Kalau Kesal, Keluar!

Minggu lalu, saya absen menulis di sini, karena sedang marah. Marah terhadap rancangan Undang-Undang Cipta Kerja yang semakin menginjak hak-hak kaum pekerja secara luas. Berhubung saya tidak bisa menumpahkan dalam bentuk kata-kata, akhirnya saya memutuskan untuk absen sejenak dari ini.

Awal minggu ini, tanpa diduga-duga, saya tersulut kembali dengan api kemarahan. Penyebabnya datang dari sebuah situs. Situs ini adalah tempat saya akan melakukan aktifitas pekerjaan minggu ini, menghadiri serangkaian event, konferensi, dan trade market virtual. Setelah saya selesai melakukan pendaftaran dan melunasi pembayaran, saya tidak bisa login. Memang ini baru pertama kali mereka, panitia penyelenggaranya, melakukan acara tahunan mereka secara virtual, setelah selama satu dekade lebih selalu offline. Bagian ini saya bisa maklumi. Namun saya tidak habis pikir, mereka tidak menyiapkan frequently asked questions (FAQ) di situs mereka, demikian pula dengan system support kalau ada trouble, selain alamat email semata. Saya pun harus menduga-duga kenapa saya tidak bisa login. Setelah kelimpungan mencari bala bantuan, saya dan beberapa teman sampai harus menebak-nebak kemungkinan apa saja yang menyebabkan saya tidak bisa login. Salah satunya adalah, sistem login gateway situs ini tidak bisa mengirim one-time password (OTP) ke nomer di luar negara mereka. Saya sempat skeptis. Namun setelah 1×24 jam ping-pong email tidak berhasil mencari jalan keluar, sampai petugas mengirim email ke saya bilang, “I cannot help you anymore“, saya nekat meminta mereka mengubah data nomer telpon saya ke nomer luar negeri yang kebetulan masih aktif. Terpaksa saya pakai nomer luar negeri ini dengan roaming service ke gawai lain. Saya coba login. Ding! Berhasil. Rupanya dugaan saya dan teman-teman benar, bahwa OTP gateway mereka hanya bisa mengenali nomer telpon dari negara-negara tertentu di satu benua. Itu pun setelah kami duga. Bukan kami baca dari situs tersebut.

Saking kesalnya, akhirnya saya sampai bilang ke tim kerja, kalau saya akan merespon pendek-pendek saja urusan kerjaan utama hari itu.

(source: Times of India)

Di dua situasi di atas yang serupa tapi tak sama, saya memutuskan untuk turun dari tempat tinggal, berjalan kaki mengitari lingkungan kompleks, sambil mendengarkan lagu. Memang ini kegiatan rutin saya sehari-hari, tapi saya menaruh energi lebih besar untuk menikmati proses berjalan kaki dan menggoyangkan kepala mengikuti irama lagu yang mengiringi.

Artinya, saya keluar sejenak dari titik permasalahan.

Saat pikiran kita “butek” karena terlalu intense berkecimpung atau terjebak dalam suatu keadaan yang pelik, kerap kali yang kita perlukan adalah keluar sejenak dari permasalahan. Tentu saja saat kita keluar, masalah tidak akan terselesaikan begitu saja. We just need a break. Rehat sejenak untuk mengikis keruhnya pikiran kita, sambil berharap setelah rehat selesai, kita punya pemikiran baru yang lebih segar.

Saat budgeting time untuk hampir semua proyek pekerjaan yang pernah saya kerjakan, bisa dipastikan ada saat-saat di mana saya akan bilang, “I have enough of this!” Biasanya terjadi setelah melihat deretan angka di Excel selama lebih dari 5 jam. Lalu saya akan keluar dari tempat kerja, pergi sendirian ke tempat lain yang tidak akan saya share ke rekan-rekan kerja lain. Kalau saya masih punya energi, saya akan kembali ke tempat kerja di hari yang sama. Kalau terlalu letih, saya bilang kalau saya ingin pulang, dan melanjutkan budgeting keesokan harinya.

Tentu saja keterbatasan ruang gerak kita saat pandemi ini menuntut kita menjadi ekstra kreatif untuk release the tension. Tidak ada patokan yang “saklek” tentang aktivitas yang harus dilakukan untuk menumpahkan kekesalan dan keluar sejenak dari permasalahan. Ingin lari, silakan. Ingin berjalan kaki, silakan. Ingin tidur sejenak atau power nap, bisa. Ingin mengistirahatkan mata dari layar ponsel atau perangkat elektronik, bisa. Ingin olahraga, by all means

(source: Trending Us)

Tidak ada batasan waktu pula untuk mengerjakannya, selama kita sadar akan pilihan waktu yang kita ambil. Toh yang bisa mengukur rasa kekesalan kita, ya diri kita sendiri.

Saya sadar, setelah lewat 24 jam dengan tidur di malam hari yang cukup, biasanya kekesalan saya sedikit turun. Semakin turun sampai biasanya hilang dalam hitungan 2-3 hari. Tentu saja ukuran waktu ini pasti berbeda di setiap orang.

Namun yang pasti sama adalah, kalau sedang kesal, let it out by let yourself out of it for a while.

You’ll feel better afterwards.

Leave a Reply