Mengapresiasi dan Berterima Kasih

LANGSUNG saja. Terpujilah pergelaran-pergelaran gratisan, terberkatilah orang-orang yang memungkinkan semua itu terjadi, serta sepatutnyalah bersyukur mereka yang berkesempatan hadir dan menikmatinya. Beruntung, semua itu kian sering ditemui di banyak kota–yang besar maupun yang sedang–di Indonesia.

Termasuk yang telah, dan tengah saya alami saat ini, di Jakarta.

Melewatkan kesempatan menghadiri seremoni pembukaan Europe on Screen (EoS) 2019–festival film-film Eropa terkurasi yang digawangi oleh Mas Nauval–Kamis pekan lalu (18/4), baru semalam saya kembali menikmati pengalaman mengantre tiket gratisan; memilih tempat duduk secara bebas; melihat official bumper video/opening title video dari EoS 2019; dan menonton film yang sudah dijadwalkan.

Sebuah kebetulan banget, judul yang diputar tadi malam adalah “Terra Willy”, film animasi komersial yang akan beredar di bioskop mulai bulan depan. Menonton dan menikmati festival, mengambil sejenak jeda dari hiruk pikuk kehidupan keseharian yang penuh dengan aksi kejar-kejaran, untuk dibuat merasa gembira setelahnya.

Film yang menyenangkan!

Dari sampul bukletnya, EoS tahun ini tetap hadir di banyak kota selain Jakarta. Dimulai dari yang paling dekat; Tangerang, dan Bekasi, disusul Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, serta Medan. Berlangsung hingga penutupan festival di 30 April mendatang. Masih sampai seminggu lagi.

Cek dan simak katalog filmnya di situs EoS. Silakan pilih judul-judul dari total seratusan karya yang tersedia, tanggal dan waktu, serta lokasi menontonnya. Tak ada perbedaan metode dan mekanisme dibanding EoS tahun-tahun sebelumnya, kecuali ada kartu penanda keanggotaan di penyelenggaraan tahun ini.

Terima kasih, Mas Nauval dan tim yang kembali menghadirkan EoS tahun ini.


Mencerap. Dicerap. Tercerap.

Begitu pun beberapa pekan sebelumnya. Sekali lagi, sangatlah beruntung warga kota ini, dilimpahi sedemikian banyak wadah ekspresi seni beraneka kaliber secara rutin. Tinggal pilih untuk dikunjungi, dinikmati, dan diapresiasi.

Adalah pameran objek-objek instalasi dan spasial “The Monster: Chapter II Momentum” dari Pramuhendra, yang sepenuhnya disajikan bugil tanpa curatorial note atau catatan karya. Berlangsung di gedung utama Galeri Nasional Indonesia, gelap, dan sepenuhnya bernuansa Katolikisme.

Salah satu karya yang paling menarik perhatian saya adalah–entah, apa judulnya–kolam ketenangan. Gelap, hening, sunyi, tertutup, hampir tanpa intervensi luar. Hanya ada sesorot cahaya, penerangan yang diarahkan ke tengah-tengah kolam dangkal persegi panjang beralas kain warna hitam, tempat sebuah replika bebas burung merpati (perlambang kedamaian) ditempatkan. Kecil, nyaris tak dikenali dari posisi pengunjung, tetapi mencuat mengemuka. Lagi-lagi beruntung, datang kala sepi, sehingga memiliki kesempatan lebih lama untuk jongkok sendiri tercerap dalam suasana yang coba dihadirkan sang perupa.

Ingin duduk, bersila di bibir anjungan kolam buatan, layaknya posisi lazim meditasi, lantaran–meditatif–tampaknya itulah yang ide dasar yang disuguhkan sang seniman.

Mencoba bertafakur.

Sampai akhirnya diingatkan seorang penjaga yang berkostum jubah biarawan Katolik asketis, berwarna cokelat, bertudung dengan ujung lancip menghadap ke atas, dan menutup hampir keseluruhan wajah, berikat tampar di pinggang.

