Kenyamanan Batin di Tengah Ketidakadilan Sosial

SAYA pernah membaca twit yang mengatakan; “Jangan diam. Karena diam berarti membiarkan ketidakadilan!” Hal ini terkait masalah-masalah sosial kemasyarakatan, ekonomi, lingkungan, dan kemanusiaan. Saya yakin, saat membaca ini pun, langsung tersusun isu-isu yang terpikirkan.

Namun, dalam waktu yang berbeda, saya juga sempat membaca; “Diam bukan berarti tidak peduli. Semua orang punya caranya masing-masing” entah siapa yang mengatakannya–dan saya pun tidak bisa mengandalkan ingatan sendiri.

Terakhir, untuk melengkapi dua pendapat di atas, saya terpapar dan akhirnya menyimpan meme ini di galeri ponsel saya.

Diperlukan kepekaan sosial untuk melihat dan mengenali masalah serta ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Selain itu, juga diperlukan empati dan keberanian untuk bertindak; untuk mulai melakukan sesuatu demi kondisi yang lebih baik; untuk melawan dan memperjuangkan. Meskipun demikian, barangkali menjadi kutukan atau efek samping dari proses berpikir, kita terlampau mudah jatuh dalam bias, dan hanya perlu setitik saja bias untuk mengubah arah semuanya.

Kita peka, maka kita bisa melihat dan mengenali masalah serta ketidakadilan sosial. Apakah dengan melihat dan mengenalinya, sudah memberikan sudut pandang yang menyeluruh atas masalah serta ketidakadilan tersebut? Ataukah kita memerlukan durasi skeptisisme lebih panjang demi menghindari kekeliruan?

Are you fcuking crazy? It’s obvious!

How obvious? Apakah obvious bahwa “Ya, sedang ada masalah di sana,” atau obvious yang sampai menyentuh akar masalahnya, faktor-faktor pemberatnya, hingga sempalan argumentasi yang justru malah lebih nyaring dikemukakan ketimbang inti masalah itu sendiri.

Hal ini juga yang berlaku atas empati dan keberanian bertindak. Setelah melihat dan mengetahui adanya sesuatu, maka empati dan keberanian bisa menggerakkan untuk melakukan sesuatu lebih jauh. Kembali lagi, sudahkah kita benar-benar memahami apa yang terjadi? Sesuatu yang menjadi polemik sesungguhnya, yang telah disaring dan dipisahkan dari bias-bias menggempita yang mengiringinya? Bias-bias menggempita yang setelah teridentifikasi serta dikenali sebagai kebohongan baru, akhirnya sekadar ditanggapi “Kan tidak ada salahnya.”

Gundulmu!

Jikalau sudah begini, saya sangat cocok dengan respons ala orang nyebelin.

It’s obvious!
No! I can not see it. Show me…

Saya meyakini, manakala seseorang (yang memiliki kepekaan sosial, empati, dan keberanian tadi) bersungguh-sungguh menaruh perhatian kepada manusia–objek perjuangannya, ia pasti akan bersedia untuk menjelaskan sejelas-jelasnya, berupaya sekuat pemikiran untuk menjadikan sebanyak-banyaknya orang sebagai sekutu perjuangan. Ia pun didukung karena dipahami tanpa bias yang justru memunculkan ketidakadilan lainnya, bukan gaya-gayaan, ikut-ikutan, apalagi agenda terpendam.

Dengan demikian, orang-orang yang terlihat diam atas sesuatu bisa saja justru sedang berupaya memahami, dan itulah cara yang dia ambil. Begitu pula yang terjadi pada orang-orang berpandangan bijaksana, yang arah tindakannya mungkin masih terlihat samar bagi awam, dan langsung ditanggapi dengan asumsi dan pendapat sok tahu.

Jadi, kembali ke judul tulisan kali ini, sebenarnya patutkah seseorang boleh memiliki atau mengalami kenyamanan batin (baca: Batin yang tenteram) di tengah situasi yang diributkan sebagai ketidakadilan sosial?

Kenyamanan batin yang dimiliki bukan lantaran tidak acuh, tidak ambil pusing, atau apatis dengan keberisikan yang terjadi di luar sana, melainkan karena si empunya mengetahui dengan benderang yang sebenarnya terjadi, kendati yang diributkan di luar sana telah terdistorsi. Ia memiliki kenyamanan batin karena tidak ikut meneriakkan kekeliruan dan egoisme, ia memiliki kenyamanan batin karena tidak ikut-ikutan. Ia tidak menjadi seseorang yang normatif dan populis, atau memanfaatkan keramaian.

Patutkah seseorang boleh memiliki kenyamanan batin tersebut?

Ataukah, karena dia mengetahui sesuatu yang benar, ia bertanggung jawab sosial untuk menyadarkan sebanyak-banyaknya orang? Sehingga alih-alih berdiam dalam kenyamanan batin tersebut, ia justru baru bisa merasa tenteram saat pandangannya diiyakan dan disuarakan oleh banyak orang?

Tanggung jawab sosial sebagai seorang juru selamat publik, atau untuk sekelompok?

Patutkah seseorang bertenteram batin tanpa menjadi juru selamat publik, atau … sekelompok tadi?

Siapa yang kita dengar sekarang, dan apa yang sedang ia lakukan? Sudahkah kita benar-benar memahaminya?

[]

2 thoughts on “Kenyamanan Batin di Tengah Ketidakadilan Sosial

    1. Seperti itulah, kalau hanya melihat dari luar, tidak ada upaya mengkonfirmasi, akhirnya jadi asumsi. Siapa yg mengalami kesusahan? Si pemilik asumsi, karena sudah telanjur berpandangan negatif tanpa tahu lebih jauh.

      Terima kasih sudah membaca.

Leave a Reply