Small Drops

Baru beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan serial “Grace and Frankieseason terbaru. Ada yang juga mengikuti serial ini?

Salah satu momen paling berkesan untuk saya di season terbaru ini justru ada di adegan kecil di episode-episode terakhir. Di episode ini (maaf saya lupa episode nomer berapa), diceritakan Robert Hanson (Martin Sheen) memberikan pidato singkat di pemakaman teman lamanya saat mengikuti pendidikan militer. Di tengah-tengah pidato, saat beberapa orang mengomentari pidato, partner Robert, Sol (Sam Waterston), sadar bahwa orang-orang mengira yang sedang berpidato adalah Robert Hansen, bukan Robert Hanson.

Sol memberitahukan hal ini kepada Robert. Robert pun bingung. Lalu istri mendiang almarhum menghampiri mereka. Dia mengklarifikasi kalau memang ada Robert Hansen, tapi Robert yang satu ini, meskipun lebih sering menghabiskan waktu bersama almarhum, justru lebih merepotkan. Sementara sang istri memang berniat mengundang Robert Hanson, yang sedang berdiri di depannya.

Robert bingung, kenapa dia yang diundang. Sementara dia sudah lama tidak pernah berjumpa lagi dengan almarhum.

Istri mendiang tersenyum. Dia menjelaskan, kalau pernah pada suatu masa, saat mereka menjalani pendidikan militer, almarhum nyaris tidak mendapatkan libur di suatu akhir pekan. Dia bisa mendapatkan libur akhir pekan kalau dia bisa melapor ke atasan dengan sepatu yang bersih. Sementara dia baru saja menjalani pelatihan.

Namun ternyata ada seseorang yang sudah mengetahui tradisi seperti ini. Dia pun buru-buru membersihkan sepatu rekannya, sehingga dia bisa mengambil libur di akhir pekan tersebut. Orang yang membersihkan sepatu itu adalah Robert Hanson. Robert menyadari dan mengingat lagi hal ini, setelah lupa sekian puluh tahun.

Robert masih bingung, kenapa hal itu menjadi penting. Istri almarhum mengatakan, bahwa di akhir pekan itu adalah saat pertama kali almarhum bertemu dengan sang istri, dan mereka telah menikah selama 50 tahun lamanya. Istrinya menambahkan, bahwa dia selalu menceritakan hal ini ke semua orang, karena dia percaya bahwa tanpa bantuan dari Robert, mereka tidak akan bertemu.

Terus terang adegan ini membuat saya mendadak terharu. Padahal serial ini jarang sekali menghadirkan momen mengharukan. Yang membuat saya terharu adalah, tentu saja, kenyataan bahwa kita tidak pernah tahu, sekecil apapun hal yang kita lakukan kepada orang lain, akan membawa dampak atau pengaruh yang akan melekat seumur hidup.

kindness-ggsc

 

Ayah saya pernah berkata dalam nasihatnya ke saya, agar kita tidak pernah mengingat hal-hal baik yang kita lakukan ke orang lain, dan selalu ingat kesalahan yang pernah kita lakukan ke orang lain, meskipun kita sudah maaf. Tentu saja agar kita tidak mengulangi lagi kesalahan tersebut.

Namun ternyata hal ini berat sekali dilakukan. Apalagi kalau kita sedang marah, kita cenderung mengungkit hal-hal yang membuat kita seolah-olah berada di atas angin. Seolah-olah derajat kita lebih tinggi, lebih mulia dari orang yang sedang kita hadapi.

But will it do any good? There is no good in doing that, after all.

Saya tidak tahu apakah saya akan mengalami hal yang sama dengan yang Robert Hanson alami, meskipun dia karakter fiktif, lima puluh tahun lagi. Saya juga tidak tahu apakah saya pernah dan sudah melakukan hal baik ke orang lain selama ini. Yang bisa saya sadari untuk lakukan adalah berusaha sebisa mungkin, pelan-pelan, tidak menyakiti orang lain dengan sengaja. Dan memaafkan orang lain truthfully, wholeheartedly.

They are small steps, one day at a time.

Advertisements

There is No Magic Pill

images

Bukannya sombong, bukannya congkak, tetapi sepertinya pola makan dan kebiasaan olahraga saya lebih sehat dari kebanyakan orang ya. Hal ini juga cukup sering menjadi bahan pembicaraan dan pertanyaan, untuk yang seolah tertarik untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih baik demi masa depan yang sehat dan (Insya Cosmos) bebas dari sakit berat.

