Ngegas Ergo Sum: Aku Ngegas, Maka Aku Ada


ENGGAK peduli yang disampaikannya benar atau salah, tepat atau tidak, pokoknya ngegas dulu. Supaya “ada”, atau lebih tepatnya supaya dianggap dan merasa “ada”.

Diawali dengan satu pertanyaan: “Kenapa mesti ngegas, sih, anjjj…” (lah, kok ngegas juga?)

Ini barangkali bukan sekadar soal eksistensi. Bukan semata-mata tentang keberadaan seseorang, terutama menurut dirinya sendiri. Ego memang menjadi landasan utama, tetapi ada berbagai alasan dan latar belakang lain yang mendorong seseorang untuk bersikap demikian.

Emosional

Ada orang yang awalnya sabar, mampu menjaga sikap, dan mengendalikan diri. Namun, lama-lama mulai kehilangan kesabaran, gemas, geregetan, jengkel, sampai kesal ketika berinteraksi sosial. Nada bicara yang mulanya terdengar biasa-biasa saja, mulai meninggi, bahkan sampai membentak. Di titik yang paling parah bahkan bisa berupa teriakan. Bukan lagi berbicara atau diskusi seperti biasa, melainkan amukan amarah atau debat pakai urat.

Seseorang menjadi emosional lantaran banyak hal. Bisa karena pembawaan yang temperamental; tidak menyenangi lawan bicaranya; merasa terganggu dengan lawan bicaranya; si lawan bicara yang terkesan bebal atau susah dinasihati; bisa juga karena pembawaan yang memang tidak sabaran, atau judes dan suka ketus.

Kalau sudah begini, mesti dihadapi dengan luwes. Ngegas jangan dibalas dengan ngegas balik. Biarkan saja dia ngegas kenceng sampai saatnya harus tarik napas, lalu mulai kembali pembicaraan dengan landai dan santai. Kembali ke tujuan utama berlangsungnya pembicaraan tersebut; komunikasi, ada yang perlu disampaikan. Bukan adu-aduan mana yang lebih baik, lebih benar, dan seterusnya. Tidak menutup kemungkinan dia ngegas karena kita juga.

Butuh Perhatian

Semua orang butuh diperhatikan, dipedulikan, didengar, diiyakan, dianggap ada sebagai seseorang/sesuatu yang signifikan. Untuk tujuan ini, ngegas yang dilakukan sebatas konteks atau bungkusnya saja. “Notice me, Senpai!” Setelah diperhatikan dan mendapat tanggapan, gembira hatinya.

Ada banyak cara untuk ngegas demi mendapatkan perhatian. Bukan hanya meninggikan suara, atau berbicara lebih nyaring dan keras—awalnya dipikir dapat meredam suara lain, membuat suaranya saja yang didengar, padahal jadi tambah berisik—apalagi pakai gebrak meja. Ngegas bisa ditunjukkan secara virtual lewat media sosial. Cukup sambar twit seseorang, hujani dengan kritik, argumentasi perlawanan, bantahan dengan gaya yang diinginkan. Bisa juga ditambah gaya khas netizen yang berasanya ramah padahal sejatinya penuh penghakiman: “Sekadar mengingatkan 🙏🏼”

Enaknya kalau ngegas di media sosial, jika terbukti keliru atau salah cukup ditinggal ngilang

Aku Benar, Kamu Salah

Faktor ini juga bersinggungan dengan emosi, hanya saja seringkali dibarengi kebanggaan diri dan superioritas. Dengan merasa sebagai seseorang yang benar, dan sedang berhadapan dengan seseorang yang salah, timbul semangat untuk muncul dan mengemukakan diri sebagai pihak yang benar. Terkadang malah hanya gara-gara sok tahu.

Sayangnya, semangat kebanggaan diri ini rentan bikin kepleset. Harga diri dan gengsi sebagai seseorang yang benar tadi seolah-olah menjadi perisai kritik, tinggi hati, dan membuat seseorang tersebut susah menerima kenyataan bahwa dia salah. Ngeles terus sebisa mungkin, atau justru melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Banyak banget contohnya.

Seringkali yang ngegasnya lebih kencang justru orang yang jelas-jelas salah. Itu mereka lakukan demi menutupi kesalahan tersebut, atau mengalihkan perhatian supaya tidak terlampau malu.

Selain urusan benar atau salah, seseorang bisa ngegas karena banyak aspek lainnya. Superioritas tersebut mencakup status sosial dan ekonomi; “Aku lebih tinggi daripada kamu,” senioritas; “Aku lebih duluan daripada kamu,” dan ilusi moral; “Aku lebih baik daripada kamu.” Seakan-akan semua kondisi tersebut membuat mereka berhak untuk ngegas.

Sindrom Sang Penyelamat

Ini berhubungan dengan prioritas, atau hal yang dianggap penting oleh seseorang tetapi dianggap biasa-biasa saja bagi orang lain. Berkaitan juga dengan seberapa tenang seseorang saat menghadapi sesuatu. Ada yang bisa woles, ada juga yang panik, padahal ujung-ujungnya tidak serumit yang dibayangkan.

Maka, orang-orang dengan Sindrom Sang Penyelamat ini akan berusaha sekeras mungkin agar bisa didengar, diiyakan, dan dituruti oleh orang lain.

Berbeda dengan dorongan sebelumnya, orang-orang yang ngegas demi tujuan ini sebenarnya tidak memiliki niatan buruk. Mereka hanya terfokus pada hal-hal yang dianggap penting, bukan selebihnya. Lagi-lagi, yang membuat ngegas itu terjadi adalah perbedaan sikap dan pandangan terhadap sesuatu. Oleh sebab itu, dorongan ini bebas dari baper. Setelah sesuatu selesai, langsung move on.

Memang Dasar Mulutnya Jelek, Aja!

[]

Leave a Reply