Curiosity (Tidak Selalu) Kills the Cat

— seperti yang pernah saya tulis di blog pribadi ratusan tahun yang lalu —

“So.”

“So.”

“How was it?”

“How was what?”

“Was it good?”

“What do you think?”

“Was I good?”

“How do you want me to answer that?”

“Can’t you think of anything?”

“After what just happened, can you?”

“It was pretty something, right?”

“I know, right?”

We laugh.

“What about you?”

“What is about me?”

“How do you feel?”

“Why don’t you tell me?”

“Are you okay?”

“Are you okay?”

“Is it okay then to say that we are okay?”

“Is there a “we” now?”

“Do you want to file a motion against that?”

“Is it something worth doing?”

“What is worth doing to you then?”

“Why don’t you find out?”

“Is that an invitation?”

“Why don’t you just accept?”

“What is the risk?”

“What is life without taking a risk of not knowing anything ahead?”

“Is that how you describe this whole thing?”

“What whole thing?”

“What do you think has happened?”

“Why the questions are getting longer and more complicated?”

“Why do you keep answering my questions with questions?”

“Why do you still continue doing that?”

“Why do you think I keep up with you?”

“Why do you think I keep up with you?”

We smile.

“How long can we do this?”

“How about one day at a time?”

We are still here.

“So.”

“So.”

(From Twitter)
Advertisements

Hidup yang Lapang, Lega, dan Leluasa

RINGAN dan enteng. Perasaan yang selalu kita dambakan dalam hidup ini, baik batin maupun jasmani. Siapa saja yang pernah merasakan beban berat dan dibuat susah karenanya, pasti akan bisa menghargai dan mensyukuri keadaan ketika beban tersebut menjadi tiada. Perasaan ringan dan enteng itu kemudian berubah menjadi kelapangan, kelegaan, dan keleluasaan untuk melihat serta bergerak lebih bebas. Menghadirkan kehidupan yang berbeda.

Foto: Anthony Tran

Yang harus kita lakukan seringkali sesederhana pilah lalu tinggalkan, sebab tak semua hal sepenting itu untuk terus dipikul ke mana-mana. Hanya saja, seberat-beratnya beban fisik, lebih berat lagi beban mental. Beban fisik berupa benda; bisa diangkat sendiri atau bersama-sama. Dapat dilihat, dan dapat dinilai oleh orang lain. Jika sudah tidak diperlukan atau dapat ditinggalkan, cukup diletakkan begitu saja. Bahkan bisa saja langsung dibuang sebagaimana mestinya.

Berbeda dengan beban batin yang gaib, tak kasatmata, dan kerap justru lebih membahayakan dibanding benda nyata. Beban batin belum tentu bisa dibagi. Saat ada keinginan untuk membaginya pun, mesti tetap berlaku hati-hati supaya tidak tambah sakit hati. Apabila tidak tepat, beban batin yang niat awalnya ingin dibagi tersebut bukannya menjadi ringan, malah bertambah berat.

Di antara berbagai cara yang biasa kita lakukan untuk membagi dan mengurangi beban batin, salah satu yang paling digemari adalah menyalahkan dan memojokkan diri sendiri. Padahal, beban batin itu bukannya berkurang, melainkan hanya dialihkan ke kompartemen ego yang berbeda. Ada kompartemen yang dipenuhi puja puji, ada pula kompartemen untuk kehinaan diri.

Jikalau orang-orang yang terlalu positif atau terlampau percaya diri selalu mencari—bahkan mirip kecanduan—validasi orang lain atas keberhasilan serta pencapaian-pencapaian dalam hidup mereka, menyalahkan dan memojokkan diri merupakan kebalikannya 180 derajat. Berupa validasi negatif. Mereka ingin diiyakan sebagai seseorang yang paling malang, paling kurang, paling tidak berkualitas, paling tidak berguna, dan sebagainya di seluruh dunia. Seolah-olah ada kenyamanan ego yang mereka peroleh dari validasi negatif tersebut.

