Mempertahankan Hidup (yang Inginnya Seru)

KALAU dipikir-pikir, hidup sebagai orang dewasa pada dasarnya mengarah pada salah satu di antara dua ini:

  • Bertahan hidup
  • Hidup yang seru, atau menyenangkan

Salah satu, kalau bisa, sih, dua-duanya. Padahal, baik untuk bertahan hidup, atau menjalani hidup yang terasa seru dan menyenangkan punya kesulitannya masing-masing. Boro-boro bisa memiliki hidup yang terasa seru dan menyenangkan, kalau untuk bertahan hidup saja susahnya masih setengah mati.

Asumsinya, seseorang yang berhasil membuat hidupnya terasa–serta terlihat–seru dan menyenangkan, adalah seseorang yang sudah tidak bermasalah perihal bertahan hidup. Karena setelah berhasil mengatasi urusan yang satu itu, mereka setidaknya memiliki keleluasaan untuk memikirkan, juga mengisi kehidupan mereka dengan hal-hal yang seru dan menyenangkan.

Padahal, bisa jadi tidak sesederhana itu.

Vibe yang kenceng tahun lalu adalah soal bertahan hidup. Dengan segala kondisi yang terjadi; pandemi yang baru terjadi, kehidupan yang berubah total secara drastis (termasuk pekerjaan yang tidak bisa dilakukan, dipecat dari tempat kerja, penghasilan yang berkurang jauh hingga nyaris nihil), penyakit yang masih sangat asing dan belum ada obat maupun vaksinnya, rumah sakit yang lumpuh karena kebanjiran pasien, banyak yang meninggal dalam waktu cepat, dan berbagai hal-hal mengejutkan lainnya. Sangat minim, atau hampir tidak ada hal-hal seru dan menyenangkan yang beredar di sekitar kita, lantaran urusannya hanyalah antara hidup dan mati. Entah mati karena penyakit, atau “mati” karena gagal bertahan hidup.

Apa kabar semua hal-hal indah dan menarik dari media sosial? Hampir semuanya tergantikan dengan kisah pilu, kisah inspiratif (dari dokter, keluarga pasien, orang-orang yang bisa memberikan bantuan), perdebatan tidak jelas, kabar kabur, dan para pemilik lapak siniar yang mengundang entah siapa untuk menyebarkan ketidakjelasan … dan sayangnya, tetap disaksikan dan didengar, bahkan dipercaya banyak orang.

Seiring berjalannya waktu, tahun lalu, terutama sebelum varian Delta menyerang, perubahan tetap terjadi. Pelan-pelan banyak orang kembali berupaya mengisi hidupnya dengan hal-hal yang terasa seru dan menyenangkan. Meskipun, belum tentu perkara bertahan hidup sudah terjamin aman.

Ada yang berkarya; bikin ini itu dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Bersesi-sesi obrolan di Clubhouse yang waktu itu masih terbatas untuk yang terundang, bahkan sampai lewat tengah malam. Juga bikin siaran Instagram, meskipun bukan siapa-siapa, tetap boleh juga. Arisan virtual pakai Zoom. Kemudian, ada juga yang diam-diam tetap bepergian, baik pulang kampung atau ke provinsi destinasi liburan (sampai balik-balik malah positif, dan anehnya justru bersikap terlampau defensif saat ketahuan).

Image
Sumber: Twitter

Bagi yang masih punya pekerjaan, dan syukurnya tetap bisa bekerja dari rumah, ada yang fokus dan benar-benar menyeriusi urusan work from home ini. Ada yang work from hometown, alias pulang kampung sekalian dan bekerja dari rumah orang tua. Yang tetap bertahan di kota perantauannya, di kamar-kamar indekos atau rumah kontrakan bersama, mulai menata kamar sekaligus ruang kerja. Tak heran peralatan kerja dan bahan-bahan bangunan makin laris manis gara-gara banyak yang renovasi hunian sementaranya agar menjadi lebih cozy dan estetik.

Ada juga yang work from other town. Tatkala bekerja dari mana saja, ditambah kondisi ekonomi yang sedang depresi memungkinkan untuk hijrah sementara ke Bali. Bekerja dari kawasan destinasi wisata, dengan biaya sepersekian lebih murah ketimbang biasanya. Bagi yang cerdas dan cerdik berhitung, tinggal di Bali tapi tetap di kontrakan. Tidak perlu di BnB apalagi hotel layaknya turis sungguhan. Setidaknya tetap bisa bangun pagi dengan langit biru cerah dan aroma dupa beserta wangi kembang isian banten. Cukup buka laptop, rapat virtual, dan kirim-kirim laporan dalam email, tetap bisa menunaikan tugas sebagai seorang karyawan yang digaji tiap bulan, kendati terpaksa dipotong beberapa persen. Toh masih mending, daripada tidak ada penghasilan sama sekali.

Semuanya, dijalani dari hari ke hari dengan segala senang susahnya. Sesekali dibagikan lewat media sosial, yang pada akhirnya bisa memberikan kesan kepada para pemirsa: “Hidupnya seru, ya…” Padahal, ya, judulnya tetap berusaha bertahan hidup.

Saya sendiri merasa sangat beruntung, masih dianggap bermanfaat dan terus dipekerjakan. Dengan demikian, saya masih berkemampuan bayar cicilan-cicilan, ngirimin orang tua di Samarinda sana, dan setidaknya cukup makan dan kuota. Bonusnya, saya juga berkesempatan punya pengalaman nyetir jauh. Palembang-Lampung untuk suatu urusan, dan Jakarta-Solo-Jakarta walaupun untuk urusan dukacita. Menyopir.

Kelenteng Gie Hap Bio/Yi He Miao atau Kelenteng Talang Semut di Palembang.

… dan justru dalam situasi seperti ini, berasa kembali teringatkan untuk selalu berusaha merasa puas dan berterima kasih. Atas apa yang kita miliki atas usaha sendiri, atas apa yang kita miliki dari pemberian orang lain, serta hal-hal lain yang bakal menguras terlalu banyak pikiran dan tenaga kalau dipikirin terus-menerus.

Dengan demikian, sebaiknya jangan kegocek. Baik yang sedang berusaha bertahan hidup dalam segala keterbatasan dan himpitan, maupun yang sedang terlihat memiliki keseruan hidup, sama-sama tengah berurusan dengan kesulitannya masing-masing.

Iri, dan kepingin, wajar muncul. Asal jangan sampai terbutakan. Mati-matian ingin mengejar yang bikin iri, sampai meninggalkan yang krusial, setelah akhirnya berhasil mencapai, eh, ternyata gitu doang. Kecewa sendiri, menyesal sendiri.

Urusan bertahan hidup itu prioritas. Selama masih gampang kesandung, masih gampang deg-degan, dan belum punya banyak keleluasaan, sebaiknya fokus ke situ. Lagipula, urusan seru-seruan menjalani hidup ini perkara mindset serta sudut pandang. Jangan kebolak.

Seperti kata Ko Glenn beberapa hari lalu.

Ya, begitu.

[]

Leave a Reply