Membaca di Dalam Bus TransJakarta, dan Dua Orang Asing yang Saling Berbagi Cerita

HAMPIR pukul setengah sebelas, tadi malam, dan saya masih belum tahu ingin menulis apa untuk Linimasa. Namun, kesan yang tertinggal dari kejadian kemarin pagi tetap kuat terasa, karena merupakan sesuatu yang tidak pernah dialami sebelumnya.

Memanfaatkan waktu tempuh dalam perjalanan menuju kantor setiap pagi, saya terkadang membaca buku bila memungkinkan. Selama penumpang tidak terlalu berjejalan hingga berhimpit-himpitan, apalagi kalau sudah mengerti selanya, akan ada cukup ruang untuk mengangkat dan membaca buku di dalam bus TransJakarta, meski sambil berdiri dengan salah satu tangan memegang tali penyangga sekalipun. Ini sebabnya, saya lebih menyukai buku-buku edisi saku–sebenarnya hanya sedikit lebih kecil dibanding ukuran buku pada umumnya–yang lebih nyaman dibawa-bawa, serta cukup mudah saat membalik halaman-halamannya.

Kemarin, saya baru mulai membaca “1984” versi terjemahan bahasa Indonesia. Menaiki armada TransJakarta yang panjang dan terdiri dari tiga bagian, saya cukup nyaman berdiri dan bersandar di area sambungan yang mirip tarikan akordeon. Agak gelap, memang, tetapi setidaknya bisa memegang buku dengan kedua tangan.

Seperti biasanya, jumlah penumpang terus bertambah dari setiap halte, bikin makin sempit ditambah bau badan yang lumayan kencang. Lewat dari Halte Grogol 1, barulah situasi berangsur kondusif, dan saya bisa bergeser ke belakang bus mencari pegangan kosong serta meneruskan membaca.

“1984”

Melewati RS Sumber Waras, seorang penumpang yang duduk tak jauh dari posisi saya berdiri membuka maskernya lalu sekonyong-konyong berkata: “Baca ‘Nineteen Eighty-Four’ juga, ya?” sambil tersenyum dan menunjuk sampul depan buku di tangan saya. Sempat tidak menyadari ada yang mengajak bicara, saya copot salah satu earphone, buru-buru menjawab “iya”, dan langsung dia respons: “Bukunya itu bagus banget!” Ada buku Andrea Hirata bersampul hitam kuning yang ia pegang di atas pangkuannya; telunjuk kanannya terselip di halaman yang tampaknya tengah ia baca.

Perbincangan di antara kami, dua orang asing yang bahkan tidak menanyakan nama satu sama lainnya, terus berlanjut sekira 10 menit. Kurang lebih dari atas Flyover Roxy sampai akhirnya bus kami tiba di Halte Harmoni. Dia mengemukakan tentang betapa briliannya George Orwell, sang penulis, menggambarkan imajinasi mengenai masa depan manusia. Pendapat yang saya amini, lantaran Orwell sudah laiknya seorang futuris. Ia menggunakan cakupan perspektif dan wawasan seorang warga terpelajar London pasca Perang Dunia Kedua, tahun 1949, mencoba menerka apa yang akan terjadi 35 tahun ke depan lewat berbagai terpaan gejolak ekonomi politik pada manusia.

Pernyataan dan tanggapan terus bersambutan, dan begitu seterusnya. Dia menyarankan untuk lanjut membaca “Animal Farm”, novel legendaris lain yang berkutat pada sosialisme dan komunisme, yang kerap disandingkan dengan “1984”. Dia juga mengutarakan kekagumannya terhadap trivia mengenai Newspeak, salah satu objek minor cerita yang berkaitan dengan pola berbahasa dalam plotnya … serta masih banyak lainnya, sampai ia harus turun dan berganti bus, dan kita sama-sama mengakhiri obrolan dengan: “Nice talking to you…”

Dari sini, Jakarta ternyata tetap bisa menjadi kota yang membuat orang-orang asing, penghuninya, merasa baik-baik saja.

Satu hal yang menjadi penyesalan, saya lupa membuka masker di sepanjang pembicaraan.

Sungguh tidak sopan.

[]

Advertisements

Liburan Pun Perlu Disiplin

Saat ini, saya sedang dalam masa rehat, atau break sementara. Ada masa transisi antara periode proyek sebelumnya dan periode yang akan datang. Tahun lalu, alih-alih beristirahat, periode ini malah saya gunakan untuk traveling yang masih ada kaitannya dengan kerjaan. Alhasil, periode proyek yang baru saja berlalu kemarin terasa melelahkan saat dijalani. Rasa lelah ini bahkan masih terasa sampai proyek tersebut selesai. Oleh karena itu, maka saya memutuskan untuk take a break sebentar, sebelum project cycle berikutnya dimulai.

Apa yang dilakukan di masa rehat ini? Sebenarnya sesimpel tidak menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Surat elektronik, update informasi di grup percakapan, atau dalam konteks profesi saya, tautan video preview yang perlu dilihat dan dianalisa. Semua hal ini sejatinya tidak perlu dilihat atau dibaca dulu.

Pertanyaan berikutnya adalah, mungkinkah ini bisa dilakukan? Lagi-lagi dalam kasus saya, ternyata berat untuk melepas kebiasaan ini. Apalagi kalau kebiasaan tersebut sudah dilakukan selama berbulan-bulan sampai menjadi suatu kebiasaan. Tahu ‘kan sebuah perkataan yang bilang kalau ingin menjadikan sesuatu kegiatan sampai menjadi kebiasaan, kita perlu melakukannya secara rutin minimal selama 3 minggu? Apalagi kalau sudah berbulan-bulan, kebiasaan pun sudah menjadi gaya hidup.

WD44GF6EM5AEXLZPYBONLOW4LE
(source: washingtonpost.com)

 

Susah untuk tidak membaca, atau sekedar melihat, email yang ada kaitannya dengan pekerjaan, saat kita membuka email dari aplikasi traveling untuk mengganti kata kunci. Mau tidak mau mata kita sempat melirik chat baru dari grup kerjaan, padahal kita lagi janjian untuk ketemu teman-teman di grup lain. Godaan untuk nge-click video preview sungguh sangat besar saat mulai mati gaya, karena lagi malas menonton film dan serial di berbagai aplikasi lain.

