yang akan mendapatkannya. Menjadi seorang ibu yang ambisius dan abusif terhadap anaknya sendiri agar menjadi atlet yang mumpuni layak diganjar Oscar. Saingan terberatnya Laurie Metcalf yang menjadi ibu yang sabar terhadap anaknya yang diperankan oleh Saoirse Ronan di film Lady Bird.

deakins.jpg

Sementara di kategori sinematografi, seperti layaknya Gary Oldman yang sudah selayaknya mendapatkan Oscar, maka Roger Deakins adalah nama yang sudah sepatutnya mendapatkan Oscar di film Blade Runner 2049. Ia berkali-kali mendapatkan nominasi tapi belum pernah mendapatkan satu Oscar pun. Padahal hasil karyanya sudah tidak harus diperdebatkan lagi. Tahun ini atau tidak sama sekali. Sudah berapa kali Roger Deakins mendapatkan nominasi Oscar? EMPAT BELAS KALI.

jonny pta

Di Oscar tahun ini juga ada dihuni pendatang baru dia adalah Jonny Greenwood, dia adalah gitaris dari Radiohead, yang merambah menjadi komposer dan mendapatkan nominasi pertamanya di kategori Original Score. Dia sedang mengikuti jejak Trent Reznor, pentolan Nine Inch Nails yang meraih Oscar di film The Social Network. Dia adalah kompatriot Paul Thomas Anderson. Semua film PTA sejak There Will Be Blood musiknya digubah oleh Jonny Greenwood. Jonny pun menyatakan akan hadir di perhelatan ini, ditemani istrinya.  Walaupun tampaknya Alexander Desplat yang akan mendapatkan Oscar tahun ini.

Oh iya. Dikabarkan Sufjan Stevens akan mengisi slot di perhelatan Oscar tahun ini. Dia mendapatkan nominasi di kategori Lagu Terbaik lewat lagu Mystery of Love dari film Call Me By Your Name yang sayangnya harus bertemu dengan lagu Remember Me dari film Coco yang mungkin akan lebih disukai Oscar. Mary J. Blige dan Gael Garcia Bernal juga akan tampil di Oscar tahun ini.

Pilihannya sama semua kan ya? Atau ada yang beda?

Di Antara Cebong dan Snowflakes

fanatisme/fa·na·tis·me/ n keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya)

Menurut KBBI itu adalah arti dari fanatisme. Saya rasa hampir semua orang tahu arti kata dari fanatisme. Tapi banyak yang tidak sadar kalo mereka sudah termasuk ke dalam golongan tersebut. Agama, sejak dulu sudah menghasilkan fanatisme. Ribuan mungkin jutaan orang menjadi korban sia-sia. Di ideologi pun begitu. Kita tahu di era Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet jutaan orang meregang nyawa di semua belahan dunia, termasuk Indonesia.

cebong

Antusiasme yang berlebihan ini tidak sehat untuk kejiwaan. Di Indonesia seperti sekarang ini yang akan melakukan pemilihan kepala daerah dan presiden juga tak luput dari fanatisme. Banyak faktor hal ini bisa terjadi. Di periode yang lalu, seperti kita tahu bahwa Prabowo kalah tipis oleh Jokowi di pemilihan presiden. Di negara demokrasi, hal ini tentu saja hal yang biasa. Tapi ketika media sosial mulai menjadi santapan sehari-hari maka muncul saling serang di antara kedua pendukung. Keduanya mempunyai penggemar yang fanatik. Pemuja. Karena di mata mereka idolanya tidak pernah salah. Tidak bisa dikritik. Di sinilah banyak istilah muncul di media sosial. Para pemuja Prabowo menyebut pemuja Jokowi sebagai “cebong”. Hal ini juga berlaku untuk pemuja Anies Baswedan dan pemuja Ahok. Saya kurang tahu dari mana asal kata ini muncul. Tapi mungkin dari anak katak yang selalu terlihat bersama. Kreatif juga. Saya menyimpulkan mereka itu mungkin seperti segerombolan anak katak yang bergerombol dan berenang menuju satu tujuan dan mereka saling membela kaumnya yang teraniaya. Cuma saya belum menemukan kata untuk para pemuja Prabowo. Banyak yang bilang kecoa atau bani-banian. Tapi sepertinya belum menemukan kesepakatan kata apa yang tepat untuk digunakan.