Kendati nyaring, suaranya terdengar berjarak. Sejauh kesadaran realitas dengan pusaran kesan yang muncul di situ.


Saya yakin, terdapat berbagai pergelaran atau pun pameran seni lainnya yang sedang berlangsung saat ini selain kedua kegiatan di atas. Punya waktu dan minat, cobalah hadiri. Sendirian atau bersama teman, sama saja. Sama asyiknya.

Cukup datang, masuk, mencoba memahami sebisa mungkin, atau langsung saja berusaha menikmati yang ada, mengamati kesan dan persepsi yang ditimbulkan, untuk kemudian menjadi seseorang dengan pengalaman yang telah diperkaya. Walaupun sedikit. Setidaknya, memunculkan dorongan supaya mengapresiasi, dan berterima kasih.

Pengin rasanya kapan-kapan bisa hadir dan menyaksikan gelaran lain di kota-kota lainnya. Apalagi kalau ada di … Samarinda.

[]

Advertisements

Cinta Jangan Terlalu Cinta, Benci Jangan Terlalu Benci

HARI ini kita memilih. Semuanya digabung jadi satu. Mulai memilih anggota DPRD di kota dan ibu kota kabupaten masing-masing sampai calon presiden, yang untungnya—atau malangnya—hanya terdiri dari dua pasangan. Keduanya pun sama-sama wajah lama, beda kiprah dan ranah saja. Yang satu petahana, yang satu lagi gigih unjuk diri untuk sekian lama.

Wajar jika ada yang suka maupun tidak suka terhadap masing-masing pasangan calon. Bukannya muncul begitu saja, preferensi atau pendapat itu muncul dengan segala alasan, pertimbangan, dan narasinya. Bedanya, ada yang tumbuh dari kesadaran dan pemahaman atas pemikiran sendiri; lalu sebaliknya, ada juga yang didasarkan pada rasa percaya terhadap orang lain, dipengaruhi pendapat orang lain, atau boleh disebut indoktrinasi.

Baik kelompok yang mendukung maupun menolak pun sama-sama terbagi dalam beberapa spektrum. Dari yang paling garis keras, hingga ke paling lembut hampir datar. Namun, barisan paling fanatik, berisik, mendengar dan melihatnya saja bisa bikin terasa melelahkan yang paling mengemuka, paling sering tampil, paling sering memenuhi media lewat segala perangainya. Seringkali sampai membuat kita terusik.

Kedua kubu memiliki semuanya, tetapi proporsi atau jumlahnya yang tampaknya berbeda.

Asumsinya, makin banyak pendukung yang fanatik menunjukkan bahwa ketokohan yang tertanam sangat kuat, tidak lupa, sekaligus potensi kehilangan kemampuan melihat secara objektif, terbuka, dan kritis. Hanya seorang pemimpin megalomania beserta para kaki tangannya yang picik, yang nyaman dengan situasi ini.

Sebagai sesama manusia pun, kita sama-sama tidak punya kemampuan menebak isi hati dan pikiran seseorang.

Foto: Jon Tyson

Sementara itu, selain kelompok pendukung maupun penolak, ada pula kelompok yang tidak keduanya—atau bahkan tidak peduli terhadap keduanya.

Ada yang bersikap tidak peduli lantaran sudah apatis dan patah harapan (patah harapan kepada sistem, kepada figur, kepada keadaan, dan sebagainya); ada yang bersikap tidak peduli lantaran malas mencoba lagi; ada yang bersikap tidak peduli sebagai bentuk protes dan mogok berpartisipasi; ada yang bersikap tidak peduli karena mengambek segala sesuatunya dirasa tidak sesuai keinginan dia; ada pula yang bersikap tidak peduli karena … ya, tak peduli saja, malas gerak.

