Ramah Lingkungan tak Selamanya Ramah Bisnis

Tema “sustainability” atau berkesinambungan dan ramah lingkungan belakangan balik ngehits lagi. Membawa banyak kenangan akan harumnya Body Shop yang saat itu dimiliki oleh Anita Roddick. Harum sabun yang mengundang siapa pun untuk memasuki tokonya saat itu rupanya kembali semerbak sekarang.

Seminar, fashion week, bazaar, konser musik, banyak yang mengangkat tema ini. Semua pihak angkat suara menunjukkan kepeduliannya untuk kemudian sering menjadi selimut dagangannya. Ujung-ujungnya jualan. Yang paling ngehits tentunya sedotan, selain pakaian, keperluan rumah tangga, perawatan tubuh, kosmetik dan jutaan lainnya. Semuanya menggunakan isu lingkungan sebagai pancingannya.

Pastinya ini semua harus disambut baik karena bumi tempat kita tinggal memerlukan kepedulian dari penghuninya. Dan kalau kepedulian ini meningkat, bumi akan semakin berseri. Selama semua kepedulian itu tak hanya menjadi gimmick marketing saja. Yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan pedagang sementara bumi tetap buntung.

Sebagai produsen dan pedagang, penulis memahami setulusnya betapa sulitnya untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Proses pembuatan yang lebih panjang, kualitas yang sering tidak stabil, harga yang melambung adalah sebagian tantangan yang harus dihadapi. Belum lagi jejak karbon yang harus diperhitungkan ketika pengiriman barang. Limbah produksi yang seringnya kita tak tahu jelas dibuang ke mana. Karenanya salut untuk semua produsen yang dengan tulus dan jelas peduli dan menghasilkan barang yang 100% ramah lingkungan.

Apakah semua bisnis berlabel kebaikan ini akan berujung baik? Tak selalu. Ada banyak contoh kasus gagal yang kemudian berdampak tidak ramah finansial. Penyebabnya bisa banyak, tapi sepertinya mengandalkan kepedulian pembeli semata tidak cukup. Pembeli harus suka dan merasa perlu akan produknya dulu. Alasan sosial di belakangnya adalah penambah kepuasan pembeli.

Sebuah brand besar yang mengangkat tema kepedulian baru diluncurkan. Hasilnya sangat menggembirakan. Seperti layaknya produk yang baru diluncurkan hampir bisa dipastikan akan melambung. Post launch test pun dilakukan, hasilnya 98,7 persen alasan membeli bukan karena “social cause”nya, bahkan cenderung tak peduli. Tapi karena produknya memang digemari. Karena rasanya cocok selera.

Tak selamanya kesinisan harus ditanggapi, tapi sinis akan serigala berbulu domba adalah tindakan yang bijak. Baik sebagaai produsen atau pun konsumen. Produsen sekiranya harus memikirkan betul apakah produknya benar ramah lingkungan dari hulu ke hilir. Cek ricek apakah setiap proses produksinya tidak berpengaruh buruk pada alam sekitar. Benarkah bahan baku yang dibeli dari sumber yang terpercaya kelestariannya. Karena tanpa ini semua, produsen bisa dibilang menggunakan isu untuk berdagang semata.

Bukan berarti menghasilkan produk yang tidak ramah lingkungan maka tidak bisa berbisnis, tidak bisa berdagang. Semua bisnis yang dijalankan dengan baik, akan menghasilkan kebaikan untuk semua. Sementara bisnis ramah lingkungan yang tidak dijalankan dengan baik, akan menghasilkan petaka untuk semua.

Sebagai pembeli, kita harus cerdas memilih. Jangan mudah terperdaya dengan embel-embel ramah lingkungan. Filter pertama tentunya apakah barang tersebut benar diperlukan? Karena dengan mengurangi sifat konsumtif pun sudah ikut membantu memelihara bumi. Dengan terus menggunakan barang yang sudah ada di rumah saja, itu juga bagian dari merawat bumi. Konsumtif berbelanja barang berlabel ramah lingkungan selain tak ramah dompet juga tak ramah siapa pun.

Advertisements

Album Terbaik Lokal 2019

Seperti biasa di penghujung taun ini saya mencoba menyortir deretan album terbaik di taun 2019. Album terbaik ini dibagi dua tahap. Lokal dan internasional. Urutan album acak tidak album nomer satu ato bontot. Berikut daftarnya.

The Adams – Agterplaas.

Seperti judul albumnya. Mereka memang cocok didengarkan di halaman belakang rumah. Atau teras. Penyuka Weezer, apalagi album Make Believe, pasti cepet akrab dengan Agterplaas.