Kalau sudah begitu, maka mau tidak mau, saya harus pasang target pribadi. Harus selesai baca 3 novel dalam sebulan ini. Novelnya pun sudah ditentukan sendiri yang mana saja, karena kalau tidak ditentukan, akan mudah tergoda atau terdistraksi dengan bacaan lain.

Saya harus menyelesaikan beberapa serial televisi, terutama yang sudah dinominasikan untuk Emmy Awards, sebelum penghargaan tersebut diberikan di bulan September.

Harus bepergian di luar kepentingan profesi atau pekerjaan, sesimpel pergi ke luar kota yang jaraknya 1-2 jam dari rumah.

Setelah menyusun semua rencana tersebut, baru kita sadar, kalau kita pun perlu punya disiplin tinggi dalam menentukan atau merancang liburan, dan juga di saat menjalani liburan tersebut.

Kenapa begitu?

Karena relaxed and chill saat liburan perlu disiapkan dan diatur sebelumnya.

Hidup: Koreksi Tiada Henti

DAN kalau tulisan-tulisan di Linimasa yang dulu-dulu kita remake lagi, setuju nggak?”

Itu kalimat penutup tulisan Mas Nauval, pekan lalu. Cukup menggoda untuk dilakukan, sih, tetapi saya ingin lebih melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu, paduan antara waktu yang bergulir, pandangan, dan penerimaan kita. Dalam konteks Linimasa–maupun tulisan-tulisan lain pada umumnya–yang terjadi bukanlah sekadar remake buah-buah pikiran, melainkan perubahan-perubahan yang saling berhubungan. Segalanya selalu direvisi, mengalami peningkatan dan perkembangan.

Remake tulisan bukan sekadar perkara menghangatkan sesuatu yang sama dari masa lalu, supaya tidak basi dan bisa dinikmati kembali oleh orang-orang yang berbeda. Pasalnya, sepanjang waktu yang berlalu sejak tulisan dan ide itu dituangkan pertama kali, pemikiran si penulis berubah, dipengaruhi kondisi sosial budaya di sekitarnya. Perikehidupan manusia dan masyarakat berubah cukup drastis.

Contohnya, dahulu para gadis dan wanita hanya bisa terdiam malu, menunggu untuk ditanya barulah bisa memberikan jawaban, itu pun secara terbatas, serta dianggap tak patut jika mengutarakan keinginan terlebih dahulu. Kini, semua perubahan yang terjadi terkait itu tak lagi dianggap keanehan semata, banyak yang bahkan membudayakannya, merayakannya. Maka segala ide dan tulisan berkenaan dengan hal tersebut, sudah semestinya ditinjau kembali. Mengalami proses sintesisnya lagi. Direvisi. Di-remake.

Remake tulisan pun bukan sekadar benar dan salah secara kaku; pemikiran yang sebelumnya salah, pemikiran yang sekarang benar, sehingga pemikiran yang sebelumnya harus dilupakan dan ditinggalkan sepenuhnya.

Rumus sederhananya, sebuah kesalahan barulah menjadi kesalahan ketika ada yang menyanggahnya, mengkritisinya atas dasar banyak hal. Dari sisi etika, manfaat, efektivitas dan efisiensi dalam kehidupan kita.

Maksudnya begini, kita akan sangat awam, abai, dan tidak tahu bahwa sesuatu itu keliru atau salah, sebelum ada argumentasi yang menunjukkannya demikian. Terutama terhadap aspek-aspek baru yang belum pernah terpikirkan dalam kurun puluhan tahun.

Contohnya, sampai lebih dari 20 tahun lalu, pendidikan formal di sekolah diarahkan untuk menghasilkan calon-calon tenaga kerja. “Bersekolah yang baik, cari kerja di tempat yang bagus, pastikan ada fasilitas pensiun, dan menualah dalam ketenteraman yang terjamin.” Itu sebabnya berbondong-bondong mencoba menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS, kini Aparatur Sipil Negara-ASN). Kemudian, sebuah pemikiran baru muncul yang mengedepankan pentingnya mengejar sang renjana, passion dalam berkarya. Ada yang awalnya menjadi seorang karyawan, cukup produktif dan berprestasi, lalu seakan-akan menemukan renjananya. Lewat pemikiran dan serangkaian pertimbangan, dia akhirnya memutuskan berhenti dari tempat kerja untuk berkonsentrasi pada usahanya. Dia mengambil langkah berani, melepaskan kenyamanan agar bisa berkembang lebih besar tanpa batasan. Namun, seiring berjalannya waktu, pasang surut dia alami. Ada masanya dia merasa tercekik, dan berandai-andai terhadap masa lalunya sebagai karyawan. Mungkin apabila masih bertahan, dia sudah menjadi seorang manajer, atau bahkan VP. Ada pelajaran baru tentang rencana, renjana, dan realita.

Dari ilustrasi di atas, ada proses koreksi internal di sana. Bukan semata-mata perkara ini benar, itu salah yang kaku. Lebih kepada pemahaman dan pengertian yang lebih luas. Mau jadi karyawan, pemberi pekerjaan, pekerja tunggal dan lepas, atau bahkan menjadi seseorang yang tidak ingin terikat dengan batasan-batasan berpenghasilan dan berpenghidupan, semuanya sah-sah saja. Kenyataan dan pengalaman hidup menjadi referensi dalam memilih langkah selanjutnya.

Selain tentang pekerjaan dan passion di atas, contoh-contoh lainnya bertebaran di sekeliling kita. Yang dahulu dianggap baik, ternyata belum tentu seterusnya baik di saat ini. Misalnya, dahulu: Menjadi religius itu dianggap baik; kini; Religiusitas cenderung konservatif dan membuta. Perspektif pembahasan tentang isu ini sudah melebar, aspek-aspeknya pun berjenjang lebih panjang. Tak bisa divonis semata-mata benar versus salah.