Terlepas dari pengotakan di atas, pada dasarnya semua orang sama dan setara. Tidak ada segolongan pun yang lebih tinggi atau lebih rendah dibanding yang lain dalam hal kedudukan sosial. Riak dan gesekan yang ditimbulkan memang kerap bikin gemas, jengkel, dan geregetan. Hanya saja—menurut saya—itu tak ubahnya pergaulan kita sehari-hari. Ada yang bebal, ada yang sabar, ada yang pintar, ada yang licik, ada yang tak acuh, ada yang tulus, ada yang berjiwa besar, ada yang kecut hati, ada yang menyenangkan, ada yang mengesalkan, ada yang bikin males, ada yang bikin rindu … dan tentu saja mustahil berharap semua orang bisa bersikap sesuai yang kita inginkan. Lagipula, belum tentu semua yang kita pikiran, rencanakan, dan inginkan bakal membawa dampak positif serta rentetan hal-hal baik sesuai bayangan sebelumnya.

Cobalah untuk selalu menyisakan ruang hening dan tenang dalam hati, supaya tidak terlampau sesak. Kemudian, mari saling melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya. Ini berlaku bagi semua. Mau “cinta”, “benci”, atau pun “tak peduli”, toh semuanya berakhir hari ini.

Ya … seperti hari ini. Sebesar apa pun sebuah pesta (juga anti pestanya), pasti akan usai pula. Mau tidak mau, bersiaplah untuk besok. Sebab kehidupan itu mestinya terus moving on, bukan mandek.

Selamat memilih, bagi yang memilih.
Bagi yang sengaja melewatkan kesempatan memilih, selamat libur panjang. 😊

[]

For 40

People say, “age is nothing but a number”. I say, that’s a bull.

Hari ini, umur saya genap mencapai 40. Jujur, perasaan yang berkecamuk di diri saya menjelang tibanya hari ini adalah I am scared.

Apalagi saya ingat betul, apa dan bagaimana ayah saya saat beliau berusia 40 tahun. Selain dia sudah punya anak lebih dari satu saat itu, lalu sudah menikah dengan ibu saya, yang mana kedua hal ini memang menjadi pilihan hidup yang tidak akan saya tempuh, tapi ada hal-hal lain yang rasanya belum bisa saya capai, sementara beliau (seperti) sudah mencapainya.

Kedewasaan, kematangan, ketenangan dan kesejahteraan saat umur sudah mencapai titik tertentu, rasanya masih jauh dari genggaman.

Of course we cannot stop comparing and looking up to our parents, can we?

Di sisi lain, saya sadar, kami hidup di dekade yang berbeda. Apa yang saya telah jalani selama ini, belum tentu beliau jalani. Dan itu mempengaruhi jenis pencapaian yang saya rasa sudah, belum, akan dan tidak akan saya capai. Yang juga terpengaruh adalah cara pikir dan cara memandang hidup.

Dan dari sudut pandang kedua hal itulah, maka saya mau berbagi 40 hal yang saya percayai, jalani, kadang-kadang saya hindari, sesekali saya curi dari sumber lain, dan beberapa yang saya tunggu, buat Anda:

 

1. It’s not about how much we make. It’s always about how much we save.

2. Write down your thoughts. They may be silly, they may be simple, but your memory and brain will thank you for doing that.

3. Physical exercise saves our life. This is coming from a guy who hates sports for 25 years of his life.

4. Listen to all kinds of music in formative years. You will reminisce each one of them later on with fond memory.

5. Try your hand at doing service jobs. Being a shop attendant, being a waiter or waitress, being a customer service, do it when you can. You will appreciate other people better.

6. Religion is a very personal and private matter. Don’t shout, yell, or show off your private conversation with your god.

7. Education, education, education. You can tell a lot about a person’s education from the way they write email and converse with you, or how they behave.

 

IMG_3606

 

8. Own a house before vehicle.

9. Start a day with water, end a day with water.

10. Spare time to read a well-written novel. Our brain always needs stimulation to fantasize.

11. Everybody loves movies. That’s why there’s always endless possibilities with, “What’s your favourite movie?”

12. Everybody has many favourite movies. Never judge them. Find out why they are appealing to them.

13. You may flaunt, but leave a lot to imagination. It will make people wonder more.

14. Forgiveness, asking for or accepting, is hard. One day at a time.

15. Lust does not last. Love does.

 

IMG_0785

 

16. When you fall in love hard, you will fall out love equally hard. You may not be prepared for the latter, but always realize this.

