Brittany Berlari Untuk Berdiri

Kurang lebih sekitar dua minggu lalu, saya menonton film Brittany Runs a Marathon di Amazon Prime. Film and aplikasi ini bisa ditonton di Indonesia secara legal. Dan filmnya sendiri memang layak ditonton. Kenapa? Karena kita bisa melihat diri kita di situ.

Filmnya diangkat dari kisah nyata. Ceritanya berpusat pada Brittany, perempuan lajang di New York, yang selalu merasa insecure dengan tubuhnya. Dia berusaha menutupi rasa tidak percaya dirinya lewat pesta, konsumsi makanan dan minuman beralkohol yang berlebihan, serta ketergantungan terhadap obat. Saat dia berusaha mendapatkan ekstra obat dari dokter, Brittany malah disuruh menurunkan berat badan agar terhindar dari penyakit.

Semakin stressed out, akhirnya Brittany memutuskan untuk berolahraga. Mulai dari lari satu blok di sekeliling apartemennya. Berhasil. Lalu dia menambah waktu berlari. Berhasil. Dia berkenalan dengan beberapa orang, termasuk tetangganya. Lalu dia ikut klub lari. Pelan-pelan akhirnya Brittany mengubah gaya hidupnya, dan mengubah pula nasib hidupnya.

Namun Brittany tak pernah lepas dari rasa insecure yang membelenggu dirinya, berpuncak pada rasa sakit yang mengharuskan dia tidak ikut marathon dan harus menunggu setahun. Saat akhirnya Brittany bisa ikut marathon di tahun berikutnya, tanpa sadar kita pun ikut cheering and rooting for her.

brittany-runs-a-marathon_empire
Brittany Runs a Marathon (source: Empire)

Tentu saja formula cerita seperti ini sudah dibuat di banyak karya seni seperti novel dan film. Contohnya karakter Bridget Jones yang sudah menghasilkan tiga film dan beberapa judul buku. Toh kita, maksudnya saya, tak pernah bisa lepas terpaku dan dalam beberapa hal, bisa terpukau, dengan cerita seperti ini.

Demikian pula saat saya menonton Brittany Runs a Marathon ini, saya seperti sempat bertanya ke diri sendiri, “Kenapa ya, saya selalu tertarik dengan cerita seperti ini?”

Lalu saya sadar, “Uh oh. I see myself in these kinds of story.

Beberapa kali saya pernah tulis di Linimasa, termasuk tulisan ini, bahwa saya pernah ada di fase saat berat badan saya melambung tinggi. Ini terjadi waktu kuliah dulu. Sayangnya dan sialnya, saya berada di lingkungan pertemanan yang kurang sehat, yang malah mem-bully saya dengan berat badan saya yang waktu itu super ekstra.

Ternyata hasil bully-an tersebut diam-diam membekas. Ternyata kita tidak pernah lepas dari hal negatif yang pernah dilontarkan ke kita, meskipun kita sudah overcome our negative thought, meskipun badan kita sudah lebih fit sekarang, meskipun kita sudah berusaha tidak melakukan apa yang pernah orang lain lakukan ke kita. The pain remains, the pain stays, the pain will not go away, we just live with it. Seperti yang pernah saya tulis, deep down, I am still that overweight college guy who thinks himself as ugly duckling.

Akhirnya perasaan ini saya curahkan pada kisah-kisah seperti Brittany ini. Ternyata saya punya soft spot terhadap cerita-cerita seperti ini. Dulu saya mulai membaca dan mengikuti novel Bridget Jones waktu kuliah, dan seperti mendapatkan oase pelampiasan lewat cerita-cerita kocaknya.

Saat ini, saya merasa badan saya sedang gemuk. Lemak di perut mulai susah disamarkan. Olahraga masih jalan terus, demikian pula dengan craving untuk makan. Cuma saya lebih santai menanggapinya. Yang penting masih terus bergerak dan berolahraga, dan berusaha makan sesuai kebutuhan saja.

Mungkin memang perlu waktu untuk bisa menerima keadaan diri kita apa adanya. Brittany juga perlu waktu untuk mengubah gaya hidupnya menjadi seorang pelari. Tentu saja ada naik turun dalam penerimaan ini. Kalau kita sakit, kita perlu beristirahat, sehingga kita tidak bisa berolahraga. Kadang-kadang kita punya bad mood, sehingga kita perlu melakukan self indulgence. Selama tidak berlebihan, it does not do any harm.

