Bersiap dan Menyesuaikan Diri

SAAT menulis ini, saya sebenarnya masih lumayan ketar-ketir. Beberapa kali menengok ke luar jendela, berharap agar langit mendung di atas sana tidak mendadak tumpah, menjadi hujan deras. Soalnya, banyak orang masih bertahan di pengungsian, dan beberapa yang lain baru mulai bersih-bersih setelah banjir berangsur surut menyisakan lumpur serta perabotan basah. Selain itu, ya … tentu saja karena saya bakal kesulitan lagi. Sulit bepergian, sulit mencari makan, sulit ini, sulit itu. 

Tempat tinggal saya sendiri saat ini, syukurnya, tidak tergenang–meskipun terkepung–banjir. Ketika harus susah payah berjalan kaki sejauh 6 km dan menerobos banjir setinggi hampir 1 meter untuk pulang pada 2 Januari malam lalu, saya setidaknya tetap bisa dalam situasi kering, mendapatkan penerangan, bisa mendapatkan air bersih, dan peralatan elektronik tidak sampai rusak.

Privilese? Tentu saja. Namun, bukan itu yang mau diobrolin hari ini. Saya malah kepingin meneruskan obrolan Mas Nauval dalam tulisannya pekan lalu; selalu berharap yang terbaik, dan selalu bersiap untuk kemungkinan paling buruk sekalipun. 

Tanpa menafikan tentang krisis iklim yang turut diteriakkan gara-gara banjir di awal 2020 ini, setiap hal selalu terdiri atas tiga fase: sebelum, saat, dan sesudah.

Perkara kesadaran atas krisis iklim; pembuatan sumur resapan; kedisiplinan membuang sampah dengan baik atau bahkan penerapan gaya hidup minim sampah plastik; hingga upaya mengamankan langkah-langkah politik agar tidak menghambat hal-hal yang telah disebut sebelumnya, merupakan perkara sebelum dan sesudah peristiwa. Simpan sajalah dahulu sampai semuanya menuju pulih, saat rasa lelah dan letih yang tersisa masih relevan untuk bicara pencegahan. 

Begitu peristiwa mulai terjadi, seperti yang dikatakan Mas Nauval di atas: Hope for the best, prepare for the worst. Kenapa prepare for the worst-nya tidak dipikirkan sedari awal, di fase “sebelum”? Karena kondisi worst dalam konteks antisipasi atau pencegahan selalu tidak gawat darurat. Belum terasa pentingnya sebelum mulai terjadi. Saat peristiwa terjadi, situasi worst barulah berdampak pada survival, urusan selamat dan tidak selamat, serta paling mungkin bikin orang panik, mendadak sukar berpikir cermat.

Dari berharap yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk, ingin saya lanjutkan dengan kesiapan menghadapi krisis dan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Bersiap untuk yang terburuk, termasuk mempersiapkan segala hal yang bisa dijangkau dalam menghadapi krisis. Beruntungnya, banyak ringkasan dan petunjuk singkat terkait ini.

https://i1.wp.com/www.pantau.com/uploads/news/content/1577926723-29816268.png?w=1540&ssl=1
Infografik: Pantau.com

Bagi yang berpengalaman, atau pernah mengalami, kemungkinan besar sudah tahu harus mempersiapkan apa dan bagaimana caranya bersiaga. Sementara bagi yang baru pertama kali mengalaminya–mudah-mudahan musibah banjir sudah tuntas sepenuhnya hari ini–setidaknya bisa belajar dari pengalaman di awal tahun. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu. Dari yang abai, menjadi lebih peduli.

Sedikit cerita mengenai ini, saya cukup bersyukur lahir dan besar di Samarinda. Sedari kecil, sudah relatif terbiasa dengan curah hujan yang tinggi dan konstan sepanjang tahun, berenang dan akrab dengan arus Sungai Mahakam. Kemudian, terpapar dengan bahaya maut saat banjir untuk pertama kalinya saat duduk di bangku SMP (terjatuh dalam lubang gorong-gorong yang dalam dan berarus deras). 

