Keindahan Realitas

Salah satu kebanggaan Pray Tell dalam serial Pose (yang tayang di netflix) adalah keputusan Madonna mengangkat kultur komunitas mereka dalam lagu Vogue.

Tapi tahukah anda bahwa Madonna juga seorang pendongeng dan senang menulis cerita anak?

Riris K Toha Sarumpaet menukilnya dalam jurnal budaya dengan judul artikel: “Sastra dan Pembentukan Karakter: Antara Perkara “Yang Mulia” dan Tak-Cerita” (Yayasan Pustaka Obor Indonesia -2018).

Madonna tidak memperkenalkan hal yang mulia dan penuh pesan moral secara gamblang, melainkan menunjukkan sisi keindahan realitas duniawi yang subliminal. Juga penuh metafora.

Yakov dan Tujuh Pencuri, judulnya. Mungkin ini semacam sindiran Madonna pada Disney dengan Putri dan Tujuh Kurcaci. Bisa jadi.

Diceritakannya, Yakov si tukang sepatu memiliki anak laki-laki bernama Mikhail yang sakit keras tak tersembuhkan. Bersama istrinya, Yakov merawat Mikhail dan berduka atas sakitnya yang tidak kunjung sembuh. Istrinya, Olga, meminta Yakov pergi kepada orang tua di ujung jalan yang “katanya .. bisa berbicara kepada malaikat dan melakukan mukjizat.”

Perbincangan antara Yakov dan orang tua di ujung jalan sungguh mengharukan. Orang tua itu membantu namun tidak langsung berhasil. Rupanya ia harus berbicara lebih banyak dengan Malaikat. Ketika Yakov menawarkannya sejumlah uang, Orang tua menolak dan hanya meminta dibuatkan sepasang sepatu untuk cucunya, Pavel.

Esoknya Yakov kembali mendatangi orang tua, namun dengan cemas ia mengabarkan bahwa Mikail belum kunjung pulih. Orang tua itu bersedih, karena usahanya tidak berhasil. Duka Yakov terasa di dalam sanubari Orang tua. “Aku merasakan kepedihannya. Mana mungkin aku menyerah?”, sehingga ia mencoba lagi.

Lelaki tua di ujung jalan belum berhasil membuka pintu surga. Disuruhnya Pavel, cucunya, untuk mengumpulkan pencuri, penjahat pencopet dan kriminal yang ada, dan membawa ke rumahnya. Walau heran atas permintaan kakeknya, Pavel melaksanakan tugas itu. Ia mencari seluruh “orang jahat” di pusat kota dan membujuk mereka untuk hadir ke rumahnya, sesuai permintaan kakeknya. Pavel berhasil. Setelah memperkenalkan diri panjang lebar, Kakek tua meminta seluruh penjahat yang hadir untuk bersamanya berdoa untuk keselamatan Mikhail.

Benar, esoknya Yakov datang mengabarkan bahwa Mikhail telah sembuh total. Yakov memberikan sepasang sepatu warna hijau kepada Kakek tersebut untuk diberikan kepada Pavel.

Pavel keheranan mengapa Kakeknya, yang dikenal “jujur, tulus, dan baik”- justru mengajak para maling untuk berdoa, dan bagaimana dia membuka Gerbang Surga.

Kakenya menjawab:

“Ketika malam pertama aku berdoa untuk Mikail, putra Yakov, aku mencapai Gerbang Surga, tapi gerbangnya terkunci, dan tidak ada yang bisa kulakukan. Hati Yakov hancur berkeping-keping, dan aku merasakan kepedihannya. Mana mungkin aku menyerah?

Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benakku, dan aku memintamu mengumpulkan semua bajingan dan pencuri di kota dan membawa ke rumah kita untuk berdoa bersamaku.

Ketika aku berdoa untuk yang kedua kalinya, ada segerombolan pencuri yang membantuku. Pencuri yang baik tahu bagaimana caranya masuk, Pavel yang baik. Tapi kali ini, mereka melakukannya lewat doa, dan doa mereka memberiku kunci untuk  membuka gerbang itu.” (Madonna 2016:136-137).

