Berhentilah Merasa Menjadi yang Lebih Baik

DALAM cerita Harry Potter, semuanya berperang melawan Voldemort bersama gerombolan Pelahap Maut (Death Eaters).

Sebagai pihak yang jahat, mereka gemar memburu dan menyiksa para warga Darah Lumpur (Mudbloods) karena dianggap sebagai penghinaan atas kemuliaan dunia sihir yang semestinya hanya menjadi milik para warga Darah Murni (Purebloods). Begitu pula terhadap orang-orang biasa (Muggles) untuk alasan yang kurang lebih sama.

Dalam cerita yang berbeda, dan sayangnya bukan fiksi, jutaan orang Yahudi Eropa dan beberapa kelompok lainnya (ras, etnik, orientasi seksual, ideologi, hingga kondisi fisik tertentu) dibunuhi oleh Nazi. Alasannya, mereka dianggap sebagai ras inferior; “hama” bagi ras Arya dan kemuliaan peradabannya secara tertutup.

Cerita yang lain dari benua berbeda. Hingga tahun 1990, ketentuan Apartheid berlaku di Afrika Selatan. Warga kulit putih dan kulit hitam dipisahkan secara konstitusional dalam segala aspek kehidupan. Mulai dari urusan pintu yang boleh dimasuki dan kursi yang boleh diduduki, sampai keterwakilan secara politik dalam instrumen-instrumen negara.

Terlepas dari detail latar belakang sejarahnya, Apartheid menempatkan warga kulit hitam di posisi rendah … tak ubahnya seperti perlakuan diskriminatif yang terjadi di Amerika Serikat dan menyebar ke seluruh dunia dalam seruan #BlackLivesMatter.

Politik Apartheid memang tidak terang-terangan berlaku secara menyeluruh di Amerika Serikat, terutama setelah sebagian besar negara bagian menghapuskan praktik segregasi atau pemisahan perlakuan antara warga kulit putih dan kulit hitam setidaknya pada tahun 1964. Namun sayangnya, sentimen rasial negatif masih tersisa, lestari sejak era perbudakan.

Dari dunia sihir Harry Potter, Jerman, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat, kita kembali ke Indonesia. Sebab tak perlu jauh-jauh mencari cerita senada, di sekitar kita pun ada. Baik antara sesama orang Indonesia; sesama perempuan; sesama anggota masyarakat; sesama manusia.

  • Sama-sama orang Indonesia, tetapi “lebih baik pribumi daripada nonpribumi” (meskipun secara genetik tak ada yang namanya pribumi Indonesia).
  • Sama-sama perempuan, tetapi “lebih baik sudah menikah dan menjadi istri daripada melajang dahulu”; “lebih baik menikah muda daripada menjadi perawan tua”; “lebih baik jadi ibu rumah tangga daripada ibu pekerja atau wanita karier”; “lebih baik hamil dan melahirkan daripada memutuskan tidak ingin punya anak”; “lebih baik melahirkan secara normal daripada operasi”; “lebih baik memberikan air susu ibu daripada susu formula”; “lebih baik minum pil KB, spiral, atau bahkan tubektomi daripada mengurangi kenikmatan suami dengan pakai kondom”; “lebih baik bersabar menghadapi suami meskipun berengsek daripada bercerai dan menjadi janda”; dan berbagai klausul “lebih baik … daripada …” lainnya.
  • Sama-sama anggota masyarakat, tetapi “lebih baik mualaf daripada sembahyangnya pakai hio di depan patung”; “lebih baik bangun banyak masjid daripada satu gereja”; “lebih baik menjadi orang percaya dan dibaptis daripada meneruskan tradisi keluarga yang penuh kuasa gelap”; “lebih baik Aswaja daripada Syiah”; “lebih baik digabungkan dalam Hindu dibanding agama Kaharingan berdiri sendiri”.
  • Sama-sama manusia, tetapi “lebih baik kurus daripada gendut”; “lebih baik berkulit putih daripada gelap”; “lebih baik cakep daripada jelek”; “lebih baik kaya raya berlimpah ruah daripada cukupan”; “lebih baik heteroseksual (walaupun bukan cis-hetero) daripada homoseksual”; “lebih baik cisgender daripada transgender”; “lebih baik NKRI daripada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”; “lebih baik agamis daripada sekuler” atau pun sebaliknya; “lebih baik beragama formal daripada menjadi penghayat kepercayaan”; “lebih baik tas gue daripada tas elo”.

Apa yang sama dari semua situasi di atas?

Perbedaan … dan perbedaanlah yang selalu dijadikan kambing hitam utama untuk segala masalah sosial, termasuk yang terjadi di sekeliling kita.

Padahal, akar masalah yang sebenarnya bukan semata-mata terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan kesan yang timbul.

Perbedaan tidak menimbulkan pertikaian, sampai salah satu pihak merasa lebih baik dibanding yang lain atas perbedaan tersebut.

Tidak perlu ada peperangan di cerita Harry Potter jika Voldemort tidak menganggap Purebloods lebih mulia dibanding Mudbloods maupun Muggles. Tidak ada Holocaust jika Hitler tak menganggap bangsa Yahudi dan kelompok-kelompok lainnya lebih rendah. Begitu pun seterusnya sampai urusan tingkat RT dan RW di Indonesia yang sudah diilustrasikan di atas.

Lalu, apakah seseorang tidak boleh merasa dirinya lebih baik sama sekali?

Tentu saja boleh, tidak bisa dilarang, dan terjadi secara alamiah selama tidak langsung diumbar vulgar dalam bentuk tindakan yang ditujukan kepada orang lain. Pasalnya, kita masih kerap terjebak anggapan kita sendiri; saat kita merasa lebih baik dari orang lain, orang lain tersebut pun kita anggap lebih buruk dari kita. Ilusi ego yang sejatinya hanyalah hipotesis enggak penting.

Perasaan “merasa lebih baik dibanding orang lain” sebaiknya diperlakukan sebagai cerminan internal, ditelaah dan direnungkan. Apakah aku memang lebih dari orang lain, atau justru diperdaya oleh diri sendiri?

Ketika berdialog dan memeriksa diri sendiri saja belum bisa, jadi, apa yang membuat kita benar-benar lebih baik daripada orang lain?

[]

Leave a Reply