Tetapi setiap kali saya berusaha menjawab dan menceritakan bagaimana memulai dan apa kebiasaan, walaupun saya sudah meyakinkan dan bertanya ulang apakah orang tersebut sungguh ingin mendengarkan hal yang menurut saya cukup membosankan dan tidak terlalu menarik untuk orang kebanyakan, dalam beberapa menit wajah yang terlihat mendengarkan secara saksama akan berubah menjadi mata yang menerawang dan pikiran yang terbang entah ke mana.

“Foto dong, apa yang kamu makan setiap hari!” sebagian besar begitu melihat makanan yang isinya hanya sayur mayur dan sedikit saja daging, langsung tidak pernah tanya lagi.

“Apa sih rahasianya supaya rajin bangun pagi untuk olahraga?” Ketika saya cerita awalnya berat banget, kemudian cukup memaksakan diri untuk berangkat tanpa berpikir panjang, ditambah dengan energi yang harus disalurkan setelah tubuh diberi asupan yang benar, banyak yang kehilangan minat untuk menyelidiki lebih lanjut.

Jika melihat tren pesan-pesan yang diteruskan sampai ribuan kali di Whatsapp grup, sepertinya semua orang merindukan satu superfood atau pil ajaib, yang ketika kita konsumsi akan menyelesaikan masalah kesehatan. Makan pisang, dan Anda pasti akan terbangun jam 5 pagi dan ingin berolahraga setiap hari! Minum suplemen jinten hitam, dijamin apa pun yang Anda makan tidak akan jadi lemak! Makan paria setiap hari, pasti akan terbebas dari penyakit kardiovaskuler! Sekali usap saja, salep ini akan menghilangkan selulit selamanya! Minum protein powder ini dan olahraga apa pun akan dijalani dengan mudah!

Kenyataannya, walaupun berat mengakui, sebenarnya kita semua sudah tau, enggak ada itu satu hal ajaib yang bisa mengubah semuanya jadi lebih baik. Bahkan jika olahraga saja tetapi makan tetap banyak processed food risiko mati muda penyakit tetap akan tinggi. Begitu juga jika kita makan sehat tanpa berolahraga, tidak menjadikan kita otomatis fit dan memiliki otot keren (walau kemungkinan jadi lebih tinggi kita akan jadi jauh lebih sehat). Jangan percaya dengan satu hal yang disebutkan di pesan terusan di group chat dan diklaim bisa mencegah penyakit ini itu.

Banyak makanan sehat dan sebisa mungkin kita harus makan semua itu dalam jumah secukupnya untuk kesehatan optimal. Begitu juga dengan olahraga. Jika ingin semua fungsi tubuh lengkap bisa dilakukan sampai tua, ternyata kurang kalau kita hanya memilih satu olahraga saja. Penginnya kan bisa dengan mudah jongkok, lompat, jalan jauh, lari, sampai berdansa sampai tua ya! Saya kira latihan beban dan HIIT saja cukup, ternyata otot saya jadi kaku seperti meja belajar. Karena itu mulai melengkapi dengan kardio juga, lalu latihan peregangan dan fleksibilitas seperti yoga dan pilates.

Sehat itu ribet ya? Iya! Tetapi kalau kita memperlakukan tubuh dengan penuh cinta, dia akan mencintaimu 1000 kali. Bentuknya seperti apa? Musim flu Anda tak terkena, jalan seharian tak masalah, dansa sampai pagi enggak boyok, bahkan saya pernah lo, terkena virus DB (tertular dari seisi rumah yang sakit) tetapi tidak termanifestasi gejalanya. Baru ketahuan ketika beberapa tahun kemudian saya tumbang betulan, ternyata sebelumnya saya sudah pernah terinfeksi virus, tetapi belum terkena panyakitnya.

download

Kado

Semalam, saya mampir ke toko buku dalam perjalanan pulang. Tidak ada rencana sebelumnya untuk mengunjungi toko ini, meskipun sudah lama saya tidak pergi ke sana. Tidak ada niat pula untuk membeli buku baru, karena masih ada beberapa buku yang belum sempat dibaca.

Makanya saya melangkahkan kaki ke bagian perlengkapan alat tulis, alat-alat elektronik dan pernak-pernik lainnya. Melihat rangkaian barang yang dipajang, mulai dari pulpen sampai jam tangan, mulai dari buku catatan sampai tas sekolah, sontak saya tersenyum sendiri.

Tiba-tiba saja pikiran saya teringat kembali saat masih di bangku sekolah, mengenakan seragam putih abu-abu. Seorang sahabat saya waktu itu selalu mengajak saya untuk mencari kado buat pacarnya. Mereka memang sudah pacaran beberapa bulan saat kami baru masuk sekolah itu. Sampai kami lulus pun, mereka masih pacaran. Jadi bisa dibayangkan, setidaknya ada tiga kali ulang tahun di mana saya harus menemani sahabat saya mencari kado yang “sempurna” untuk pacarnya. Belum lagi anniversary, atau momen-momen lain di mana secara mendadak teman saya memutuskan untuk memberikan sesuatu barang buat pacarnya.