17. Keep a hobby that makes your mind occupied, and beams your face with smile.

18. Cashless may be convenient, but always keep spare cash at home. Piggy bank with coins always comes to rescue you at many unexpected times.

19. Eat to live, not the other way around.

20. Friends do come and go. Memories of all kinds with them will stay.

21. Renovate your house every 5 years. It will do wonder to your life.

22. Never make a life-changing decision when you are angry or happy.

 

IMG_3092 copy

 

23. Poker face is the go-to expression in any circumstances.

24. Treasure each moment when you lose your sleep over someone, when you cannot stop thinking of someone. Those moments never come back.

25. Send someone a hand written letter. You will make them smile.

26. Your friends, parents, loved ones will forget your birthdays, anniversaries, skip your big moments. Never make a big deal about it.

27. Virtual followers will come and go. Don’t hold on to them too dearly.

28. To write is to preserve our mind and memory. Keep doing it regularly.

 

IMG_0363 1

 

29. Hate is a very strong word. Use it when we already run out of other words.

30. Listen to music. It says words we cannot say.

31. You may not be wealthy. But you know how and where to earn money.

32. We don’t need much to live.

33. If you cannot find happiness, try sleeping at night for 8 hours. Do it at least for 3 days.

34. People share their stories to us not to seek any solutions. They just want to be heard. We just want to be heard. So we listen.

IMG_3097

 

35. Allergies, never-before-contacted diseases, they start knocking on our door in our 30s. Welcome them. Embrace them.

36. Once we do a good deed, immediately forget about it.

37. These following words matter the most: “Thank you”, “I’m sorry”.

38. There is a thin line between being kind and being firm. You don’t have to explain to others every time.

39. Our parents have only one chance to raise and love us the best ways they know how.

40. We do not know anything at all. We never will. We can only keep figuring out. That’s why we live.

IMG_1301

 

Selamat menjalani hari.

 

Terlampau Indah

RASA sakit dan wajah-wajah yang mengerang, air mata dan tangis, tubuh-tubuh telanjang yang lemah, kubangan darah, daging merah segar, organ-organ tubuh manusia, gunting pemotong yang tajam, napas yang terengah-engah, basah dan becek di mana-mana, serta senyuman-senyuman bahagia yang ditujukan kepada tubuh-tubuh lemah terkulai tak berdaya.

Di antara sekian banyak hal indah di dunia, gentle birth ialah salah satunya, menurut saya. Tak hanya indah, tetapi sekaligus mencekam dan menakutkan.

Setidaknya ada dua nyawa yang dipertaruhkan dan diperjuangkan agar tetap hidup. Ada berjiwa-jiwa lainnya yang berdoa, menanti dalam kecemasan. Ada pula dorongan rasa cinta yang sedemikian kuatnya. Begitu kuat terasa, cukup hanya dengan melihatnya dari kejauhan.

Tidak pernah sekalipun tidak merinding, bergidik ngeri, dan terharu secara bersamaan ketika melihat foto-foto—apalagi video—dari gentle birth. Termasuk milik Vanessa Decosta pada 11 Maret lalu, dan diabadikan oleh Vanessa Mendez (semua langsung terhubung ke album Facebook; NSFW) berikut ini.

Vanessa Decosta, sang ibu, meringkuk, mengejan.
Fotografer: Vanessa Mendez

Her pain.
Ibunya.
That very moment!

What a strong mother!
Tali pusar tidak buru-buru dipotong, plasenta tetap dibiarkan bertahan dalam rahim selama beberapa waktu.
You did a good job, girl!
Sustenance for both.
Hai!

Indigo June. It’s her name.

Album lengkap: The Birth of Indigo June

Melihat foto-foto dari peristiwa menakjubkan tersebut, kita–saya–kembali diingatkan betapa kuatnya seorang wanita, terutama sebagai seorang ibu. Kelahiran dan proses persalinan memang bukan titik akhir, tetapi cukup dari titik ini saja, kita dapat menyadari sepenuhnya bahwa woman is the very symbol of humanity.

