Menjual Agama Lewat Rasa Takut dan Keinginan-keinginan

TERDAPAT sebuah model pemasaran yang memanfaatkan sisi lemah dan rapuh psikologi manusia: Emosi atau perasaan. Model ini dinamakan BJ FOGG Behavioral Model atau cukup populer dengan sebutan B=MAT, yang kurang lebih demikian.

BJ Fogg Behavior Model

Secara sederhana, model ini menggambarkan bahwa setiap orang berpotensi menjadi konsumen, asal terpapar dengan pendekatan yang sesuai. Penjual pun tak sekadar menjadi pemenuh permintaan di pasar, tetapi justru menciptakan permintaan di pasar walaupun produk tersebut belum tentu benar-benar diperlukan (terlepas dari kualitas produk itu sendiri).

Motivation: Hal-hal yang mendorong
Ability: Fitur-fitur yang memperkuat dorongan
Trigger: Momen-momen yang memperkuat urgensi

Apa yang terjadi ketika model ini dipadukan dengan upaya penyebaran agama? Jualan. Agama jadi objek jualan.

Seharusnya. Foto: daaji.org

Tanpa disadari, banyak orang yang menjual agama dengan metode serupa. Bukan sebagai objek konsumtif melainkan komoditas nominatif, agama disodorkan lewat impian yang diidam-idamkan, maupun ketakutan. Dari situlah permintaan dibuat, dari sesuatu yang awalnya tidak ada atau tidak terpikirkan, menjadi sesuatu yang digandrungi dan dikejar-kejar. Macam seorang downline MLM yang berupaya sekuat tenaga agar bisa tutup target point.

Apa tujuannya berjualan agama? Mendapatkan tambahan sumber daya manusia. Dari situ, semuanya bisa dihasilkan. Cadangan tenaga kerja dan massa; cadangan dana. Makanya, semua pemuka agama ingin agar jumlah umat terus bertambah, bukan malah berkurang.

Sila intip: “Kenapa Anak-anak Harus Beragama yang Sama dengan Orang Tuanya?”

Barangkali nyambung

Bagaimana alurnya? Mencari pengguna baru (acquisition), dan mempertahankan pengguna lama (retention).

Bagaimana caranya? Papar-pukau-pikat. Sampaikan hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya; yang mengejutkan; yang menggentarkan; yang menakutkan. Kebetulan agama selalu bersifat absolut, hanya ada benar dan salah secara mutlak. Tidak ada ruang abu-abu, sehingga semua orang yang masih berpikiran abu-abu merupakan sasaran. Baik sebagai calon kawan untuk disadarkan, atau sepenuhnya lawan.

Motivation

Dalam konteks B=MAT, motivasi lebih berupa tujuan atau kebutuhan spesifik yang mendorong keinginan seseorang. Termasuk di dalamnya, kesenangan dan ketidaksenangan; untuk memperoleh hal-hal yang menyenangkan, atau menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan. Harapan dan ketakutan.

Merasa menjadi seseorang yang alim dan lebih baik, memberikan perasaan menyenangkan. Merasa menjadi seseorang yang sangat berdosa (perasaan tidak menyenangkan), dan ingin tobat agar merasa bersih kembali (perasaan menyenangkan).

Ingin bisa masuk surga dan segala keuntungan tambahannya, atau takut masuk neraka setelah meninggal.

Komik siksa neraka yang legendaris. Saya pun punya. Foto: YouTube

Ability

Cepat, mudah dan gampang, tidak merepotkan. Tak perlu ada proses konsultasi yang berhari-hari, maupun serangkaian jadwal kelas pengajaran dasar-dasar agama demi memastikan niatan seseorang menjadi religius, dan seterusnya.

Pada saat seseorang melakukan kesalahan, cukup bertobat dan memperbanyak perbuatan baik. Niscaya ada pengampunan atau keringanan hukuman, sebab dia sudah religius.

Bagaimanapun juga, yang terpenting adalah kecepatan dan kemudahan. Kalau bisa, sesuatu yang memberikan efek instan. Berikut ilustrasinya.

Bagi seseorang yang sedang mengalami rentetan kesusahan; kebingungan tanpa pegangan dan resah, agama dipasarkan sebagai sesuatu yang mereka butuhkan. Sesuatu yang bisa menenangkan jiwa, mengangkat perasaan tidak menyenangkan yang berasal dari masalah-masalah hidup.

Trigger

Banyak hal yang bisa dikondisikan untuk memacu seseorang. Dalam konteks agama, kemukakan dan sangkut pautkan semua hal yang berkaitan dengan masa depan, apa pun itu namanya. Nubuat wahyu, ramalan, janji, kiamat, dan sebagainya.

Beberapa contoh yang telanjur populer sejak beberapa abad lalu: kiamat sudah dekat, dajal segera muncul di bumi, setan dan pasukan Antikristus. Semua itu menarik perhatian dan berkesan di hati, kendati narasi-narasi tadi selalu tanpa bukti faktual nan konkret. Kebanyakan hanya berupa teori konspirasi dan pencocok-cocokan secara serampangan, lalu sukses menghimpun kepercayaan banyak orang. Segalanya seolah-olah terkait, dengan keterkaitan yang disutradarai oleh iblis itu sendiri. Berbeda dengan dampak sampah plastik dan perubahan iklim (Climate Change), misalnya, yang bisa dilihat oleh mata kepala sendiri.

Selebihnya, tulisan-tulisan seperti ini pun bisa digunakan untuk memperbesar urgensi. Membuat isu tersebut terkesan semakin darurat, lantaran setan dan seluruh pasukannya terus melakukan cara mengelabui manusia. Membuat manusia ragu-ragu, hingga kehilangan kepercayaannya terhadap agama.

Di mana-mana, selalu ada saja.

Setan adalah musuhnya agama, jadi, sesuatu yang tidak sejalan dengan agama, atau bahkan mempertanyakannya sedikit saja, adalah hasil kerjaan setan.

Agama menurut siapa? Agama menurut sang tokoh yang menyampaikannya, yang berjualan.

Dengan demikian, tak usah heran bila agama makin menjadi komersial. Bukan lagi ajaran atau jalan hidup, melainkan sumber penghasilan yang mengatasnamakan tuhan.

Yaudasik

[]

Advertisements

Leave a Reply