snowflake

Tapi ini tidak terjadi di Indonesia saja. Di Amrik sana pun terjadi hal yang sama. Mereka mempunyai istilah untuk pendukung Hillary Clinton. Kita tahu Donald Trump menang tipis. Bahkan Hillary Clinton menang secara popular votes. Hal ini banyak menimbulkan sakit hati dan mereka banyak menyerang apa saja yang berbau Trump atau Republikan, atau konservatif. Kemudian pemuja Trump menjuluki mereka sebagai “snowflakes”. Coba ketik kata cebong atau snowflakes di kolom pencarian Facebook atau Twitter untuk lebih mencerna apa yang saya maksud. Snowflake berasal dari kata generation of snowflake, suatu istilah yang pertama dicetuskan oleh Chuck Palahniuk di novelnya Fight Club. Orang yang menyangka dirinya unik padahal sebetulnya sama seperti yang lainnya. Begitu Urban Dictionary menjabarkannya.

1EXrHu38ssYjj11o-4ySqDg-1.png

Kata cebong dan snowflakes tentu saja dibuat untuk merendahkan. Tidak ada yang ingin dilabeli cebong atau snowflakes. Tapi julukan ini bukan tanpa dasar. Karena mereka membuat julukan ini karena mereka memang banyak dan juga militan. Polanya selalu sama sehingga relatif mudah untuk mengidentifikasinya. Buat sebagian orang mereka menjengkelkan dan menyebalkan.

alanis.gif

Tapi lucunya mereka yang membuat julukan pun sebetulnya melakukan hal yang sama. Sama-sama membela idolanya mati-matian. Masih mending kalo dibayar atau diberi jabatan. Yang menyedihkan kalo mereka melakukannya secara gratisan. Terlalu banyak energi yang terbuang percuma hanya untuk mengurusi yang tidak begitu penting. Sudahlah jadi penggemar yang biasa-biasa saja. Kalo salah ya dikritik. Kalo benar ya akui. Siapapun dia. Karena sebetulnya siapa pun yang menang di arena politik maka kita adalah selalu jadi pecundang.

Melodrama Grammy 2018: DAMN, Magisnya Kilauan 24 Karat

Untuk generasi sekarang ini, tidak ada artis yang paling berbakat untuk kategori penyanyi laki-laki. Silakan sebut penyanyi (kulit hitam) yang bisa memainkan beberapa alat musik, bersuara bagus, dan bisa menari. Ada yang bisa menyebutkan selain Bruno Mars? Agak susah ya untuk zaman sekarang. Artis multi talenta sekarang agak susah dicari.

 

grammy2

Di gelaran Grammy Awards 2018 kemarin, Bruno Mars merebut enam Grammy yang sebetulnya bukan yang mengejutkan. Yang mengejutkan adalah Bruno Mars mendapatkannya di kategori paling bergengsi dan dia juga mengalahkan Kendrick Lamar, Jay-Z, Lorde, Childish Gambino. Tapi pertanyaan mendasarnya adalah: Layakkah Bruno Mars mendapatkan Album of the Year melalui album terakhirnya 24K Magic?

bruno

Album 24K adalah album R&B yang bagus. Radio dan televisi menyukainya. Restoran cepat saji pun banyak memutar lagu Versace On The Floor ataupun That’s What I Like. Album ini hanya mempunyai sembilan lagu tapi semuanya bagus, enak didengar dan mudah dicerna oleh semua kalangan. Millennials bisa menerima lagu ini. Untuk kalangan yang lebih tua pun bisa mengapresiasi. Karena ini album ini sangat kental dengan kandungan 90an. R&B di era 90an sangat meledak, dan sekarang Bruno Mars melalui produser ajaib bernama Mark Ronson berusaha membawa era kejayaan tersebut ke zaman sekarang. Album ini laris manis tapi tidak kacangan. Ada kualitas di dalamnya. Album R&B dengan balutan funk itu bukan album yang mudah diproduksi. Bruno Mars dan Mark Ronson berhasil meramunya. Coba dengar lagu Perm di album ini. Aroma James Brown sangat menyengat dari awal sampai akhir.

