Hidup: Koreksi Tiada Henti

DAN kalau tulisan-tulisan di Linimasa yang dulu-dulu kita remake lagi, setuju nggak?”

Itu kalimat penutup tulisan Mas Nauval, pekan lalu. Cukup menggoda untuk dilakukan, sih, tetapi saya ingin lebih melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu, paduan antara waktu yang bergulir, pandangan, dan penerimaan kita. Dalam konteks Linimasa–maupun tulisan-tulisan lain pada umumnya–yang terjadi bukanlah sekadar remake buah-buah pikiran, melainkan perubahan-perubahan yang saling berhubungan. Segalanya selalu direvisi, mengalami peningkatan dan perkembangan.

Remake tulisan bukan sekadar perkara menghangatkan sesuatu yang sama dari masa lalu, supaya tidak basi dan bisa dinikmati kembali oleh orang-orang yang berbeda. Pasalnya, sepanjang waktu yang berlalu sejak tulisan dan ide itu dituangkan pertama kali, pemikiran si penulis berubah, dipengaruhi kondisi sosial budaya di sekitarnya. Perikehidupan manusia dan masyarakat berubah cukup drastis.

Contohnya, dahulu para gadis dan wanita hanya bisa terdiam malu, menunggu untuk ditanya barulah bisa memberikan jawaban, itu pun secara terbatas, serta dianggap tak patut jika mengutarakan keinginan terlebih dahulu. Kini, semua perubahan yang terjadi terkait itu tak lagi dianggap keanehan semata, banyak yang bahkan membudayakannya, merayakannya. Maka segala ide dan tulisan berkenaan dengan hal tersebut, sudah semestinya ditinjau kembali. Mengalami proses sintesisnya lagi. Direvisi. Di-remake.

Remake tulisan pun bukan sekadar benar dan salah secara kaku; pemikiran yang sebelumnya salah, pemikiran yang sekarang benar, sehingga pemikiran yang sebelumnya harus dilupakan dan ditinggalkan sepenuhnya.

Rumus sederhananya, sebuah kesalahan barulah menjadi kesalahan ketika ada yang menyanggahnya, mengkritisinya atas dasar banyak hal. Dari sisi etika, manfaat, efektivitas dan efisiensi dalam kehidupan kita.

Maksudnya begini, kita akan sangat awam, abai, dan tidak tahu bahwa sesuatu itu keliru atau salah, sebelum ada argumentasi yang menunjukkannya demikian. Terutama terhadap aspek-aspek baru yang belum pernah terpikirkan dalam kurun puluhan tahun.

Contohnya, sampai lebih dari 20 tahun lalu, pendidikan formal di sekolah diarahkan untuk menghasilkan calon-calon tenaga kerja. “Bersekolah yang baik, cari kerja di tempat yang bagus, pastikan ada fasilitas pensiun, dan menualah dalam ketenteraman yang terjamin.” Itu sebabnya berbondong-bondong mencoba menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS, kini Aparatur Sipil Negara-ASN). Kemudian, sebuah pemikiran baru muncul yang mengedepankan pentingnya mengejar sang renjana, passion dalam berkarya. Ada yang awalnya menjadi seorang karyawan, cukup produktif dan berprestasi, lalu seakan-akan menemukan renjananya. Lewat pemikiran dan serangkaian pertimbangan, dia akhirnya memutuskan berhenti dari tempat kerja untuk berkonsentrasi pada usahanya. Dia mengambil langkah berani, melepaskan kenyamanan agar bisa berkembang lebih besar tanpa batasan. Namun, seiring berjalannya waktu, pasang surut dia alami. Ada masanya dia merasa tercekik, dan berandai-andai terhadap masa lalunya sebagai karyawan. Mungkin apabila masih bertahan, dia sudah menjadi seorang manajer, atau bahkan VP. Ada pelajaran baru tentang rencana, renjana, dan realita.

Dari ilustrasi di atas, ada proses koreksi internal di sana. Bukan semata-mata perkara ini benar, itu salah yang kaku. Lebih kepada pemahaman dan pengertian yang lebih luas. Mau jadi karyawan, pemberi pekerjaan, pekerja tunggal dan lepas, atau bahkan menjadi seseorang yang tidak ingin terikat dengan batasan-batasan berpenghasilan dan berpenghidupan, semuanya sah-sah saja. Kenyataan dan pengalaman hidup menjadi referensi dalam memilih langkah selanjutnya.

Selain tentang pekerjaan dan passion di atas, contoh-contoh lainnya bertebaran di sekeliling kita. Yang dahulu dianggap baik, ternyata belum tentu seterusnya baik di saat ini. Misalnya, dahulu: Menjadi religius itu dianggap baik; kini; Religiusitas cenderung konservatif dan membuta. Perspektif pembahasan tentang isu ini sudah melebar, aspek-aspeknya pun berjenjang lebih panjang. Tak bisa divonis semata-mata benar versus salah.

Ko Glenn pernah berbagi cerita, dan menuliskannya di Linimasa, beberapa tahun lalu. Salah satu hal yang dihindari lewat menulis di blog adalah konfrontasi dan klarifikasi. Rekam jejak digital yang bisa dibaca sewaktu-waktu membekukan pemikiran kita pada saat itu. Bisa saja saat ini, beberapa waktu selepasnya, kita sudah memiliki pandangan berbeda terhadap hal tersebut. Kita pun bisa dihadapkan pada pertanyaan: “Mengapa bisa berpikiran seperti itu?” Baik dari diri sendiri, maupun orang lain. Proses koreksi telah terjadi, kendati tak selalu dituangkan dalam tulisan kembali. Menghasilkan remake. Toh, keputusan untuk menulis revisinya atau tidak, sepenuhnya kembali kepada si pemilik pemikiran dan tulisan.

…dan demikian, kehidupan kita tak ubahnya sebuah rangkaian proses koreksi, revisi, termasuk remake tiada henti. Coba saja simak tulisan-tulisan sebelumnya di Linimasa. Hampir semuanya berkelanjutan, sebagai cerita, cerita yang melibatkan hati, pun sebagai topik-topik yang mencuat kembali.

[]

Advertisements

2 thoughts on “Hidup: Koreksi Tiada Henti

  1. Udah lama banget aku nggak baca Linimasa. Kayaknya terakhir setahun yang lalu. I have seen changes, dari tulisan-tulisan yang berubah pola sampai penulis-penulis baru. Tapi yang masih kentara ya konsistensi dari penulis-penulis Linimasa dalam menuangkan isi pikirannya untuk pembaca.

    Nulis terus, ya! <3

Leave a Reply