Sampai-sampai saya sendiri yang kadang harus mengingatkan untuk mencari kado.

“Sudah bulan November, nih!” (Ini berarti ulang tahun pacarnya.)

“Sudah mau bulan Agustus ini!” (Ini berarti ulang tahun pacaran mereka.)

Berhubung saat itu saya tinggal di kota yang tidak sebesar tempat tinggal sekarang, maka pilihan pencarian kado kami cukup terbatas. Tak jarang kami menghabiskan waktu hampir seharian, mulai dari jam 10 pagi saat toko-toko baru buka, sampai jam 7 malam, saat kami kelaparan karena skip makan siang. Tak jarang pula pada akhirnya kami malah kembali ke toko yang pertama kali kami tuju, karena setelah pergi ke toko-toko lain, tidak ada barang yang sesuai. Harap diingat juga, isi kantong pelajar tidak bisa memberikan kami banyak pilihan juga.

Kadang-kadang, meskipun bercanda, saya sempat kesal juga, dan berkata ke teman saya, “Tiap tahun kita selalu kayak gini, ya? Gak capek apa? Lagian dia pasti terima apapun kado dari kamu. ‘Kan dari pacarnya. Kamu kasih sendal jepit beli di warung terus kamu ukir nama dia pakai silet, juga pasti diterima!”

crop380w_istock_000016975754xsmall

 

Teman saya tertawa, dan saya pun tertawa. Meskipun kami tidak pernah melakukan hal itu, kami sadar bahwa sebenarnya yang menyenangkan adalah proses mencari barang tersebut. Itu satu hal. Looking back, ternyata proses mencari kado ini semacam road trip murah buat dua pelajar dengan kantong pas-pasan saat itu.

Hal lain yang menyenangkan, tentu saja melihat reaksi orang yang menerima kado pemberian dari orang yang disayang.

Tentu saja saya tidak pernah tahu reaksi pacar teman saya saat menerima kado-kado tersebut. Ya masak saya ikut? Tentu saja saya juga tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah kami cari selama tiga tahun di bangku sekolah tersebut. Saya pun tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah saya berikan kepada dan terima dari mantan-mantan pacar.

Yang akhirnya saya ingat cuma rasa. Rasa senang saat berusaha mencari tahu, barang apa yang kira-kira pas untuk orang lain. Rasa kesal saat terus mencari tanpa henti. Rasa senang saat akhirnya kita tahu apa yang kita mau, dan bisa mendapatkan barang tersebut. Rasa deg-degan saat membungkus kado, dengan banyak harapan dan rasa deg-degan membayangkan reaksi apa kira-kira yang didapatkan nantinya. Rasa lega saat reaksi tersebut sesuai dengan yang kita bayangkan.

Dan itu sudah cukup menjadi kado buat diri kita sendiri.

c7d021_c428781b9407436c986c4ad9ed24debf_mv2

Keberuntungan Itu Bernama “Rasa Cukup”

KEBERUNTUNGAN. Keberhasilan. Umur panjang. Orang Tionghoa pada umumnya mengenal tiga serangkai ini sebagai “fu, lu, shou” (福祿壽); keadaan yang selalu didambakan–dan dikejar–dalam hidup.

Simbol “fu”, “lu”, “shou”.
Gambar: ucxinwen.com
Image result for fu lu shou
Foto: Wikimedia

Simbol dan ornamennya tersebar di mana-mana. Mulai tulisan/aksara Tionghoa dengan berbagai gaya, hingga lukisan maupun patung tiga sosok dewa yang dianggap identik dengan ketiganya. Termasuk yang jadi logo Amer Cap Orang Tua, dan yang juga ada di kotak bungkus misoa, makanan khas di setiap perayaan ulang tahun ala Tionghoa.

Related image
Gambar: stickpng.blogspot.com

“Fu” selalu disebut di urutan pertama, lantaran dianggap paling penting dibanding dua yang lainnya. Itu ibarat kata, jika seseorang harus memilih hanya satu dari ketiganya.

Mengapa? Sebab keberuntungan akan selalu memberikan kebahagiaan yang paling signifikan. Terjadi di saat yang tepat, dengan dampak yang tepat, serta tidak menyisakan potensi masalah baru kemudian. Karena itu pula, keberuntungan menjadi hal yang paling sulit ditemukan, diraih, dan dipertahankan. Keberuntungan itu misterius, muncul dan hilang tanpa bisa ditahan atau dikendalikan.

Berikut perbandingannya lebih lanjut.