Tren memang selalu berulang. Awal tahun 2000an kita dihujani dengan musisi dan band yang sangat 80an. Sementara era sekarang adalah era 90an berjaya kembali. Buktinya saya kira banyak. Era musik noise, yang diprakarsai oleh Sonic Youth, sekarang banyak merambah di musik lokal. Sneakers pun sekarang dipenuhi oleh era 90an. Nike, Reebok, Puma dan banyak lagi merk yang menghidupkan era 90an dengan merilis kembali tipe-tipe dari era 90an. Nike Air Max dan Air Jordan adalah contoh nyata. Reebok edisi Kendrick adalah contoh lainnya.

lorde

Banyak kontroversi tentunya dibalik kemenangan Bruno Mars malam tadi. Kendrick Lamar dianggap lebih pantas mendapatkannya. 24K Magic itu rilis Oktober 2016. Ya saya setuju. Album Melodrama kepunyaan Lorde juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Tapi Grammy memang sudah seperti itu dari dulu. Mereka dihuni oleh sekelompok orang tua yang sudah kadaluarsa yang hidup di era Tony Bennett dan Frank Sinatra. Kalau mau protes sebetulnya kenapa Lorde tidak ditawari untuk manggung sebagai penyanyi solo. Albumnya diganjar Album Terbaik. Dia bisa berduet dengan Elton John di lagu Liability. Tapi Grammy lebih memilih Sting & Shaggy yang albumnya tidak mendapatkan nominasi satu pun. Sting sudah lama tidak membuat album bagus. Terakhir itu Mercury Falling di medio 90an.

But I guess that’s how the Grammy rolls. 

 

Protect Me From What I Want

Dulu kalo kita jalan-jalan ke tempat perbelanjaan ke mal. Terkadang kita pulang membawa gembolan. Iya belanjaan. Padahal awalnya tidak ada rencana untuk belanja. Tetapi ketika sampai di rumah ternyata yang kita beli itu tidak begitu kita perlukan. Bahkan mungkin kita telah punya beberapa barang yang sama. Jangan salah. Laki-laki kalau belanja bisa lebih kalap dan lama dari perempuan.

impulsif4.jpg

Godaan ini sekarang semakin berat karena sekarang kita bisa belanja melalui telepon genggam. Atau dari komputer. Di semua toko di seluruh dunia. Semua orang yang mempunyai koneksi internet dan mempunyai uang tentunya bisa melakukan ini di atas kasur. Sambil nonton televisi. Atau mungkin di kedai kopi. Hanya hitungan menit maka barang yang anda idamkan bisa dipesan dan dikirim keesokan harinya. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah apakah kita betul-betul membutuhkannya? Atau sekedar pengen aja? Atau lucu-lucuan? Ikut tren? Keseret arus? Atau sensasi menunggu kurir yang datang mengantarkan pesanan anda?

impulsif.jpg

Saya pernah ada di posisi ini. Senang sekali belanja online. Lokal atau pun internasional. Tidak pernah yang mahal-mahal. Karena selain keuangan terbatas juga tapi lebih ke penasaran. Terkadang pernah membeli sebuah barang sehingga ketika barang sampai di tangan sensasi itu hilang. Barang yang kita tunggu itu sekarang tersimpan saja di sudut ruangan. Di situ saya mulai berpikir. Oh, ternyata saya tidak begitu memerlukan barang yang saya beli.

impulsif2.jpg

Sekarang, jika saya tak sengaja menemukan barang yang akan ditemukan. Saya selalu berusaha untuk berfikir jernih. Tidak impulsif. Saya coba tunggu satu minggu. Jika saya masih menginginkannya berarti memang saya mungkin membutuhkannya. Tapi rata-rata setelah seminggu menunggu, keinginan untuk membeli itu hilang. Oh. Ternyata saya hanya lapar mata. Karena ada bujukan syaiton bernama “sale up to” dan “harga hanya berlaku hingga pukul” itu bisa membuat dorongan belanja makin tinggi. Jangan tergoda. Barang yang anda beli tidak akan menjadi lebih mahal koq. Apalagi jika elektronik. Pasti harganya turun. Karena ada model yang lebih baru. Selalu begitu. Jikapun memang harus belanja. Sebaiknya barang tersebut memiliki harga jual yang tetap tinggi apabila kita sudah tidak memerlukannya. Jika kita bisa menjualnya dengan harga yang lebih tinggi lagi. Itu lebih bagus dan itu namanya investasi.

Iya gak sih?

Sesungguhnya Kita Semua Adalah SJW

Baru-baru ini Netflix baru saja rilis semua episod dari Friends. Friends adalah salah satu serial komedi situasi legendaris dari Amerika yang bertahan lama dan mendapat tempat tersendiri di para penggemarnya di dunia dan tentu saja di Indonesia. Banyak yang menonton kembali hanya karena mengembalikan memori bagaimana model rambut Rachel yang diperankan oleh Jennifer Aniston yang sempat menjadi panutan bagi remaja putri di Indonesia. Serial warisan dari era 90an, yang berakhir di tahun 2004, yang masih banyak penggemarnya hingga saat ini hampir tidak pernah menuai kontroversi. Kurang lebih sama seperti The Simpsons. Bedanya The Simpsons masih tayang serial terbarunya hingga hari ini.

