Kita akan Lupa

Beberapa minggu yang lalu, saat saya makan siang bersama seorang teman di salah satu pusat perbelanjaan pada suatu akhir pekan, saya bertanya sambil melihat sekeliling, “Look at this crowd. We’re back to the new old normal sooner than we think, right?

Teman saya, mengikuti arah pandang saya, menjawab singkat sambil meneruskan makannya, “Well, looks like it. Can’t stop people from going out. Mass vaccination is the key.

Saya mengangguk, lalu meneruskan makan. Setelah beberapa saat, saya melamun sejenak, lalu bertanya lagi.

Let’s say, akhirnya kita kembali beraktivitas secara normal. Going around, going about … Lalu apa kita akan lupa dengan orang-orang yang meninggal karena wabah saat pandemi? Especially those we know in person, yang dekat dengan kita. Or will we try our best to put the dark days behind, almost like in denial, bener-bener nggak mau mengingat-ingat masa pandemi?”

Teman saya berpikir sangat sebentar, cuma memastikan tidak sedang mengunyah makanan saat merespon pertanyaan saya.

Of course. Kita akan lupa. It happens, that’s natural. Because we are busy living.”

Saya mengangguk, lebih pelan dari sebelumnya. 

That’s sad.”

It is sad.”

How can we forget our loved ones, our close friends, leaving us so soon?”

Teman saya mengambil minum.

Like I said, karena kita terus hidup, kita masih harus survive menjalani hidup dengan segala ups and downs, maka mau tidak mau, kita akan lupa dengan orang-orang terdekat yang sudah tidak ada di dekat kita, physically, karena kita sibuk bertahan hidup. But then, there will be moments when you suddenly remember them, atau tiba-tiba kita mimpiin mereka. And when those moments come, we realise they will always be around. It turns out, we never really forget them.”

Saya memandang teman saya dengan takjub. Lalu tersenyum.

What?

Kali ini saya tertawa.

“Nggak! Tumben serius.”

“Ya elo juga!”

Kali ini kami berdua tertawa. 

Dan beberapa hari setelah kejadian ini, saat saya mengingat-ingat kembali untuk menulis momen itu di sini, akhirnya saya mengakui, bahwa most of the time, saya sering lupa dengan orang-orang yang telah pergi meninggalkan kita. Terutama saat saya harus berkonsentrasi penuh mendengarkan sesi pertemuan di Zoom, saat berolahraga, saat tidak bisa tidur karena memikirkan deadline pekerjaan, dan saat menjalani hidup.

Namun di saat-saat saya tersadarkan akan kenyataan bahwa beberapa orang yang dekat dengan saya sekarang telah tiada, maka saya berusaha untuk tersenyum. Mengingat kembali kenangan yang pernah ada bersama mereka. Nonton bareng sampai ketiduran bareng, membohongi mantan pacar teman agar bisa kabur ke luar negeri, main Scrabble berjam-jam, dan hal-hal lain yang pernah dilakukan bersama-sama, membentuk menjadi kenangan yang akan selalu diingat.

Di situlah saya tahu, bahwa kita tidak akan pernah lupa. 

Just because most of the time we will forget our beloved departed ones, as we continue living, there will be other times when we remember them, miss them, and happy to once create moments with them.

Sekarang, mari kita lanjutkan hidup.

2 thoughts on “Kita akan Lupa

  1. Mas Nauval, apa kabar? Jg semua Mas Gono, Om Roy, semuaaa

    Makasih byk sudah menuliskan ini. Besok aku izin kutip kata-kata ini “Just because most of the time we will forget our beloved departed ones, as we continue living, there will be other times when we remember them, miss them, and happy to once create moments with them.” ya di @bukanhanyaangka

    Itu mungkin akan membantu teman2 yg berduka, dan membantu memvalidasi perasaan2 mereka, mudah-mudahan.

Leave a Reply