“Lu” diartikan sebagai keberhasilan dalam konteks pencapaian sosial dan ekonomi. Berhasil mencapai sesuatu, seperti status; kedudukan bisnis; jenjang karier yang terus meningkat; termasuk kenaikan gaji serta keuntungan finansial yang mengiringinya. Demi mencapai “lu”, seseorang mesti berusaha keras, dan cerdas. Akan lebih baik lagi apabila didukung dengan adanya bakat serta keahlian. Namun, semua itu baru akan menjadi kombinasi yang pas dan meluncur tanpa halangan dalam situasi atau momen yang tepat. Di situlah muncul “fu”, keberuntungan.

Sesuai artinya, “shou” menunjukkan kehidupan yang lestari. Seseorang bisa hidup lebih lama, dan dijauhkan dari kematian yang menakutkan. Namun, usia yang panjang justru bisa menjadi siksaan apabila dipenuhi kekurangan dan kemalangan.

Berusia panjang, tetapi selalu sakit-sakitan, misalnya. Kehidupan pun menjadi terganggu, dan merasa merepotkan atau membebani orang lain. Membuat berpikir bahwa kematian mungkin bisa menjadi solusi terbaik atas keadaan ini.

Berusia panjang, tetapi selalu kekurangan. Selalu merasakan hidup yang sengsara, jarang bahagia.

Termasuk yang satu ini, berusia panjang, tetapi ditinggalkan dan kesepian. Hidup dengan penuh siksaan batin.

Lagi-lagi dengan keberuntungan, usia panjang menjadi berkah yang membahagiakan. Bisa menjalani sisa usia dengan kesehatan dan kebugaran; berada dalam kondisi berkecukupan; maupun merasa terkasihi atau dicintai banyak orang. Sampai pada akhirnya bisa berpisah dengan kehidupan secara baik-baik; mengalami kematian yang tidak menyakitkan atau pun merepotkan.

Demikianlah keberuntungan.

Lalu, bagaimanakah caranya mengejar keberuntungan?

Ada yang berpandangan bahwa keberuntungan bisa dikondisikan lewat kemakmuran. Selama masih memiliki harta, maka masih berkesempatan untuk mengupayakan hal-hal baik yang mendukung keberhasilan maupun umur panjang.

Terhadap “lu”, harta dapat digunakan untuk melanggengkan keberhasilan; mempertahankan dan makin meningkatkan pencapaian. Harta juga bisa digunakan untuk menjaga kedudukan dan status sosial ekonomi di mata masyarakat. Jaminan supaya tetap menjadi orang terpandang.

Mengenai “shou”, harta dapat dimanfaatkan untuk menjaga dan menyembuhkan dari gangguan kesehatan. Kendati masih berupa upaya; entah berhasil atau tidak.

Harta juga dapat menghidupkan suasana, membuat situasi yang sepi menjadi ramai, menghimpun banyak orang. Entah apakah mereka benar-benar peduli dengan si pemilik harta, atau sekadar aji mumpung menjadi benalu.

Pandangan tentang kemakmuran tadi mendorong banyak orang bersusah payah, pontang-panting mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Beberapa di antaranya malah tidak lagi peduli dengan sekitar dan menghalalkan segala cara. Pada akhirnya, apa yang mereka anggap mampu membuat bahagia, justru menyeret mereka ke realitas sebaliknya. Sisa hidup pun dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan berlebihan, ketidakwarasan, penyakit, serta ketidakberdayaan menghadapi kenyataan.

Dari sudut pandang “fu”, tidak ada yang salah dengan dorongan untuk mencari dan mengumpulkan harta. Hanya saja, titik akhirnya tidak terletak pada keberlimpahan, melainkan ketercukupan. Prinsip ini pun menjalar ke pertanyaan berikutnya, “Seberapa cukup?

Semua orang tentu punya jawabannya masing-masing, dan secara pribadi, saya yakin bahwa (1) rasa cukup bisa membahagiakan, dan (2) kebahagiaan itu bisa mencukupi.

Sungguhlah beruntung bila mampu merasa sungguh-sungguh cukup.

Saya ingin tutup tulisan hari ini dengan satu pertanyaan perbandingan. Mana yang lebih memberikan rasa bahagia; meminum segelas air putih saat sedang haus-hausnya di siang hari yang panas, atau meminum segelas air putih untuk membantu menelan makanan?

[]

Aku Fobia Padamu, Mz…

Kepala saya akhir akhir ini sering gatal kalau melihat perdebatan di media sosial, kemudian kata ‘Islamofobia’ dilemparkan dengan mudahnya. Bukan karena kepala saya sedang dijangkiti jamur, tetapi kata Islamofobia itu sendiri. Sebenarnya bagaimana sih kalau seseorang itu menderita fobia terhadap sesuatu? Ini saya salin dan tempel dari Google:

Fobia (gangguan anxietas fobik) adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti.

