Film-Film Favorit Tahun 2021

Tahun ini adalah tahun pertama di mana saya benar-benar kesulitan memilih film apa saja yang bisa masuk dalam daftar tahunan top 10 films of the year. Selain faktor kuantitas (tahun ini akhirnya jumlah tontonan tembus ke four-digit number), saya semakin sadar bahwa faktor peringkat ini fluktuatif. Dilihat lagi tahun depan, lima atau sepuluh tahun lagi, kemungkinan besar saya atau teman-teman akan mengernyitkan kening melihat daftar seperti ini. Kita akan berpikir, “What was I thinking when making the list?

Seiring waktu berjalan, usia kita bertambah, cara berpikir kita berubah. Persepsi kita terhadap film atau jenis tontonan lain, juga pasti akan ikut berubah. Film yang saya sukai waktu saya tonton awal tahun ini, ternyata tidak menimbulkan kesenangan yang sama saat saya lihat lagi minggu lalu, di penghujung tahun. 

Penilaian kita akan terus berubah, atau berkembang. Hal yang sangat wajar. Yang bisa kita lakukan adalah merekam momen saat ini, opini kita sekarang, yang nantinya akan menjadi catatan sejarah memori, yang bisa kita lihat in retrospect untuk menambah pengetahuan kita. Hopefully.

Tentu saja tidak akan pernah cukup banyak film yang bisa kita tonton. Saya juga belum menonton beberapa film yang menjadi bagian dari percakapan, baik di media massa atau media sosial. There is never enough time to watch endless films. Cuma saya percaya, bahwa kalau ada film yang sempat kita tonton dan kita suka, well, it’s meant to be.

And these films are meant to be in my mind and in my heart this year.

Ada sekitar 75 film yang mempunyai catatan khusus di hati saya dari ribuan film yang sudah ditonton tahun ini. Tentu saja saya tidak akan mendata keseluruhan dari 75 film tersebut. Selain itu, saya tidak akan memasukkan film-film yang saya program untuk festival yang saya kerjakan, yaitu Europe on Screen, jadi daftar ini tidak akan memuat film-film yang sudah diputar di festival tersebut tahun ini. 

Daftar ini akan memuat 25 film favorit saya di tahun 2021, dan kita mulai dengan the honourable mentions of the 15 films, dengan nama sutradara setelah judul filmnya:

25. The White Tiger (Ramin Bahrani)

24. The Father (Florian Zeller)

23. The Power of the Dog (Jane Campion)

22. Europa (Haider Rashid)

21. Sisterhood (Dina Duma)

20. Vengeance is Mine, All Others Pay Cash (Edwin)

19. Little Palestine – Diary of a Siege (Abdallah Al-Khatib)

18. Tick, Tick … Boom! (Lin-Manuel Miranda)

17. Yuni (Kamila Andini)

16. CODA (Sian Heder)

15. Summer of Soul (Ahmir “Questlove” Thompson)

14. Playground (Laura Wandel)

13. Olga (Elie Grappe)

12. Drive My Car (Ryûsuke Hamaguchi)

11. Barb and Star Go to Vista del Mar (Josh Greenbaum)

Dan inilah 10 film favorit saya tahun ini:

10. Language Lessons (Natalie Morales)

Language Lessons (source: The New York Times)

How can a story about two people meeting over Zoom can be greatly compelling? Because the heart, regardless the form, is in the right place. Menonton film ini membuat saya tersenyum, dan somehow yakin bahwa genre romantis komedi di tangan orang yang tepat tidak akan mati. Di tangan Natalie Morales di debut penyutradaraannya, genre ini akan terus beradaptasi di format yang baru, tanpa harus mengorbankan hati, yang menjadi kunci kesuksesan genre ini.

9. Supernova (Harry Macqueen)

Supernova (source: Cineuropa)

Dari sekian banyak film yang mengangkat isu mortality, this one hits the hardest. Film “kecil” ini menjadi besar dalam emosi, karena penampilan memukau Colin Firth dan Stanley Tucci yang menerima kematian dan perpisahan dalam setiap tatapan dan sentuhan fisik mereka berdua, sehingga membuat mata kita basah dari awal sampai akhir. 

8. Great Freedom (Sebastian Meise)

Great Freedom (source: Cineuropa)

Film ini sangat intense. Saya tidak bisa sugarcoat hal ini. Namun intensitas atmosfir film yang ditampilkan memang sesuai dengan latar belakang cerita, soal represi homoseksualitas di Jerman pasca perang dunia ke-2 yang ditampilkan dalam 3 babak penceritaan mewakili dekade yang berbeda. Film yang berat, namun menontonnya memberikan kita kelegaan di akhir, dan kepuasan karena kita telah menyaksikan a work of beautiful art.