Ko Glenn pernah berbagi cerita, dan menuliskannya di Linimasa, beberapa tahun lalu. Salah satu hal yang dihindari lewat menulis di blog adalah konfrontasi dan klarifikasi. Rekam jejak digital yang bisa dibaca sewaktu-waktu membekukan pemikiran kita pada saat itu. Bisa saja saat ini, beberapa waktu selepasnya, kita sudah memiliki pandangan berbeda terhadap hal tersebut. Kita pun bisa dihadapkan pada pertanyaan: “Mengapa bisa berpikiran seperti itu?” Baik dari diri sendiri, maupun orang lain. Proses koreksi telah terjadi, kendati tak selalu dituangkan dalam tulisan kembali. Menghasilkan remake. Toh, keputusan untuk menulis revisinya atau tidak, sepenuhnya kembali kepada si pemilik pemikiran dan tulisan.

…dan demikian, kehidupan kita tak ubahnya sebuah rangkaian proses koreksi, revisi, termasuk remake tiada henti. Coba saja simak tulisan-tulisan sebelumnya di Linimasa. Hampir semuanya berkelanjutan, sebagai cerita, cerita yang melibatkan hati, pun sebagai topik-topik yang mencuat kembali.

[]

Ribut-Ribut Reboot Karena Remah-Remah Remake

Semalam saya menonton film The Lion King versi terbaru tahun 2019. Kekhawatiran saya setelah melihat trailernya beberapa bulan silam, ternyata terbukti. Terus terang, saya tidak terlalu menyukai versi baru film ini. Menurut saya, tidak menawarkan sesuatu yang baru. Bahkan setelah 30 menit pertama, dan setelah menyadari bahwa versi terbaru ini hampir shot-by-shot remake dari versi animasi tahun 1994, saya langsung berpikir, “Kenapa harus di-remake sih, kalau nggak ada sesuatu yang baru? Why can’t they just leave the animated version alone?”

Saking nggak konsennya menonton film itu, saya lantas berpikir dan menghitung. Tahun 1994 itu terjadi 25 tahun lalu. Orang-orang seusia saya yang pernah menonton versi animasi film ini di bioskop pada saat itu, yang notabene berada di usia sekolah, kebanyakan sekarang sudah berkeluarga. Kebanyakan mempunyai anak atau keponakan yang sekarang sedang berada di formative years, atau usia perkembangan. Setelah menyadari hal itu, maka lantas saya berpikir, mungkinkah sebuah karya seni dibuat ulang setelah melampaui batas waktu tertentu, dalam hal ini dua dekade?

Biasanya kita asumsikan satu dekade sama dengan satu generasi. Dua dekade berarti dua generasi. Dalam kurun waktu ini, seseorang sudah bisa tumbuh dari duduk di bangku sekolah, lalu bekerja, dan berkeluarga, lantas mempunyai keturunan. Mungkin saja dia punya keinginan untuk membagi apa yang dia pernah nikmati waktu kecil, lalu meneruskan ke keturunannya, dalam hal ini anak, atau keponakan, atau murid, atau siapapun yang berada di dua generasi di bawahnya.

077524500_1542947121-simba_1
The Lion King (2019) (sumber: liputan6.com)

 

Hal ini benar-benar ditangkap Disney, yang belakangan sibuk melihat katalog film animasi dari beberapa dekade lampau untuk dibuat ulang dalam bentuk live action film. Tahun ini sendiri saja ada Aladdin selain The Lion King. Dua tahun lalu ada Beauty and the Beast. Tahun depan ada Mulan. Tahun depan juga ada The Little Mermaid.

Sah-sah saja. Apalagi memang tidak ada lagi orisinalitas di dunia ini. Sebuah cerita atau karya seni hanya bisa bertahan hidup dari generasi ke generasi apabila ia direka ulang dalam bentuk yang berbeda. Cerita Aladdin adalah bagian dari hikayat 1.001 cerita malam. Cerita The Lion King terinspirasi dari “Hamlet” karya William Shakespeare. Demikian pula dengan berbagai katalog film Disney lainnya, yang bersumber dari dongeng-dongeng dunia yang sudah dipermak dan diubah sedemikian rupa agar bisa dinikmati anak-anak. Mau tidak mau juga, reka ulang sebuah karya seni juga mengikuti perkembangan jaman. Makanya, ada lagu “Speechless” di Aladdin, atau porsi peran karakter Nala diperbesar di versi The Lion King terbaru kali ini.

Hanya saja, mungkin yang masih perlu diikutkan dalam setiap reka ulang karya seni adalah emosi dan jiwa yang menghidupkan sebuah karya. Persoalan yang tidak mudah, sangat tricky, mengingat penilaian hal ini sangat subyektif. Apalagi beda generasi, tentu saja beda jenis persepsi, karena waktu dan lingkungan yang mempengaruhi persepsi ini sudah berubah dan berkembang.

Kalau sudah begitu, saya cuma bisa berharap, semoga generasi baru yang menikmati tontonan reka ulang dan reka buat ini, memang benar-benar menikmati film-film tersebut. Dan bisa menginspirasi mereka untuk membuat apresiasi, lewat vlog atau lewat karya lain, yang sama baiknya, atau malah lebih baik.

Dan kalau tulisan-tulisan di Linimasa yang dulu-dulu kita remake lagi, setuju nggak?

“Cowok itu, enggak mesti ganteng…”

“COWOK itu, enggak mesti ganteng. Enggak peduli umurnya sudah 30 tahun, kek, 40 tahun, kek, pasti tetap gampang kalau mau kawin (menikah). Yang penting mapan, duitnya ada, cukup buat ngapa-ngapain.”

Sepupu, wanita, ngomong begitu, kalau tidak salah ingat, sembari mematah buku-buku kaki kepiting masak saus Padang berukuran sedang untuk kemudian diisap daging yang ada di dalam rongga kakinya. Beberapa tahun lalu. Jauh sebelum saya pindah kota.

