Sepuluh Dan Lima Penampilan Menakjubkan Tahun 2020

Ada kalanya performa atau penampilan seorang aktor begitu kuat, sehingga mata kita terus terpaku pada karakter yang dimainkannya di sepanjang film atau serial yang kita tonton. Acap kali sebuah performance bisa mengangkat kualitas satu film secara keseluruhan. Idealnya memang isi film dan penampilan para aktornya bisa selaras. Namun masterpiece atau karya agung tidak sering terjadi.

Daftar performa yang mengesankan ini memang saya buat secara rutin dalam beberapa tahun terakhir. Namun tahun ini terasa lebih istimewa. Kenapa? Karena di tahun ini, di mana kita menonton jauh lebih banyak film dan serial dibanding tahun-tahun sebelumnya, sebuah performance yang meninggalkan impresi yang mendalam di hati dan benak penonton adalah sebuah performance yang memang teruji keunggulannya, karena performance ini berebut dengan ribuan karakter lain dalam ratusan film dan serial yang kita tonton sepanjang tahun.

Dan walaupun sudah ratusan film dan serial, masih banyak lagi film dan serial yang belum sempat ditonton. Meskipun begitu, inilah 10 individual performances dan 5 ensemble performances di film dan serial yang saya tonton di tahun 2020 ini, yang meninggalkan kesan paling dalam.

Individual performances of the year (diurutkan berdasarkan abjad nama belakang):

1. Riz AhmedMogul Mowgli & Sound of Metal

Tahun ini, Riz Ahmed menggebrak dengan dua penampilan di dua film yang, walau sepintas terlihat sama, namun sangat berbeda satu sama lain. Sama-sama menjadi musisi yang mengalami musibah sehingga cacat fisik, namun dengan aliran musik yang berbeda dan jenis penyakit yang sangat berbeda, membuat kita berdecak kagum dengan range akting Riz Ahmed. Susah dipercaya kalau karakter seorang rapper yang lumpuh dan penabuh drum yang tuli dimainkan oleh satu orang aktor yang sama, dengan tingkat believability yang luar biasa meyakinkan. Sulit juga kalau harus memilih satu yang lebih baik, karena kedua film ini sama-sama meninggalkan energi dan emosi yang menyala di hati dan kepala kita seusai menontonnya. My choice for actor of the year is Riz Ahmed.

2. Gillian AndersonThe Crown – Season 4

Mimicry can only go at a certain length, but becoming and commanding will last. Inilah yang saya lihat dari awal-awal kemunculan Gillian Anderson sebagai Margaret Thatcher di musim terbaru serial “The Crown”. Dia tidak sekadar memakai rambut palsu, berjalan dan berbicara dalam gaya tertentu. Yang Gillian Anderson lakukan adalah memberikan sentuhan humanis setiap dia berbicara, sehingga membuat karakter Margaret Thatcher hidup, dan membuat kita selalu menunggu kemunculannya di musim penayangan kali ini.

3. Cate Blanchett Mrs. America

Cate Blanchett hanya perlu mengangkat kepalanya sedikit, mengubah tatapan mata sambil menegakkan badan untuk menunjukkan bahwa karakternya, Phyllis Schlafly, seorang anti-feminis garis keras, mengalami konflik batin saat melihat situasi di sekeliling yang tidak menguntungkan dirinya. Sembilan episode yang penuh dengan karakter-karakter kuat. Toh semuanya bermuara pada karakter Phyllis dan Cate Blanchett yang menghidupkannya.

4. Michaela CoelI May Destroy You

Fearless. Satu kata yang paling pas untuk menggambarkan penampilan Michaela Coel dalam serial ini, yang dia buat berdasarkan pengalaman pribadi. Bagaimana bisa seorang Michaela Coel tetap menaruh humor pada karakter yang mengalami trauma kekerasan seksual yang begitu nyata? By making the character keep on living, breathing, and yes, going fearless.

5. Emma CorrinThe Crown – Season 4

Sosok Putri Diana, Lady Di, The People’s Princess ternyata masih melekat di memori dan hati milyaran pengagumnya. Termasuk saya. Maka saya pun ikut berdebar-debar menonton musim terbaru serial ini, dan akhirnya, saya dibuat berdecak kagum tak percaya. Emma Corrin tidak berpura-pura menjadi Diana. She taps in the youthful spirit of Diana, the fun and the troubled spirit, at ease. Kita dibuat jatuh cinta lagi dengan Diana lewat penampilan effortless Emma Corrin, yang sepertinya akan berbicara banyak di musim penghargaan mendatang.

6. Jasna ĐuričićQuo Vadis, Aida?

It’s in her eyes. Menonton film Quo Vadis, Aida? adalah pengalaman yang sangat menegangkan, melihat kekejaman perang yang menindas manusia. Namun lewat karakter Aida, kita benar-benar merasakan kepedihan dan keputusasaan manusia untuk bertahan hidup. Kita tidak bisa lepas dari tatapan karakter Aida yang menusuk tajam ini. Sebuah performa yang mengagumkan dari Jasna Đuričić, seorang artis kawakan senior dari Serbia yang saya baru tahu namanya, dan masih harus pelan-pelan menulis namanya secara benar. Semoga lama-lama kita terbiasa mendengar nama dan melihat aktingnya. 