Jangan bawa-bawa kodrat, di sini bukan tempatnya. Kelahiran dan proses persalinan memang sedemikian agung, luhur, dan sepatutnya dihujani takzim oleh siapa saja. Bukan sekadar urusan konsekuensi alamiah dari persetubuhan (yang banyak orang tak siap menghadapinya), bukan pula sekadar ambisi punya anak dan meneruskan keturunan (entah demi apa saja, sih?). Wanita bukanlah alat untuk beranak! Wanita berhak memilih dengan sepenuh-penuhnya kesadaran. Bukan lantaran tanggung jawab moral kepada suami dan orang tua dari kedua belah pihak; bukan lantaran tanggung jawab sosial kepada orang lain; bukan pula lantaran diiming-imingi, terlebih diperdaya.

Begitu pula sebaliknya.

Alasannya sudah jelas. Wanitalah yang…

  • Dihamili
  • Hamil selama sembilan bulan
  • Menanggung risiko dan sakitnya proses persalinan
  • Berkemampuan untuk menyediakan nutrisi dan sumber makanan pertama bagi sang bayi
  • Menjadi ibu

Bukan orang lain, para wanita berhak memutuskan ingin/tidak ingin memiliki anak (minimal) berdasarkan poin-poin di atas. Silakan tuding saya melakukan mansplaining, yang jelas foto-foto Vanessa Decosta di atas membuat saya berkata demikian.

Ini menyangkut kesejahteraan batin si ibu dan si anak. Kesampingkanlah dahulu kepentingan suami, orang tua, mertua, apalagi tetangga. Sesayang apa pun mereka, tampaknya, kepada sang bayi.

Kembali ke foto-foto proses persalinan Vanessa Decosta di atas sebagai contoh. Sang ibu memilih untuk menjalani gentle birth dengan sepenuh hati meskipun harus bersusah payah, dan agak berantakan. Sang suami mendampingi di sepanjang proses, lengkap dengan skin-to-skin contact. Ibunya sang ibu pun hadir memberikan dorongan semangat, senyum, dan dukungan kepada putrinya (atau menantunya). Dari situ saja, bisa dirasakan adanya curahan kasih sayang yang besar, kesediaan dan kehadiran, komitmen dan kekuatan kebersamaan. Maka, tak aneh bila kemudian kita–saya–berasumsi bahwa si kecil akan dirawat dan tumbuh dibesarkan dalam lingkungan terbaik. Paling tidak tergambarkan lewat cara penanganan yang dipilih dalam proses persalinan.

Gentle birth di tangan yang tepat, menjadi proses persalinan yang minim trauma bagi sang bayi, walaupun terlihat lebih merepotkan. Tidak buru-buru memisahkan sang bayi dari tembuninya, yang lagi-lagi berarti meminimalkan risiko dan memaksimalkan penyerapan zat nutrisi internal selama dalam kandungan.

Besar kemungkinan, segalanya dipikirkan matang-batang, dipilih dan dijalani sedalam-dalamnya kesadaran.

Dari contoh Vanessa Decosta tadi, semua orang, dan semua yang berkelindan di dalamnya…

Indah.
Sekali lagi, terlampau indah.

[]

Pas Kita Dirampas, Jangan Sampai Kehilangan Napas

Berhubung sudah lewat lebih dari sebulan, maka sebaiknya saya cerita saja di sini.

Pada bulan Februari lalu, saat work trip ke Berlin, saya dicopet.

Kejadian ini berlangsung di suatu sore hari yang cerah, meskipun cuaca sedang cukup dingin. Saya memutuskan untuk mengambil waktu rehat sejenak dari serangkaian meetings dan screenings. Saya pergi ke seberang tempat pemutaran film untuk mendatangi beberapa toko. Siapa tahu ada barang yang menarik untuk dibeli.

Lalu saya memutuskan pergi ke toko buku. Di depan toko buku, dua pria dengan fitur muka khas orang Timur Tengah mendekati saya.

