The Juxtaposition of Faith (?)

LANGSUNG saja. Di saat-saat genting seperti sekarang, perilaku manusia dalam konteksnya sebagai makhluk religius cenderung terbagi dua: Mereka yang berpaling KEPADA agama, dan yang berpaling DARI agama. Meski saling bertolak belakang, keduanya sama-sama didorong oleh ketakutan dan kekhawatiran, serta kepasrahan atau penerimaan nan dungu yang beda tipis dengan penyangkalan atau penolakan. Objeknya saja yang berbeda.

Baik kelompok yang berpaling kepada agama maupun yang berpaling dari agama sama-sama takut akan kematian. Bedanya, kelompok pertama memang takut mati, tetapi lebih takut lagi jika matinya tidak masuk surga. Dan dengan mengupayakan hal-hal lain di luar keyakinan kepada entitas sentral dalam agamanya masing-masing‒tuhan‒itu dianggap sebagai salah satu bentuk keragu-raguan‒meragukan tuhan, sang pencipta segalanya. Sikap ragu-ragu itulah yang dipercaya bisa mengurangi bobot kredit seseorang dalam penilaian kepantasan untuk bisa masuk surga.

Mendingan aku buruan mati saja, daripada enggak bisa masuk surga.

Sedangkan bagi kelompok kedua, rasa takut dan khawatir akan kematian seringkali diawali dengan peristiwa terkait. Apakah ada kerabat atau keluarga yang terdampak dan meninggal, atau justru dirinya sendiri yang terkena. Mereka pun berpaling dari agama karena keyakinan kuat yang dipegang selama ini nyatanya tidak menghindarkan mereka (dan orang-orang terdekat) dari musibah. Ada nuansa kekecewaan di situ, yang bahkan bisa memunculkan amarah lantaran doa dan permohonan yang dipanjatkan seakan-akan tak berguna. Apalagi dalam konsep penciptaan, virus atau apa pun objek bencana juga muncul/hanya bisa dimunculkan olehnya. Sehingga, manakala sesuatu yang buruk terjadi, bisa karena memang dibuat sedemikian rupa, atau justru terjadi begitu saja secara alamiah … bukan diciptakan olehnya‒dia tidak ada.

Ah, ternyata semuanya bohong!

Berikutnya, sebagai kelompok yang berpaling kepada agama, segala-galanya digantungkan pada keyakinan atau kepercayaan. Apa pun yang terjadi/akan terjadi telah disuratkan sebelumnya; menjadi kehendak mutlak sang pemilik semesta; dan pada akhirnya akan tetap berbuah manis sebagai ganjaran bagi orang-orang yang percaya. Di sisi lain, ada juga anggapan bahwa tak peduli sebagai keras, tekun, mutakhir sebuah usaha, tidak akan memberikan hasil apa-apa bila tanpa seizinnya. Tak perlulah melawan. Terima saja. Oleh sebab itu, menurut logika mereka, akan lebih baik untuk pasrah dan menerima saja. Sikap tersebut akan membuahkan ketenteraman, membantu melewati dunia yang penuh dengan penderitaan dan cobaan, menuju kehidupan bahagia yang kekal di ujung sana.

Saya percaya, ada sesuatu yang indah sebagai akhirnya.

Lalu, mengapa kepasrahan atau penerimaan membuta seperti di atas disebut beda tipis dengan penyangkapan atau penolakan?

Karena dengan meyakini sesuatu, otomatis harus tidak meyakini lawannya. Dengan meyakini bahwa agama (A)‒beserta seluruh batang tubuh ajaran, termasuk entitasnya‒ialah jalan keluar tunggal yang telah ditentukan oleh tuhan, maka janganlah meyakini hal-hal lain di luar agama (non A). Menerima yang satu, dan menolak yang lain. Memasrahkan diri kepada yang satu, dan menyangkal fungsi dan manfaat yang lain. Mau itu sains dan ilmu pengetahuan, perhitungan yang konkret dan realistis, selama bukan merupakan bagian dari ajaran agama, lupakan saja.

“Pokoknya, ini yang bener…”

Setiap orang pada dasarnya berhak menjadi bagian dari kelompok pertama, kedua, atau bahkan bukan keduanya. Masalahnya, di saat-saat genting seperti sekarang, egoisme dan preferensi pribadi seseorang dapat membahayakan keselamatan orang lain dalam jumlah besar. Bukan sekadar kalkulasi ilusi (misalnya: Satu orang berbuat salah, seluruh desa kena tulah), melainkan perhitungan yang konkret. Ada satu saja orang yang jorok, menyebabkan beberapa orang lainnya berpotensi tertular dan terjangkit penyakit serupa. Sesederhana prinsip perkalian.

Sayangnya, demikian pula dengan keyakinan. Ada satu saja yang pandai berbicara dan memikat hati, ada sekelompok orang yang ikut dan mungkin mengekor tanpa pengetahuan untuk bersikap kritis.

Ya begitulah.

[]

Advertisements

Leave a Reply