7. Luca MarinelliMartin Eden

Saya sempat penasaran, kenapa penghargaan Best Actor di Venice Film Festival 2019 diberikan kepada seorang aktor Italia bernama Luca Marinelli yang berperan sebagai Martin Eden, dan tidak diberikan kepada Joaquin Phoenix sebagai Joker (meskipun Joker meraih Best Film di festival yang sama). Kurang dari setahun kemudian, setelah menonton film ini, saya baru tahu jawabannya. Betapa kuat kharisma seorang Martin Eden yang dibawakan Luca Marinelli sehingga mampu meluluhlantakkan hati orang-orang di sekitarnya, dan kharisma tersebut sekaligus mampu menutupi kegelisahan diri seseorang yang harus belajar mandiri untuk menjadi bagian dari masyarakat elit. A sexy, smouldering presence that carries the film almost entirely

8. Frances McDormandNomadland

Frances McDormand ada di setiap menit film ini, namun kita tidak akan bisa berpaling sedikit pun. Sebagai seorang perempuan di awal 60-an yang hidup berpindah-pindah dengan van tuanya, karakter Fern menjadi vibrant lewat tatapan sayu Frances McDormand merenungi hidupnya, tanpa banyak kata yang terucap. Performa Frances McDormand menjadi contoh baik, bagaimana konsep kesedihan yang akut, yang susah sekali dibawakan ke layar, bisa ditampilkan lewat bahasa tubuh secukupnya, namun masih bisa meyakinkan kita akan the inner struggle that comes out.

9. Paul MescalNormal People

Mungkin akan mudah untuk “menganggap” penampilan Paul Mescal sebagai Connell Waldron sebagai “biasa-biasa saja”. Mungkin juga kita akan terpukau dengan satu adegan saat Connell berkonsultasi dengan psikolog yang mengurai semua emosi karakter ini. Namun lebih dari itu, tidak mudah membuat transisi emosional dari seorang remaja sekolah menengah ke pemuda yang akan lulus kuliah, yang selama bertahun-tahun mengalami banyak gejolak hidup. Paul Mescal membuat kita trenyuh, sekaligus bersimpati pada karakter Connell ini. It’s definitely not an easy feat.

10. Anya Taylor-JoyThe Queen’s Gambit

Ada satu adegan di serial ini, yang sontak membuat saya langsung teriak, “Look at that control! Her body language!” Selalu senang melihat seorang aktor yang bisa in total control terhadap gerak tubuhnya, dan di miniseri ini, Anya Taylor-Joy melakukannya dengan sangat baik. Tanpa controlled facial expression and body language, karakter Beth tidak mungkin menjadi vibrant, dan miniseri ini mungkin tidak akan sesukses seperti saat ini. Pardon the pun, but it’s such a joy to see Anya Taylor-Joy!

Selain sepuluh individual performances, ada lima ensemble performances di film dan serial yang saya tonton tahun ini, yang sekiranya perlu juga diapresiasi. Lima ensemble performances ini saya pilih, karena setiap ceritanya memang menuntut “kerja sama” setiap aktor yang ada di film atau serial tersebut, dan hasil akhirnya memang membuat kita percaya bahwa kekuatan masing-masing film atau serial tersebut ada di penampilan keseluruhan aktor-aktornya.

Ensemble performances of the year (diurutkan berdasarkan abjad judul internasional):

1. Another Round (Druk)

Saya pikir, kehadiran seorang bintang sebesar Mads Mikkelsen di sini akan membuat film ini terfokus pada karakternya. Ternyata, empat karakter guru di film ini, yang semuanya struggling with alcoholism, dibuat sama kuat dan sama rata, sehingga film ini menjadi lebih believable and grounded, bahwa masalah kecanduan bisa menimpa siapa saja, dengan reaksi dan hasil yang berbeda-beda juga.

2. Boys State

Mungkin aneh melihat ada film dokumenter di kategori ini. Namun setelah melihat film dokumenter yang energik ini, mau tidak mau kita akan melihat, bahwa sutradara Amanda McBaine dan Jesse Moss cerdik dalam memilih subyek fokus cerita film. Pilihan para remaja yang dihadirkan di film dokumenter tentang pengenalan politik Amerika Serikat ini akhirnya menjadi sebuah ensemble yang membuat kita tersenyum.

3. Homecoming (Mudik)

Saya kira, film ini akan terfokus pada pasangan suami istri yang melakukan road trip. Ternyata plot cerita jauh lebih berkembang saat karakter-karakter lain masuk di saat sebuah tragedi menimpa kedua karakter ini. Pengembangan cerita yang jauh lebih berisi terjadi saat karakter-karakter tambahan datang. Akhirnya film ini menjadi tontonan yang bisa saya nikmati sampai akhir, thanks to believable performances across the board.

4. Minari

Cerita keluarga Korea yang bermigrasi ke Amerika Serikat ini bertumpu pada setiap performa aktor-aktornya. Steven Yeun memang memimpin sebagai kepala keluarga, namun tanpa kehadiran Han Ye-ri sebagai istrinya, dan penampilan memukau Youn Yuh-jung sebagai ibunya, dan dua ktor cilik sebagai anak-anaknya, maka ensemble ini tidak akan menyentuh hati dan perasaan kita. 

5. One Night in Miami

Film yang diangkat dari drama panggung ini memang kisah fiksi. Ceritanya berandai-andai, apa yang terjadi kalau politisi Malcom X, petinju Muhammad Ali, pemain football Jim Brown, dan penyanyi Sam Cooke bertemu di satu malam di tahun 1964. Menghidupkan kembali tokoh legendaris merupakan tantangan akting yang berat, namun berinteraksi dengan karakter legendaris lain in one engaging bantering after another, that’s another level of greatness. Salah satu screen ensemble that is close to perfection this year.

Selamat mencari, selamat menemukan kembali, dan selamat menonton!

Leave a Reply