Pemberian yang Pantas

Saya selalu terngiang ucapan ibu saya; “Kalo mo ngasih orang, mbok yang pantes gitu, lho…” setiap kali saya ingin memberikan, atau bahkan baru berpikiran untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Entah itu berupa pakaian, hadiah, buku, terlebih makanan atau paket bahan makanan, maupun angpau pernikahan.

Tak sekali dua kali beliau malah rongseng kalang kabut sendiri, atau justru marah kepada saya jika;

  • Jumlah barang yang akan diberi (dianggapnya) sangat sedikit,
  • Tata letak barang yang akan diberi (dianggapnya) berantakan,
  • Kemasan dan pembungkus barang yang akan diberi (dianggapnya) dipilih secara asal-asalan, atau tidak rapi,
  • Varian barang yang akan diberi (dianggapnya) hanya itu-itu saja,
  • Cara membawa barang yang akan diberi (dianggapnya) sembrono, sampai urusan …
  • Penampilan saya waktu mengantar barang yang akan diberi (dianggapnya) serampangan.

Saya merasa hal-hal tersebut ribet; kalau mau memberikan sesuatu kepada orang lain, ya … berikan saja. Yang penting barang dan maksudnya tersampaikan. Perkara mau diapakan setelahnya, ya … terserah si penerima. Saya pun kerap membandel, berkeras agar barang tersebut diantar dengan sebagaimana adanya, berdasarkan keinginan saya.

Dengan berbagai keribetan itu pula, walhasil beliau menjadi jengkel hingga mengatakan; “Mending enggak usah ngasih orang, daripada ngasihnya kayak begitu.

Pada masa itu belanja online tentu belum menjadi sesuatu yang umum. Barang-barang yang lazimnya kita dapatkan dalam bentuk antaran hanya terbatas pada makanan, bahan-bahan makanan, hadiah, oleh-oleh. Sebagai seorang remaja, saya pun belum berkepentingan untuk memberikan barang kepada orang lain, kecuali sebatas disuruh.

Hingga suatu waktu, ketika masih SMA (kalau tidak salah ingat), saya dan teman sekelas berinisiatif memberikan kejutan kue ulang tahun untuk wali kelas. Saya dibonceng, bertugas membawa sekotak kue tar dengan hiasan mentega.

Ceritanya mungkin tertebak. Kue tar tersebut mengalami insiden. Untungnya bukan kecelakaan, hanya mengerem. Lantaran kurang sigap, sekotak kue tar yang kami beli secara patungan itu pun meluncur ke depan (di antara saya dan punggung teman). Untungnya lagi, kuenya tidak sampai jatuh ke jalan. Namun, hiasannya di salah satu sisi, menjadi kue tar gepeng samping.

“Yaaah… penyok… Gimana dong?”

Sangat merasa bersalah, tetapi juga tak punya cukup uang untuk membeli kue tar yang baru kala itu. Kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke sekolah. Di kelas, perasaan tak nyaman makin kuat, teman-teman yang menyayangkan dan menyesalkan, tetapi membeli kue tar yang baru tidak menjadi pilihan solusi.

Tiba waktunya pelajaran sang wali kelas, kejutan kue tar diberikan. Lantaran menjadi aktor utama kerusakan, saya yang membawa dan menyerahkan kue tar tersebut. Tentu pakai acara minta maaf atas keapa-adaan ini.

Rasa bersalah makin tidak karuan.

Saya lupa jawaban verbatimnya, tapi kurang lebih begini; “Enggak apa-apa… Kuenya masih bisa dimakan, kan? Terima kasih, ya…”

Mendapatkan jawaban yang demikian, saya merasa lega campur sedih. Lega, karena pemberian kami tetap berkenan kepada si wali kelas. Sedih, karena pemberian kami semestinya dalam keadaan yang lebih baik.

Beranjak dari momen tersebut, seiring bertambahnya usia, saya menyadari bahwa pemberian bukan sekadar pemberian, kecuali bila kita hanyalah seorang kurir, tukang antar parsel. Terlepas dari apa pun yang diberikan, kita bertugas mengantarkannya dalam keadaan sama seperti saat dikirimkan.

Saya juga menyadari makna berbeda dari kepantasan sebuah pemberian. Bahwa berikanlah sesuatu, sebagaimana yang kita inginkan untuk diri sendiri.

Amatlah jauh berbeda, ketika kita memberi karena ingin berbagi, mengapresiasi, atau sebagai wujud rasa simpati, dibanding memberi karena sekadar punya barang berlebih sehingga dikasihkan kepada orang lain agar tidak mubazir.

Beranjak dari sini, barulah kita berhadapan dengan masalah baru yang relatif lebih lentur; Kepantasan. Setiap orang punya standar kepantasan yang berbeda. Ada yang merasa sepantasnya bila mendapatkan sesuatu secara utuh dalam kemasan asalnya (misalnya: 24 potong Brownies cokelat dalam kotak bakeri), tetapi ada pula yang merasa pantas-pantas saja bila mendapatkan dalam jumlah yang sesuai (misalnya: 12 potong Brownies cokelat cukup dalam kotak plastik biasa).

Kalau sudah begini, kembali lagi ke pengandaian sebelumnya; “Kalau dikasih kayak begini, aku mau, enggak? Aku senang, enggak?”

Bukan hanya pemberian berupa barang, prinsip pengandaian yang sama sejatinya berlaku terhadap banyak hal lain. Yakni ucapan dan perbuatan. Dipertimbangkan saja; “Kalau aku dibeginiin atau dikatain begini, aku mau, enggak? Aku senang, enggak?”

Kalau kamu enggak mau dibegitukan orang lain, adil dong kalau kamu jangan membegitukan orang lain.

Bersikaplah pantas, atau mending tidak usah ngapa-ngapain.

[]

Advertisements

2 thoughts on “Pemberian yang Pantas

  1. Kalau saya biasanya mencoba memberi yang saya tau persis orangnya memang suka.
    Kalau gak tau dia sukanya apa, antara saya kasih sesuatu yg saya suka atau… gak ngasih sekalian aja

    1. Ya, baguslah, mengantisipasi yg mungkin terjadi (kalau misalnya memberikan tanpa kejelasan).

Leave a Reply