“China? Japan? Thailand? Vietnam? Malaysia?”

Saya menggeleng sambil tersenyum dan mengatakan, “Indonesia”.

Mereka berkata, “Ah, Indonesia.”

Lalu mereka menanyakan apakah saya turis di sini, dan beberapa pertanyaan lain yang terus terang agak malas buat saya untuk menanggapinya.
Mereka mendekati saya untuk berbicara lebih dekat. Nothing to lose, pikir saya. Toh saya tidak ada rencana lain.

Setelah ngobrol sebentar, mereka beranjak pergi. Saya masuk ke dalam toko buku. Belum ada semenit saya mendorong pintu masuk, tangan saya menepuk kedua saku celana di depan, memastikan ada kunci di kantong kiri, dan ponsel di kantong kanan. Ini kebiasaan yang saya lakukan setelah turun dari kendaraan, baru beranjak dari tempat duduk, atau masuk ke tempat baru.

Lalu saya menepuk kantong belakang, tempat dompet saya. Kantongnya kempes. Tak pikir panjang, saya keluar dari toko buku, berjalan dengan cepat. Saya lihat dua orang tadi masih berada di depan toko buku, memegang dompet saya dan membukanya.

Secara refleks tanpa memikirkan apa pun sama sekali, saya menghampiri mereka. Saya bilang dengan suara yang tinggi, tapi tidak teriak, “Hey, you’ve got my wallet there!
Saya dekati, saya ambil dompet itu, lalu saya masuk lagi ke toko buku.

Semuanya terjadi secara cepat, hanya dalam hitungan detik. Saking cepatnya, setelah masuk ke toko buku, saya berdiri, terdiam, mengambil nafas panjang sambil membatin, “What the hell just happened there? What did I just do?

Sembari menenangkan diri, saya melihat-lihat deretan buku tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya sedang saya lihat. Suasana toko buku tidak terlalu ramai, tapi ada cukup banyak orang, sehingga saya sempat berpikir, kalau dua orang pencopet tadi masuk, tinggal make a scene di toko buku ini.

Saya membuka dompet. Tidak ada kartu ATM atau identitas diri yang diambil. Sepertinya ada lembaran uang yang diambil, tapi saya tidak terlalu memerdulikan ini. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli beberapa buku, hitung-hitung sebagai buang sial.

And guess what? I just smiled and even laughed after the robbery.

talent-thieves

Mungkin lega karena dompet bisa diambil dalam keadaan (nyaris) utuh. Atau saya sedang menertawakan nasib, karena tragedi ini terjadi sekitar sebulan setelah ponsel saya dijambret di depan apartemen, yang menyebabkan saya terjatuh saat mengejar penjambret di bulan Januari. Atau saya sedang ingin tertawa saja.

Entahlah. Yang pasti saya pun kaget, karena tiba-tiba saja saya jadi berani untuk mengambil apa yang memang jadi hak milik saya, yang terampas begitu saja di depan mata.

I guess it’s true what people say, that you don’t know your real power, or bravery, until you are put in an unlikely situation.

Teman saya berkomentar, “Elo ternyata punya kecenderungan untuk mengkonfrontasi langsung ya.”

Saya tertawa, sebelum menjawab, “Nggak tahu juga ya. I only need to do what I have to do, to take what’s rightfully mine.

Intuition never fails, baby.

Tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya

KITA awali saja dengan serangkaian peristiwa yang diperingati hari ini.

1. Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi peristiwa mikraj dalam kitab Siyer-i-Nebi dari masa Utsmaniyah abad ke-15. Gambar: publicdomainreview.org

Ialah Isra dan Mikraj. Yaitu diberangkatkan dalam sebuah perjalanan, lalu dibawa naik atau dinaikkan.

