Mental Penimbun & Mental Berbagi

PERCAKAPAN ini terjadi setelah kegiatan membuang sampah; setelah melihat ada tiga kontainer besar lain tanpa penutup yang saat ditengok dalamnya, ternyata adalah clutter charity box untuk meletakkan barang-barang yang disumbangkan. Bukan barang baru tentunya, tetapi masih dalam kondisi relatif baik. Minimal tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Isi salah satu kontainernya.

Sebagai seseorang yang cheapskate, saya triggered. Maklum masuk golongan #AntiBocuan 😅

Aku: “Itu tadi ada yang taruh piring-piring keramik. Masih pada bagus-bagus begitu.
Dia: “Iya, memang. Nanti bakal diambil, dan dikumpulkan buat disalurkan.
Aku: “Ini, ya, kalau aku tinggal sendiri, aku bakalan ambil, sih. Hahaha…
Dia: “Enggak, dong! Yang ada sudah cukup, buat apa tambah barang lagi? Nanti jadi hoarder.”

Dari situ, saya terpikir tentang beberapa hal. Kepemilikan, kegunaan, keberlimpahan, ketercukupan, penumpukan, berbagi, dan kemelekatan. Meskipun tidak dimungkiri, pola pikir atau mindset juga berpengaruh. Misalnya, “kalau bisa dapat yang gratis dan bagus, kenapa harus beli dan mengeluarkan uang lagi?” untuk sikap … kikir dan mau cari untung, atau “ya, disimpan saja dulu, suatu saat nanti pasti dibutuhkan” untuk kegemaran menimbun barang-barang yang entah dari kapan.

Padahal, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, kalau sudah cukup, buat apa ditambah lagi? Disimpan dalam waktu yang tak tahu sampai kapan, dengan pertimbangan yang serba “mungkin nanti…”

Dari hal yang sederhana ini pula, tampak jelas perbedaan antara orang-orang yang bermental hoarder, suka menimbun barang layaknya pedagang, dengan orang-orang yang–terlihat–bermental pembagi, pengguna seperlunya, dan ringan hati untuk melepaskan … atau bisa jadi, sesederhana membuang barang yang sudah tak lagi diperlukan. Entahlah. Terserah, apakah barang itu mereka pandang sebagai sampah, tetapi bagi orang lain justru menjadi penghemat pengeluaran untuk sesuatu yang sedang benar-benar dibutuhkan.

Selamat berbuka puasa.

[]

Leave a Reply