Suara, Dengarkanlah Aku (Apa Kabarnya, Pujaan Hatiku?)

Hampir sebulan ini, isi history Youtube saya dipenuhi dengan video-video dari beberapa episode acara kompetisi menyanyi “The Voice”. Padahal dulu-dulu saya tidak pernah menonton acara ini secara rutin. Tidak juga menyempatkan diri menonton kalau lagi flipping through channels saat menyalakan televisi.

Kenapa saya tiba-tiba jadi sering menonton “The Voice” di Youtube? Ini bermula dari tidak bisa tidur. Entah kenapa, bulan lalu siklus tidur saya cukup berantakan. Frekuensi tidak bisa tidur cepat di malam hari meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Biasanya, kalau belum bisa tidur, saya menonton random videos di Youtube. Pikirnya, nonton sambil tiduran ‘kan bisa bikin cepat terlelap. Toh, itu juga yang terjadi selama ini.

Lalu saya mulai menonton satu episode yang dipilih secara acak dari “The Voice” ini. Yang saya tonton adalah babak awal, atau kalau dalam acara ini disebut “blind auditions”. Kontestan bernyanyi di depan juri yang tidak bisa melihat wujud penyanyi ini, hanya mendengarkan suara mereka. Kalau juri tertarik dengan suaranya, maka juri ini memencet tombol yang ada di kursi mereka, menyatakan ketertarikan dengan penyanyi untuk masuk tim salah satu juri.

Ternyata menonton “blind auditions” ini menarik. Yang membuatnya menarik, tentu saja ketegangan, apakah juri akan membalikkan kursi, seberapa cepat juri membalikkan kursi, dan lagu yang dinyanyikan kontestan, yang kadang-kadang hadir dengan aransemen baru yang sangat berbeda dengan lagu aslinya. Naik turunnya emosi dalam sesi awal ini yang membuat “The Voice” enak ditonton, dan tanpa sadar saya terus mencari episode-episode atau kumpulan klip pendek lain, sampai bablas lupa tidur.

Dan setelah menonton cukup banyak episode “The Voice” di Youtube, saya baru sadar kalau ada satu hal lain yang membuat saya betah dan terus tertarik menontonnya.

Saya sadar, kalau saya tidak bisa nyanyi.

Kesadaran ini sudah lama saya akui, mungkin dari saat lulus SD saat masuk puber pertama dan suara berubah. Dulu waktu SD bisa masuk paduan suara, ternyata waktu SMP sudah tidak bisa lagi. Lalu saat beranjak dewasa, mulai sadar bahwa suara yang kita kira kita dengar, berbeda dengan suara kita yang sebenarnya didengar orang lain. Jadi dari sini saya sadar sekali, kalau kemampuan vokal untuk menyanyi, cukup dikonsumsi diri sendiri, bisa di kamar mandi atau di ruang private lainnya. 

Atau cukup untuk dibuat bergumam dalam hati, sambil membatin, “Kalau tiba-tiba bisa dikasih anugrah suara yang bagus untuk menyanyi, saya mau bisa menyanyi lagu “On the Street Where You Live” dari musikal “My Fair Lady’!” Maklum, lagu ini adalah salah satu lagu yang dari dulu ingin sekali bisa saya nyanyikan.

Toh meskipun tidak bisa menyanyi, saya masih senang mendengarkan suara orang yang bernyanyi. Apalagi bernyanyi dengan baik. Terlebih lagi, menyanyi dengan sangat baik, sampai-sampai yang mendengarkan diam-diam menitikkan air mata. Itulah yang terjadi, inexplicably, kepada saya saat melihat kumpulan-kumpulan video audisi “The Voice” di Youtube. 

There is always something angelic about certain voices that touch us deeply. 

Jadi, kalau Anda bisa menyanyikan satu lagu hari ini, lagu apa yang akan Anda nyanyikan?

Leave a Reply