Tahu bahwa fobia itu gangguan yang seperti apa saja sudah membuat saya kesal dengan istilah Islamofobia. Apakah orang orang yang dituduhkan dengan kata ini memiliki ketakutan yang tidak rasional dengan yang menyangkut Islam? Apakah melihat masjid mereka akan tunggang langgang ketakutan? Apakah ketika melihat seseorang menggunakan pernak pernik “Islami” lalu mereka lebih baik mengurungkan niat menaiki kendaraan yang sama atau lebih baik putar balik ke arah sebaliknya agar tidak sejalan dengan dia? Kalau memang tetap keras kepala menggunakan kata Islamofobia, seharusnya ini yang terjadi.

Tetapi kan, kenyataannya tidak.

Kalau kita lihat istilah-istilah yang menggambarkan diskriminasi dari ras atau golongan tertentu, tidak ada yang menyebut agama selain Islamofobia. Ada ‘anti-semit’ tetapi tidak ada ‘judaismofobia’.

Kenapa istilah Islamofobia bisa menimbulkan masalah? Karena dia tidak memisahkan mana yang menunjukkan diskriminasi dan kebencian terhadap orang yang memeluk agama Islam atau muslim, mana yang kritik valid tentang Islam sebagai ideologi. Kritisi terhadap ideologi bisa mengajak masyarakat berpikir lebih kritis, sementara kebencian dan diskriminasi dapat memecah belah. Bigotry adalah intoleransi dengan seseorang yang memiliki pendapat atau kepercayaan berbeda, jadi ke orangnya, bukan ke kepercayaan atau pendapatnya.

Sungguh membuat malas ya, kalau kita berusaha menyuarakan kritik terhadap suatu ideologi yang cukup valid dan evidence-based, dengan harapan membuka dialog, lalu dimatikan begitu saja dengan cap seperti, “ISLAMOFOBIA!” A real conversation killer. Kalau memang suatu ideologi tidak boleh dikritik sama sekali, berarti tidak boleh juga dong, mengkritik komunisme, sosialisme dan isme-isme lain yang kini dianggap musuh dalam selimut yang sangat berbahahahahaya (really?). Double standard, much?

Izinkan saya mengutip Ali Rizvi, idola saya di komunitas eks muslim:

dan satu lagi:

Jadi, rekomendasinya, kalau memang ada orang yang melemparkan kebencian terhadap seorang muslim karena kemuslimannya, bahkan sampai membedakan perlakukan dengan orang non-muslim, dan nyata sekali, lalu ingin ada cap terhadap orang ini, sebut saja lah dia anti-muslim. Sebut aksinya anti-muslim bigotry.

Rekomendasi lainnya; kalau ada komik yang bercerita soal diskriminatifnya Islam sehingga membabi buta membenci atau anti terhadap satu golongan yang berbeda dengan kepercayaan Islam sampai banyak pernyataan seolah menyakiti golongan tersebut “halal”, tak perlu lagi menyebut Islamofobia, karena mempertanyakan sebuah ideologi masih legal, kok. Tak perlu marah dan mencap ini itu, let’s just agree to disagree, dan tetap saling menghormati.

Apa kamu bilang? Islam itu bukan ideologi dan murni buatan Tuhan? Hahahaha, bercanda kamu…

EMlrZldU8AAkl5C
Kalau kayak gini fobia apa, dong? (kredit: @nynecomics)

 

 

Bersiap dan Menyesuaikan Diri

SAAT menulis ini, saya sebenarnya masih lumayan ketar-ketir. Beberapa kali menengok ke luar jendela, berharap agar langit mendung di atas sana tidak mendadak tumpah, menjadi hujan deras. Soalnya, banyak orang masih bertahan di pengungsian, dan beberapa yang lain baru mulai bersih-bersih setelah banjir berangsur surut menyisakan lumpur serta perabotan basah. Selain itu, ya … tentu saja karena saya bakal kesulitan lagi. Sulit bepergian, sulit mencari makan, sulit ini, sulit itu. 

Tempat tinggal saya sendiri saat ini, syukurnya, tidak tergenang–meskipun terkepung–banjir. Ketika harus susah payah berjalan kaki sejauh 6 km dan menerobos banjir setinggi hampir 1 meter untuk pulang pada 2 Januari malam lalu, saya setidaknya tetap bisa dalam situasi kering, mendapatkan penerangan, bisa mendapatkan air bersih, dan peralatan elektronik tidak sampai rusak.

