Hati Sebagai Tempat Berteduh dan Berdiam

KETIKA kita ingin pindah rumah atau tempat tinggal, salah satu proses yang paling menyita perhatian dan melelahkan adalah penyortiran barang. Demi kebaikan diri sendiri, kita harus memilih, menentukan, lalu memutuskan. Jika tidak, bukan hanya kerepotan, terlalu berat, dan membuat tempat baru yang semestinya lapang menjadi sesak, sehingga mengulang kesumpekan yang sama.

Berpindah tempat tinggal seringkali bukan sekadar pergantian lokasi. Bisa menjadi titik mula, awal yang baru, atau bahkan hidup yang sepenuhnya berbeda. Oleh sebab itu, dari sekian banyak barang yang telah kita peroleh, kita kumpulkan, kita simpan, dan kita pertahankan di balik dinding rumah selama ini, harus ada yang kita tinggalkan. Bukan lantaran ingin kita lupakan, tetapi, ia seakan-akan bergelayut di kaki kita; menghalangi kita untuk terus melangkah ke depan. Terkadang kita justru diseretnya mundur.

Ia–semua barang tersebut–tak lagi tepat untuk selalu kita bawa ke mana-mana.

Foto: Pexels

Demikian pula hati. Jika diibaratkan sebuah tempat hunian, hati kita lebih mirip sebuah tenda. Portabel, bisa dipasang dan dilepas di mana saja, dan selalu kita bawa sewaktu berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Apabila tenda (hati) itu kita tinggalkan, kita pun menjadi seorang tunawismarasa. Jiwa yang menggelandang tanpa keteduhan.

Setiap titik perhentian, tempat kita bertahan, berhenti untuk sementara waktu, berdiam, dan mendirikan tenda (hati), merupakan fase-fase dalam hidup kita–karena kita menJALANi hidup; karena hidup adalah sebuah perjalanan dengan sejumlah persinggahan.

Sewaktu bertahan dan berdiam, kita membentuk, merasakan, dan meringkuk dalam lingkar kenyamanan kita sendiri. Dalam zona nyaman tersebut, kita terbuai, menolak dan mengingkari kenyataan bahwa segalanya pasti berubah (dan karenanya, perubahan yang datang pun akan terasa lebih mengguncang dan menggetarkan).

Kala perubahan terjadi, titik singgah kita saat ini akan ditinggalkan. Cepat atau lambat, kita harus kembali mengemas tenda (hati) beserta isinya. Lagi-lagi, apakah semuanya akan dibawa?

Foto: Removers.org.uk

Mau berapa banyak yang akan dibawa serta?

Mengapa?

Setiap orang memiliki pandangan dan pertimbangan yang berbeda-beda. Namun, mereka yang cermat dan sigap–biasanya tertempa pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan, bisa langsung menentukan apa saja yang bakal dibawa beserta tenda (hati) dalam perjalanan menuju titik singgah berikutnya. Perhatian dan tenaga mereka pun disimpan secara efisien, agar mereka tidak dibuat repot oleh hal-hal yang sejatinya sepele. Sebab, walau bagaimapun juga, kehidupan akan terus berjalan.

Kedewasaan dan kebijaksanaan seseorang tumbuh seiring berjalannya waktu. Ada satu momen ketika kita akhirnya memiliki daftar berisi “hal-hal yang penting” dan “hal-hal yang tidak penting” bagi hidup kita. Isi setiap bagiannya selalu berubah. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Semua yang ada dalam daftar “hal-hal yang penting” pasti kita prioritaskan. Apa saja misalnya, keluarga, orang tua, hubungan asmara, karier, gaya hidup, kepemilikan dan harta, nama besar, popularitas, hubungan sosial, kenikmatan seksual, penghormatan, waktu yang leluasa, anak-anak, pencapaian pribadi, ego, dan masih banyak lagi lainnya. Pasti kita bawa menuju titik singgah berikutnya.

Foto: Storage Monkey

Saat ini, cobalah tengok sejenak daftar-daftar tersebut. Lihat isinya sekejap. Apakah isinya sudah pas, atau ada yang perlu digeser? Setelah itu, bayangkan hal paling mengejutkan, paling liar, atau paling tidak terbayangkan sebelumnya.

Andai apa yang kamu bayangkan tadi terjadi di kehidupan nyata, memaksamu untuk berpindah dari zona nyaman (membongkar tenda [hati] dan isinya), apakah kamu mampu menjejalkannya, memanggul semua isi dalam “daftar hal-hal penting” itu? Atau malah terbebani oleh itu semua?

Supaya dapat berjalan lebih lancar dan ringan, seseorang terkadang perlu meninggalkan begitu banyak hal. Meski harus terasa tidak menyenangkan.

…dan kehidupan pun terus berjalan, bagi kita, dengan hati sebagai tempat bernaung.

[]

Advertisements

Leave a Reply