Salah satu ciri khasnya adalah kemampuan melihat segala hal secara negatif. Dalam sebesar atau sekecil apa pun suatu kebaikan maupun prestasi yang diperoleh, selalu saja ada nada sumbang yang dilontarkan. Terhadap hal ini, sebenarnya terdapat dua sudut pandang berbeda. Dari si pengucap, dan para pendengar.

Dengan terus berupaya mendapatkan validasi negatif atas apa pun yang telah mereka capai atau lakukan, si pengucap ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak cukup pantas; biasa-biasa saja; atau terkesan berusaha ingin bersikap rendah hati—meskipun kebablasan, dan pada akhirnya malah ditangkap sebagai kesombongan terselubung.

Sedikit banyaknya, kita pernah bersikap begini, atau mungkin terus berlangsung sampai sekarang. Tanpa sadar, dan terus mengakar kuat.

Foto: Lesly Juarez

Kembali ke pilah lalu tinggalkan. Tak ada yang benar-benar penting untuk dibopong ke mana-mana. Maka, alami sesuatu, dapatkan pengalaman dan kesannya, kemudian tinggalkan. Tidak perlu disanjung-sanjung maupun direndah-rendahkan sendiri.

Hidup minimalis; hanya mengisi hidup dengan hal-hal yang sungguh penting, dan berguna dalam kurun waktu lama. Dibutuhkan kebijaksanaan dan kedewasaan. Yang tumbuh, bukan muncul begitu saja. Demi kehidupan yang ringan dan enteng, lapang, lega, serta leluasa.

[]

We See Before We Feel

Ini adalah tulisan lama saya, yang pernah saya unggah di sebuah aplikasi jejaring sosial yang sudah tutup. Ada gunanya juga dulu acap kali menulis status yang panjang-panjang, karena saat tidak ada ide untuk menulis di blog, bisa mendaur ulang status-status lama.

Tentu saja tidak semua status masih layak ditampilkan kembali. Perlu sedikit polesan untuk membuatnya up-to-date. Maka berikut ini status lama tersebut yang sudah saya poles sedikit:


As I walked down on escalator, I saw two people in front of me giggling to each other. They randomly pointed at things shown in window displays of some random stores on the floor. Their body languages and facial expressions seem to suggest they’re at the beginning of a romantic relationship.

Funny. I did not smirk. Nor putting on my cynical stare. I could not help but smiling. Just a little smile. I don’t want them to see me smiling at them. I find their brief affectionate display to each other cute.

At that quick flash, I realize that we may be in dire need of love. Right now, at the current state of the world we live in, it could not be any easier to surrender to hatred, pessimism, or loathing.

Life is hard, and it is even harder right now. Especially for us who choose to live our lives freely, thus deemed to be slightly different.

Yet, I am surrounded by people in love. My friends already celebrate their 10th, 12th, 6th anniversary of their relationships. Those who are still single, they do not give up, and they are more than being fine. Those who have been involuntarily single after exiting long-term relationships, they do not give up, and they take their time to be back and up again.

Hey, that’s purely my observation. Eyes can be deceiving, or eyes can be telling the truth.

I often smile looking at and reading their posts that show their affection to one another. I often laugh reading their internal jokes, despite my lack of understanding.

Maybe that’s what we need to have a tiny assurance that life is still worth living. That love is all around.

Love, that we may not experience on our own.

But seeing others having and showing their love, that already gives us hope.

(Taken and nurtured by yours truly.)

(Amazing how not getting a ticket to watch a film can do to you. Who are these people filling up an entire cinema on Wednesday night?! Bloody hell! Your grandpa’s cinema. Bioskop e mbahmu.)

Tutur Bahasa Indonesia Nan Adiluhung … atau Ambigu?

SETIAP orang Indonesia yang sudah cukup dewasa dan tidak punya masalah komunikasi lisan tampaknya akan selalu memiliki kemampuan ini; memahami maksud tersembunyi lewat pesan yang tak diucapkan secara terang-terangan.