Ini tipikal pembicaraan yang mengumandang di atas meja makan setelah sesi makan malam bersama kerabat dan famili tanpa merayakan, atau memperingati sesuatu secara spesifik. Yang dibincangkan pun tidak jauh-jauh dari urusan manusia. Termasuk pekerjaan, hubungan berpacaran, pernikahan, suasana rumah tangga, hubungan orang tua dan anak, masa depan anak, kekayaan dan capaian-capaian sosial … orang lain, intrik-intrik internal, serta masih banyak lagi lainnya.

Saya berasumsi, barangkali sebagian orang di ruang makan waktu itu setuju dengan pernyataan tersebut. Tidak ada respons atau tanggapan khusus yang dilontarkan. Tidak ada sanggahan, tidak pula penolakan. Hanya kelihatan dua tante yang, entah, agak manggut-manggut sambil mengupas dan makan buah, mungkin relevan bagi mereka. Sementara saya sendiri, berdiri di salah satu sisi sambil memegang gelas berisi soda, terlampau kenyang untuk terlalu peduli dan menggubris percakapan lebih jauh. Hanya berceletuk sekenanya.

Bertahun-tahun sudah lewat, dan seringkali tercetus pertanyaan internal tentang (1) apakah para wanita memang serentan (vulnerable) itu? Terus-menerus diidentikkan dengan keterbatasan sosial, keterbatasan fisiologis, dan keterbatasan emosional.

Tentang keterbatasan sosial, meliputi;

– Apakah hanya wanita yang dituntut untuk selalu concerned atau “bersiaga” dengan penampilannya, tampilan fisiknya, atau riasannya di hampir sepanjang waktu, terlepas dari preferensinya? Sebelum menikah, setelah menikah, setelah punya anak, atau pun setelah menjadi ibu rumah tangga.

Berkebalikan dengan itu, apakah satu-satunya hal yang harus diprioritaskan para pria ialah cari uang, cari uang, cari uang, dan jadi kaya, supaya–setidaknya–bisa menikahi tanpa kesulitan, serta menjamin kehidupan yang stabil di masa depan?

– Apakah hanya wanita yang bisa “dinikahi”, mengambil posisi pasif sebagai pemberi jawaban? Tak bisakah wanita yang “menikahi”, menjadi yang mengajukan keinginan?

– Bagaimana seharusnya sikap dan posisi para wanita terhadap “kepatuhan”, “ketaatan”, dan “pelayanan” terutama dalam hubungan, atau pernikahan?

– Bagaimana seharusnya sikap dan posisi para wanita terhadap tuntutan sosial agar menikah dalam kondisi-kondisi tertentu (seperti menikah sebelum dianggap tua; menikah dengan seseorang yang socially acceptable; kemudian bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik tanpa menghabiskan waktu di luar rumah jauh dari anak; berkeinginan dan mampu memiliki anak; memberikan asi; dan seterusnya).

Tentang keterbatasan fisiologis, misalnya;

– Terlepas dari kondisi alamiah yang memang demikian adanya, mengapa para wanita harus terus terpapar dengan narasi “masa kedaluwarsa”? Apakah dalam pernikahan, semua wanita harus hamil dan memiliki anak? Intinya, kalau sudah “kedaluwarsa”, so what?

– Lagi, terlepas dari preferensinya, bagaimana seharusnya seorang wanita memandang dan memperlakukan tubuhnya, katakanlah setelah melahirkan? Dalam hal ini, tubuhnya tidak sekadar tampilan fisik, melainkan juga situasi hormonal, dan hal-hal terkait.

Tentang keterbatasan emosional, seperti halnya perkara-perkara berikut;

– Adakah atau bagaimanakah batas wajar bagi seorang wanita mengekspresikan perasaannya; menyimpan dan mengelola perasaannya, katakanlah, demi standar kepatutan? Lebih jauh lagi, apakah batas wajar tersebut diperlukan?

– Kemudian, apabila batas wajar tersebut tidak diperlukan, bagaimana seharusnya para wanita menyikapi tindakan dan luapan emosi yang meledak-ledak? Meluap begitu saja, dan menuntut untuk diiyakan.

– Apakah tepat bila wanita selalu diidentikkan dengan “makan hati”, “sabar menerima”, dan “menjalani tanpa menuntut apa-apa”?

– Bagaimana dengan dikotomi pria lebih kuat dari wanita, maupun sebaliknya? Lebih kuat menahan perasaan, contohnya.

(2) Apakah semestinya para wanita harus dipersepsikan bergantung kepada pria? Dalam banyak hal, mulai dari “ditembak” sebagai pacar; dilamar sebagai calon istri; semata-mata menjadi pengikut suami, bukan rekan bicara apalagi berdiskusi.

Mengapa persepsi ini dilestarikan? Diajarkan dan ditanamkan sejak usia dini, tidak hanya kepada bocah-bocah wanita, tetapi juga pria. Yang akhirnya terbawa sampai dewasa, menghasilkan wanita-wanita submissive dan pria-pria arogan atas kepriaannya.

Saking lestarinya pula, sampai menghasilkan wanita-wanita yang desperate ingin segera dinikahi seiring bertambahnya usia, dan pria-pria yang menganggap wajar jika istri memiliki kedudukan lebih rendah daripada suami. Sebab, toh, yang mereka butuhkan (untuk menikah) hanyalah punya uang dan kebugaran seksual.

Menjadi semacam rumus sederhana, wanita yang ngebet menikah + pria dengan toxic masculinity yang kadangkala ditambah dengan kedunguan = terjadilah pernikahan yang begitulah. Pada akhirnya cuma menghasilkan situasi “ditinggalkan”, dan/atau “tak berani meninggalkan.”

(3) Apakah menjadi sebuah pandangan yang bias, atau justru merupakan pendapat yang sexist ketika pernyataan di atas justru dilontarkan oleh sesama wanita?