Berlanjut ketika bekerja sebagai jurnalis sekaligus pewarta foto di surat kabar lokal Samarinda. Musim hujan dan banjir parah setidaknya berlangsung sekali dalam setahun. Entah sambil berjalan kaki atau menumpang perahu karet lembaga-lembaga penyalur bantuan, pemerintah maupun organisasi sosial, blusukan ke kawasan pemukiman yang rendah dengan ketinggian banjir sampai lebih dari 130 cm. Banjir yang terjadi agak dimaklumi kala itu, sebab Samarinda dikepung lokasi-lokasi tambang batu bara berbagai skala. Belum lagi Bendungan Benanga di Samarinda Utara yang tak mampu menahan debit air dari utara kota.

“Sambil menunggu banjir surut.”
Salah satu foto banjir Samarinda, Mei 2008.

Peristiwa banjir Jakarta yang akhirnya turut saya alami pada tanggal 2 dan 3 Januari kemarin pun, ya … kurang lebih semodel dengan yang pernah saya alami beberapa tahun sebelumnya di Samarinda. Berbekal pengalaman tersebut, saya berusaha berhati-hati. Misalnya: 

  • Memilih jalur arah pulang yang sudah diakrabi, agar bila berjalan dalam banjir dan gelap sekalipun, tetap bisa terhindar dari lubang tergenang dan potensi bahaya lainnya. 
  • Sebisa mungkin tidak melepas alas kaki saat menerjang banjir. Biarlah sneakers saya rusak karena dipakai berjalan dalam banjir, daripada telapak kaki saya robek kena pecahan kaca. Kendati di beberapa titik, ada saja orang yang bilang kepada saya untuk melepas sepatu supaya bisa berjalan lebih cepat. 
  • Apabila tidak mau/tidak memungkinkan untuk pulang, bersiap untuk menumpang/menginap/mengungsi. Jangan rempong. Situasi darurat, bukan staycation. Kecuali banyak duit dan buka kamar di hotel. Terserah you.

Hal-hal di atas ada kaitannya pula dengan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Banjir melanda semua orang; semua orang menjadi korban. Kita penting, orang lain pun penting. Jika kondisi memaksa untuk berjalan kaki menuju akses kering, ya, berjalanlah. Santai saja. Keluhan dan gerutu tidak akan bikin banjirnya surut. Kecuali kalau kamu punya kemampuan seperti Nabi Musa; membelah air.

Masih bisa bekerja, ya, bekerjalah. Namanya juga musibah, bos di kantor pun bisa memaklumi. Kalau tidak bisa memaklumi, coba saja dilihat sejauh apa dampaknya. Unpaid leave? Harus memotong uang makan, atau mengurangi jatah cuti? First things first. Akan tetapi, yang satu ini lagi-lagi ada urusannya dengan privilese. Fokus sajalah pada hal yang lebih penting dan gawat darurat. 

Jikalau status sosial dan ekonomi belum memampukan kita untuk sefleksibel itu, setidaknya mindset kita sudah mengarah ke situ. Biar enggak nambah-nambahin otak sumpek. Setelah semua reda, baru deh berjuang menyuarakan kesadaran akan lingkungan dan krisis iklim. 

Enggak gampang, memang, tetapi, namanya juga berharap yang terbaik, bersiap untuk yang terburuk, siap menghadapi krisis, dan fleksibel menyesuaikan diri terhadap keadaan. Toh, lebih mudah dibaca (dan dipahami) saat tidak sedang kebanjiran, kan? Padahal, sikap ini pun bisa diterapkan pada hampir segala hal. Musibah dan bencana alam, maupun musibah dan bencana hati serta pikiran.

[]

Btw, tetap siaga dan berjaga-jaga. Cuaca ekstrem berupa hujan deras dan kroni-kroninya berpotensi terjadi antara tanggal 11 sampai 15 Januari mendatang.

Advertisements

Leave a Reply