Jadi semacam rahasia umum, atau kesepakatan bersama, bahwa ketika seseorang mengatakan sesuatu, yang dia inginkan sebenarnya ialah sesuatu yang berbeda. Kita pun akhirnya ikut terbiasa, lantaran terus-menerus terpapar dengan pola seperti ini, dan justru turut paham pesan yang disampaikan. Terutama berupa ungkapan-ungkapan khas.

“Tolong kamu apakan dulu itunya biar dia bisa bagaimana lah. Tolong, ya.”

Saat mengutarakan ini, tentu terikat pada konteks tertentu yang berlangsung saat itu. Kalau tidak, semuanya bakal berantakan dan menjadi tak jelas arahnya; apanya yang diapakan, supaya tidak bagaimana?

Ada tingkat kepercayaan diri‒atau beda tipis dengan arogansi‒yang tinggi ketika seseorang mengucapkan celetukan ini, yaitu bahwa kepada siapa pun pesan ini ditujukan, yang bersangkutan haruslah paham dan langsung mengerjakannya. Tanpa perlu bertanya ulang, meski sekadar memastikan.

“Tahu sama tahu.”

Ada asumsi dalam pernyataan ini, bahwa semua pihak yang terlibat dalam pembicaraan sudah memiliki pemahaman yang sama terhadap sesuatu. Selaras antara yang diminta, dan yang bisa diberikan, tanpa keberatan, tanpa sanggahan, tanpa penolakan. Menjadi semacam kode universal, tanpa mempertimbangkan kemungkinan adanya ketidakcocokan, perlunya penyesuaian, dan perubahan lebih lanjut.

“Ya begitulah…”

Begitu yang gimana? Entah apakah pihak pendengar yang harus menebak sendiri, atau pihak penyampai yang malas menjelaskan lebih jauh?

“Pokoknya beres.”

Pernyataan ini pada dasarnya disampaikan untuk memberi dan mendorong rasa tenang, atau rasa terjamin terhadap sesuatu kepada si penerima pesan. Maksudnya adalah, tidak perlulah pusing, cemas, khawatir, atau bersusah payah memikirkan sesuatu bakal berjalan lancar dan baik atau tidak. Percayakan saja, dan semuanya pasti sesuai keinginan.

Masalahnya seringkali ada pada kesamaan standar dan kesepahaman mengenai capaian yang diinginkan. Beres menurut seseorang, belum tentu sama beresnya menurut orang lain. Dengan demikian ada reputasi yang dipertaruhkan, sebab ucapan ini diucapkan oleh si pelaksana, yang mengerjakan sesuatu tersebut.

“Tolong dikondisikan.”

Setiap kali mendengar ungkapan ini, saya langsung bertanya dalam hati tentang kondisi seperti apa yang diinginkan oleh si pengucap? Apakah bersifat positif atau negatif? Apakah berupa tindakan tertentu, atau justru harus disikapi dengan tindakan khusus?

Mempertanyakan kembali kondisi “kondisi” yang diinginkan pada saat ini disampaikan, dapat menimbulkan kesan ketidakmampuan memahami maksud sejak awal. Bisa juga dibarengi sentimen ketidaktepatan dan ketidakcermatan saat menjalankan tugas. Mau tidak mau harus mampu paham dalam ambiguitas dan ketidakjelasan.

Pada saat ungkapan ini disampaikan, sebenarnya wajar bagi siapa pun yang mendengarnya untuk bertanya-tanya apakah si pengucap memang sedang hemat bicara, atau malah juga tidak paham apa yang sebenarnya dia inginkan.

“Bisa kurang lebih lah.”

Seberapa jauh batasnya? Sesedikit apa kurangnya, dan sebanyak apa lebihnya? Lagi-lagi, kedua pihak sebaiknya memiliki pengertian yang sama, demi menghindari perselisihan lebih lanjut. Karena bagaimanapun juga, diperlukan negosiasi yang gamblang untuk mengetahui titik tengah bagi semua pihak.

