Bau Bangkai

Aroma tajam bangkai menusuk hidung. Aku langsung menahan napas dan berhenti melangkah ke kamar mandi.

“Sweet lord, ini bau apa?”

“Kayaknya ada yang mati deh, bu!” Anak perempuanku menoleh dari layar smartphone-nya.

“Ah, masa sih. Mungkin cuma saluran air tersumbat, neng, nanti kalau kita mandi, salurannya basah dan mengalir juga hilang”

“Tapi ini dari kemarin, buu.”

Aku pura pura tidak dengar dan menutup pintu kamar mandi. Tapi memang kali ini baunya agak luar biasa, ada saat aku memilih bernapas lewat mulut karena suka semriwing tiba-tiba menyengat sekali. Ternyata aku salah, setelah mandi aroma busuk itu tidak berkurang sama sekali. Kalau mungkin, malah semakin menyengat. 

Beberapa hari sudah berlalu dan bau bangkai itu tidak juga hilang. Aku berusaha cari sumbernya, mencurigai pembuangan air, dan menyemprotnya dengan air yang kencang dan lama, tetapi tidak ada hasil. Apalagi sekadar menghiasi kamar mandi dengan beberapa kapur barus, boro-boro meredakan bau, malah membuatnya campur aduk tambah membuat mual. Dampak positif dari aroma tak sedap di kamar mandi ini sepertinya cuma satu; anakku jadi tidak betah berlama-lama di kamar mandi, berbeda dari kebiasaan dia yang kalau belum ditegur, belum keluar dari kamar mandi. Sebagai penggemar cerita legenda horor lokal, anakku muncul teori kalau jangan-jangan ada yang mengirimkan santet buat kami. Aku tidak pernah percaya dengan yang gitu-gitu, jadi kubalas saja komentarnya dengan dengusan.

Malam itu aku terbangun karena hidung mengendus bau busuk. 

“Neng, pintu kamar mandi kayaknya belum rapet”

Anakku bangkit dari tempat tidurnya tanpa membuka mata lebar dan memeriksa pintu kamar mandi. 

“Sudah rapet, kok, bu!”

“Kok baunya kenceng banget ya?”

“Iya, aku juga kecium, baunya kayaknya dari sini, deh”

“Dari mana?”

“Dari sini” anakku menunjuk ke bagianku dari tempat tidur.

“Jangan macem macem kamu” aku menutup hidungku dengan selimut dan berusaha tidur lagi.

Besoknya aku masuk kamar mandi dan mencium ada perubahan aroma. 

“Neng, ada kabar bagus, baunya sudah berubah dari bangkai, jadi agak kayak aroma ikan asin! Berarti proses dekomposisinya hampir selesai!”

Anakku membuat ekspresi pura pura mau muntah kemudian tertawa terbahak-bahak.

Sejak hari itu, bau ikan asin semakin kencang, walau saluran air aku coba tutup dengan biji kopi yang sudah kedaluwarsa. Herannya malam hari baunya sampai tercium ke luar kamar mandi walaupun pintu sudah tertutup rapat. 

Suatu hari saya masuk ke kamar mandi sambil bersiap dihadang bau busuk, tetapi setelah mengendus meyakinkan, baunya ternyata sudah hilang!

“Neng, horee, baunya hilang!”

“Yay, akhirnya!” Anakku hanya menoleh sebentar dari TikTok di layar smartphone-nya lalu tenggelam lagi dalam aplikasi kegemarannya.

Sore itu aku ke kamar mandi untuk cuci tangan, dan menoleh ke jendela yang terlihat gelap, padahal di luar masih terang. Sejak kapan jendela ini terlihat sekotor itu, padahal rutin dibersihkan. Ketika dekat, aku baru melihat banyak sekali lalat yang hinggap di kaca jendela sampai menghalangi sinar matahari yang masuk. Aku hampir teriak, tapi khawatir lalat malah beterbangan, jadi hati-hati, dan sambil jijik, aku buka jendela, supaya lalatnya semua keluar. Setelah lalat terbang keluar, baru aku bisa teriak. 

“FAAK!”

“KENAPA BU?” Anakku tergopoh-gopoh masuk ke kamar mandi. Aku ceritakan berapa banyak lalat yang tadi hinggap di jendela sampai anakku bergidik geli. 

“Tuh, kan bu, jangan jangan benar itu santet”

“Cuci mulutmu!” kataku sambil cekikikan geli, “itu kan belatung yang dari bangkai yang kemarin bau, sekarang sudah jadi dewasa dan terbang ke dunia sebagai lalat”

“Sok ilmiah banget deh, bu”

“Bodo amat.”

Sejak hari itu, setiap kali kami masuk ke kamar mandi selalu ada banyak lalat baru. Jenis yang besar besar, ada yang berbadan hijau, ada yang kelabu. Tetapi tidak ada yang kecil, semua besar. Anakku sampai tidak berani masuk ke kamar mandi sebelum aku keluarkan lalat-lalat itu. 

“Aku kalah banyak, bu, aku diserang!” Anakku memang dramatis. 

Hampir setiap pagi juga ada beberapa lalat yang masuk ke kamar dan kami pun mengejar-ngejar untuk memukulnya dengan gulungan kertas atau menggiring ke luar kamar dari pintu dan jendela. Beberapa malam itu aku mimpi aku membuka mulut ingin makan, tetapi tidak ada makanan masuk, malah lalat yang keluar dari mulutku. Banyak sekali.

Alarm pagi dari teleponku berbunyi, dan aku membuka mata. Tetapi tidak ada yang bisa kulihat, semua gelap. Panik, aku meraba raba mencari anakku yang biasanya tidur di sebelahku. Setelah teraba tangannya, aku tarik tarik.

“Neng, neng, ini kenapa ibu enggak bisa lihat apa-apa? Memang gelap apa gimana?”

Terasa anakku bergerak dan mulai bangkit, kemudian suaranya menjerit kencang.

“Kenapa Neng?”

“IBU!”

Aku meraba mata dan wajahku dan yang aku raba adalah lalat yang berbadan besar, begitu banyak menutupi semua lubang di wajahku.

Leave a Reply