7 Tahun

KEPINGINNYA, tulisan kali ini jadi semacam refleksi untuk hari jadi Linimasa, kemarin. Cuma, sama seperti yang disampaikan Mas Nauval dalam tulisannya beberapa hari lalu, tidak ada yang lebih penting dibanding kesehatan fisik dan mental; ketangguhan menjalani hidup dan segala ketidakjelasannya; dan upaya untuk terus bahagia. Oleh karenanya, tidak ada doa dan harapan yang lebih dibutuhkan oleh kita semua saat ini selain “semoga kita selalu sehat, selalu berbahagia, dan selalu mendapatkan yang terbaik…

Ada niat yang sempat tercetus, untuk semalam, barangkali ada waktu dan kesempatan bersua, meski hanya lewat suara melalui kanal-kanal media sosial kekinian. Sayangnya, belum bisa kejadian. Ya, deh, kapan-kapan.

Pernah ada masanya, hingga beberapa tahun lalu, ketika salah satu rutinitas setiap pagi–selain mengecek Twitter–adalah mengakses blog linimasa.com dan mengantisipasi tulisan terbaru hari itu. Sensasinya bermacam-macam, mulai dari terkejut, tergelak, terbuai, terpapar dengan informasi dan wawasan baru, sampai yang campur aduk. Ya, meskipun kami meriung secara virtual lewat grup WhatsApp hampir setiap hari, tidak ada ceritanya kita tahu apa yang bakal ditulis keesokan harinya. Setiap tulisan berhasil menjadi kejutan menyenangkan di kemunculannya.

… dan untuk itu, saya berterima kasih dengan kakak-kakak (ehehe…) penulis lainnya. Mas Roy, Ko Glenn, Mas Gandrasta, Mas Nauval, Mbak Leila, Kang Agun, dan Farah! Dalam apa pun perubahan yang sudah terjadi, semoga semuanya selalu dilancarkan; berbuah keberhasilan, dan tetap ada keleluasaan ruang untuk mengantisipasi segala kemungkinan.

Bagi teman-teman pembaca yang mengikuti mereka lewat berbagai kanal media sosial, sedikit banyaknya mengetahui berbagai perkembangan yang terjadi. Ada yang berpindah tugas, mendapatkan posisi, kewenangan, dan tanggung jawab baru. Ada yang makin tekun dan mengembangkan pencapaian selama ini. Ada yang terjun dan merintis “anak baru”. Semua ini tak lain menggambarkan realitas yang bolak-balik disampaikan dalam ribuan tulisan Linimasa sejauh ini: perubahan.

Begitu pula tentang kamu semua, para penyinggah dan pembaca, yang selalu berhasil membuat kami berkasak-kusuk di balik layar. Bagi saya khususnya, ada banyak komentar yang ditinggalkan di tulisan-tulisan Linimasa, yang memberikan dorongan untuk terus berbagi. Meskipun sejak beberapa tahun lalu, saya mulai menyadari bahwa setiap orang sangat berhak untuk tidak peduli, bahkan bodoamat dengan pendapat saya tentang sesuatu, atau segala sesuatu.

Namanya juga blog, tempat kita menulis dan mengutarakan sesuatu. Fungsinya tentu saja menjadi wadah untuk memuntahkan pemikiran maupun isi hati, tanpa mewajibkan siapa pun untuk membacanya. Lagipula, ada perbedaan yang mendasar antara menjawab ketika ditanya, dengan diare kata-kata. Ketika tahu-tahu dihujani informasi, enggak ada yang bertanya, enggak ada pula yang membutuhkannya.

Dengan demikian, semoga Linimasa tetap bisa menjadi wadah untuk bercerita tanpa memaksa orang lain untuk menyimaknya, dan sebaliknya, semoga Linimasa tetap bisa menjadi wadah kumpulan cerita yang menyenangkan untuk disinggahi dan diintip sesekali–atau berulang kali juga boleh, kok, yang mana tahu bisa memberikan sedikit kesegaran buat hati dan pikiran.

Sebab, seperti semboyan yang dicanangkan oleh Mas Roy untuk Linimasa, karena internet butuh lebih banyak hati, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga dari Bandung, Cirebon, Samarinda, dan di mana saja.

[]

2 thoughts on “7 Tahun

  1. Aku sudah bersama kalian sejak 2015! Dari tinggal di Jakarta, London, balik lagi ke Jakarta, hingga sekarang di Bandung. Ada saatnya tiap hari mantengin linimasa dan menjadi pemuda overthinker, sampai sekarang bacanya rapelan, tapi aku tetap meniunggu dan menikmati tulisan kalian. Terima kasih para penulis! Panjang umur linimasa.com!

    1. Waaah! Terima kasih sudah setia membaca sampai sekarang, semoga tetap dan selalu berkenan, meskipun perubahan pasti tidak akan terhindarkan.

      Selalu sehat dan bahagia, ya.

Leave a Reply