“Wish you all the best”

ATAU WYATB, akronim yang biasanya kita sampaikan selama ini ketika menimpali HBD, akronim lainnya. Padahal sesuai maknanya; wish you all the best, ini menjadi doa dan harapan yang paling dibutuhkan untuk menjadi kenyataan. Karena apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik bagi penerimanya.

Saat menyampaikan ucapan selamat dan pengharapan kepada seseorang dalam berbagai situasi, kita seringkali sok tahu, seolah-olah menjadi yang paling tahu keadaan orang lain. Kita menjejalkan pikiran dan asumsi-asumsi kita sendiri kepada orang lain, memaksa mereka agar ikut menerima dan menjalankannya.

Selamat ulang tahun ke-17. Semoga setelah ini cepat lulus SMA, terus ketemu jodoh langsung nikah, enggak usah lama-lama, biar orang tuamu bisa segera gendong cucu. “ Ucapan seperti ini misalnya, yang disampaikan kepada seorang remaja perempuan.

Coba ganti ucapannya dengan: “Selamat ulang tahun ke-17. Semoga selalu memperoleh yang terbaik dalam hidup.

Bagi sebagian orang, bisa cepat-cepat menikah barangkali adalah sesuatu yang terbaik. Masih barangkali, karena belum tentu demikian jadinya sebelum dialami sendiri (meskipun dalam beberapa kasus, malah berubah menjadi penyesalan).

Begitu pun bagi sebagian orang tua, bisa cepat-cepat menikahkan anak perempuannya barangkali adalah sesuatu yang terbaik. Tentu saja barangkali, karena anak perempuan mereka yang menjalaninya. Bahkan dalam beberapa kejadian, ada orang tua yang memerintahkan dan memaksa anak perempuannya untuk menikah di usia teramat muda.

Ilustrasi di atas adalah salah satu contoh yang paling kasar. Kita, dalam situasi saat ini, bisa menyetujui dan tidak menyetujui sesuatunya relatif lebih cepat lewat seperangkat penilaian; cukup gamblang bagi kita menilai mana yang lebih baik dibanding lainnya.

Predikat “terbaik” dalam konteks ini memang abstrak dan selalu berubah, serta dipengaruhi berbagai faktor. Yang dinilai sebagai “terbaik” dalam suatu masa, belum tentu tetap menjadi yang “terbaik” saat ini. Yang dianggap sebagai “terbaik” dalam sebuah masyarakat, belum tentu merupakan yang “terbaik” bagi kelompok masyarakat lainnya. Namun, tetap ada satu hal yang pasti, tidak ada arogansi dalam pengharapan untuk orang lain. Jangan sampai kita merasa berhak mendikte kehidupan orang lain. Apalagi makin kompleks keadaan seseorang, makin mustahil bagi kita atau siapa pun menentukan apa yang terbaik bagi mereka.

Di sisi lain, ada perbedaan mendasar antara mengharapkan yang terbaik bagi seseorang, dan memberikan nasihat. Banyak orang yang justru memberikan unsolicited advice atau nyerocos menasihati, menumpahkan pemikiran-pemikirannya sendiri dan menganggapnya sebagai hal terbaik bagi orang lain tersebut. Memaksakan kesoktahuan.

Cukuplah bagi kita untuk mengharapkan yang terbaik bagi orang lain, menyampaikannya secara tulus, dan baru berbicara panjang lebar ketika benar-benar diminta.

“Wish you all the best. Apa pun itu, semoga kamu mendapatkan yang terbaik.

[]

Leave a Reply