Love Yourself Supaya Tidak Lose Yourself

If you love yourself, the whole world will see it.

Demikian kurang lebih sepenggal dialog dari film Bala yang baru saja saya tonton di bioskop beberapa hari lalu. Film ini bercerita tentang seorang pria muda yang mengalami krisis percaya diri selama bertahun-tahun, karena mengalami pembotakan dini. Berbagai cara dia tempuh untuk menumbuhkan rambut, karena dia bersikeras tidak mau pakai rambut palsu. Ketika akhirnya dia sampai di titik harus memakai rambut palsu, sontak percaya dirinya tumbuh. Tentu saja karena ini cerita di film, berbagai kejadian yang tak diduga karena rambut palsunya terjadi, memaksa karakter utama berinstropeksi: apa iya jati dirinya harus diukur sebatas rambut?

Tulisan ini bukan bermaksud menganalisa film tersebut. (Filmnya sendiri sangat layak tonton, by the way.) Namun saya ingin berbagi cerita sedikit.

Beberapa hari setelah menonton film Bala tadi, saya bertemu seorang teman. Saya bercerita soal film ini. Dia sendiri bukan film buff kelas berat seperti saya, just a casual filmgoer, dan jarang menonton film Hindi. Mungkin malah tidak pernah. Tapi setelah saya ceritakan jalan cerita film ini, dia malah tertarik. Saya heran kenapa dia tiba-tiba mau nonton.

“Soalnya kalau dari cerita elo, filmnya kayak persis ama hidup gue.”

“Hah? Elo mulai botak?” Tentu saja pandangan saya pelan-pelan tertuju ke kepalanya. Believe me, this is awkward.

“Hahaha. Duh, mudah-mudahan enggak ya.”

“Terus?”

Dia terdiam sejenak. “Elo tau kan gue udah lama single?”

“Yeap. Cuma setau gue, elo gak masalah dengan itu.”

“Iya sih. But this is the first time I’ve been single after years. Selama ini kan ya hampir gak pernah ada gap, from one relationship to the next. Kalau ada something in between, ya itu biasanya rebound lah. Hahaha.”

“Busyet. Mantap! Terus?”

So I was seeing this person. As we got along, tiba-tiba di tengah jalan, kok gue ngerasa I don’t wanna do this yet. Not now. Kayak all of a sudden, ada perasaan gue yang bilang, I’ve gotta take a break. For myself. It’s not you. It’s me. I need to take care of myself first.”

“Bentar. Maksudnya? Elo gak menyakiti diri elo ‘kan?”

b85f6946a0ace6352bc6a8398b51300e
(Photo from agathesorletshop.com)

 

“Kalau maksud elo physical self infliction gitu, untungnya enggak. Cuma, gue baru sadar, selama ini gue gak attend to myself well. Yes, I’ve been continuously in relationships all the time, gak cuma most of the time, tapi ya itu berarti gue harus meet what other party needs. Gue harus berusaha supaya pasangan gue betah ama gue, gue berubah mengikuti apa yang pasangan gue mau supaya ada “kita” di relationship itu, dan baru-baru ini gue nyadar, kapan terakhir gue spend some time just for myself? Dan kayaknya selama ini gue selalu, or at least ngerasa, kalau gue cenderung being defined as the spouse of whoever the person I am in relationship with.”

“Hmmm. Oke. Bagusnya elo sadar sih akan hal itu.”

“Hahahaha. Sialan. Dan dari situ gue mulai mikir-mikir lagi, all these times, have I loved myself? Have we loved ourselves?

“Idih. Kenapa elo kok jadi kayak Carrie Bradshaw?”

“Errr … Whatever. Dan tau gak, gara-gara gue kebanyakan mikir, akhirnya gue bertanya-tanya lagi, jangan-jangan gue udah terlalu lama gak mencintai diri sendiri. Starting from simple things, seperti makan gorengan abis olahraga sehingga olahraga kita jadinya sia-sia, kurang tidur karena kebanyakan begadang nonton tv, gak ngerawat muka padahal umur udah tua kayak elo …”

Hey! Well, I am.”

“Hahahaha. Intinya, how can you expect others to like you when you don’t love yourself?”

“Ini maksudnya ke gue?”

“Ke mbak kasir di belakang elo. Ya ke semua. Ke gue, ke elo. I couldn’ help but wonder, have we actually ever really loved ourselves?”

“Amit-amit banci Sex and the City!”

“Hahahaha. Just to get you on your nerves.”

“Jadi sekarang elo memulai lagi to love yourself first?”

So that I don’t lose myself, yeap, bener.”

How?”

By doing this. Talking it out loud. To you, to my friend. One of the very few people I trust. Mengurangi interaksi dengan orang-orang yang bikin elo marah, alias toxic people. Baca buku. Tidur cukup. Makan sayur. Minum air putih yang banyak. Get out of the city to breathe fresh air.”

“Sibuk sekali.”

And who would’ve thought being single would still keep me occupied?”

“Hmmm. Coba tunggu sampai malam-malam di mana elo merasa kesepian, baru tau rasa!”

“Hahahaha. Itu buat curhat berikutnya, dong.”

“Tentu saja gue tunggu nanti. Cheers to yourself then!”

Cheers!”

Advertisements

Leave a Reply