7. West Side Story (Steven Spielberg)

West Side Story (source: Vanity Fair)

What a glorious adaptation. Spielberg membuat musikal legendaris ini menjadi semakin megah dan semakin menjejak ke tanah. Kalau versi film 1961 mampu menggabungkan nuansa flamboyan musikal khas Hollywood sampai pertengahan abad ke-20 dengan isu sosialnya, maka versi tahun 2021 ini sepertinya Spielberg aims for gritty realism lewat koreografi yang tegas, sinematografi yang lebih muted dibanding film 60 tahun sebelumnya, and yet the magic still remains

6. Flee (Jonas Poher Rasmussen)

Flee (source: Cineuropa)

Cerita film dokumenter ini semakin hidup saat digambarkan lewat bentuk animasi, karena dengan format penceritaan ini, imajinasi kita akan semakin aktif bermain seiring dengan narasi cerita, ketimbang kalau penggambarannya dilakukan lewat wawancara. Dan penuturan cerita soal imigran Afghanistan yang melarikan diri ke Denmark juga runut, termasuk saat pengungkapan rahasia besar yang menjadi the most shocking moment of the story. It’s a brilliantly told film.

5. Petite Maman (Céline Sciamma)

Petite Maman (source: Cineuropa)

Hanya dalam waktu sekitar 70 menit, Céline Sciamma membuat film yang padat. Ada cerita fantasi soal time travel, ada pertanyaan besar soal motherhood, dan ada kisah coming-of-age yang membuat kita tertegun. Film kecil yang memberikan dampak besar kepada siapa saja yang menontonnya.

4. Little Big Women (Joseph Chen-Chieh Hsu)

Little Big Women (source: Mubi)

Saat selesai menonton film ini, saya ingin menonton lagi dari awal. Film ini sederhana dalam penceritaan dan penggambaran, namun ada rasa yang terbawa saat menontonnya. Cerita tentang seorang ibu tunggal yang mendapat kabar bahwa suaminya yang kabur puluhan tahun lalu tengah meninggal dunia di saat dia merayakan ulang tahunnya ke-70, memang berpotensi menjadi sebuah tearjerker drama. Namun film ini malah mengambil plot yang tegas, menjadi sebuah drama natural apa adanya tentang female empowerment tanpa harus menggurui, merendahkan, dan masih tetap membuat kita tersenyum, sekaligus terharu, saat menontonnya.

3. Belfast (Kenneth Branagh)

It’s the way Kenneth Branagh shot the film. Tidak sekedar membuat film hitam putih, namun ada sense of intimacy dari setiap adegan di film ini, yang membuat kita semakin dekat dengan subyek karakter dan cerita filmnya, yang konon terinspirasi dari masa kecil Branagh sendiri. The charm is irresistible, membuat kita seolah-olah ingin berada di Belfast di tahun 1969, menjalani hidup yang keras dengan tawa seperti di film ini.

Belfast (source: Cineuropa)

2. A Hero (Asghar Farhadi)

Sontak saya tersenyum lebar di menit-menit pertama film ini, karena karakter utamanya, Rahim, mengingatkan saya pada leading men characters di film-film Frank Capra. Demikian pula dengan konflik yang dihadapi. Namun seiring dengan berjalannya cerita, tak pelak lagi kita melihat Asghar Farhadi mengulir rangkaian plot dengan dialog yang cepat, nyaris tak memberikan nafas bagi para aktor untuk mengucapkannya dan bagi kita untuk mencernanya, sampai kita mencerna dan bertanya, “Did that just happened?” Salah satu karya terbaik Farhadi.

A Hero (source: Cineuropa)

Dan film favorit saya tahun ini adalah:

1. Moon, 66 Questions (Jacqueline Lentzou)

Film ini mempunyai gaya bercerita yang tidak biasa, sangat eksploratif, nyaris memaksa kita untuk terus bertanya, apa maksud penggunaan rekaman video dari kamera tahun 90an. Lalu saat kita tersadar akan cerita mengenai hubungan ayah dan putrinya dalam menghadapi kehidupan setelah terserang penyakit mematikan, kita baru sadar, bahwa cerita yang sangat kuat dan performa aktor yang benar-benar hidup, akan menghadirkan film yang melampaui segala bentuk gaya bercerita. The most impressive film of the year, dan film debut dari sutradara muda Jacqueline Lentzou, whom I believe will make more bold, daring stories from now on.

Source: Cineuropa

Apa film favorit teman-teman tahun ini?

Leave a Reply