Elephant Kind – Greatest Ever

Vira Talisa – Primavera

Danilla – Fingers

Māna; Perbandingan yang Menjebak

COMPARISON is the death of joy,” kata Mark Twain. Dan benar saja, kita memang selalu melihat segala sesuatu dengan nilai, menjadikan nilai sebagai ukuran yang pasti berujung pada tiga kemungkinan: Lebih, sama, kurang.

Ketika itu terjadi, seperti kata Mark Twain di atas tadi, alih-alih menikmati apa yang telah kita dapatkan dan siap untuk dinikmati, kita malah sibuk “berhitung” kembali dan membanding-bandingkan. Secara sengaja, meski tanpa disadari, kita mendorong diri sendiri menjauhi potensi kegembiraan yang walau sedangkal apa pun juga tetap menyenangkan.

Image result for ego trap
Foto: spiritualityhealth.com

Setiap kali membicarakan tentang “kutukan perbandingan” ini, kita diingatkan agar selalu meningkatkan rasa syukur terhadap apa yang telah kita miliki, maupun yang baru saja diperoleh. Sebab, tak akan habis bintang dihitung, tak akan tuntas langit diukur; selalu ada yang bisa melebihi kita dalam segala hal. Namun, sebenarnya bukan itu saja. Masih ada satu aspek lainnya.

Perbandingan bisa dilakukan ke atas dan ke bawah. Dengan membandingkan ke atas, kita akan selalu merasa kurang, melihat ada yang lebih baik/banyak/bagus/besar daripada yang kita dapatkan. Bahkan dalam tingkat yang ekstrem, perbandingan ke atas membuat kita kecewa dan berkecil hati.

Sebaliknya, perbandingan ke bawah tak hanya berdampak pada diri dan mindset kita, tetapi juga perlakuan kita kepada orang lain. Bukannya merasa bersyukur, kita malah terdorong untuk merasa lebih unggul, dan pada akhirnya mengarah pada sikap sombong. Ada kejemawaan di situ, yang kerap kita sangkal saking halusnya.

Jika diamati lebih dalam, urusan membanding-bandingkan ini tak lain hanyalah upaya meninggikan diri. Derajatnya saja yang berbeda. Dari kesombongan yang terang-terangan, hingga yang paling samar dibalut berbagai narasi positif seolah-olah ditujukan kepada orang lain; seolah-olah ada manfaat yang bisa dipetik oleh orang lain.

Dengan membandingkan ke atas, kita ingin tahu “seberapa atas, sih, yang di atas itu?” Dan setelah mengetahui bahwa yang “di atas” itu begitu-begitu saja, kita justru bisa menyepelekan atau menggampangkannya. Kita menganggapnya mudah saja untuk dicapai, tidak terlampau berat, dan “kalaupun berat, toh saya pasti bisa berhasil mencapainya juga.” Akan tetapi manakala yang “di atas” tadi ternyata lebih sulit untuk dicapai, di situlah kita bisa berkecil hati dan merasa kecewa. Berkecil hati lantaran belum/tidak mendapat yang sama seperti itu, kecewa karena merasa belum/tidak punya pencapaian yang layak dibanggakan (atau disombongkan).

Begitu pula dengan membandingkan ke bawah. Kita dihadapkan dengan banyaknya situasi dan keadaan yang kurang (dibandingkan kita), serta bisa membuat kita merasa lebih baik. Dalam hal material atau kepemilikan, nilai yang diperbandingkan bisa dihitung. Masalahnya ialah ketika yang diperbandingkan merupakan sesuatu yang bersifat abstrak, katakanlah seperti merasa lebih alim, lebih budiman, lebih patut, dan sebagainya. Kita bisa dengan mudahnya berkomentar: “Oh, dia ternyata juga lebih bejat daripada aku,” yang kemudian dilanjutkan lewat ucapan, tindakan, dan perlakuan.

Membandingkan ke bawah menghasilkan kesombongan moral.

Padahal, apakah dengan merasa lebih baik dari orang lain, diri kita memang sudah benar-benar baik? Siapa yang bisa menilai itu, dan apakah penilaian tersebut sudah benar apa adanya?

Sementara itu, dalam bentuknya yang paling halus, kesombongan moral seringkali tidak berwujud kesombongan; sesuatu yang diunjukkan atau dipamerkan kepada orang lain. Ucapan-ucapan berkesan positif semacam “sekadar mengingatkan”, “semoga bisa menginspirasi”, “Kamu juga bisa seperti saya”, dan sebagainya. Posisinya jelas, bahwa saya sudah berada dalam kondisi tertentu, kamu belum, maka selamat berjuang untuk bisa seperti saya juga. Semoga berhasil.

Demikianlah kesombongan, yang dalam bahasa Sanskerta dan Pali (bahasa kasta-kasta rendah dan non-kasta) disebut māna.

There can be conceit when we think ourselves better, equal or less than someone else.

[]