Yang penting kita tahu kapan kita perlu merawat dan mencintai diri sendiri, karena saat kita berdiri, the pride we have about ourself will show and glow.

brittany-runs-a-marathon-brittany-50r_rgb_custom-_npr
Brittany Runs a Marathon (source: NPR)
Advertisements

Apa yang Kamu Lakukan Jika Dispensermu Bocor?

KITA sedang gemar-gemarnya membicarakan tentang kepatutan dan kepantasan akhir-akhir ini. Dengan mudahnya kita menuding orang lain bertindak tidak patut, atau pun tidak pantas mendapatkan apa yang telah mereka peroleh karena beragam alasan. Padahal yang dijadikan patokan hanyalah penilaian pribadi; belum tentu benar, dan pastinya cenderung berisik.

Untuk setiap kalimat “Menurut saya, dia tidak pantas…” yang dilontarkan, wajar saja bila dijawab “Memangnya kamu siapa?” Terdengar tidak menyenangkan, memang, tetapi kian tak terhindarkan.

Setiap orang kini terkesan merasa berkewajiban moral untuk mengkoreksi orang lain. Mereka seolah-olah entitled atau sudah sepantasnya menjadi mercusuar bermodalkan kepercayaan diri berbicara lantang, kendati apa yang disampaikan bisa saja bias, keliru, sok tahu, atau sekadar upaya pencitraan diri sebagai seseorang yang berbudi lebih terpuji dibanding orang lain; panutan masyarakat. Makanya, tak heran orang-orang seperti itu bisa makin menjadi-jadi jika mendapat dukungan, apalagi sampai berupa pengikut. Mereka seakan-akan mendapat tambahan legitimasi dan entitlement agar terus bersikap sebagaimana biasanya, biar sekontroversial apa pun.

Saat ini, dukungan tak mesti hadir secara fisik. Gaya hidup digital telah memungkinkan hampir semua orang tampil dan bersuara–atau bergaya, dan direspons secara langsung. Bisa dibayangkan, serta telah dialami sendiri, betapa riuhnya jagat maya. Konsisten, konstan, dan terus dipenuhi dengan “energi” sampai sekarang. Ke mana ujungnya, atau bakal menghasilkan apa, tak ada yang sungguh-sungguh tahu.

Awal pekan, pembicaraan tentang hak istimewa yang melekat pada seseorang mengemuka dan membesar seketika. Apa pun argumentasi kritiknya, tetaplah berujung pada “Kamu/dia/mereka tidak pantas…” Lah, kalau tidak pantas, terus kamu mau gimana?

Semuanya saling bersahutan, apakah itu saling mendukung (lantaran merasa dapat backing-an atas bacot ngawur beberapa waktu sebelumnya) maupun saling serang.

Seorang penulis yang meromantisasi–apa yang terlihat sebagai–kemalangan atau kemandekan hidup orang lain sebagai perbandingan terhadap dirinya sendiri demi mengutarakan “Aku lebih baik dari mereka,” menunjukkan dukungan dan kesepahaman atas pendapat seorang sutradara mengenai kepantasan versus ketidakpantasan tersebut.

Kemudian seperangkat argumentasi tadi kembali berhadapan dengan pemikiran yang berseberangan dari beberapa figur lain. Bolak-balik, bolak-balik laiknya pertandingan tenis lapangan. Berhenti di tingkat atas, dan terus bergulir ala kadarnya di tingkat bawah.

Jadi, apa maunya?

Kita lihat saja ke depannya. Tak langsung musnah bumi ini jika pernyataanmu jadi kenyataan, atau pun sebaliknya.

Sejak beberapa hari lalu, kembali bergulir bahasan baru yang membagi para pembahas menjadi kubu “Kamu/dia tak pantas berbicara begitu” dan sebaliknya. Perhatian pun mengerucut pada; lemahnya pemahaman kontekstual, ditambah kegemaran bersikap reaktif, dan kebiasaan memodifikasi pesan demi memancing reaksi.

Padahal, apakah ada dampaknya bagi kamu?

Naga-naganya lagi, bahasan ini bakal terus mengalir sampai pengujung pekan. Kecuali bila ada “keseruan” lainnya yang mampu mengambil alih perhatian massa.

