Cimol

Jika anda bertanya siapa Cimol, maka anda perlu mengikuti akun instagram saya. Usianya baru menginjak empat tahun. Tapi dalam dirinya, ia berpikir usianya sudah 14 tahun. Berlama-lama mematut diri di depan kaca, mengaku bahwa sepupunya adalah pacarnya, dan sadar diri bahwa pipinya terlalu tembam bahkan untuk ukuran sebuah balon.

Saya sempat berdebat kecil dengan guru TK-nya. Mereka memaksa Cimol sekolah gunakan zoom. Saya tidak mau. Cimol saya rapid tes, saya buatkan surat pernyataan tidak akan menuntut jika ia terpapar Covid19, dan hasilnya: setiap hari ia sekolah secara fisik.

Bagi saya, pengalaman pertama itu tidak akan terlupakan dan terpatri. Oleh karena itu saya teguh pendirian, sudah bayar sekolah mahal, maka ia berhak untuk menikmati fasilitas sekolah, termasuk ayunan, serodotan, aula, dan berbagai alat musik, yang ia mainkan sendiri. Teman-teman lainnya lebih memilih belajar bersama layar digital.

Sejak seminggu lalu ia mulai belajar mengaji. Abatatsa. Ini sebuah langkah besar bukan saja buat dirinya, namun buat saya. Kenapa, karena awalnya saya tak akan pernah menjerumuskan dia dalam sebuah keyakinan apapun. Saya tidak mau ia merasa keyakinannya adalah utang budi dirinya kepada kedua orangtua. Hanya saja saya sedikit atau bahkan masih kolot. Bahwa tradisi harus tetap lestari. Saya ajari ia mengaji. Huruf hijaiyah diperkenalkan dengan perlahan. Setidaknya saya tidak sedang bicara sebuah kebenaran hakiki, hanya sekadar memberikan sajian aksara arab dan dibunyikan dengan akal sehat dan pikiran lurus. Meinkmati suara dan suasana yang tercipta.

Bagi saya hal yang lebih utama diberikan kepada buah hati bukanlah multivitamin terbaik mana yang harus ia tenggak setiap pagi. Saya hanya ingin memberikan ia nasi. Besok menunya mungkin ikan goreng, atau ayam bakar, atau tahu tempe. Saya berikan saja semua menu makanan yang ada di dunia. Soal kemana ia akan menetapkan hati, bahwa masakan tertentu adalah favoritnya, itu soal selera. Saya tidak punya hak untuk mengebiri apapun yang tumbuh di dalam dirinya.

Bahkan jikapun Cimol kelak berpacaran, saya akan bebaskan ia melakukan apa saja. Bahkan jika nantinya ia berencana menjadi seorang lesbian. Atau menjadi guru ngaji. Atau jadi seorang ukhti. Atau sebatang kara hingga akhir hayatnya. Hidupnya adalah hidupnya. Saya mencintainya tanpa harus mengambil hak-haknya.

Saya bisa marah padanya. Biasanya saya lakukan jika ia tak habiskan makanan yang ia pilih sendiri. Atau tidak memberekan mainan yang telah selesai ia gunakan. Atau menyetel tayangan youtube dengan suara yang terlalu nyaring. Atau bersikap tidak sopan kepada pengasuhnya.

Saya tidak begitu kuatir ia akan menjadi siapa, apa atau bagaimana, tapi saya lebih kuatir jika ia menjadi manusia yang karakternya tak lebih dari seorang anak manja penghisap harta keluarga, merajuk ini-itu, minta ngana-ngini, bersikap cengeng, culas, sombong, dengki, dan bermuka dua.

Maka yang perlu saya siapkan adalah saya sendiri yang harus bersikap sebagai seorang bapak yang baik. Bagaimana ukurannya? Saya sendiri tidak tahu. Toh saya bukan bapak yang baik, lelaki yang ok, atau seorang anak manusia yang mencintai tuhannya. Saya hanya demikian adanya.

Tak ada hal yang pasti dalam mendidik anak. Karena saya sedang tidak ingin mendidik anak-anak saya. Saya hanya ingin membesarkannya. Biarlah ia dididik dengan caranya sendiri. Melihat, mendengar, membaca segala yang ada dalam hidupnya setiap hari. Dia bisa belajar bagaimana bisa seekor nyamuk hingga di kulitnya, mengapa corona begitu menakutkan, kenapa ada pengemis di pinggir jalan, lalu kenapa ada rumah mewah dan ada rumah petak, dan kenapa manusia bisa begitu mencintai hingga tak sadarkan diri. Atau melihat bapaknya yang begini-begini saja dalam hidupnya.

Bukankah hidup yang asik harus dibagikan dengan cara yang asik juga. Saya tak ingin menciptakan boneka atau replika saya. Biarkan saja ia menjadi siapapun. Menjadi bangsat, menjadi pemuka agama, menjadi sebuah bencana peradaban, atau menjadi sebuah lompatan besar umat manusia, atau sekadar perempuan biasa yang pagi-pagi berangkat kerja dan kembali saat senja. Menjadi ibu rumah tangga. Menjadi ibu kos. Menjadi guru TK. Atau menjadi dirinya sendiri yang tak pernah saya bayangkan hingga kini.

Bahkan jika saja saat ia dewasa ia membenci saya, tak mengapa. Saya akan tetap mencintainya.

Leave a Reply