Sudah Bulan Puasa (Lagi) Minggu Depan

SEMENTARA Ukraina masih berperang dengan Rusia; kisruh di Myanmar masih terjadi; ada yang mau duel semalam; beberapa hari lalu Mas Nauval kembali menulis tentang prediksi perolehan piala Oscar tahun ini, yang seperti biasanya, menjadi semacam nubuat bertuah. Coba saja dilihat, prediksi berapa kategori penghargaan yang menjadi kenyataan? Tapi, tidak termasuk tamparan Will Smith, yang barangkali Will Smith-nya sendiri enggak menyangka bisa terjadi. Keras, dilakukan secara bersungguh-sungguh, dan kelihatan banget kencangannya.

Gaplok! Foto: slavezeronews.com

Dalam obrolan di ruang privat Senin petang lalu, yang pada akhirnya malah saya bagikan di sini, hehe …, saya sempat berceletuk: “‘Untung’ yang ngomong dan digampar si Chris Rock. Coba kalau host-nya kulit putih. Bisa lebih heboh.” Masih dalam ruang privat yang sama, saya juga sempat berceletuk: “Entah di mana saja, setelah (insiden gaplokan) ini, pasti ada yang memuji tindakan Will Smith, yang stand up membela istrinya.” Meskipun tampaknya, tidak akan sesederhana itu. Memang, seringkali bacot saya ini enteng banget berkomentar. 😅

Seperti yang bisa diduga, sepanjang Senin dan Selasa kemarin, dialog, komentar-komentar terbuka, serta tulisan-tulisan yang membahas tentang insiden gaplokan tersebut memenuhi ruang televisi maupun media sosial. Rata-rata menyuarakan nada yang sama, bahwa (1) Ejekan atas kondisi fisik orang lain, terlebih karena masalah kesehatan ialah serendah-rendahnya topik pembicaraan (jika niat awalnya memang bukan untuk menghina atau menyakiti perasaan orang lain). Kendati demikian, (2) Kekerasan fisik pun merupakan serendah-rendahnya tanggapan seseorang saat menghadapi perbuatan tidak menyenangkan dari orang lain.

Sampai di sini, saya sepakat. Toh, perkara ini cukup berjarak dengan kita semua. Terjadi jauh di belahan bumi berbeda. Sama berjaraknya dengan yang terjadi di Ukraina, dan Myanmar, dan berbagai negara lain dengan polemik serta masalahnya masing-masing. Paling banter yang bisa kita lakukan adalah terpapar, baik menyaksikan, membaca, atau mendengar, bersimpati atau justru tidak acuh, dan kalau sedemikian tergeraknya pun kita hanya bisa membantu dari jauh atau sesuai kapasitas sumber daya yang dimiliki.

Di sisi lain, tanpa merendahkan apa yang terjadi di luar sana, tak kurang-kurangnya hal yang terjadi di sini, di sekitar kita, atau bahkan yang terjadi pada hidup kita, dengan dua poin di atas juga tetap berlaku dan sama validnya. Jangan gampang menjadikan kondisi orang lain sebagai kembang api dalam pembicaraan, atau setidaknya cobalah belajar memperluas referensi pembicaraan supaya tetap dan terus bisa menjadi relevan tanpa penghinaan. Kalau bisa … Namun, mengenai kekerasan fisik (termasuk verbal) itu sudah mutlak adanya. Menjadikan siapa pun yang melakukannya sebagai pelaku tindak kekerasan, dan menjadikan siapa pun yang mengalaminya sebagai korban tindak kekerasan.

Kembali ke soal tulisan di Linimasa, Mas Nauval memang konsisten banget, ya, membagikan pemikirannya tentang Oscar dan film pada umumnya. Masih ajek pada topik yang diusung bahkan sejak Linimasa pertama kali mengudara. Lalu, saya mencoba merefleksikannya kepada diri saya sendiri? Kapan terakhir saya menulis tentang topik agama, spiritualitas, dan religiositas? Rasa-rasanya makin jarang, kecuali jika ada topik pembahasan khusus yang terlampau nyata untuk dibiarkan berlalu begitu saja.

Kebetulan juga bulan puasa kembali berlangsung minggu depan–yang tanggal 1-nya baru akan diputuskan beberapa hari mendatang; tergantung apa mazhab yang Anda ikuti–sebagai momen untuk kembali melatih kesabaran. Jadi, mudah-mudahan kita semua makin mahir menghindari poin 1 dan poin 2 di atas, dalam suasana Ramadan. Selain itu, tanda-tanda semakin dekatnya bulan puasa adalah ketika banyak instansi pemerintahan (terkesan) mendadak menggelar banyak kegiatan. 😅

Kebayang, andai kata Will Smith adalah seorang muslim, pasti ada yang berkomentar: “Sabar, bang … ingat-ingat sebentar lagi bulan puasa.

Kemudian, Will Smith pun beristigfar.

[]

Leave a Reply