Privilese? Tentu saja. Namun, bukan itu yang mau diobrolin hari ini. Saya malah kepingin meneruskan obrolan Mas Nauval dalam tulisannya pekan lalu; selalu berharap yang terbaik, dan selalu bersiap untuk kemungkinan paling buruk sekalipun. 

Tanpa menafikan tentang krisis iklim yang turut diteriakkan gara-gara banjir di awal 2020 ini, setiap hal selalu terdiri atas tiga fase: sebelum, saat, dan sesudah.

Perkara kesadaran atas krisis iklim; pembuatan sumur resapan; kedisiplinan membuang sampah dengan baik atau bahkan penerapan gaya hidup minim sampah plastik; hingga upaya mengamankan langkah-langkah politik agar tidak menghambat hal-hal yang telah disebut sebelumnya, merupakan perkara sebelum dan sesudah peristiwa. Simpan sajalah dahulu sampai semuanya menuju pulih, saat rasa lelah dan letih yang tersisa masih relevan untuk bicara pencegahan. 

Begitu peristiwa mulai terjadi, seperti yang dikatakan Mas Nauval di atas: Hope for the best, prepare for the worst. Kenapa prepare for the worst-nya tidak dipikirkan sedari awal, di fase “sebelum”? Karena kondisi worst dalam konteks antisipasi atau pencegahan selalu tidak gawat darurat. Belum terasa pentingnya sebelum mulai terjadi. Saat peristiwa terjadi, situasi worst barulah berdampak pada survival, urusan selamat dan tidak selamat, serta paling mungkin bikin orang panik, mendadak sukar berpikir cermat.

Dari berharap yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk, ingin saya lanjutkan dengan kesiapan menghadapi krisis dan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Bersiap untuk yang terburuk, termasuk mempersiapkan segala hal yang bisa dijangkau dalam menghadapi krisis. Beruntungnya, banyak ringkasan dan petunjuk singkat terkait ini.

https://i1.wp.com/www.pantau.com/uploads/news/content/1577926723-29816268.png?w=1540&ssl=1
Infografik: Pantau.com

Bagi yang berpengalaman, atau pernah mengalami, kemungkinan besar sudah tahu harus mempersiapkan apa dan bagaimana caranya bersiaga. Sementara bagi yang baru pertama kali mengalaminya–mudah-mudahan musibah banjir sudah tuntas sepenuhnya hari ini–setidaknya bisa belajar dari pengalaman di awal tahun. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu. Dari yang abai, menjadi lebih peduli.

Sedikit cerita mengenai ini, saya cukup bersyukur lahir dan besar di Samarinda. Sedari kecil, sudah relatif terbiasa dengan curah hujan yang tinggi dan konstan sepanjang tahun, berenang dan akrab dengan arus Sungai Mahakam. Kemudian, terpapar dengan bahaya maut saat banjir untuk pertama kalinya saat duduk di bangku SMP (terjatuh dalam lubang gorong-gorong yang dalam dan berarus deras). 

Berlanjut ketika bekerja sebagai jurnalis sekaligus pewarta foto di surat kabar lokal Samarinda. Musim hujan dan banjir parah setidaknya berlangsung sekali dalam setahun. Entah sambil berjalan kaki atau menumpang perahu karet lembaga-lembaga penyalur bantuan, pemerintah maupun organisasi sosial, blusukan ke kawasan pemukiman yang rendah dengan ketinggian banjir sampai lebih dari 130 cm. Banjir yang terjadi agak dimaklumi kala itu, sebab Samarinda dikepung lokasi-lokasi tambang batu bara berbagai skala. Belum lagi Bendungan Benanga di Samarinda Utara yang tak mampu menahan debit air dari utara kota.

“Sambil menunggu banjir surut.”
Salah satu foto banjir Samarinda, Mei 2008.

Peristiwa banjir Jakarta yang akhirnya turut saya alami pada tanggal 2 dan 3 Januari kemarin pun, ya … kurang lebih semodel dengan yang pernah saya alami beberapa tahun sebelumnya di Samarinda. Berbekal pengalaman tersebut, saya berusaha berhati-hati. Misalnya: 

  • Memilih jalur arah pulang yang sudah diakrabi, agar bila berjalan dalam banjir dan gelap sekalipun, tetap bisa terhindar dari lubang tergenang dan potensi bahaya lainnya. 
  • Sebisa mungkin tidak melepas alas kaki saat menerjang banjir. Biarlah sneakers saya rusak karena dipakai berjalan dalam banjir, daripada telapak kaki saya robek kena pecahan kaca. Kendati di beberapa titik, ada saja orang yang bilang kepada saya untuk melepas sepatu supaya bisa berjalan lebih cepat. 
  • Apabila tidak mau/tidak memungkinkan untuk pulang, bersiap untuk menumpang/menginap/mengungsi. Jangan rempong. Situasi darurat, bukan staycation. Kecuali banyak duit dan buka kamar di hotel. Terserah you.