Demi menghindarkan saya agar tak tergelincir melakukan mansplaining, hampir semua pertanyaan di atas hanya berhak dijawab oleh para wanita, dan/atau oleh sejumlah pria yang dinilai layak berbicara mengenai ini, serta dipersilakan untuk menjawabnya.

Oke, pertanyaan terakhir. Kalau kamu seorang wanita, apakah kamu setuju dengan pernyataan pertama di atas tadi?

Be my guest…

[]

Selamat Ulang Tahun ke-10, Film-Film dari 2009!

Kalau harus menyebut “tahun terbaik” untuk menilai kualitas film-film yang dirilis di tahun tertentu, sebagian besar penggemar film pasti menyebut tahun 1939 dan 1999. Di tahun yang disebut pertama, jajaran film klasik tumplek blek dirilis di tahun itu, mulai dari Gone with the Wind, The Wizard of Oz, Stagecoach, sampai Mr. Smith Goes to Washington. Sementara di tahun yang disebut kedua, film dengan visual efek yang mencengangkan macam The Matrix dirilis berbarengan dengan horor laris The Sixth Sense, lalu ada juga komedi nakal American Pie yang juga dirilis di tahun yang sama dengan komedi romantis Notting Hill atau drama serius American Beauty.

Lalu bagaimana dengan tahun-tahun lain yang juga berakhiran angka 9, seperti tahun 2009 yang baru saja lewat 10 tahun yang lalu?

Saya sendiri setuju kalau ada yang bilang bahwa tahun 2009 bukanlah one of the great years in movies. Tapi bukan berarti tidak ada film-film yang berkesan. Apalagi menonton film urusannya sangat personal, bukan?

Tahun 2009 sendiri adalah tahun di mana saya banyak mengalami titik balik, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam urusan pekerjaan. Mau tidak mau, hal-hal seperti ini mempengaruhi pilihan tontonan, dan pengalaman menontonnya.

Looking back, cukup banyak juga film yang saya tonton di tahun 2009 ini. Dan setelah mengingat-ingat lagi, apa saja film-film dari tahun 2009 yang berkesan buat saya, inilah dia:

• Film-film yang juga saya suka: The Boat that Rocked, An Education, Moon, The White Ribbon, The Secret in Their Eyes, A Single Man

[sepuluh] Bangkok Traffic (Love) Story

 

Pertama kali menonton film ini di bioskop (yang dulu bernama) blitz di Grand Indonesia, pemutaran terhenti di tengah-tengah karena … mati lampu! Terpaksa pemutaran dihentikan sama sekali, padahal film sudah berjalan hampir separuh durasi. Petugas memberikan kupon voucher gratis untuk menonton film yang sama di hari lain. Saya pun menonton lagi di hari lain tersebut, mengulang dari awal, dan tetap tersenyum dari awal sampai akhir melihat cerita dari karakter Mei Li yang mengharap perhatian dari Long, pria yang ditaksirnya, sampai-sampai merubah pekerjaan supaya bisa pas waktunya.

[sembilan] I Am Love

 

Film yang membuat saya menganga, takjub akan penampilan Tilda Swinton dengan kemampuan berbahasa Rusia yang luar biasa. Ada salah satu adegan sangat kecil yang mencuri perhatian. Saat di pesta di rumahnya, karakter yang dimainkan Tilda, yang tidak bisa berbahasa Inggris, duduk dan menunduk sambil mengaduk cangkir tehnya. Dia hanya mendengarkan orang-orang di sekelilingnya berbahasa Inggris. Saat dia dipanggil, dia mengangkat mukanya sedikit, dan matanya menyorotkan ekspresi ketidaktahuan atas apa yang mereka bicarakan, karena bahasanya terdengar asing. A very small moment, tapi sungguh brilian dieksekusi oleh Tilda Swinton, yang memberikan gambaran lengkap tentang karakter yang dia mainkan hanya dengan gerak tubuh yang minimal.

[delapan] King

 

Beberapa kali di tulisan di Linimasa ini saya pernah menyatakan kalau film-film bertema ayah dan anak adalah salah satu Kryptonite pribadi. Hampir selalu ‘lemah’ kalau disodori film-film semacam ini. Tak terkecuali film ini. Film yang bercerita tentang cita-cita seorang anak desa yang ingin menjadi pemain bulu tangkis, yang mendapat tentangan dari ayahnya. Penampilan komedian almarhum Mamiek Prakosa sebagai sang ayah masih sangat membekas di ingatan, karena gambaran karakter yang dimainkan benar-benar mencerminkan sosok seorang ayah pada umumnya: keras karena tempaan hidup, namun penuh kasih sayang yang kadang sulit dicerna. Film ini mungkin akan jadi film yang selamanya underrated.

[tujuh] Inglourious Basterds

 

Mulai dari adegan apple pie di restoran, sampai ke penembakan di bioskop yang sangat bombastis, film karya Quentin Tarantino ini bisa dibilang sebagai salah satu yang paling enjoyable di antara semua filmnya. Dan mungkin film ini juga menginspirasi banyak akun media sosial yang membuat sejarah jadi menyenangkan lewat parodi fakta dan kejadian yang sesungguhnya. Nevertheless, film ini, for the lack of better word, memang sangat menyenangkan untuk ditonton berulang kali, sampai sekarang.

[enam] Up

 

Mari kita akui bahwa yang membuat film Up ini sangat berkesan adalah montage selama 7 menit yang menggambarkan kehidupan perkawinan karakter Carl dan istrinya, sampai akhir hayat sang istri. Adegan tanpa kata tersebut sangat indah, bahkan bisa dibilang saking indahnya, hampir keseluruhan film bertumpu pada adegan tersebut. Guliran adegan petualangan yang terjadi setelahnya, meskipun digarap dengan sangat baik, meninggalkan impresi yang tak terlalu mendalam apabila dibandingkan dengan montage di awal film. Jadi apakah mungkin adegan selama 7 menit di awal film bisa uplift the whole film? In this case, yes.