sjw6.jpg

Tapi ternyata banyak penonton baru, yang tentunya lebih muda, millennials banyak orang menyebutnya (walau saya kadang sudah malas menyebut kata itu), yang baru saja melihat serial Friends terkejut karena ternyata serial tersebut sangat homofobik dan seksis, rasis dan banyak lagi. Dari kurangnya aktor kulit hitam, body shaming (mengatai Monica gendut), hubungan Monica dengan teman Bapaknya yang selisih umurnya puluhan tahun. Ada Chandler yang parno karena banyak orang yang menyangka dirinya gay. Joey bukan lagi sebagai loveable idiot, tapi sekarang adalah cowok yang menakutkan dan pervert. Wow. How do you guys sleep at night? With one eye open? Friends adalah serial mengenai enam manusia yang beranjak dewasa dan berusaha mencari mencari jati diri. Dan JANGAN lupa kalau Friends adalah serial KOMEDI situasi.

sjw5

Di sini kita sedang berhadapan dengan apa yang namanya SJW, kependekan dari Social Justice Warrior. Istilah ini sebetulnya mulai dikenal beberapa tahun lalu. Tumblr dulu banyak dihuni SJW. Tapi sekarang sudah menyebar ke Twitter, Facebook dan media sosial lainnya. Tapi istilah ini sekarang sudah mulai populer di kalangan netizen atau warga internet. SJW juga dekat dengan feminazi. Mereka banyak mengangkat isu feminisme. Isu yang dekat dengan cultural inappropriate atau politically incorrect juga bisa dihajar oleh mereka.

Contoh lain, masih ingat dengan film “Moana”. Film tentang perempuan dari Hawaii. Banyak anak perempuan di Amerika sana yang ingin menjadi Moana di Halloween tahun kemarin. Tapi apa gerangan terjadi ternyata ada seorang parenting blogger yang berpengaruh protes dengan keputusan tersebut karena dengan mengenakan kostum tersebut itu tidak sesuai dengan kultur yang ada dan cenderung rasis. Dan banyak orang tua yang memutuskan untuk memakai kostum Elsa saja daripada anak kecil dari Polynesia. WTF?

sjw.jpg

Istilah SJW memang merendahkan. Karena mereka memang menyebalkan untuk beberapa pihak. Kasarnya, ngurusin yang gak penting-penting banget. Mereka itu berlebihan. Mengatur sesuatu yang sebetulnya bukan urusan dia tapi hanya demi keadilan sosial bagi kaumnya. Mereka sangat sensitif. Mudah tersinggung. Isu-isu yang dianggap tidak sesuai dengan “norma” yang ada bisa diserang. Mereka juga biasanya bergerombol. Mereka selalu menunggu seseorang melakukan “kesalahan” dan siap-siap menerkam.

sjw3.jpg

Entah apa motivasinya mereka melakukan seperti ini. Karena sebetulnya ini membuat mereka susah sendiri. Ini juga membuat orang susah untuk orang dalam mengambil keputusan. Menjadi tidak lepas. Kita menjadi susah dalam melakukan sesuatu. Apa-apa entar dikritik. Jadi banyak pertimbangan. Bercanda berbau rasisme sekarang menjadi hal yang tabu. Padahal saya dulu sering ngata-ngatain teman saya yang China, Batak, dan lain sebagainya. Dan tidak ada yang tersinggung. Dua-duanya ketawa. Tapi sekarang? Sepertinya susah. Bercanda mengenai agama apalagi. Atau Tuhan sekalipun. Padahal ini yang lucu justru. Bahkan untuk di kalangan agama saya sendiri pun saya jadi kesulitan. Terlalu banyak Garda Penjaga Norma di luar sana. Tapi itu tidak akan membuat saya menjadi kikuk.

Tapi ya memang apalagi di era internet dan media sosial ini memang hal seperti ini sepertinya tidak terelakkan. Selalu saja ada yang berusaha menjadi paling benar. Selalu ada ekses. Apalagi sekarang semua orang sekarang mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan fifteen minutes of fame. Tetapi entah secara sadar atau tidak, saya rasa kita semua pernah mengalaminya pada titik tertentu. Hanya kadar saja yang membedakan. Ada yang oktan rendah ada juga yang oktan tinggi. Tapi jika memang tetap ingin tetap menjadi SJW teladan dan diidolakan oleh warganet ada baiknya menyaksikan tutorial di bawah ini.

Oya favorit SJW di dunia maya kamu siapa?