Di pasar atau pusat perbelanjaan umum, persoalan kurang lebih bisa dibantu dengan nominal angka. Namun, untuk perihal yang lain, tetap ada kemungkinan ketika sedikit menurut satu pihak, tetapi masih kebanyakan menurut pihak lainnya.

“Atur aja…”

Memiliki karakteristik yang agak berbeda dibanding yang lain, ungkapan ini menunjukkan sikap keterserahan. Bukan pasrah, melainkan kesediaan aktif untuk menyerahkan atau mempercayakan penanganan dan penyelesaian sesuatu kepada orang lain.

Dalam situasi tertentu, ungkapan ini juga bisa mengesankan keinginan untuk tidak mau repot, tinggal menunggu dan menerima hasilnya. Termasuk di dalamnya kecenderungan untuk tidak ambil pusing, dan tidak terlalu mau tahu dengan metode maupun cara yang digunakan.

“Mohon kebijaksanaannya.”

Sisi ambiguitas dari ungkapan ini terletak pada seberapa bijaksana kedua belah pihak dalam masalah yang terjadi? Meski terdengar seperti sebuah permintaan pasif, akan tetapi pada dasarnya terdapat ekspektasi atau keinginan yang harus dipenuhi.

Setiap orang bertindak dengan, dan memiliki tingkat kebijaksanaan yang berbeda. Bijaksana bagi seseorang, belum tentu menyenangkan atau sesuai keinginan orang lain. Pasalnya, ada banyak hal yang patut dipertimbangkan bila terkait dengan kebijaksanaan. Sikap bijaksana itu adil, jelas, objektif, dan tidak bias. Dengan demikian, dalam banyak situasi kita bisa melihat bahwa ungkapan ini lebih condong kepada sebuah permintaan yang didasari pada aspek-aspek subjektif. Termasuk mengkamuflase emosi dan simpati.


Di era ini, kala segalanya bertambah laju dan kencang, tak semua orang memiliki ketahanan dan kemampuan untuk mengikuti alur pembicaraan. Baik yang berupa basa-basi berkedok sopan santun dan tata krama, maupun bahasa-bahasa bersayap yang tersirat.

Sementara keseharian kita sudah sedemikian melelahkan, rasanya terlalu berharga memboroskan stamina maupun tenaga untuk munafik dan berpura-pura.

[]

Mom-ster


Aku dimarahi Ibuku di depan anak dan istriku. Katanya aku seperti anak kecil. Tidak mau menemui Ibuku dan lama tak mau menyapa dirinya. Aku dimarahi habis-habisan. Suaranya bagai halilintar. Agak bergetar. Tanda amarahnya belum usai. 

Aku bertanya-tanya dalam hati kapan aku dimalinkundangkan. Dikutuk menjadi batu. Gara-gara melukai hati seorang Ibu. Sekaligus aku mengingat-ingat, waktu Ibu Malinkundang menjadi seorang yang terluka, apakah suaminya masih ada. Karena agak berbeda antara Malinkundang dan aku. Mungkin saat itu dia sudah berstatus yatim. Kali ini Ayah saya masih ada dan menjadi pemandu sorak ibuku untuk terus semangat memarahi aku. “Betul Bu, hajar terus Bu”.

Mungkin cara masturbasi orang tua dan anak muda memang sedikit agak beda. Kita-kita, para lelaki, masih dengan bantuan oli, sedikit sabun, atau lotion buat body. Ortu masa kini bermasturbasi dengan cara yang baru aku ketahui malam ini. Sedikit pulsa atau bantuan wifi, nyalakan video call, lalu tak peduli apakah anak-anaknya sedang enak suasana hatinya, sedang makan malam keluarga, atau sedang berbahagia bersama keluarga kecilnya. 