[lima] Mother

 

Sebelum film Parasite dirilis, saya selalu bilang bahwa karya terbaik Bong Joon-ho adalah film ini. Siapa sangka film tentang kegigihan seorang ibu membela putranya ini bisa menjadi film yang tegas, tangguh, sekaligus lembut? Kalau tak percaya, lihat saja adegan terakhirnya, yang pernah saya bahas sebagai salah satu adegan penutup dalam film yang meninggalkan kesan yang sangat mendalam seusai kita menontonnya.

[empat] A Prophet

 

Filmnya memang ‘keras’, karena bertutur tentang kehidupan seorang narapidana dan penjara yang dihuninya. Dan memang sutradara Jacques Audiard memilih untuk memperlihatkan betapa kompleksnya kehidupan di penjara yang bisa mengubah karakter seorang yang tadinya lugu menjadi keji. Kita tidak bisa berpaling sedikit pun dari setiap adegan di film ini, yang sangat menuntut perhatian sekaligus empati kita. Film yang membuat a star is born moment untuk aktor Tahar Rahim, dan sejak dari film ini, setiap film yang dibintangi Tahar Rahim selalu membuat saya menyempatkan diri untuk menontonnya.

[tiga] 3 Idiots

 

Tiba-tiba banyak teman dan kenalan saya yang tadinya tidak mau atau jarang menonton film Hindi atau film India in general, mendadak menonton film ini. Film ini sempat bertahan lama di bioskop, karena word of mouth yang disebarkan sangat positif. Tentu saja rekomendasi film ini karena isu pendidikan yang jadi fokus utama ceritanya. Sampai sekarang pun, film ini dijadikan rujukan untuk memotivasi pendidikan alternatif yang bisa diterapkan untuk menggali potensi non-akademis setiap anak di usia pendidikan dasar. Film yang membuat Aamir Khan menjadi spokesperson untuk urusan pendidikan dan kemanusiaan.

[dua] Up in the Air

 

Pertama kali saya menonton film ini di bioskop tengah malam. Namun setiap dialog di film membuat saya tidak mengantuk. Bahkan semakin tertohok. Meskipun frekuensi terbang saya jauh di bawah karakter Ryan Bingham yang diperankan George Clooney, namun siapapun pasti akan relate dengan perasaan akan perlunya someone to come home to, something to look forward to dalam hidup. Film yang sepertinya akan terasa timeless, dan terbukti paling tidak di sepuluh tahun pertama.

[satu] 500 Days of Summer

 

“Summer, kamu jahat!” Demikian reaksi saya selama bertahun-tahun. Setiap kali ada pertanyaan, “Siapa tokoh paling jahat di film?”, tanpa tedeng aling-aling saya menjawab, “Summer!” Perlu waktu bertahun-tahun, dan ratusan kali menonton ulang, sampai akhirnya saya sadar, dan disadarkan oleh pernyataan Joseph Gordon-Levitt, bahwa Summer hanya melakukan apa yang layaknya dilakukan orang kebanyakan, yaitu mengeksplorasi perasaan sebelum melabuhkan pilihan. The other party saja yang baper kebablasan. Demikian pula dengan saya, yang sialnya selalu ada di posisi Tom, dan tidak pernah di posisi Summer.

Toh saya tetap membiarkan idiom “Summer jahat!” berkecamuk di pikiran saya, karena isn’t it awesome that such a cute character can be villainous unintentionally?

Dan apa film-film favorit anda dari tahun 2009?

“Berisik!”

NUN, empat biksu sedang berlatih bersama. Mereka berikhtiar menjalani meditasi dalam bisu atau tanpa bicara selama dua minggu.

Malam hari pertama tiba. Mereka melanjutkan meditasi, berusaha berkonsentrasi dan mawas diri dalam posisi bersila dengan diterangi cahaya lilin.

Semilir angin malam berembus. Tidak terlalu kencang, tetapi cukup kuat untuk membuat api padam. Hingga beberapa waktu kemudian, api lilin mati dan ruangan pun menjadi gelap gulita.

Related image
Foto: Buddha Eye Temple

Salah satu biksu sontak berucap: Yah… lilinnya mati.
Ditanggapi biksu kedua: Bukankah kita tak boleh berbicara, ya?
Biksu ketiga kemudian bergumam: Kalian berisik!
Terakhir, biksu keempat berbicara dengan nada bangga: Aha! Hanya saya yang tidak berbicara.


Bisakah kita melihat diri kita sendiri dalam salah satu kisah Koan* di atas? Apakah kita menjadi biksu pertama, kedua, ketiga, atau yang keempat dalam kehidupan sehari-hari?

Biksu pertama adalah orang-orang yang sekadar mengekspresikan perasaan terhadap sesuatu. Seringkali memberikan respons secara spontan, refleks, reaktif, bahkan eksplosif tanpa sempat dipertimbangkan matang-matang.

Biksu kedua adalah orang-orang yang terpancing memberikan respons terhadap tindakan biksu pertama, atau orang lain. Mengingatkan saya dengan tren gerakan “Sekadar Mengingatkan 🙏🏽” yang marak di media sosial akhir-akhir ini. Dengan mampu mengingatkan orang lain, mereka cenderung merasa sudah benar. Baik secara konten, yakni tentang hal yang mereka ingatkan, juga secara konteks, mengenai tindakan mereka yang mengingatkan orang lain.

Biksu ketiga adalah orang-orang yang merasa terganggu dengan kebisingan tersebut. Mereka tengah berupaya mencapai sesuatu, tetapi dalam prosesnya malah terpapar dan turut terusik dengan pertentangan yang berlangsung. Mereka pun cenderung merasa benar, lantaran melihat dua pihak yang lain telah berlaku salah. Tanpa sadar, mereka turut melakukan kesalahan.

Sementara biksu keempat adalah orang-orang yang merasa lebih unggul, merasa memiliki posisi argumentatif yang lebih baik dibanding kelompok-kelompok lainnya dengan berbagai alasan. Beberapa di antaranya seperti merasa lebih pandai, lebih bijaksana, lebih cerdas, lebih berilmu; lebih tangguh dan lebih tahan banting; lebih berkelas dan lebih sophisticated; termasuk juga merasa lebih religius dan saleh; lebih alim dan lebih rajin beribadah; lebih paham tentang peraturan-peraturan tata cara keagamaan, serta sebagainya.