Hal-hal di atas ada kaitannya pula dengan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Banjir melanda semua orang; semua orang menjadi korban. Kita penting, orang lain pun penting. Jika kondisi memaksa untuk berjalan kaki menuju akses kering, ya, berjalanlah. Santai saja. Keluhan dan gerutu tidak akan bikin banjirnya surut. Kecuali kalau kamu punya kemampuan seperti Nabi Musa; membelah air.

Masih bisa bekerja, ya, bekerjalah. Namanya juga musibah, bos di kantor pun bisa memaklumi. Kalau tidak bisa memaklumi, coba saja dilihat sejauh apa dampaknya. Unpaid leave? Harus memotong uang makan, atau mengurangi jatah cuti? First things first. Akan tetapi, yang satu ini lagi-lagi ada urusannya dengan privilese. Fokus sajalah pada hal yang lebih penting dan gawat darurat. 

Jikalau status sosial dan ekonomi belum memampukan kita untuk sefleksibel itu, setidaknya mindset kita sudah mengarah ke situ. Biar enggak nambah-nambahin otak sumpek. Setelah semua reda, baru deh berjuang menyuarakan kesadaran akan lingkungan dan krisis iklim. 

Enggak gampang, memang, tetapi, namanya juga berharap yang terbaik, bersiap untuk yang terburuk, siap menghadapi krisis, dan fleksibel menyesuaikan diri terhadap keadaan. Toh, lebih mudah dibaca (dan dipahami) saat tidak sedang kebanjiran, kan? Padahal, sikap ini pun bisa diterapkan pada hampir segala hal. Musibah dan bencana alam, maupun musibah dan bencana hati serta pikiran.

[]

Btw, tetap siaga dan berjaga-jaga. Cuaca ekstrem berupa hujan deras dan kroni-kroninya berpotensi terjadi antara tanggal 11 sampai 15 Januari mendatang.

Hope for the Best, Prepare for the Worst

Kata-kata yang menjadi judul di atas saya temukan pertama kali di sebuah buku tulis yang saya beli waktu duduk di bangku sekolah. Saya terkesan sekali dengan kata-kata tersebut, sampai sering sekali saya gunakan di berbagai kesempatan.

Waktu “digojlok” menjadi siswa baru, saya selalu menulis kata-kata tersebut di tulisan yang harus kami buat setiap harinya untuk diserahkan ke kakak-kakak kelas yang “menggojlok” kami. Waktu dicurhati teman, entah berapa kali saya menggunakan kata-kata ini sebagai salah satu tanggapan saat ditanya, “What do you think I should do?”

Demikian pula di kehidupan nyata. Acap kali saya sering menemui kejadian, di mana saya sudah berharap akan mendapat sesuatu, ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Waktu sedang menulis tulisan yang sedang anda baca ini, misalnya. Saya memilih kedai kopi ini dengan harapan bisa mendapat tempat duduk yang dekat colokan listrik, eh ternyata tempat itu sedang ramai dengan keluarga yang sedang berlibur. Alhasil, saya duduk di tempat lain, sambil berharap rombongan keluarga ini segera menyelesaikan kegiatan mereka di meja tersebut.

Tentu saja saat saya sedang menulis ini, pikiran saya melayang ke ibu kota Indonesia yang sedang dirundung kemalangan. Musibah banjir ini bisa dibilang yang terberat yang pernah dialami, karena hanya dalam hitungan jam, hujan deras mampu meluluh lantakkan pergerakan seluruh kota, dan mengakibatkan beberapa korban jiwa.

Saat ini saya berada di luar Jakarta. Tapi pikiran saya tidak lepas ke teman-teman, lingkungan sekitar dan rekan-rekan lain yang sedang bertahan hidup. Termasuk pula beberapa orang yang baru saja kembali dari liburan akhir tahun. Siapa yang menyangka, saat pulang dari liburan, harus menghadapi kenyataan yang mengenaskan? Siapa yang menyangka juga, liburan harus berakhir dengan genangan?

Tidak ada yang menyangka kapan musibah datang menimpa kita, meskipun kita sudah menyiapkan diri sebaik mungkin. Dan atas pemikiran inilah, saya meyakini bahwa saat kita hope for the best, sebenarnya secara otomatis kita sedang prepare for the worst. Dalam diam kita, kita berdoa dan berharap, sambil otak terus berpikir untuk mempersiapkan diri. We hope by preparing. Mempersiapkan mental, mempersiapkan perasaan, mempersiapkan fisik, mempersiapkan materi, dan segala jenis persiapan lain.

Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan duka cita buat semua korban peristiwa banjir awal tahun 2020 ini. Untuk mereka yang harus berpisah dengan orang-orang tercinta, saya ikut berdoa, semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Untuk mereka yang terpaksa merelakan harta yang telah dimiliki dengan jerih payah sekian lama, saya ikut berdoa, semoga akan ada pengganti yang lebih baik. Untuk yang masih bertahan, semoga kita semua bisa terus bertahan, membantu sama, dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan apa pun.

We never know what the future brings. We can only hope for the best, and prepare for the worst.

Memulai dengan Mendengar

SELAMAT menjalani tahun baru, dengan cara kita masing-masing.

Seperti lazimnya. Ada yang memasuki tahun baru dengan segudang proyeksi dan rencana yang siap dijalankan. Aspirasi atau resolusi hidup yang baru, cita-cita atau tujuan yang baru, karier atau lingkungan pekerjaan yang baru, sekolah atau kampus yang baru, rumah dan lingkungan tempat tinggal yang baru, kehadiran seseorang di dalam hidup, maupun niat atau tekad penting yang baru dalam hidup.

Ada juga yang mulai memasuki tahun baru laksana tangkai-tangkai biji bunga Randa Tapak; luwes melayang mengikuti arah angin, hingga akhirnya bertahan di satu tempat, dan apabila ideal, akan mulai bertumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Ringan, tanpa perkiraan yang berlebihan, apalagi keinginan-keinginan.

Image result for dandelion animated gif
Randa Tapak

Ada yang memasuki tahun baru dengan “penambahan”, ada pula yang “kehilangan”. Saya sendiri, hari ini masih dalam suasana berduka setelah ditinggal tante yang berpulang tepat tanggal 25 Desember kemarin. Sementara bagi para sepupu dan keponakan‒anak dan cucu mendiang, mereka akan mulai menjalani tahun baru dengan pergi ke perairan Situbondo untuk melarung abu jenazah. Besok.

Kita semua punya cerita masing-masing dalam memasuki tahun yang baru ini. Namun, pada dasarnya, apa yang akan kita hadapi bersama nanti sepenuhnya merupakan misteri. Tak seorang pun yang benar-benar tahu apa yang akan diperoleh, dialami, dirasakan, atau dilepaskan. Segala yang telah terjadi di tahun kemarin, bahkan sampai di detik terakhir 31 Desember 2019, sudah berlalu. Sekeras apa pun rasanya; semenyangkan atau setidakmenyenangkan apa pun rasanya; sebesar atau sekecil apa pun rasanya; berhasil tercapai atau tidak, semua hal itu sudah berlalu. Hanya menyisakan ingatan, dan pengalaman.

Mau kamu apakan pengalaman-pengalaman tersebut, itu menjadi hak prerogatifmu seutuhnya. Akan tetapi, entah mau kamu bagaimanakan ingatan-ingatan tersebut, semua itu akan tetap menjadi kenangan. Ingatan yang di setiap kemunculannya akan selalu memberikan sensasi rasa, dan hanya itu saja. Tak lebih.

Satu hal lainnya, kita semua sama-sama memasuki tahun baru ini sebagai individu yang telah berbeda, berubah dari sebelumnya. Entah seperti apa perubahan itu; menjadi lebih baik atau tidak (menurut standar sosial yang diterima umum, atau mungkin menurut penilaian kita sendiri). Harapan, kekhawatiran, kerisauan dan kegelisahan, semangat, ketakutan, keragu-raguan, kegembiraan, kekecewaan, apatisme, serta beraneka perasaan manusiawi lainnya mustahil lenyap. Pasti akan ada, dan oleh karenanya, coba diamati saja. Kita belum tentu sekuat hati itu, atau sebijaksana itu untuk bisa menepis perasaan-perasaan tersebut.

Setidaknya, yang bisa kita lakukan, barangkali adalah memulai dengan mendengar. Mendengar diri kita sendiri; mendengar isi hati kita sendiri.

Apakah yang sebenarnya aku inginkan?
Ini kah yang sebenarnya aku inginkan?

Apa yang kurasakan?

Tahun lalu kita mungkin terlalu sering mengabaikan diri sendiri, tidak mengacuhkan pemikiran, pertimbangan, dan suara hati. Tahun ini, dengan cara ini, kita mungkin bisa memulai berdamai dengan diri sendiri. Berhenti bertikai dengan diri sendiri.


Ya sudah… tak usah terlampau serius bacanya. Semalam kan habis begadang bersama teman-teman. Recovery tenaga dulu saja, toh, besok kan sudah kembali masuk kantor dan bekerja.

Selamat menjalani tahun baru. Selamat di permulaan, selamat di pertengahan, dan selamat di penutupan.

[]