Perjalanan (Isra) berlangsung dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem dalam semalam. Tetap dengan menunggangi burak, Rasulullah dibawa naik untuk kemudian melintasi berlapis-lapis langit serta bertemu pada nabi pendahulu. Berturut-turut dimulai dari Nabi Adam, Nabi Isa (Yesus) dan Nabi Yahya (Yohanes), Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim (Abraham). Di langit tingkat tertinggi barulah Rasulullah menerima perintah beribadah wajib. Dijadikan lima kali dalam sehari, sejak subuh sampai isya.

Gambar terkait
Ilustrasi burak yang populer selama ini, dan kerap menghiasi dinding ruang tamu sebagai ornamen utama. Gambar: publicdomainreview.org

2. Yesus Kristus

Setelah penyaliban (Jumat Agung), kebangkitan dalam kubur batu terjadi di hari ketiga (Minggu Paskah). Lalu, tubuh itu pun terangkat dari Bukit Zaitun ke surga lepas 40 hari sesudahnya, ketika Yesus kembali berhimpun dan berkumpul dengan sejumlah murid.

“… et eritis mihi testes in Jerusalem, et in omni Judæa, et Samaria, et usque ad ultimum terræ.

“… kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

Kisah Para Rasul 1:8

Kini, mereka, golongan orang-orang yang percaya, tengah menanti janji nubuat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Salah satu penanda akhir zaman.

Gambar terkait
“Christi Himmelfahrt” atau “Naiknya Kristus” karya Gebhard Fugel tahun 1893. Gambar: Wikipedia

3. Yudistira

Perang kolosal Mahabharata telah lama usai. Dimenangkan oleh kubu Pandawa, Yudistira kembali memimpin kerajaan Hastinapura selama 36 tahun, sebelum akhirnya menarik diri bersama istri dan para saudaranya. Mereka bertujuh: Pandawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa), istri mereka Drupadi, dan seekor anjing melakukan perjalanan spiritual menuju surgaloka di Himalaya.

Satu demi satu anggota rombongan meninggal di sepanjang perjalanan akibat buah karma mereka. Dimulai dari Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima. Tersisa Yudistira dan anjingnya yang terus berjalan hingga mencapai kaki Gunung Meru menuju kayangan.

Di tengah-tengah perjalanan yang sepi itu, muncul Dewa Indra dengan keretanya. Dewa Indra menawarkan tumpangan kepada Yudistira ke surga, tetapi ditolak. Yudistira tidak mau ke surga tanpa istri dan saudara-saudaranya. Dewa Indra terus membujuk, menyebut Drupadi dan adik-adiknya telah mencapai surga setelah kematian mereka. Menurut Dewa Indra, Yudistira bisa naik ke surga dalam tubuh manusianya—tanpa melalui kematian—karena moralitasnya yang tanpa cela.

Belum selesai di situ, Yudistira kembali urung bergabung dengan Dewa Indra lantaran dilarang membawa anjingnya serta. Yudistira telah menganggap anjing tersebut sebagai teman seperjalanan, dan merasa sangat berdosa apabila meninggalkannya demi kebahagiaan sendiri.

Di tengah proses bujuk rayu Dewa Indra kepada Yudistira, anjing itu menunjukkan bentuk aslinya: Dewa Yama. Ia memuji kesetiakawanan Yudistira, dan membuatnya pantas memasuki surga dalam raga duniawinya.

Gambar terkait
Ketika Dewa Indra membujuk Yudistira menaiki keretanya ke kayangan tanpa membawa anjingnya. Gambar: Wikipedia

4. Buddha Gotama

Ratu Maya meninggal saat tujuh hari setelah melahirkan Pangeran Siddhattha.

Sebagai seorang piatu, sang pangeran tumbuh besar di bawah asuhan Pajapati, tantenya, dan tentu tidak berkesempatan untuk berbagi kebahagiaan atau pun berbakti kepada ibu kandungnya. Ketika ia berhasil memenangkan sayembara dan menikahi Yasodhara; ketika putranya lahir, Rahula; ketika ia kembali mengunjungi kerajaan kampung halamannya sebagai seorang Buddha.

