Bahagia itu (Masih) Sederhana, Katanya…

SUDAH enam tahun sejak tulisan pertama tentang ini ada di Linimasa, waktu saya masih di Samarinda; si anak daerah. Kemudian, hadir kembali dua tahun selepasnya, sebagai warga pendatang di Jakarta. Kota dengan kehidupan yang sempat bikin kaget, bahkan sampai sekarang. Ya … lantaran orang-orangnya, keseharian yang dihadapi, serta mengamati cara diri ini menanggapinya.

Kini, rasanya kepingin melanjutkannya lagi.

Setidaknya ada satu hal yang saya sadari. Buah-buah kebahagiaan setiap orang terus berubah; seiring berjalannya waktu; seiring bergulirnya kehidupan; seiring tubuh yang mengusang; seiring berkembangnya kebijaksanaan dan kedewasaan.

Namun, apa pun perubahannya, bagi banyak orang kebahagiaan tetap identik dengan terpenuhinya keinginan-keinginan. Rasa bahagianya terkesan tetap sama, bentuk-bentuk keinginannya yang berbeda.

Premisnya masih serupa, bahwa setiap orang punya daftar kebahagiaannya masing-masing. Objek kebahagiaan seseorang, belum tentu memberikan kebahagiaan yang sama bagi orang lain. Perlukah kita berpayah-payah memperjuangkan agar orang lain sadar bahwa mereka sesungguhnya mengalami kondisi-kondisi ketidakbahagiaan selama ini (menurut sudut pandang kita)? Debatnya akan menjadi luar biasa panjang. Bisa bikin orang lupa masak, makan, istirahat, bekerja, kencing dan buang air-air lainnya … menjalani kehidupan yang ada di depan mata.

Dan tetap saja, serendah-rendahnya rasa “bahagia” ialah yang didapatkan dari ketidakbahagiaan atau penderitaan pihak lain. Buruk memang, tetapi alamiah, dan oleh sebabnya, tetap akan terjadi. Terkadang, malah pada/oleh diri kita sendiri.

Kebahagiaan tercapai karena mendapatkan/memperoleh/meraih. Masalahnya, makin sederhana sebuah kebahagiaan, terasa makin sukar dicapainya. Apa yang dahulu terkesan sepele–dan karenanya kerap diabaikan–kini terasa begitu jauh, begitu dirindukan.

Banyak yang beranggapan bahwa ini hanyalah persoalan beda masa hidup dan angka usia. Apa yang telah dialami dan dirasakan oleh yang “tua” maupun tua, jauh lebih hakiki dibandingkan yang dialami dan dirasakan oleh yang masih muda. Berangkat dari sini, banyak yang keliru dengan terlampau menyederhanakannya menjadi “yang muda harus belajar menjadi bijaksana lewat pengalaman dan perjalanan hidup yang tua-tua.” Padahal, belum tentu, dan itu pun terkesan dipaksakan.

Mau bagaimanapun juga, semua orang memiliki kehidupan yang berbeda. Apa yang mereka hadapi, cara mereka menghadapi, pengalaman dan pelajaran yang mereka dapatkan. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan keniscayaan. Tak bisa dipaksakan sekalipun.

Kebahagiaan tak bisa dipaksakan.

Kalaupun seseorang mengabaikan sesuatu yang semestinya bakal jadi kebahagiaan signifikan bagi dirinya sendiri, serta memilih sesuatu yang lain dan lebih dangkal, ya … biarkan saja. Itulah proses belajar yang ia jalani sendiri. Sebab penyadaran dan dorongan motivasi paling kuat yang bisa menggerakkan seseorang ialah yang muncul dari dalam dirinya.

Manakala seseorang sama sekali tak ingin melakukan sesuatu, walaupun dipaksa sedemikian rupa tetap tidak akan ia kerjakan sepenuh hati. Sebaliknya, begitu sebuah keinginan tumbuh dan mengakar kuat di dalam hati, ia akan mengusahakannya sekuat tenaga, bisa berubah menjadi tekad, bahkan ambisi maupun obsesi. Tak peduli halangan dan rintangan yang bisa muncul, ia akan terus menerjang. Baru berhenti setelah kepayahan.

Sudah terbayang ujungnya. Tatkala berhasil mendapatkan yang diinginkan (dan diupayakan lewat berbagai cara), ia pun merasa bahagia, beserta perasaan-perasaan ikutan lainnya (kepuasan, kelegaan, ketenangan).

Iya. Demikianlah. Bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mendapatkan yang diinginkan. Kendati untuk bisa mendapatkan yang diinginkan, pastinya tak sesederhana yang sekadar dibayangkan.

Semoga kita semua selalu mampu merasa tenteram.

[]

Advertisements

Leave a Reply