Potong Rambut

Hari ini saya baru sadar kalau ternyata potong rambut termasuk dalam daftar aktivitas yang membuat hati senang. Paling tidak buat saya pribadi.

Selama masa pandemi ini, saya baru dua kali berkunjung ke tukang potong rambut. Berarti ada jarak setiap 2-3 bulan sekali. Ini terhitung lama, karena dalam situasi normal, saya harus potong rambut sebulan sekali. Paling lama, sebulan lebih seminggu. 

Dan berhubung tukang potong rambut langganan saya lokasinya cukup jauh di rumah, terpaksa saya pergi ke tempat potong rambut yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Hasilnya, lumayan. Meski tidak senyaman dipegang tukang potong rambut langganan (aduh, berima lho!), tapi apa kita bisa punya pilihan di saat seperti ini?

Lagi pula, saat saya pergi ke warteg sepulang dari potong rambut, ibu penjualnya sempat bilang, “Mau beli apa, mas ganteng? “

Biarpun pujiannya terkesan basa-basi, tapi dalam waktu sepersekian detik saja, sontak rasa percaya diri mendadak melambung tinggi. Itulah the magic of a new haircut. Dalam waktu beberapa menit sampai sejam, mungkin lebih kalau pakai perawatan ekstra, kita berubah menjadi diri kita yang lebih baru, lebih fresh

Saat tukang potong rambut mengangkat kaca, memperlihatkan bagian belakang kepala kita, sambil bertanya, “Gimana? Sudah pas? Mau dipendekin lagi?”, kita mau tidak mau mematut diri. Kalau sudah pas, kita pasti tersenyum secara spontan. Kalau belum pas pun, kita tinggal bilang bagian mana yang perlu dirapikan lagi. Setelah semua selesai, kita keluar dari tempat potong rambut dengan langkah yang lebih mantap dan tegap, sehingga mau tidak mau, penampilan kita pun otomatis terlihat lebih menarik.

Salah satu penulis favorit saya, almarhumah Nora Ephron, pernah berkata, “So, twice a week, I go to a beauty salon and have my hair blown dry. It’s cheaper by far than psychoanalysis, and much more uplifting.” Kutipan ini saya ingat saat tadi saya melihat helai demi helai rambut dipangkas dan jatuh di pangkuan saya. 

Meskipun proses potong rambut dan after effect-nya kadang menyebalkan, mulai dari antri panjang kalau salon lagi penuh, sampai sisa-sisa rambut yang menempel di bantal saat tidur di hari pertama seusai potong rambut, toh mau tidak mau kita mengakui kutipan ini ada benarnya juga. Bahwa menaikkan mood menjadi lebih positif, bisa dilakukan dengan potong rambut. Makanya ada semacam ungkapan yang bilang, kalau potong rambut itu “buang sial”, meskipun saya masih belum teryakinkan akan kesahihan istilah ini.

Yang saya percaya adalah, we are all a more confident person exiting a salon or barbershop. Apalagi kalau pake creambath, which is inexplicably magical.

Semoga kita semua bisa menikmati sensasi potong rambut ini dengan normal lagi sesegera mungkin, ya.

Leave a Reply