Disadari atau tidak, hal-hal di atas ya … begitu sajalah adanya, dan melelahkan. Kita seringkali lupa, kita sendiri belum tentu patut dan pantas untuk menilai kepatutan dan kepantasan orang lain. Di satu sisi, memiliki pandangan dan pendapat pribadi ialah wajar adanya. Namun, di sisi lain, pandangan dan pendapat pribadi bukanlah alat yang tepat untuk menilai orang dengan segala keadaannya.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Amati sekitar kita, dan lakukan yang perlu dilakukan.

TenorGIF

Apabila dispenser air minum bocor, apakah bisa diperbaiki atau lebih baik sekalian beli yang baru? Dispenser dengan air panas dan dingin, atau air panas dan air biasa saja? Dispenser elektrik atau dispenser keramik? Dispenser dengan galon di atas, atau galon di bawah yang risikonya akan berisik setiap kali airnya hampir habis? Ataukah pakai pompa portabel bertenaga baterai?

Apabila gemar bersepeda, coba cek apakah rantai sepeda sedang perlu diberi oli lagi, atau hanya butuh dibersihkan? Bagaimana dengan remnya? Kondisi bannya? Atau keseluruhan bodinya, sudah perlu dicuci atau dibiarkan saja?

Apabila punya beberapa baju atau celana yang kancingnya copot, apakah bisa menjahitnya sendiri, atau lebih baik dijadikan kain lap karena sudah cukup usang, atau malah mending dibuang sekalian?

Ketiga contoh di atas tak kalah pentingnya dibanding pembahasan dan debat tak berkesudahan tentang kepatutan dan kepantasan … orang lain dan kehidupan mereka. Bukan kamu.

[]

Love Yourself Supaya Tidak Lose Yourself

If you love yourself, the whole world will see it.

Demikian kurang lebih sepenggal dialog dari film Bala yang baru saja saya tonton di bioskop beberapa hari lalu. Film ini bercerita tentang seorang pria muda yang mengalami krisis percaya diri selama bertahun-tahun, karena mengalami pembotakan dini. Berbagai cara dia tempuh untuk menumbuhkan rambut, karena dia bersikeras tidak mau pakai rambut palsu. Ketika akhirnya dia sampai di titik harus memakai rambut palsu, sontak percaya dirinya tumbuh. Tentu saja karena ini cerita di film, berbagai kejadian yang tak diduga karena rambut palsunya terjadi, memaksa karakter utama berinstropeksi: apa iya jati dirinya harus diukur sebatas rambut?

Tulisan ini bukan bermaksud menganalisa film tersebut. (Filmnya sendiri sangat layak tonton, by the way.) Namun saya ingin berbagi cerita sedikit.

Beberapa hari setelah menonton film Bala tadi, saya bertemu seorang teman. Saya bercerita soal film ini. Dia sendiri bukan film buff kelas berat seperti saya, just a casual filmgoer, dan jarang menonton film Hindi. Mungkin malah tidak pernah. Tapi setelah saya ceritakan jalan cerita film ini, dia malah tertarik. Saya heran kenapa dia tiba-tiba mau nonton.

“Soalnya kalau dari cerita elo, filmnya kayak persis ama hidup gue.”

“Hah? Elo mulai botak?” Tentu saja pandangan saya pelan-pelan tertuju ke kepalanya. Believe me, this is awkward.

“Hahaha. Duh, mudah-mudahan enggak ya.”

“Terus?”

Dia terdiam sejenak. “Elo tau kan gue udah lama single?”

“Yeap. Cuma setau gue, elo gak masalah dengan itu.”

“Iya sih. But this is the first time I’ve been single after years. Selama ini kan ya hampir gak pernah ada gap, from one relationship to the next. Kalau ada something in between, ya itu biasanya rebound lah. Hahaha.”

“Busyet. Mantap! Terus?”

So I was seeing this person. As we got along, tiba-tiba di tengah jalan, kok gue ngerasa I don’t wanna do this yet. Not now. Kayak all of a sudden, ada perasaan gue yang bilang, I’ve gotta take a break. For myself. It’s not you. It’s me. I need to take care of myself first.”

