Mensyukuri dan Menikmati Penderitaan Orang Lain

SAAT berjalan kaki di trotoar dengan paving block bolong-bolong, tiba-tiba ada motor berknalpot bising yang ngebut serampangan. Menyisakan asap putih tebal berbau sisa pembakaran bensin yang khas.

Penumpangnya ada tiga, remaja semua, tanpa helm, dan berteriak sambil tertawa-tawa. Tanpa peduli pengendara lain maupun para penyeberang jalan, mereka selalu ngegas dan ugal-ugalan. Bising, serampangan, dan memusingkan.

Selewatnya mereka, kita merasa terganggu. Muncul rasa tidak senang, bahkan benci di dalam hati. Dorongan utamanya, entah karena kita lihat kelakuan mereka yang serampangan; melaju dan bikin kaget; ada banyak peraturan lalu lintas yang dilanggar; bisingnya suara knalpot yang memekakkan telinga; atau karena kita memang tidak suka saja.

Di ujung persimpangan jalan, ternyata ada polisi yang berjaga. Kaget tetapi tidak bisa menghindar dan salah berbelok, motor tersebut oleng. Jatuh dan meluncur di atas aspal, pengemudi dan dua penumpang sial tadi tersungkur dengan lecet di beberapa bagian tubuhnya.

Teriakan “MAMPOOOS LO!” spontan terdengar dari arah depan, dekat lokasi kejadian. Tanpa sadar, kita juga ikut membatin macam “KAPOK!” atau “SOKORIIIN!” Terkesan ada kegembiraan‒atau lebih tepat berupa kegirangan‒yang diluapkan saat mengucapkannya. Seakan-akan itu sesuatu yang sangat menyenangkan, dan sudah dinanti-nantikan sebelumnya.

Marah yang ingin banget diluapkan.

Contoh di atas menunjukkan adanya kemalangan, sebuah kecelakaan. Tatkala dilihat dari akibat yang terjadi dan siapa yang mengalaminya, para remaja ugal-ugalan tadilah yang bisa disebut sebagai korban. Bukan kita, meskipun sudah merasa sebal dan terganggu saat berjalan kaki; apalagi para warga yang menghamburkan sumpah serapah tadi. Tanpa kita sadari, ungkapan “Mampus!” tadi, atau yang kadang ditambahi menjadi “Mampus lu!” menunjukkan bahwa kita ingin mereka meninggal; menunjukkan bahwa kita berpandangan mereka pantas meninggal saat itu juga.

Apakah dengan demikian kita adalah seseorang yang mengharapkan dan menikmati penderitaan orang lain?

Di sisi lain, apakah kita telah menjadi seseorang yang mampu menilai pantas tidaknya orang lain mengalami kemalangan‒atau sebut saja ganjaran‒dalam hidupnya.

Dalam perspektif yang berbeda, kita kerap terpaku pada pembagian benar dan salah. Dalam contoh kasus di atas, para remaja pengemudi motor ugal-ugalan tadi diposisikan sebagai yang salah. Orang-orang lain, termasuk kita yang merasa terganggu, otomatis memposisikan diri sebagai yang tidak salah.

Sayangnya, dengan menganggap diri sebagai pihak yang tidak salah, mudah sekali membuat kita merasa sebagai pihak yang lebih baik, lebih unggul, dan lebih pantas ada dibanding lawannya. Kembali pada contoh di atas, kita dan sejumlah warga merasa pantas melontarkan sumpah serapah, bahkan sampai mendoakan terjadinya keburukan bagi pihak yang salah. “Mampus lu!”

Haruskah kita merasa biasa-biasa saja dengan sikap yang demikian? Ketika tanpa sadar kita terus-menerus memikirkan hal-hal buruk, mengucapkan hal-hal buruk, sampai ikut melakukan tindakan-tindakan buruk, dan menganggap semua itu wajar-wajar saja dengan dalih “mereka pantas menerimanya” atau “kesabaran itu ada batasnya”?

Susah, sih. Memang.

Okelah, contoh kasus di atas barangkali terlampau sepele, tidak begitu penting. Namun, bagaimana bila kasusnya adalah tabrak lari? Atau perkosaan? Atau penyiksaan anak-anak? Atau anak yang berbuat amat kasar terhadap orang tuanya? Atau korupsi? Beragam hal yang seolah-olah bisa bikin hati kita ikut panas.

Akankah doa kita dikabulkan? Doa yang dipanjatkan karena marah dan benci, doa yang mengharapkan orang lain celaka.

Akankah dikabulkan?

Mohon maaf lahir batin.

[]

Advertisements

Leave a Reply