Kalau Saja Waktu Itu …

Kemarin saya baru menamatkan membaca novel “How to Stop Time” karya Matt Haig. Novelnya berkisah tentang Tom, seorang pria berumur lebih dari 400 tahun yang stuck dengan fisik dan wajah bak pria berumur 40 tahun. Dia bukan vampir, meskipun tidak pernah mati. Namun dia adalah seseorang yang tak pernah menua, atau baru bisa menua setelah ratusan tahun, yang mempunyai kelainan genetika, yang juga dipunyai segelintir orang di bumi ini.

Bagian menarik novel ini terletak pada deskripsi Tom menjalani hidup dan bertahan hidup selama lebih dari 4 abad. Tom mengakui, dia tidak bisa mati walaupun menjalani hidup di tengah berbagai wabah. Profesi yang dia jalani harus berganti-ganti, dia harus ganti nama dan lokasi tempat tinggal selama beberapa tahun sekali. Survival instinct karakter ini membuat saya tertarik meneruskan novel ini sampai selesai, meskipun beberapa hal membuat saya mengernyitkan kening, karena novel ini terkadang terlalu jauh berfantasi.

Menjelang akhir novel, ada satu kutipan yang sempat membuat saya tertegun. Kutipan itu dituliskan seperti ini:

“But the thing is: you cannot know the future. You look at the news and it looks terrifying. But you can never be sure. That is the whole thing with the future. You don’t know. At some point you have to accept that you don’t know. You have to stop flicking ahead and just concentrate on the page you are on.”

Bukan hal yang baru kalau kita tidak mengetahui apa yang akan kita alami di masa depan. Bahkan peramal atau ahli nujum pun, hanya bisa mengira-ngira berdasarkan kemampuan mereka. Namun kutipan ini membuat saya berpikir berlawanan arah. Saya malah berpikir, what if the current reality is different?

 

how-to-stop-time-2
(source: npr.org)

 

Tentu saja dalam hal ini konteksnya adalah pandemi yang masih terjadi saat ini. Setelah membaca kutipan tersebut, sambil jogging mengkonsumsi sinar matahari, saya bertanya-tanya sendiri, apa yang terjadi kalau tidak ada pandemi?

Lalu saya mengkhayal. Mungkin saya masih bisa menjalani kegiatan pekerjaan saya sesuai rencana yang sudah dibuat dari tahun lalu. Mungkin setelah itu ada work trip yang harus ditempuh. Mungkin masih bisa mudik Lebaran. Mungkin saya masih bisa potong rambut secara reguler setiap tiga minggu sekali, dan mungkin saya masih olahraga dengan bebas sesuai jadwal di luar rumah.

That’s nice, pikir saya. Lalu saya pikir lagi, Okay, after all those things happen, what’s next? Kali ini saya dibuat terdiam. Saya mengubah jogging pace menjadi lebih pelan, karena saya tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan barusan. What is next after all those things?

Yang ada malah saya berpikir lagi. Mungkin saya masih bisa menjalani kegiatan pekerjaan saya sesuai rencana yang sudah dibuat dari tahun lalu, dengan resiko persiapan akan hectic, membuat saya sering sakit kepala. Mungkin setelah itu ada work trip yang harus ditempuh, di mana selama hampir dua minggu saya bisa kurang tidur karena padatnya pekerjaan. Mungkin masih bisa mudik Lebaran, tapi apa daya, semua tempat makan tutup karena penjualnya juga mudik. Mungkin saya masih bisa potong rambut secara reguler, tapi toh ternyata setelah tiga bulan belum potong rambut, saya tidak keberatan.

Dan ternyata tiga kata sebelum kalimat ini yang membuat saya sadar. We do not mind the present time we are in, because we are living it. Saya mulai berpikir, bahwa nyatanya, kita tidak punya pilihan lain selain menjalani masa sekarang, saat kita berada saat ini. Saya mulai menerima, bahwa saya tidak bisa membayangkan kalau tidak membersihkan barang bawaan dengan disinfektan saat masuk ke rumah, karena realita yang dijalani selama 3 bulan terakhir ini membuat kita harus melakukan hal itu. Saya juga tidak bisa membayangkan harus menemui orang-orang lain lewat kamera di komputer atau ponsel, baik ke keluarga, rekan kerja atau teman-teman. Toh sekarang sudah mulai terbiasa.

What is next after the “what-if” scenarios we imagine? Ternyata kita tidak bisa menemukan jawabannya. Kemungkinan besar kita akan kembali ke realita sekarang yang kita jalani.

Akhirnya, we live in the moment. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi minggu depan atau besok. Kita menjalani hidup one day at a time.

And that’s the day worth living for.

Advertisements

Leave a Reply