Cukup, Bukan Cuma

Salah satu hal yang paling tidak suka saya lakukan adalah menyetrika. Melipat pakaian dan merapikannya di lemari, saya tidak keberatan. Tapi kalau harus menyetrika, ampun!

Pernah pada masanya, waktu baru lulus kuliah dan awal-awal kerja, saya harus meluangkan waktu khusus hanya untuk menyetrika pakaian hasil cucian seminggu sekali. Biasanya saya pilih Rabu malam. Supaya gantian dengan teman serumah yang memilih waktu menyetrika hari Minggu sore. Maklum, waktu itu kami dan beberapa teman lain mengontrak rumah yang mempunyai satu papan setrika.

Sambil menonton televisi, saya menyetrika pakaian yang menumpuk. Biasanya sih, untuk menyelesaikan satu tumpuk pakaian di keranjang, bisa menghabiskan tontonan satu episode drama seri. Atau waktu itu sambil menonton “American Idol”. 

Setelah kami semua berpisah menjalani hidup sendiri-sendiri, rejeki masing-masing pun mulai membaik. Maksudnya punya mesin pengering otomatis yang bisa sekaligus merapikan pakaian? Tentu tidak. (Eh, emang ada mesin seperti ini?)

Saya memilih untuk menggunakan jasa laundry kiloan untuk pakaian kotor. Lumayan, dengan rasio kerusakan sejauh ini satu pakaian dibanding ratusan kali order selama beberapa tahun terakhir, nasib pakaian saya masih terjamin rapi.

Meskipun begitu, tentu saja hubungan saya dengan setrika tidak bisa lepas begitu saja. Ada beberapa jenis pakaian yang memang saya pilih untuk saya cuci sendiri, dan konsekuensinya, saya harus menyetrika sendiri pula. Salah satunya adalah masker kain. 

Sejak masa pandemi ini, saya memang memilih menggunakan masker kain dua dan tiga lapis yang bisa dipakai ulang. Setelah ganti rotasi pun, saya tetap memilih menggunakan masker kain seperti ini.

Saya pakai masker kain ini minimal sehari sekali saat melakukan jalan-jalan sore, literally, atau morning walk. Setelah pulang ke rumah, saya copot masker untuk dicuci, lalu dikeringkan, dan keesokan harinya berganti lagi dengan masker yang lain, dan begitu seterusnya. Tentu saja masker yang sudah kering akan ditumpuk bersama masker-masker lain yang sudah kering, tapi masih terlihat peyot belum disetrika. Biasanya saya baru sadar ketika membuka lemari pakaian dan mencari masker bersih sambil heran, “Lho, kok nggak ada?”, sampai akhirnya sadar melihat tumpukan masker yang belum disetrika. Oh, tidak!

Mau tidak mau, akhirnya harus menyetrika belasan masker tersebut. Proses menyetrika sambil menonton Netflix ini tentu saja tidak terasa berat saat dijalani. Namun saat mau memulai, ada saja alasan untuk malas mengerjakannya. Alasan yang tentu saja dicari-cari, sampai akhirnya malah melakukan aktivitas lain. 

Sambil menyetrika masker-masker ini, selalu datang godaan untuk membeli masker baru. Apalagi dengan motif atau warna yang belum saya punya. Tetapi godaan tersebut biasanya cepat pergi, sejalan dengan kedatangannya yang juga cepat. Kepergian godaan itu biasanya dimulai dengan pemikiran, “Kalau beli masker baru, pasti malah makin males nyetrika, karena masker yang bersih masih banyak. Kalau udah habis masker yang bersih, malah makin banyak yang harus disetrika! Mending nggak usah beli baru!”

Jadi sambil menyetrika, saya juga berpikir, bahwa dengan kemampuan menyetrika dan tingkat kesabaran saya, mungkin saja buat saya punya masker belasan sudah cukup. Bukan cuma punya masker belasan pieces, tapi cukup punya masker belasan pieces. Tidak perlu lebih, karena kalau punya lebih, malah repot buat saya untuk mengurusnya.

Di saat-saat sekarang ini, kita dituntut untuk semakin jeli dalam memiliki barang. Gone are the days of luxurious spending without having the need. Saat ini kita benar-benar berpikir panjang dalam melakukan pembelian.

Most of the time, sebenarnya kita sudah merasa cukup tanpa kita sadari. The best things that we have are what we already have

Dan tentu saja, buat saya pribadi, kalau belum rusak atau hilang, berarti belum perlu beli yang baru 🙂

Selamat menyetrika!

2 thoughts on “Cukup, Bukan Cuma

  1. paling syusah nyetrika celana bahan, seragam kerja.
    udah pelan-pelan, hati-hati, khusyuk, eh garisnya jadi dua. nyerah dah gw.

    herannya kalau istri yang nyetrika, rapi jali 🙂

Leave a Reply