Masa-Masa Masih Merasa

Ada masanya dulu, saat seorang teman bertanya, “Masih percaya dengan hubungan asmara yang bisa bertahan lama, dan masih ada sensasi menggelora dalam menjalaninya?”, maka saya akan menjawab dengan ringkas dan mantap, “Ya.”

Lalu saya akan menambahkan, bahwa jawaban tersebut saya dapat berdasarkan hasil observasi sekelebatan atas kehidupan teman-teman yang saya lihat. Ada yang masih bersama lebih dari satu setengah dekade sampai sekarang. Ada yang, waktu itu, hampir merayakan satu dekade hubungan mereka. Ada yang effortlessly menunjukkan perhatian kepada pasangannya dengan cara-cara yang tak membuat orang lain yang melihatnya risih. Yang tidak membuat saya, yang waktu itu dan sekarang pun masih melajang, feeling excluded.

Atas observasi itulah, maka saya berpikir, “Everybody else is doing it, so why can’t we?” Mirip dengan judul debut album The Cranberries.

Masa berlalu, usia bertambah, kedewasaan mendesak masuk, tak peduli dengan diri yang masih ingin bergelanyut pada kekanak-kanakan. Akhirnya saya pun sadar, observasi saya hanyalah sebatas tampilan luar semata. Saya tidak pernah bisa tahu isi hati teman-teman saya saat beradu mulut dengan pasangannya, meskipun mereka masih bisa bertahan lebih dari satu setengah dekade lamanya. Tentu saja karena di depan saya, di depan orang-orang lain yang tidak pulang ke rumah bersama mereka, hanya gelak canda dan tawa yang dibagi dalam pertemuan singkat. Meskipun pertemuan singkat itu diabadikan dalam jepretan foto yang diunggah ke dunia maya. But does everything last?

Saya juga tidak bisa melihat dan merasakan secara langsung, apa dan bagaimana perasaan teman saya saat mengakhiri hubungan dengan pasangannya, walaupun mereka hampir satu dekade hidup bersama. Nothing lasts.

Saya pun akhirnya mahfum, bahwa semua effortless acts yang dilakukan untuk menunjukkan kemesraan di depan publik, bisa jadi untuk mengkompensasi kurangnya keintiman mereka saat berdua saja. Mungkin karena sudah terlalu lama berdua. Passion dies, acceptance lasts.

Observasi yang disertai pemikiran panjang, tanpa menyebutnya menjadi over-thinking late-night pondering, akhirnya menghasilkan penerimaan diri. “Everybody else is doing it, but it may not be for me. So I’m good.” Jelas-jelas ini tidak bisa jadi judul debut album siapa pun, karena terlalu panjang. Biarlah ini menjadi prinsip diri yang hanya bisa dipahami dalam hati. 

Ada masanya dulu, saya selalu bertanya-tanya, apa yang terjadi kalau pertanyaan di pembuka tulisan ini ditanyakan ke saya beberapa tahun atau dekade kemudian. Tepatnya sekarang.

Ternyata perasaan saya menuntun untuk menjawabnya dengan jawaban yang sama, “Ya.” 

Toh percaya tidak berarti harus menjalani. Cukup menghormati. Cukup menghargai pilihan yang berbeda. Cukup berempati saat rencana hidup yang mereka pilih tidak sesuai rencana. Cukup mendengarkan. Dan cukup tersenyum.

That in the end, life’s still good.

(source: lovethispic.com)

Leave a Reply