Selesai Karantina

MUDAH-MUDAHAN ini hanya pengalaman sekali dalam seumur hidup; menjalani karantina wajib selama 14 hari setelah tiba di luar negeri.

Selain menguras sumber daya, saya membayangkan situasi ini bisa sedemikian menyiksa orang-orang ekstrover, orang-orang yang memerlukan ruang gerak relatif luas, dan tidak nyaman dengan kesendirian maupun rasa kesepian (kecuali kalau karantina berdua, atau sekeluarga). Belum lagi persoalan cuaca dan suhu udara di dalam kamar, ketidaktersediaan udara segar, dan menu masakan yang cocok-cocokan (senarai visual makanan saya selama karantina di Sydney bisa dilihat di sini).

Dalam situasi seperti saat ini, idealnya, diperlukan alasan yang sangat kuat dan mendesak untuk bepergian ke luar negeri. Selain demi menjaga keselamatan diri sendiri, ada berbagai prosedur tambahan yang mesti dijalani sampai akhirnya bisa tiba di negara tujuan tanpa kendala atau penolakan. Setelah tiba pun, kita tidak bisa langsung buru-buru pergi ke tujuan utama.

Kebosanan dan rasa jemu
Kesendirian
Rasa tidak betah
Keterkungkungan
Kebingungan
Ketidakjelasan
Penantian

Semua perasaan negatif inilah yang bisa dirasakan selama terkurung di dalam kamar hotel, dan saya merasa sangat beruntung memiliki sejumlah keleluasaan sehingga tidak sampai terganggu dengan hal-hal tersebut.

  • Saya beruntung didukung dan dibantu banyak orang baik. Dari pasangan, orang tua-orang tua, hingga saudara, teman, atasan dan rekan kerja. Membuat saya dan perjalanan ini terasa “sudah, tidak apa-apa, kok…” Ini yang utama.
  • Saya beruntung memiliki pekerjaan yang memungkinkan untuk bekerja jarak jauh. Hari-hari karantina bisa saya jalani layaknya WFH biasa; bangun tidur, meditasi lalu olahraga ringan, sarapan, dan mulai bekerja. Meskipun perbedaan waktunya lumayan jauh, setidaknya saya tetap diberi kesempatan untuk menunaikan tanggung jawab semaksimal mungkin. Untungnya, akses internet di hotel ini cukup mumpuni. Rapat virtual dan kerja kolaboratif bisa dijalani dengan lancar.
  • Saya beruntung terbiasa dengan perenungan terhadap makanan, sekaligus punya lidah yang tidak cerewet. Hampir semua sajian yang ditinggalkan di depan pintu kamar, bisa saya habiskan. Rentangnya dari enak banget, sampai “ya sudahlah…” Setidaknya saya tidak pernah merasa kelaparan, atau sampai harus ekstra memesan makanan dari luar. Ditambah lagi, saya beruntung sempat membawa sambal sasetan. Lumayan untuk menambah tendangan rasa.
  • Saya beruntung sempat membawa resistance band, perangkat olahraga yang mirip seperti tali ban lebar. Tetap bisa berolahraga meski hanya tipis-tipis, supaya tidak berasa melata. Selebihnya, banyak fitur dari ruangan kamar dan kamar mandi hotel yang bisa digunakan untuk berolahraga.
  • Saya beruntung mendapatkan kamar yang cukup representatif. Bisa dapat nuansa liburan sambil bekerja, dan mengerjakan aktivitas-aktivitas lainnya.
Meja kerja selama dua minggu terakhir. Karena aman, orang-orang yang berlalu lalang di bawah sana tidak perlu pakai masker.
  • Saya beruntung merasa agak rapi. Jadi kondisi kamar dan kamar mandi relatif tidak pernah berantakan. Setidaknya bisa menambah rasa betah selama harus berdiam di sini.
  • Saya beruntung sempat membawa perangkat kaligrafi sederhana. Jadi selain untuk kebutuhan membuat prakarya spesifik, perangkat tersebut bisa digunakan untuk berlatih, menjalani hobi, atau menulis iseng mengisi waktu. Kendati rasanya, tetap saja tahu-tahu sudah pukul 11 malam setiap harinya.
  • Saya beruntung sempat membawa krim pelembap secukupnya. Sehingga dalam situasi kering dan dingin sekalipun, masih bisa menjaga kulit dan bibir supaya tidak menimbulkan masalah baru. Remeh, sih, kesannya, tetapi ternyata memang diperlukan.

Alih-alih merasa bosan, terpenjara, dan menanti dalam ketidakjelasan, saya beruntung bisa bekerja, bahkan lebih lancar; melanjutkan aktivitas keseharian tanpa perubahan yang signifikan. Hari demi hari karantina dijalani dengan apa adanya, minim mengeluh keras, dan tetap berusaha memerhatikan kesadaran. Hingga pada akhirnya, eh, tahu-tahu rampung juga.

[]

2 thoughts on “Selesai Karantina

  1. Hore sudah lepas dari karantina, selamat! (Iya, maaf telat ya komentar ini).
    Selepas program karantina dengan makanan yang dipajang ini… boleh tahu ndak, berat badan stabil kah atau ada perubahan? 😀

    1. Sejujurnya, dari nyampe sampai sekarang belum ketemu timbangan berat badan lagi. 😅 cuma, mempertimbangkan gerak badan yg minimal selama dua minggu, tapi metabolisme relatif lancar, berat badan kayaknya masih sama-sama aja, sih.

Leave a Reply