Memulai dengan Mendengar

SELAMAT menjalani tahun baru, dengan cara kita masing-masing.

Seperti lazimnya. Ada yang memasuki tahun baru dengan segudang proyeksi dan rencana yang siap dijalankan. Aspirasi atau resolusi hidup yang baru, cita-cita atau tujuan yang baru, karier atau lingkungan pekerjaan yang baru, sekolah atau kampus yang baru, rumah dan lingkungan tempat tinggal yang baru, kehadiran seseorang di dalam hidup, maupun niat atau tekad penting yang baru dalam hidup.

Ada juga yang mulai memasuki tahun baru laksana tangkai-tangkai biji bunga Randa Tapak; luwes melayang mengikuti arah angin, hingga akhirnya bertahan di satu tempat, dan apabila ideal, akan mulai bertumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Ringan, tanpa perkiraan yang berlebihan, apalagi keinginan-keinginan.

Image result for dandelion animated gif
Randa Tapak

Ada yang memasuki tahun baru dengan “penambahan”, ada pula yang “kehilangan”. Saya sendiri, hari ini masih dalam suasana berduka setelah ditinggal tante yang berpulang tepat tanggal 25 Desember kemarin. Sementara bagi para sepupu dan keponakan‒anak dan cucu mendiang, mereka akan mulai menjalani tahun baru dengan pergi ke perairan Situbondo untuk melarung abu jenazah. Besok.

Kita semua punya cerita masing-masing dalam memasuki tahun yang baru ini. Namun, pada dasarnya, apa yang akan kita hadapi bersama nanti sepenuhnya merupakan misteri. Tak seorang pun yang benar-benar tahu apa yang akan diperoleh, dialami, dirasakan, atau dilepaskan. Segala yang telah terjadi di tahun kemarin, bahkan sampai di detik terakhir 31 Desember 2019, sudah berlalu. Sekeras apa pun rasanya; semenyangkan atau setidakmenyenangkan apa pun rasanya; sebesar atau sekecil apa pun rasanya; berhasil tercapai atau tidak, semua hal itu sudah berlalu. Hanya menyisakan ingatan, dan pengalaman.

Mau kamu apakan pengalaman-pengalaman tersebut, itu menjadi hak prerogatifmu seutuhnya. Akan tetapi, entah mau kamu bagaimanakan ingatan-ingatan tersebut, semua itu akan tetap menjadi kenangan. Ingatan yang di setiap kemunculannya akan selalu memberikan sensasi rasa, dan hanya itu saja. Tak lebih.

Satu hal lainnya, kita semua sama-sama memasuki tahun baru ini sebagai individu yang telah berbeda, berubah dari sebelumnya. Entah seperti apa perubahan itu; menjadi lebih baik atau tidak (menurut standar sosial yang diterima umum, atau mungkin menurut penilaian kita sendiri). Harapan, kekhawatiran, kerisauan dan kegelisahan, semangat, ketakutan, keragu-raguan, kegembiraan, kekecewaan, apatisme, serta beraneka perasaan manusiawi lainnya mustahil lenyap. Pasti akan ada, dan oleh karenanya, coba diamati saja. Kita belum tentu sekuat hati itu, atau sebijaksana itu untuk bisa menepis perasaan-perasaan tersebut.

Setidaknya, yang bisa kita lakukan, barangkali adalah memulai dengan mendengar. Mendengar diri kita sendiri; mendengar isi hati kita sendiri.

Apakah yang sebenarnya aku inginkan?
Ini kah yang sebenarnya aku inginkan?

Apa yang kurasakan?

Tahun lalu kita mungkin terlalu sering mengabaikan diri sendiri, tidak mengacuhkan pemikiran, pertimbangan, dan suara hati. Tahun ini, dengan cara ini, kita mungkin bisa memulai berdamai dengan diri sendiri. Berhenti bertikai dengan diri sendiri.


Ya sudah… tak usah terlampau serius bacanya. Semalam kan habis begadang bersama teman-teman. Recovery tenaga dulu saja, toh, besok kan sudah kembali masuk kantor dan bekerja.

Selamat menjalani tahun baru. Selamat di permulaan, selamat di pertengahan, dan selamat di penutupan.

[]

Advertisements

Leave a Reply