Untungnya aku tahu masturbasi itu sama dengan onani. Kalau kentang, pasti rasanya tak senang. Maka ketika sibuk memarahiku, aku menerapkan strategi Abu Bakar Baasyir ketika ditanya Penyidik Densus 88: Diam. Apapun yang dikatakan Ibuku, aku diam.

Kamu cengeng. Kamu tak pantas. Kamu-kamu-kamu-kamu.”, entah ada berapa kamu yang disampaikan kepadaku. Aku tetap diam. Aku kembali meneruskan makan mi goreng yang sebetulnya dipesan buat anakku. Aku habiskan saja. Anakku menangis. Bukan karena melihat bapaknya dimarahi neneknya, melainkan karena bapaknya menghabiskan mi goreng kesayangannya.

Bagaimana nasib istriku. Dia tak kuat melihat suaminya dimarahi lewat video call. Dia meringkuk sendiri di pojok ruang. Sembari nyetel Youtub Baim Wong sibuk membagi-bagi uang kepada orang kecil dan berharap dapat uang dari Yutub. Wah keren!, aku sempat berpikir di sela kesibukanku dimarahi ibu.

Aku sudah banyak makan buku. Aku mengingat-ingat apakah selain kisah Malinkundang ada kisah lain tokoh jagoan yang selamat ketika dimarahi Ibu. Aku ingat seorang Rasul memerintahkan untuk hormati Ibu, Ibu dan Ibu. Aku agak menyesal tak pernah mengikuti kisah Dewi Kunti, atau kisah Drupadi, dan kisah-kisah epos semacam itu. Bisa jadi ada sedikit celah buatku untuk merehabilitasi diri bahwa dimarahi Ibu itu biasa saja. Aku ingin segera menghibur diri. Aku sudah takut akan menjadi batu.

Tak berhasil. Ibuku masih memarahiku. Kalimatnya deras melebihi debit arus kata Jason Ranti dalam lagu Doa Sejuta Umat. Maknanya makin jelas. Kata-katanya makin pedas.

Aku semakin merawat memoriku. Aku mencari folder apa saja kesalahanku selama ini. Belum juga ditemukan. Apakah masuk recycle bin ingatan? Seharusnya tidak. Aku tidak pernah menghapus ingatan. Bahaya, tak perlu dirawat, otak dan jalanpikirku seharusnya diruwat.

“Ya Tuhan, lindungi aku selalu. Ya Tuhan, jagalah aku selalu, dari nabi-nabi palsu. Jualan yang menipu. Isi ceramah yang jauh. Karena Gusti ada di hati. Kurasa Gusti tinggal di hati. Yeah!”

Surga ada di kaki Ibu. Maka sepertinya harapan masuk surgaku habis sudah. Aku berencana jika telah usai video call ini, aku mencari orang dalam yang bisa tahu seperti apa wujud neraka. Persiapan apapun percuma, kata orang-orang yang beragama timur tengah, neraka tak bisa dibayangkan. Isinya buruk semua. Kamu disiksa, tersiksa. Kamu tak akan kuat menahan derita. Kamu baru akan merasakan amarah Tuhan. Neraka adalah Maha-Tempat-Derita.

Ibuku terus berbicara. Aku melihat waktu. Sudah lebih dari 15 menit. Aku masih sibuk dalam diam. Mulutku terkunci. Anakku masih asyik makan mi goreng sisa. Istriku entah kemana, sepertinya pergi ke balkon dan menenangkan diri.

“KOK DIAM? KAMU KIRA IBU RADIO BODOL KAIN ROMBENG LAP PEL CUCI MOBIL KANEBO KERING..ING..ING..”

Aku tak sempat bertanya-tanya lagi dalam hati, eh Ibuku mematikan video callnya tiba-tiba.

Aku ternganga tiba-tiba hening telepon adalah sesuatu yang begitu asing. Aku keluar kamar. Mencari istriku. Dia masih terdiam, namun bukan lagi di pojokan.