“Bentar. Maksudnya? Elo gak menyakiti diri elo ‘kan?”

b85f6946a0ace6352bc6a8398b51300e
(Photo from agathesorletshop.com)

 

“Kalau maksud elo physical self infliction gitu, untungnya enggak. Cuma, gue baru sadar, selama ini gue gak attend to myself well. Yes, I’ve been continuously in relationships all the time, gak cuma most of the time, tapi ya itu berarti gue harus meet what other party needs. Gue harus berusaha supaya pasangan gue betah ama gue, gue berubah mengikuti apa yang pasangan gue mau supaya ada “kita” di relationship itu, dan baru-baru ini gue nyadar, kapan terakhir gue spend some time just for myself? Dan kayaknya selama ini gue selalu, or at least ngerasa, kalau gue cenderung being defined as the spouse of whoever the person I am in relationship with.”

“Hmmm. Oke. Bagusnya elo sadar sih akan hal itu.”

“Hahahaha. Sialan. Dan dari situ gue mulai mikir-mikir lagi, all these times, have I loved myself? Have we loved ourselves?

“Idih. Kenapa elo kok jadi kayak Carrie Bradshaw?”

“Errr … Whatever. Dan tau gak, gara-gara gue kebanyakan mikir, akhirnya gue bertanya-tanya lagi, jangan-jangan gue udah terlalu lama gak mencintai diri sendiri. Starting from simple things, seperti makan gorengan abis olahraga sehingga olahraga kita jadinya sia-sia, kurang tidur karena kebanyakan begadang nonton tv, gak ngerawat muka padahal umur udah tua kayak elo …”

Hey! Well, I am.”

“Hahahaha. Intinya, how can you expect others to like you when you don’t love yourself?”

“Ini maksudnya ke gue?”

“Ke mbak kasir di belakang elo. Ya ke semua. Ke gue, ke elo. I couldn’ help but wonder, have we actually ever really loved ourselves?”

“Amit-amit banci Sex and the City!”

“Hahahaha. Just to get you on your nerves.”

“Jadi sekarang elo memulai lagi to love yourself first?”

So that I don’t lose myself, yeap, bener.”

How?”

By doing this. Talking it out loud. To you, to my friend. One of the very few people I trust. Mengurangi interaksi dengan orang-orang yang bikin elo marah, alias toxic people. Baca buku. Tidur cukup. Makan sayur. Minum air putih yang banyak. Get out of the city to breathe fresh air.”

“Sibuk sekali.”

And who would’ve thought being single would still keep me occupied?”

“Hmmm. Coba tunggu sampai malam-malam di mana elo merasa kesepian, baru tau rasa!”

“Hahahaha. Itu buat curhat berikutnya, dong.”

“Tentu saja gue tunggu nanti. Cheers to yourself then!”

Cheers!”

Mengambil Jarak dari Penilaian Diri

SEBAGAI manusia, kita adalah makhluk yang memiliki kemampuan menilai; selalu memberikan penilaian terhadap hampir segala hal, dan menjadikan hasil penilaian tersebut dasar dalam menjalani hidup.

Dengan melakukan penilaian, kita berupaya mencari tahu dan memperbandingkan kondisi-kondisi–”ini begini, itu begitu, maka sebaiknya begini, bukan begitu“–baik melalui indra, persepsi, maupun nalar dan perenungan. Terlepas dari benar atau salah, hasil penilaian tersebut pun membuat kita condong pada salah satu sisi pemikiran, dan menolak sisi pemikiran yang berseberangan–”aku begini, bukan begitu.

Katakanlah saja, mirip dengan diagram Kartesius.

Image result for cartesian quadrant for religious view
Selalu ada empat sisi yang saling bertolak belakang (X, -X; Y, -Y), dan setiap hasil penilaian merupakan kombinasi dari dua sumbu (X dan Y).
Gambar: ThoughtCo

Saat kita condong ke salah satu sisi pemikiran tadi, kita akan cenderung melekat padanya. Kita akan merasa nyaman dengan dukungan dan pernyataan setuju dari orang lain. Perlakuan ini memperkuat dan mempertebal kesan yang kita miliki terhadap hasil penilaian tersebut. Sebaliknya kita akan merasa terusik dengan sanggahan dan penolakan dari orang lain. Penolakan ini akan kita tangkis sedemikian rupa; kita akan mempertahankan hasil penilaian yang telah kita pegang, berupaya semaksimal mungkin agar tak ada pendapat atau perspektif yang tergoyahkan, yang bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman.