Ilusi ego.

Bagi kita yang terbiasa melihat segalanya secara biner, hanya mengenal benar dan salah secara absolut, keempat biksu tadi gagal dalam ikhtiarnya. Mereka melakukan kesalahan, melanggar ketentuan yang telah digariskan atau disepakati akibat dorongan emosional dan ketidaktahuan mereka sendiri.

Biksu pertama melakukan kesalahan karena hanyut dalam gelombang perasaan. Sensasinya serupa dengan keceplosan, berceletuk, menyumpah, dan sejenisnya. Ada banyak orang yang masih bisa memakluminya sebagai ketidaksengajaan, tetapi ada juga banyak orang lain yang langsung terpancing atau tersulut menanggapinya (biksu kedua, biksu ketiga, dan biksu keempat).

Entah benar atau salah, demikianlah yang kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua orang–termasuk diri kita sendiri–ikut berkoar-koar senyaring mungkin terhadap banyak hal, seakan-akan koar yang kita teriakkan ialah pembeda keadaan, sekaligus penyelamat orang lain. Sekali lagi tanpa menyadari bahwa justru akan menjadi sama saja dengan yang lainnya.


Kisah Koan di atas biasanya hanya diakhiri dengan celetukan biksu keempat, tanpa ada kelanjutannya. Mereka berempat sedang berlatih meditasi, dan sudah gagal di malam pertama atas kesalahan yang amat dangkal, amat sepele.

Padahal, mereka masih memiliki 13 malam berikutnya untuk terus belajar mengawasi batin dan diri sendiri, agar mampu hening, dan bertindak tanpa gejolak.

Begitulah. Pengertian tumbuh seiring berjalannya waktu dan sebanyak-banyaknya pengalaman.

https://scontent-atl3-1.cdninstagram.com/vp/7b855938b51b72d9d31e4369e8a585de/5D83CDF9/t51.2885-15/e35/59796849_298219671087879_3317711070926421868_n.jpg?_nc_ht=scontent-atl3-1.cdninstagram.com
Foto: Deskgram

[]

*Koan: Kisah ilustratif dan anekdotal untuk pemahaman praktik Zen, sebagiannya tercatat berupa peristiwa yang terjadi/dialami oleh para guru dan sesepuh, dan sebagiannya lagi bersifat teka-teki absurd.

Jejak Yang Kita Tinggal

Paruh kedua tahun ini dibuka dengan beberapa berita duka yang mengena buat saya. Ada beberapa orang yang pergi meninggalkan dunia dengan cepat, terasa tiba-tiba tanpa ada pertanda sebelumnya. Hampir semuanya meninggalkan impresi yang mendalam, yang juga berarti meninggalkan rasa sedih karena kehilangan.

Semakin sedih saat ada seorang teman yang mengatakan bahwa di paruh pertama tahun ini, ada beberapa teman atau kenalan in common kami yang juga telah berpulang. Setiap berita duka datang menghampiri, kadang tanpa sadar kita menghitung atau mengingat-ingat lagi, siapa saja orang-orang terdekat kita yang sudah tiada dan masih ada.

Yang juga kita sering lakukan tanpa kita sadari adalah memikirkan bagaimana orang memandang kita setelah kita tiada.

Beberapa hari lalu, tepat sehari setelah kepergian seorang rekan kami, saya bertemu untuk meeting proyek pekerjaan. Di sela-sela meeting, kami berbagi kenangan terhadap almarhum. Mulai dari kenangan mengerjakan proyek bersama, makan bersama, sampai “kongkalikong” dalam menyusun aturan.

Kami juga sama-sama membaca ucapan berita duka di media sosial, di mana cukup banyak teman-teman kami yang lain berbagi kenangan bersama almarhum yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Kami tertawa, lalu sama-sama mengucap “aaawww …”, lalu tersenyum, berusaha menutup kesedihan yang melanda.

Rekan kami memang dikenal sebagai sosok yang bisa merangkul banyak orang, dan dekat dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Tak heran kalau kenangan yang muncul pun yang baik-baik.

 

Footprints1

Namun tak urung seorang rekan bertanya di meeting kami, “Kalau misalnya ada orang jahat yang meninggal, yang semasa hidupnya banyak berbuat salah sama orang lain, I wonder apakah orang tersebut akan sama diomongin seperti kita sekarang ngomongin mas X dengan segala kebaikannya ya?”

Kami terdiam. Seorang teman lain menjawab, “Mungkin. Tapi kayaknya gak langsung diomongin di saat hari wafatnya dia. Energi buat berduka sudah cukup berat, nggak sempet mikirin yang lain-lain.”

Teman lain menimpali, “Dan bisa jadi orang itu gak berbuat baik ke orang lain, tapi he’s an angel to some others. Entah ke keluarganya, ke beberapa temannya, we’ll never know.”

Kami menggangguk dan terdiam lagi. Lalu ada yang bertanya, “Penasaran aja. Have you been wondering, what legacy will we leave behind when we depart?”

Kembali kami terdiam. Setelah lama, saya berkata, “If you ask me, jawabannya nggak tahu, dan terus terang, nggak mau tahu. Karena ya by then, gue udah mati, gue gak bisa lihat ama denger apa yang orang katakan tentang gue. Cuma yang gue tahu, pas masih hidup gini, sebisa mungkin gue gak bikin sakit hati orang. Itu aja, sih. Gak mungkin nyenengin semua orang, emang, but at least, gak bikin orang sepet sama gue. I guess that’s all?

Saya melihat teman-teman saya mengangguk. Teman saya lantas berkata, “Ya living the life lah. We honour orang-orang yang udah ninggalin kita ya dengan hidup. We work, we live, we love, we do what we are best at doing. Life goes on.