Aku menyalakan rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam.

Kupandangi wajahnya lalu berkata lirih: “Enak ya kamu, Ibumu telah lama mati..

Mencegah Hampa

What is left after the party ends?

Beberapa tahun lalu, saat usai mengerjakan sebuah event internasional yang menguras banyak tenaga, salah satu anggota pengurus festival ini datang untuk memberikan ucapan selamat kepada saya. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan gambaran singkat tentang hasil acara, beliau berkata kepada saya, “Now you need to make sure how to fill the void afterwards.

Waktu itu saya hanya tersenyum, sambil setengah bingung dengan apa yang beliau maksud. Baru beberapa tahun kemudian, pelan-pelan saya mulai paham.

Belasan tahun saya berkecimpung di profesi yang mengharuskan saya dan tim bekerja keras selama berbulan-bulan untuk membuat acara dalam hitungan hari dan minggu, terus terang ada perasaan “kosong” saat acara berakhir. Mendadak ada gap atau kekosongan dalam diri yang menyeruak dan memaksa kita untuk deal with it immediately. Sebuah perasaan yang terus terang tidak enak dijalani, terlebih karena selama berminggu-minggu sebelumnya selalu berinteraksi dengan banyak orang secara intense. Ada yang bilang, namanya post-event blues. Sekarang mendadak harus sendirian lagi, kembali ke rutinitas lama lagi.

Perasaan ini dirasakan juga bagi mereka yang mempersiapkan pernikahan, acara kumpul keluarga besar, reuni akbar, atau jenis acara lain yang memerlukan persiapan dalam waktu lama bersama banyak orang. Setelah acara usai, semacam ada kehampaan, sekaligus rindu yang mendadak akan rutinitas dalam kebersamaan.

Kalau sudah begitu, apa yang harus dilakukan? Well, ini adalah versi saya selama ini.

Tidur. That’s the first thing to do right after the big event ends. Berhubung saya tidak terlalu suka suasana pesta, kalau memang terpaksa harus datang ke post-event party, maka datang seperlunya saja, yaitu meluangkan waktu sebentar untuk “setor muka”.

Setelah itu, kembali lagi ke tujuan utama, yaitu tidur. Apabila perlu, check-in ke hotel dekat tempat acara. Jangan di tempat acara, karena pasti tidak tahan untuk mengurus hal-hal kecil terkait acara kita di sana.

Lalu batasi komunikasi dalam 24 jam ke depan. Pasti gampang sekali tergoda untuk berbagi candaan, foto-foto di grup WhatsApp atau aplikasi obrolan lainnya bersama teman-teman kerja. Sebaiknya cukup chat seperlunya saja, seperti “Thank you all!“, atau “See you pas pembubaran panitia, ya!” Berhubung kita tidak mungkin mematikan ponsel (karena kita perlu pesan makanan dan bayar lewat aplikasi, bukan?!), maka gunakan ponsel secukupnya saja.

Ini termasuk tidak membuka email kerjaan untuk sementara waktu. Silakan atur waktunya sendiri, bisa 12 jam setelah kita bangun tidur, atau mau 24 jam setelahnya juga tidak apa-apa, selama kita bisa mengatur ritme kerja kita. Work can wait, proper rest cannot.

Yang belum saya bisa lakukan adalah log out sementara dari media sosial. Seharusnya ini pun bisa dilakukan, karena godaan untuk selalu update masih ada di lain waktu.

Yang bisa saya lakukan untuk mengistirahatkan pikiran setelah tidur cukup adalah membaca buku yang tidak terkait pekerjaan saya, menonton serial yang tertunda, mendengarkan musik dan menghabiskan waktu untuk benar-benar tidak memikirkan urusan lain yang belum beres.

Dan 24 jam kemudian, baru kita mulai membereskan dan merapikan lagi apa yang tersisa, sambil pelan-pelan back to reality dan bekerja lagi.

We all need rest in order to work.

Selamat bekerja!