Pas Kita Dirampas, Jangan Sampai Kehilangan Napas

Berhubung sudah lewat lebih dari sebulan, maka sebaiknya saya cerita saja di sini.

Pada bulan Februari lalu, saat work trip ke Berlin, saya dicopet.

Kejadian ini berlangsung di suatu sore hari yang cerah, meskipun cuaca sedang cukup dingin. Saya memutuskan untuk mengambil waktu rehat sejenak dari serangkaian meetings dan screenings. Saya pergi ke seberang tempat pemutaran film untuk mendatangi beberapa toko. Siapa tahu ada barang yang menarik untuk dibeli.

Lalu saya memutuskan pergi ke toko buku. Di depan toko buku, dua pria dengan fitur muka khas orang Timur Tengah mendekati saya.

“China? Japan? Thailand? Vietnam? Malaysia?”

Saya menggeleng sambil tersenyum dan mengatakan, “Indonesia”.

Mereka berkata, “Ah, Indonesia.”

Lalu mereka menanyakan apakah saya turis di sini, dan beberapa pertanyaan lain yang terus terang agak malas buat saya untuk menanggapinya.
Mereka mendekati saya untuk berbicara lebih dekat. Nothing to lose, pikir saya. Toh saya tidak ada rencana lain.

Setelah ngobrol sebentar, mereka beranjak pergi. Saya masuk ke dalam toko buku. Belum ada semenit saya mendorong pintu masuk, tangan saya menepuk kedua saku celana di depan, memastikan ada kunci di kantong kiri, dan ponsel di kantong kanan. Ini kebiasaan yang saya lakukan setelah turun dari kendaraan, baru beranjak dari tempat duduk, atau masuk ke tempat baru.

Lalu saya menepuk kantong belakang, tempat dompet saya. Kantongnya kempes. Tak pikir panjang, saya keluar dari toko buku, berjalan dengan cepat. Saya lihat dua orang tadi masih berada di depan toko buku, memegang dompet saya dan membukanya.

Secara refleks tanpa memikirkan apa pun sama sekali, saya menghampiri mereka. Saya bilang dengan suara yang tinggi, tapi tidak teriak, “Hey, you’ve got my wallet there!
Saya dekati, saya ambil dompet itu, lalu saya masuk lagi ke toko buku.

Semuanya terjadi secara cepat, hanya dalam hitungan detik. Saking cepatnya, setelah masuk ke toko buku, saya berdiri, terdiam, mengambil nafas panjang sambil membatin, “What the hell just happened there? What did I just do?

Sembari menenangkan diri, saya melihat-lihat deretan buku tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya sedang saya lihat. Suasana toko buku tidak terlalu ramai, tapi ada cukup banyak orang, sehingga saya sempat berpikir, kalau dua orang pencopet tadi masuk, tinggal make a scene di toko buku ini.

Saya membuka dompet. Tidak ada kartu ATM atau identitas diri yang diambil. Sepertinya ada lembaran uang yang diambil, tapi saya tidak terlalu memerdulikan ini. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli beberapa buku, hitung-hitung sebagai buang sial.

And guess what? I just smiled and even laughed after the robbery.

talent-thieves

Mungkin lega karena dompet bisa diambil dalam keadaan (nyaris) utuh. Atau saya sedang menertawakan nasib, karena tragedi ini terjadi sekitar sebulan setelah ponsel saya dijambret di depan apartemen, yang menyebabkan saya terjatuh saat mengejar penjambret di bulan Januari. Atau saya sedang ingin tertawa saja.

Entahlah. Yang pasti saya pun kaget, karena tiba-tiba saja saya jadi berani untuk mengambil apa yang memang jadi hak milik saya, yang terampas begitu saja di depan mata.

I guess it’s true what people say, that you don’t know your real power, or bravery, until you are put in an unlikely situation.

Teman saya berkomentar, “Elo ternyata punya kecenderungan untuk mengkonfrontasi langsung ya.”

Saya tertawa, sebelum menjawab, “Nggak tahu juga ya. I only need to do what I have to do, to take what’s rightfully mine.

Intuition never fails, baby.

Advertisements

3 thoughts on “Pas Kita Dirampas, Jangan Sampai Kehilangan Napas

  1. Haduh, yang namanya nge-trip terus kecopetan atau barang ilang itu emang bikin deg-degan. Saya juga pernah dua kali mengalami kejadian. Ada yang bad ending. Ada yang happy ending.

      1. Pas di Shenzhen, duit hilang di bus yang disewa. Haha. Mayan banget sampe nggak bisa beli oleh-oleh. Ya Allah… Pas di Ho Chi Minh, lagi makan malam ama rombongan tur di kapal, dan dompet melorot dari kantong jeans yang udah melar. Haha. Alhamdulillah, waitress ‘ngeh’ dan kasih tahu. Kalo nggak bisa nangis bombay.

Leave a Reply