Dan dengan pernyataan itu, kami melanjutkan sisa aktivitas masing-masing, karena matahari baru saja terbenam. Sambil masing-masing mungkin berpikir, bahwa legacy kita dimulai dari saat kita menyadari bahwa kita punya kehidupan yang harus kita jalani.

Nasi Campur Babi

SAMA nama, beda rupa. Itulah yang terjadi pada Nasi Campur, hidangan yang cukup akrab terdengar di telinga orang Indonesia. Tergantung kotanya.

Lahir dan tumbuh besar di Samarinda, Nasi Campur awalnya saya kenali berupa sepiring nasi, dengan mi goreng, lauk utama ayam atau ikan goreng, Orek Tempe atau teri kacang, tempe atau tahu, kuah lodeh dan potongan nangka maupun sayur, serta sambal. Kurang lebih seperti itulah tampilan Nasi Campur Bu Sum di Jalan Kinibalu tak jauh dari kantor gubernur, yang ramainya ampun-ampunnya setiap pagi hingga lepas waktunya makan siang.

Nasi Campur Bu Sum. Foto: Foursquare

Nasi Campur dengan model seperti itu lebih mudah ditemui di Surabaya, juga di kota-kota Jawa Timur lainnya. Nyaris tidak ada di Jakarta, lantaran lebih sering disebut Nasi Rames.

Semenjak menetap di Jakarta, Nasi Campur justru lebih dikenal sebagai sajian berbabi. Tetap terdiri atas sepiring nasi, hanya saja dengan komponen lauk didominasi daging babi, pakai sedikit sayur. Sedangkan di Samarinda, hidangan seperti itu disebut Nasi Babi, atau malah Nasi Campur Babi sekalian. Itu pun dibawa dan dipopulerkan oleh warga pendatang asal Pontianak dan Singkawang. Kalau tidak salah ingat, saya pertama kalinya menyantap Nasi Campur Babi waktu masih SMA. Baru tahu ada menu seperti itu, lebih tepatnya. Yaitu Nasi Campur Babi ala Singkawang di Jalan Pulau Flores, bersebelahan dinding dengan tempat karaoke murahan yang terlalu sering memutar lagu dangdut, mirip Asmoro, bagi yang tahu.

Baru di Jakarta pula, saya mengetahui perbedaan mendasar antara Nasi Campur (Babi) ala Singkawang, ala Pontianak, dan ala Jakarta sendiri, yang sepintas terlihat seperti Nasi Campur ala Cantonese ditambah sate.

Nasi Campur ala Singkawang

Nasi Campur Babi ala Singkawang di Samarinda.

Dimulai dari Nasi Campur ala Singkawang yang saya santap di Samarinda beberapa tahun lalu, lauknya terdiri atas:

  • Daging panggang/charsiu, biasanya agak kering,
  • Sosis babi/lapchiong,
  • Babi kecap atau tulangan babi dimasak kecap, plus siraman kuahnya,
  • Pork belly/siobak,
  • Telur Pitan dipotong separuh,
  • Irisan mentimun,
  • Dihidangkan bersama semangkuk kuah kaldu encer.

Meskipun tidak ada komponen yang mendominasi (selain nasi), pastinya saya selalu menyisihkan siobak untuk disantap terakhir. Iya, ini karena lapisan kulitnya yang renyah.

Nasi Campur ala Pontianak

Nasi Campur Akwang. Foto: Webstagram

Berpatokan pada Nasi Campur Yung Yung 99 dan Nasi Campur Akwang, dua nama yang relatif sering saya makan karena promo online, lauknya terdiri atas:

  • Daging panggang/charsiu, lebih juicy,
  • Sosis babi/lapchiong,
  • Pork belly/siobak,
  • Telur Pitan dipotong separuh atau seperempat,
  • Irisan mentimun,
  • Ayam goreng,
  • Irisan sawi asin,
  • Potongan bawang putih goreng, lumayan banyak,
  • Dihidangkan bersama semangkuk kuah kaldu kental,
  • Khusus Yung Yung 99, juga ditambah semangkuk kuah phaikut sayur asin,
  • Khusus Akwang, tersedia dua jenis sambal; merah dan hijau. Lebih enak yang merah.

Konon katanya banyak banget di Krendang. Cuma, saya belum pernah keliling di sekitar sana. Nantilah, kapan-kapan. Yang jelas, baru pertama kali saya menemukan Nasi Campur (Babi) pakai ayam, rebus atau goreng basah.

Nasi Campur ala Jakarta (?)

Nasi Campur Kenanga. Foto: Nibble.id @franzeskayuli

Apakah benar ala Jakarta? Tidak tahu pasti, kecuali bertanya langsung kepada si pemilik restoran. Saya berkesimpulan demikian, setelah menemukan satu gerai Nasi Campur Babi di pujasera Mal Artha Gading yang membedakan menu Nasi Campur Pontianak, dan Nasi Campur saja.

… dan yang termasuk kategori ini ialah Kaca Mata, Nasi Campur Kenanga, beserta merek-merek sempalan maupun KW-annya.

Lauknya terdiri atas:

  • Daging panggang/charsiu, kadang lebih juicy, kadang malah disiram kuah atau saus agak kemerahan. Sejujurnya, ini kurang cocok di saya,
  • Sosis babi/lapchiong,
  • Pork belly/siobak,
  • Telur Pitan dipotong separuh atau seperempat,
  • Irisan mentimun,
  • Satu tangkai sate babi,
  • Dihidangkan bersama semangkuk kuah phaikut sayur asin,
  • Khusus Nasi Campur Kenanga, juga ditambah potongan khekian dan siomai babi rebus.

Dalam hal ini, tidak perlulah berbicara tentang mana yang autentik di antara ketiganya. Sebab dalam sejumlah versi lain, Nasi Campur Babi turut menghidangkan bagian-bagian jeroan. Kemudian, Nasi Campur Babi disajikan di atas nasi putih biasa, bukan nasi ayam atau Nasi Hainan. Beda lagi, misalnya, dengan Nasi Campur Bali.

Toh, bagi saya, semuanya enak, kok. Apabila punya rekomendasi, tolong dibagi, ya.

[]