Lalu Kakek kembali mengatakan:

Tahukah kamu, para pencuri dan bajingan itu mewakili segala sesuatu di dalam diri kita yang buruk, atau salah, atau egois – bagian-bagian yang harus kita ubah agar bisa bahagia. Jika kita ingin mukjizat terjadi, kita harus menyadari dan mengakui karakter buruk kita. Dan kalau kita berpaling dari perilaku kita yang nakal dan melakukan perbuatan baik, seperti yang dilakukan para pencuri dengan doa mereka, kita memutar kunci dan membuka Gerbang Surga. Kemudian kita dan menerima barokah dan keberuntungan.” (Madonna, 2016: 137).

Madonna menulis kisah ini sebagai cerita anak-anak. Madonna, ibu dari enam anak. Menceritakan kehidupan yang melukiskan suka-duka kehidupan penuh cinta kasih manusia. dan perjuangan untuk memilikinya. Dengan tulus dan lembut, kisah ini menggambarkan antarhubungan manusia, pergumulannya serta berbagai pertanyaan yang lahir dari berbagai tokoh. “Bagaimana mungkin bisa bergaul dengan maling?”. Sebuah naluri dan kepakaan seorang anak yang dekat dengan kehidupan pembacanya.

Mereka sangat terpesona oleh lelaki tua misterius yang bisa berbicara pada malaikat. Apakah dia penyihir? Apakah dia bisa menciptakan mukjizat? Apakah dia memiliki kekuatan magis? Tak ada yang tahu pasti.

Bagaimanapun, itu bukan masalah, karena (meskipun mereka tidak pintar) mereka tahu orang tua itu tulus.

Kemudian sesuatu yang sangat aneh terjadi: mereka memejamkan mata, menundukkan kepala, dan berdoa.

Sebagai pembaca, dengan menyimak kisah Madonna ini, mendapati sesuatu, yaitu sesuatu yang tidak (dengan sengaja) dicarinya seperti mencari makna, ajaran, karakter, kemuliaan, atau kebenaran lainnya. Pembaca mendapat sesuatu yang mungkin, yang hidup, yang mengesankan, atau mengharukan bahkan menggelikan. Pembaca diajak berimajinasi bahkan berfantasi.

Madonna menyuguhkan kenyataan bahwa bagaimana penjahat dan bajingan sekalipun perlu diperhatikan dan memiliki harapan untuk “menerima barokah dan keberuntungan”. Tokoh-tokon yang lahir dari kehidupan nyata, sebagai identifikasi dari kita semua, para pembaca. Kita bisa bahagia, lalu menderita, lewat perjuangan tiada henti dapat kembali bahagia, dengan kebaikan orang lain, menerima kebaikan orang (yang dianggap jahat), mendapatkan perubahan hidup dan kembali baik-baik saja.

Realitas hidup diceritakan secara apik oleh Madonna, sama halnya kisah serial “Pose” yang narasi utamanya dikisahkan oleh tokoh Pray Tell, sebagai bagian kehidupan sebuah komunitas era 80-an di Amerika yang juga mereka merupakan manusia juga. Silakan Anda tonton sendiri serialnya.

Realitas adalah sekumpulan apapun yang ada di depan mata kita, kita alami dan kita bergumul di dalamnya. Kisah yang menggambarkan realitas, dengan cara tertentu, bisa mengandung hikmah.

Rasulullah SAW bersabda; “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi).

Maka, jika anda menemukannya justru di tempat dimana anda sendiri tidak pernah menduganya, tetap saja ia adalah hikmah. Karena realitas itu kita. Menjadi makin indah karena kita ada di dalamnya. Berjibaku dan memperjuangkannya.

Pernah, tak selalu indah. Nanti, belum tentu pasti. Tapi yang pernah dialami, adalah sebuah pasti. Jika kita bisa mengambil hikmahnya, maka yang nanti pasti akan menjadi indah.

Salam anget,

Roy

Leave a Reply