Sebab, tatkala hasil penilaian yang telah kita pegang selama ini mampu digoyahkan, itu artinya kita tengah memulai penilaian ulang; proses yang baru, dan seringkali diwarnai dengan ketidaknyamanan. Posisi awal kita, bayangkan seperti di diagram Kartesius, perlahan bisa bergeser, entah lebih ke atas, lebih ke bawah, lebih ke depan, atau lebih ke belakang.

Apakah setiap manusia akan terus melakukan ini di sepanjang hidupnya?

Sekilas kita berpikir, mengira-ngira, dan menimbang-nimbang, kegiatan ini tampaknya mustahil dihindari. Kecuali oleh orang yang kehilangan kesadarannya, baik secara temporer maupun permanen berupa gangguan jiwa.

shallow focus photography of white feather dropping in person's hand
Apakah bulu itu melayang ke atas?
Apakah bulu itu melayang ke bawah?
Apakah bulu itu benar-benar melayang?
Apakah bulu itu benar-benar tidak melayang?
Foto: Javardh

Namun, ternyata tidak begitu menurut Piron, filsuf skeptisisme total. Pemikirannya tentang penyangkalan total terhadap penilaian (subjek, objek, parameter, dan variabelnya) pada abad ke-3 SM ternyata ada yang melestarikan–kendati sangat berpotensi melanggar inti pemikiran Pironisme itu sendiri, yakni penyangkalan total terhadap penilaian benar-salah, atau tepat-keliru.

Apa yang dinilai benar, belum tentu benar.
Apa yang dinilai benar, belum tentu tidak benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu tidak benar.
Apa yang dinilai benar, belum tentu benar maupun tidak benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu benar maupun tidak benar.
Apa yang dinilai benar atau tidak benar, belum tentu benar atau tidak benar.
Apa yang dinilai bukan benar atau bukan tidak benar, belum tentu benar atau tidak benar.

Bagi Piron, apa yang bisa kita jadikan pegangan, baik terhadap hal-hal di kehidupan ini, maupun penilaian anti-penilaian di atas?

Tidak ada, tidak perlu, dan sebaiknya dihindari, demi mencapai titik tengah ketenangan (equanimity) dari perasaan susah dan kekhawatiran.

Menurutnya, terbebas dari penilaian adalah sumber sekaligus ketenteraman total itu sendiri. Kebahagiaan sejati (eudaimonia).

Lalu, bagaimana biasanya seorang Pironis–seseorang yang menjalankan laku pikir ala Piron–bersikap terhadap segala sesuatu?

Menunda menyetujui, dan menahan penilaian dari mewujud dalam pikiran. Caranya, ialah melawan argumen dengan argumen, dan itu terjadi dalam benak sendiri. Meredam gejolak internal, ibarat menutup kompor milik sendiri dengan selimut basah yang juga milik sendiri.

“Rather, we should be “without views” (adoxastous), “uninclined toward this side or that” (aklineis), and “unwavering in our refusal to choose” (akradantous), saying about every single one that it no more is than it is not or it both is and is not or it neither is nor is not. The outcome for those who actually adopt this attitude, says Timon, will be first “speechlessness, non-assertion” (aphasia) and then “freedom from disturbance” (ataraxia), and Aenesidemus says pleasure.”

Aristokles, mengutip Timon, murid Piron; dan Aenesidemus, filsuf Pironis.

Baiklah.

Jadi, apakah ini adalah cara terbaik untuk menghindari ketidaknyamanan dalam menjalani hidup?

Bisa jadi iya (is), bisa jadi tidak (is not), bisa jadi iya sekaligus tidak (both is and is not), dan bisa jadi bukan iya sekaligus bukan tidak (neither is nor is not).

[]

Ramah Lingkungan tak Selamanya Ramah Bisnis

Tema “sustainability” atau berkesinambungan dan ramah lingkungan belakangan balik ngehits lagi. Membawa banyak kenangan akan harumnya Body Shop yang saat itu dimiliki oleh Anita Roddick. Harum sabun yang mengundang siapa pun untuk memasuki tokonya saat itu rupanya kembali semerbak sekarang.

Seminar, fashion week, bazaar, konser musik, banyak yang mengangkat tema ini. Semua pihak angkat suara menunjukkan kepeduliannya untuk kemudian sering menjadi selimut dagangannya. Ujung-ujungnya jualan. Yang paling ngehits tentunya sedotan, selain pakaian, keperluan rumah tangga, perawatan tubuh, kosmetik dan jutaan lainnya. Semuanya menggunakan isu lingkungan sebagai pancingannya.

