Agama yang Menghibur

SEBUAH pertanyaan sederhana: Apakah yang serius-serius itu tidak akan bisa menghibur? yang selanjutnya akan memunculkan pertanyaan baru: Apakah sesuatu yang menghibur itu pasti tidak serius?

Manakala jawaban untuk dua pertanyaan di atas adalah “belum tentu“, iseng saya ingin membahasnya dengan agama sebagai objeknya. Yang selama ini–sepanjang peradaban manusia–agama pasti diatribusikan sebagai sesuatu maha serius, bukan main-main, dan tentu saja bikin teramat tegang.

Contohnya, bila setelah membaca paragraf sebelum ini Anda sontak berkomentar atau membatin: “Bahas agama kok iseng? Agama itu enggak boleh iseng-iseng.” Bukankah itu mengindikasikan munculnya ketegangan? Ditambah lagi bila kemudian Anda langsung merevisi jawaban “belum tentu” tadi dengan “belum tentu, kecuali soal agama.”

Di sisi lain, jika agama memang merupakan sumber ketegangan karena sifatnya yang maha serius, tidak heran jika muncul dua kutub ekstrem. Yakni orang-orang yang gampang tegang gara-gara selalu serius melekat pada nuansa keagamaan, serta orang-orang yang justru alergi terhadap suasana keagamaan karena memberikan atau menambah tekanan dalam hidup mereka.

Dalam hal ini, sifat mendasar dari hiburan ialah hati dan pikiran yang terhibur, memberikan relaksasi, pelepasan ketegangan, gelitikan humor, termasuk kebebasan berekspresi. Pada akhirnya, hiburan yang tepat akan memberikan rasa senang dan gembira, yang bahkan bisa mendorong seseorang mencari untuk mendapatkannya secara terus-menerus (makanya, objek dan tempat hiburan selalu dicari serta dipadati orang).

Kembali ke berandai-andai sebelumnya, bisakah agama hadir atau dihadirkan sebagai sesuatu yang menghibur? Bisakah kita menerima bahwa agama juga bisa menghibur dan memberikan penghiburan dalam beraneka spektrumnya?

Ini pendapat saya.

Seperti yang kita ketahui, agama mengajarkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Apa pun kategori agamanya; baik yang bersumber “dari langit”, maupun yang terbentuk dari spiritualisme insani, napas pesan yang diembuskan secara garis besar relatif sama. Tidak ada sesuatu apa pun yang dapat membungkus atau menyamarkan kebenaran dan kebaikan. Sehingga semenghibur atau sesantai apa pun sebuah pengajaran agama dihadirkan, kebenaran dan kebaikan tetaplah menjadi kebenaran dan kebaikan.

Sementara itu pula, pengajaran kebenaran dan kebaikan dalam agama yang disampaikan secara menghibur pun, memiliki potensi untuk tercerap dan diterima oleh pendengarnya. Tidak semua akan mendapatkan kesan yang sama, tetapi setidaknya tetap bisa berkenan dan tercamkan di dalam sanubari. Meminjam istilah yang pernah saya dengar–kalau tidak keliru–bahwa tuhan itu maha asyik dan maha menyenangkan, dan barangkali manusia-manusianya sajalah yang seakan-akan menjadikannya kurang/tidak asyik dan kurang/tidak menyenangkan.

Kita semua tentu tahu, pernah merasakan, dan mengenali rasanya terhibur. Menggunakan berbagai media, format, dan bentuk penyampaian, kita benar-benar menyadari bagaimana tanda-tandanya ketika kita terhibur. Mulai dari momen awal (ketika kita bisa menduga bahwa situasi tersebut bisa berujung pada keadaan terhibur), saat suasana hiburan itu terjadi, hingga setelah momen tersebut berlalu.

Sayangnya, kita kerap terjebak bias. Yaitu sesuatu yang santai dan menghibur itu hanyalah recehan, tidak terlalu penting, sering kita sebut dengan “hanya hiburan belaka.” Saya menduga anggapan seperti ini yang membuat sebagian besar orang religius super tegang, dan menolak segala bentuk asosiasi agama dengan perasaan terhibur. Pasalnya, mereka khawatir jika agama disampaikan secara menghibur dan santai, jatuhnya akan bisa dianggap remeh dan receh oleh pemirsanya.

Padahal, sekali lagi, kebenaran dan kebaikan tetap akan menjadi kebenaran dan kebaikan. Penting, dan tetap akan menjadi sesuatu yang penting. Sedangkan sesuatu yang pada hakikatnya picisan, tetaplah picisan kendati disampaikan dengan sangat serius sekalipun. Kendala malah terjadi pada penyampai dan penyampaiannya, bukan pada nilai-nilai yang menjadi dasar penyampaiannya.

Sungguhpun demikian, pilihan dan keputusan akhirnya ada di tangan Anda masing-masing. Apakah setuju agama bisa menjadi sesuatu yang menghibur, atau tetap berpegang teguh bahwa agama itu serius, dan tidak boleh dikurangi dari itu. Boleh-boleh saja, cuma, menjadi super sensitif dan tegang setiap saat itu melelahkan.

… dan sungguh disayangkan, jikalau agama, pendalaman, dan pengamalannya diasosiasikan sebagai sesuatu yang melelahkan. Lama-lama, kian ditinggalkan karena sisi menyenangkannya sengaja dibuang dan dihilangkan.

[]

Leave a Reply