“Berisik!”

NUN, empat biksu sedang berlatih bersama. Mereka berikhtiar menjalani meditasi dalam bisu atau tanpa bicara selama dua minggu.

Malam hari pertama tiba. Mereka melanjutkan meditasi, berusaha berkonsentrasi dan mawas diri dalam posisi bersila dengan diterangi cahaya lilin.

Semilir angin malam berembus. Tidak terlalu kencang, tetapi cukup kuat untuk membuat api padam. Hingga beberapa waktu kemudian, api lilin mati dan ruangan pun menjadi gelap gulita.

Related image
Foto: Buddha Eye Temple

Salah satu biksu sontak berucap: Yah… lilinnya mati.
Ditanggapi biksu kedua: Bukankah kita tak boleh berbicara, ya?
Biksu ketiga kemudian bergumam: Kalian berisik!
Terakhir, biksu keempat berbicara dengan nada bangga: Aha! Hanya saya yang tidak berbicara.


Bisakah kita melihat diri kita sendiri dalam salah satu kisah Koan* di atas? Apakah kita menjadi biksu pertama, kedua, ketiga, atau yang keempat dalam kehidupan sehari-hari?

Biksu pertama adalah orang-orang yang sekadar mengekspresikan perasaan terhadap sesuatu. Seringkali memberikan respons secara spontan, refleks, reaktif, bahkan eksplosif tanpa sempat dipertimbangkan matang-matang.

Biksu kedua adalah orang-orang yang terpancing memberikan respons terhadap tindakan biksu pertama, atau orang lain. Mengingatkan saya dengan tren gerakan “Sekadar Mengingatkan 🙏🏽” yang marak di media sosial akhir-akhir ini. Dengan mampu mengingatkan orang lain, mereka cenderung merasa sudah benar. Baik secara konten, yakni tentang hal yang mereka ingatkan, juga secara konteks, mengenai tindakan mereka yang mengingatkan orang lain.

Biksu ketiga adalah orang-orang yang merasa terganggu dengan kebisingan tersebut. Mereka tengah berupaya mencapai sesuatu, tetapi dalam prosesnya malah terpapar dan turut terusik dengan pertentangan yang berlangsung. Mereka pun cenderung merasa benar, lantaran melihat dua pihak yang lain telah berlaku salah. Tanpa sadar, mereka turut melakukan kesalahan.

Sementara biksu keempat adalah orang-orang yang merasa lebih unggul, merasa memiliki posisi argumentatif yang lebih baik dibanding kelompok-kelompok lainnya dengan berbagai alasan. Beberapa di antaranya seperti merasa lebih pandai, lebih bijaksana, lebih cerdas, lebih berilmu; lebih tangguh dan lebih tahan banting; lebih berkelas dan lebih sophisticated; termasuk juga merasa lebih religius dan saleh; lebih alim dan lebih rajin beribadah; lebih paham tentang peraturan-peraturan tata cara keagamaan, serta sebagainya.

Ilusi ego.

Bagi kita yang terbiasa melihat segalanya secara biner, hanya mengenal benar dan salah secara absolut, keempat biksu tadi gagal dalam ikhtiarnya. Mereka melakukan kesalahan, melanggar ketentuan yang telah digariskan atau disepakati akibat dorongan emosional dan ketidaktahuan mereka sendiri.

Biksu pertama melakukan kesalahan karena hanyut dalam gelombang perasaan. Sensasinya serupa dengan keceplosan, berceletuk, menyumpah, dan sejenisnya. Ada banyak orang yang masih bisa memakluminya sebagai ketidaksengajaan, tetapi ada juga banyak orang lain yang langsung terpancing atau tersulut menanggapinya (biksu kedua, biksu ketiga, dan biksu keempat).

Entah benar atau salah, demikianlah yang kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua orang–termasuk diri kita sendiri–ikut berkoar-koar senyaring mungkin terhadap banyak hal, seakan-akan koar yang kita teriakkan ialah pembeda keadaan, sekaligus penyelamat orang lain. Sekali lagi tanpa menyadari bahwa justru akan menjadi sama saja dengan yang lainnya.


Kisah Koan di atas biasanya hanya diakhiri dengan celetukan biksu keempat, tanpa ada kelanjutannya. Mereka berempat sedang berlatih meditasi, dan sudah gagal di malam pertama atas kesalahan yang amat dangkal, amat sepele.

Padahal, mereka masih memiliki 13 malam berikutnya untuk terus belajar mengawasi batin dan diri sendiri, agar mampu hening, dan bertindak tanpa gejolak.

Begitulah. Pengertian tumbuh seiring berjalannya waktu dan sebanyak-banyaknya pengalaman.

https://scontent-atl3-1.cdninstagram.com/vp/7b855938b51b72d9d31e4369e8a585de/5D83CDF9/t51.2885-15/e35/59796849_298219671087879_3317711070926421868_n.jpg?_nc_ht=scontent-atl3-1.cdninstagram.com
Foto: Deskgram

[]

*Koan: Kisah ilustratif dan anekdotal untuk pemahaman praktik Zen, sebagiannya tercatat berupa peristiwa yang terjadi/dialami oleh para guru dan sesepuh, dan sebagiannya lagi bersifat teka-teki absurd.

Advertisements

Leave a Reply