Pastinya ini semua harus disambut baik karena bumi tempat kita tinggal memerlukan kepedulian dari penghuninya. Dan kalau kepedulian ini meningkat, bumi akan semakin berseri. Selama semua kepedulian itu tak hanya menjadi gimmick marketing saja. Yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan pedagang sementara bumi tetap buntung.

Sebagai produsen dan pedagang, penulis memahami setulusnya betapa sulitnya untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Proses pembuatan yang lebih panjang, kualitas yang sering tidak stabil, harga yang melambung adalah sebagian tantangan yang harus dihadapi. Belum lagi jejak karbon yang harus diperhitungkan ketika pengiriman barang. Limbah produksi yang seringnya kita tak tahu jelas dibuang ke mana. Karenanya salut untuk semua produsen yang dengan tulus dan jelas peduli dan menghasilkan barang yang 100% ramah lingkungan.

Apakah semua bisnis berlabel kebaikan ini akan berujung baik? Tak selalu. Ada banyak contoh kasus gagal yang kemudian berdampak tidak ramah finansial. Penyebabnya bisa banyak, tapi sepertinya mengandalkan kepedulian pembeli semata tidak cukup. Pembeli harus suka dan merasa perlu akan produknya dulu. Alasan sosial di belakangnya adalah penambah kepuasan pembeli.

Sebuah brand besar yang mengangkat tema kepedulian baru diluncurkan. Hasilnya sangat menggembirakan. Seperti layaknya produk yang baru diluncurkan hampir bisa dipastikan akan melambung. Post launch test pun dilakukan, hasilnya 98,7 persen alasan membeli bukan karena “social cause”nya, bahkan cenderung tak peduli. Tapi karena produknya memang digemari. Karena rasanya cocok selera.

Tak selamanya kesinisan harus ditanggapi, tapi sinis akan serigala berbulu domba adalah tindakan yang bijak. Baik sebagaai produsen atau pun konsumen. Produsen sekiranya harus memikirkan betul apakah produknya benar ramah lingkungan dari hulu ke hilir. Cek ricek apakah setiap proses produksinya tidak berpengaruh buruk pada alam sekitar. Benarkah bahan baku yang dibeli dari sumber yang terpercaya kelestariannya. Karena tanpa ini semua, produsen bisa dibilang menggunakan isu untuk berdagang semata.

Bukan berarti menghasilkan produk yang tidak ramah lingkungan maka tidak bisa berbisnis, tidak bisa berdagang. Semua bisnis yang dijalankan dengan baik, akan menghasilkan kebaikan untuk semua. Sementara bisnis ramah lingkungan yang tidak dijalankan dengan baik, akan menghasilkan petaka untuk semua.

Sebagai pembeli, kita harus cerdas memilih. Jangan mudah terperdaya dengan embel-embel ramah lingkungan. Filter pertama tentunya apakah barang tersebut benar diperlukan? Karena dengan mengurangi sifat konsumtif pun sudah ikut membantu memelihara bumi. Dengan terus menggunakan barang yang sudah ada di rumah saja, itu juga bagian dari merawat bumi. Konsumtif berbelanja barang berlabel ramah lingkungan selain tak ramah dompet juga tak ramah siapa pun.

Album Terbaik Lokal 2019

Seperti biasa di penghujung taun ini saya mencoba menyortir deretan album terbaik di taun 2019. Album terbaik ini dibagi dua tahap. Lokal dan internasional. Urutan album acak tidak album nomer satu ato bontot. Berikut daftarnya.

The Adams – Agterplaas.

Seperti judul albumnya. Mereka memang cocok didengarkan di halaman belakang rumah. Atau teras. Penyuka Weezer, apalagi album Make Believe, pasti cepet akrab dengan Agterplaas.

Elephant Kind – Greatest Ever

Vira Talisa – Primavera

Danilla – Fingers

Māna; Perbandingan yang Menjebak

COMPARISON is the death of joy,” kata Mark Twain. Dan benar saja, kita memang selalu melihat segala sesuatu dengan nilai, menjadikan nilai sebagai ukuran yang pasti berujung pada tiga kemungkinan: Lebih, sama, kurang.

