Bahagia dalam Pencapaian-pencapaian Kecil

PERIHAL rasa gembira dan hal-hal yang bisa membuat kita gembira, kita tampaknya adalah makhluk-makhluk yang hatinya gampang kebas. Kejadian yang terulang tidak akan seberkesan saat pertama kalinya. Kegembiraan perlahan kehilangan rasanya; dari euforia menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Fenomena ini wajar, dan justru bermanfaat mendorong agar manusia terus bereksplorasi dalam kehidupannya; memperluas pengalaman dan wawasan, demi bisa menghasilkan hal-hal baru yang bisa diturunkan demi kebaikan generasi berikutnya.

Namun, sayangnya keadaan ini membuat kita cenderung mengabaikan capaian-capaian kecil atau yang dianggap sederhana menjadi biasa-biasa saja. Tanpa disadari, kita terus menaikkan standar sampai ke batas yang tidak jelas, seolah-olah hanya pencapaian besar saja yang pantas dirayakan dengan merasa gembira, bersyukur, dan berterima kasih.

Banyak yang barangkali silap atau kabur pandangan, bahwa pencapaian besar bisa terasa sangat luar biasa lantaran proses, upaya, dan sumber daya yang dikerahkan untuk dapat meraihnya memang sedemikian besar. Sehingga keberhasilan yang diperoleh memberikan kelegaan, kesulitan dan ketekunan yang dilakukan telah terbalas setimpal, serta diri ini pun terbebas–sementara–dari pekerjaan-pekerjaan berat sebelumnya. Hanya sementara, karena hidup terus bergulir, asa dan cita-cita terus dibangun. Akan selalu ada tujuan-tujuan untuk dicapai.

Di masa seperti sekarang, ketika tekanan dari perbandingan meningkat berkali lipat; ketika upaya membanding-bandingkan apa yang dimiliki diri sendiri dan orang lain terjadi tanpa jeda, serta cukup lewat ujung jari saja; ketika kita dan keluarga di sekeliling berubah menjadi manusia-manusia yang kian susah bisa merasa berpuas diri, capaian-capaian kecil dan sederhana diperlakukan ibarat uang receh. Tidak diharapkan, dan seringkali dilupakan langsung setelah diperoleh.

Capaian-capaian yang dinilai pantas dirayakan harus besar, signifikan, mengubah hidup diri sendiri maupun orang banyak dalam skala raksasa. Misalnya seperti menjadi Founder, mendapatkan uang ratusan juta hingga miliaran entah dari mana, menjadi figur publik di media sosial yang ditandai lewat angka pengikut dan penggemar, bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan standar tertinggi, menikah dengan pesta besar-besaran, berhasil membeli rumah atau apartemen mewah, atau kendaraan terbaru…

Padahal, tidak harus begitu. Jadi tampak sombong, merasa capaian-capaian kecil itu terlalu remeh bahkan untuk diperhatikan.

Bisa jadi, memerhatikan dengan sepenuh hati dan turut merasa gembira atas capaian-capaian kecil dalam kehidupan sehari-hari bisa membantu menjaga kewarasan diri. Memperluas dan memperlebar kapasitas hati dalam menjalani hidup, hingga menyadari bahwa kita bergantung pada diri kita sendiri untuk bisa benar-benar merasa bahagia.

Seperti apa capaian-capaian kecil dalam kehidupan sehari-hari itu? Berhasil berhemat Rp20 ribu pada hari ini; berhasil berjalan kaki hingga 5 ribu langkah dari yang biasanya hanya seribu kurang; sempat membelikan Ayah makanan kesukaannya; atau sempat melakukan panggilan video dengan Ibu meski tidak sampai 15 menit; berhasil merapikan meja kerja di rumah; berhasil mengamankan jemuran dari hujan; bertemu seekor kucing di jalan dan kebetulan punya makanan yang bisa dibagi saat itu juga; dan masih banyak lagi contoh capaian-capaian kecil dan sederhana, yang sejatinya tetap bisa memberikan arti dalam kehidupan kita saat ini.

Sesuatu yang cukup membuat bangga, sesuatu yang cukup membuat kita merasa bersyukur dan berterima kasih, bukan hanya atas apa yang berhasil diperoleh, tetapi juga atas kenyataan bahwa kita masih dapat melanjutkan kehidupan dalam situasi yang relatif cukup nyaman.

[]

Leave a Reply