Pada tahun ketujuh kebuddhaannya, Buddha Gotama melihat dan mempelajari kebiasaan para Buddha di masa lalu. Salah satunya ialah pergi dan mengajarkan Abhidhamma kepada murid dan makhluk-makhluk lain yang mampu memahaminya kala itu–kendati pada akhirnya tercatat dan berhasil dibukukan beberapa abad setelah wafatnya. Abhidhamma sendiri merupakan kumpulan ajaran mendalam yang disepakati berasal dari Sang Buddha langsung secara historis, dan kemudian jadi bagian dari Tipitaka hingga sekarang.

Mendiang Ratu Maya melanjutkan siklus kehidupannya terlahir di surga tingkat empat, Tusita, yaitu seorang dewa bernama Santusita. Maka pada saat Buddha Gotama mengunjungi surga tingkat dua, Tavatimsa untuk membabarkan Abhidhamma kepada ribuan dewa penghuninya, Santusita turut diundang hadir.

Pengajian Abhidhamma di Tavatimsa berlangsung selama tiga bulan (ukuran waktu bumi). Selama itu pula, para umat awam menunggu kepulangan Sang Buddha sambil berkemah dan mendengarkan ajaran dari beberapa murid utama. Titik konsentrasi umat ada di Samkassa (kota kuno yang saat ini bekas-bekasnya dipercaya berada di antara kota Farrukhabad dan Mainpuri, Provinsi Uttar Pradesh) sehingga Sang Buddha memutuskan “turun” di sana.

Mengetahui rencana kepulangan Sang Buddha ke bumi, Dewa Sakka—pemimpin surga Tavatimsa—menciptakan tiga jalur “tangga” dari “puncak Gunung Sineru” dan berujung ke pintu kota Samkassa. Jalur-jalur tangga tersebut terbagi menjadi tangga perak di kiri bagi para Mahabrahma, dan tangga emas di kanan bagi para dewa mengapit tangga permata untuk Sang Buddha.

Gambar terkait
Sang Buddha turun dari Tavatimsa didampingi para dewa hingga Mahabrahma dengan tangga permata. Gambar: journal.phong.com

Kisah-kisah di atas berasal dari hampir semua agama resmi yang diakui negara ini. Hanya saja, saya belum pernah membaca/tidak pernah menemukan catatan peristiwa serupa dalam ajaran Konghucu. Sementara ajaran Tao yang memiliki segudang cerita sejenis (Delapan Dewa, Lv Shang alias Jiang Ziya, atau bahkan sosok Laozi sendiri) masih dianggap bagian dari kepercayaan tradisional Tionghoa, yang rancunya, terkadang dilekatkan pada Buddhisme Mahayana. Maka dapat dikesampingkan untuk sementara waktu.

Dari keempat kisah di atas, saya hanya berhak mengomentari cerita tentang Sang Buddha “turun” dari Surga Tavatimsa.

Sebagai seorang Buddhis, saya tidak berkewajiban membuta untuk mempercayai kisah tersebut bulat-bulat. Toh, saya tidak ada di sana dan menyaksikannya waktu itu. Apalagi tidak tertutup kemungkinan, terbatasnya wawasan dan ilmu pengetahuan manusia di era tersebut dapat menyebabkan kekeliruan serta mispersepsi. Misalnya mengenai ruang: “naik”, “ke atas”, “turun”, “tangga”, dan sebagainya. Membuat kisah pembabaran Abhidhamma di surga itu terdengar mirip dongeng.

Apakah benar Sang Buddha naik untuk ke Surga Tavatimsa?
Apakah benar Sang Buddha turun ke bumi menggunakan tangga ciptaan Dewa Sakka?

Namun, satu hal yang nyata, kumpulan kitab Abhidhamma memang ada dan sebagiannya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bukan untuk sekadar dianggap sakral atau keramat, tetapi agar mudah dibaca, dipahami, dipraktikkan, dan dialami sendiri. Sebab hakikatnya, menjalankan dhamma—ajaran—jauh lebih penting dibanding urusan “tangga-tangga gaib” yang ribuan kilometer panjangnya.

Demikianlah sebagian cerita tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya.

… dan, barangkali, bukan itu intinya.

[]