Ketika itu terjadi, seperti kata Mark Twain di atas tadi, alih-alih menikmati apa yang telah kita dapatkan dan siap untuk dinikmati, kita malah sibuk “berhitung” kembali dan membanding-bandingkan. Secara sengaja, meski tanpa disadari, kita mendorong diri sendiri menjauhi potensi kegembiraan yang walau sedangkal apa pun juga tetap menyenangkan.

Image result for ego trap
Foto: spiritualityhealth.com

Setiap kali membicarakan tentang “kutukan perbandingan” ini, kita diingatkan agar selalu meningkatkan rasa syukur terhadap apa yang telah kita miliki, maupun yang baru saja diperoleh. Sebab, tak akan habis bintang dihitung, tak akan tuntas langit diukur; selalu ada yang bisa melebihi kita dalam segala hal. Namun, sebenarnya bukan itu saja. Masih ada satu aspek lainnya.

Perbandingan bisa dilakukan ke atas dan ke bawah. Dengan membandingkan ke atas, kita akan selalu merasa kurang, melihat ada yang lebih baik/banyak/bagus/besar daripada yang kita dapatkan. Bahkan dalam tingkat yang ekstrem, perbandingan ke atas membuat kita kecewa dan berkecil hati.

Sebaliknya, perbandingan ke bawah tak hanya berdampak pada diri dan mindset kita, tetapi juga perlakuan kita kepada orang lain. Bukannya merasa bersyukur, kita malah terdorong untuk merasa lebih unggul, dan pada akhirnya mengarah pada sikap sombong. Ada kejemawaan di situ, yang kerap kita sangkal saking halusnya.

Jika diamati lebih dalam, urusan membanding-bandingkan ini tak lain hanyalah upaya meninggikan diri. Derajatnya saja yang berbeda. Dari kesombongan yang terang-terangan, hingga yang paling samar dibalut berbagai narasi positif seolah-olah ditujukan kepada orang lain; seolah-olah ada manfaat yang bisa dipetik oleh orang lain.

Dengan membandingkan ke atas, kita ingin tahu “seberapa atas, sih, yang di atas itu?” Dan setelah mengetahui bahwa yang “di atas” itu begitu-begitu saja, kita justru bisa menyepelekan atau menggampangkannya. Kita menganggapnya mudah saja untuk dicapai, tidak terlampau berat, dan “kalaupun berat, toh saya pasti bisa berhasil mencapainya juga.” Akan tetapi manakala yang “di atas” tadi ternyata lebih sulit untuk dicapai, di situlah kita bisa berkecil hati dan merasa kecewa. Berkecil hati lantaran belum/tidak mendapat yang sama seperti itu, kecewa karena merasa belum/tidak punya pencapaian yang layak dibanggakan (atau disombongkan).

Begitu pula dengan membandingkan ke bawah. Kita dihadapkan dengan banyaknya situasi dan keadaan yang kurang (dibandingkan kita), serta bisa membuat kita merasa lebih baik. Dalam hal material atau kepemilikan, nilai yang diperbandingkan bisa dihitung. Masalahnya ialah ketika yang diperbandingkan merupakan sesuatu yang bersifat abstrak, katakanlah seperti merasa lebih alim, lebih budiman, lebih patut, dan sebagainya. Kita bisa dengan mudahnya berkomentar: “Oh, dia ternyata juga lebih bejat daripada aku,” yang kemudian dilanjutkan lewat ucapan, tindakan, dan perlakuan.

Membandingkan ke bawah menghasilkan kesombongan moral.

Padahal, apakah dengan merasa lebih baik dari orang lain, diri kita memang sudah benar-benar baik? Siapa yang bisa menilai itu, dan apakah penilaian tersebut sudah benar apa adanya?

Sementara itu, dalam bentuknya yang paling halus, kesombongan moral seringkali tidak berwujud kesombongan; sesuatu yang diunjukkan atau dipamerkan kepada orang lain. Ucapan-ucapan berkesan positif semacam “sekadar mengingatkan”, “semoga bisa menginspirasi”, “Kamu juga bisa seperti saya”, dan sebagainya. Posisinya jelas, bahwa saya sudah berada dalam kondisi tertentu, kamu belum, maka selamat berjuang untuk bisa seperti saya juga. Semoga berhasil.

Demikianlah kesombongan, yang dalam bahasa Sanskerta dan Pali (bahasa kasta-kasta rendah dan non-kasta) disebut māna.

There can be conceit when we think ourselves better, equal or less than someone else.

[]