GHOSTING : SEBUAH CARA UNTUK MENGAKHIRI HUBUNGAN TANPA KATA

“Kita ‘tuh sudah deket banget. Sudah kenal keluarga masing-masing, bahkan kucing aku aja udah nurut sama dia. Tapi tiba-tiba dia menghilang, enggak ada kabar. Aku coba hubungin tapi tetep enggak bisa. Eh tahu-tahu, kemarin dia hubungi aku lagi cuma mau kasih kabar kalau dia mau menikah. Kok tega ya? Muncul, terus tiba-tiba hilang eh muncul lagi. Kayak hantu.” kata seorang perempuan di sebuah metromini.

Sebenarnya sih yang mengalami kejadian ghosting atau menghantu atau seperti hantu ini bukan perempuan aja, laki-laki juga banyak yang alamin kok. Datang terus-terusan mengatakan kita adalah segalanya dan tujuan kita dengan mereka adalah akhir yang bahagia tanpa menjelaskan hubungan yang jelas, lalu menghilang tanpa ada kabar, diajak ketemuan males-malesan, dichat tidak pernah dibalas, lalu muncul kembali, ajak ketemuan lagi, memberikan harapan-harapan indah lagi, eh hilang lagi, terus muncul lagi sambil kasih kabar mau menikah.

Kayak hantu. Kayak jelangkung. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Nyeremin, tapi lebih serem dari hantu.

Kenapa ‘sih mereka suka ngelakuin itu? Dari beberapa artikel di beberapa portal online, ghosting dilakukan oleh seseorang ketika ingin memutuskan atau menghindari seseorang yang sudah tidak menarik bagi mereka. Jika mengatakan, “Kamu terlalu baik untuk aku, kita temenan aja” adalah kata-kata yang kasar, mereka lebih baik pergi tanpa kasih penjelasan apa-apa. Padahal, itu adalah hal yang paling menyakitkan.

Apa susahnya ‘sih ngomong, “Kita temenan aja ya,” daripada harus pergi tidak bilang-bilang. Mending bikin sakit hati daripada gantung hati. Iya, digantungin.

Saya rasa, hampir 80% orang Indonesia pernah mengalami hal ini. entah karena memang kita-kita adalah orang yang mudah terlena dengan janji manis seseorang, atau memang percaya dengan kata-kata cinta itu menyenangkan. Lalu bagaimana cara menghindari ghosting ini?

Carilah orang yang betul-betul tegas dan yakin akan hubungan kalian berdua. Kalau sayang ya sayang, kalau ingin melamar yang memang benar-benar melamar dengan datang ke orangtua dan nikahi kamu. Jangan cari yang cuma bisa berkata manis, karena yang manis hanya teh manis. Dan yang paling penting, jangan terlalu berharap dan percaya sama manusia. Manusia pusatnya kekurangan dan kesalahan. Paling aman memang berharap dan percaya sama Tuhan aja.

Jangan Jadi PNS

Selama masih suka ngeluh, terjebak pada besarnya nominal serta membandingkan diri dengan yang lain; maka kebahagiaan tak akan pernah singgah dalam relung jiwa kita. Meskipun sebenarnya pekerjaan yang kita raih sekarang cukuplah bonafit dan diidamkan orang lain. Kita tak akan pernah puas dengan yang kita miliki. Manusiawi.

Ditambah dengan omongan masyarakat yang bikin kuping jadi panas, membuat sebagian orang makin bimbang dengan profesi yang telah digelutinya.

Pas lagi rame-ramenya rekrutmen PNS, di sebuah angkringan ada yang ngomong begini, “Ngapain jadi PNS, gaji kecil, gak bisa kaya. Masih aja banyak yang daftar”

Ya Allah, itu mulut apa balsem. Pedes banget.

E tapi kata siapa PNS gak bisa kaya. Lihat aja kalau PNS ngajukan kredit di bank “Gaji emang 2 juta mbak. Tapi belum termasuk honor, perjalanan dinas dll. Kalau ditotal bisa XX juta” <<< *sok kaya beud

Giliran tetangga mau minjem duit, “Aduh gimana ya. Pengen bantuin, tapi gaji PNS kan kecil. Kudoain aja yang terbaik ya”

Yang gak kalah sadis lagi…

“Parah nih PNS. Kerjanya lemot, suka keluyuran saat jam kerja, mempersulit urusan, banyak KKN-nya pula”

Astaghfirullah…

Saya sih gak kaget, karena faktanya memang masih ada yang begitu. Wajar bila sebagian besar masyarakat memberi stigma buruk pada aparat pemerintah. Mereka mengalami sendiri ketika ngurus KTP, bikin sertifikat, buat ijin usaha, berobat ke Rumah Sakit dll.

Tapi percayalah, gak semua seperti itu. Masih ada PNS yang berintegritas, berdedikasi tinggi serta mencintai negeri ini.

Pemerintah gak berdiam diri kok. Ada upaya sungguh-sungguh melakukan reformasi birokrasi untuk meningkatkan kinerja para ASN. Kita sedang berproses ke arah yang baik.

Ketika mendapat pelayanan yang tidak memuaskan dari aparat serta mengetahui ada indikasi fraud, kita bisa mengadukannya. Laporkan ke aparat pengawas dan Ombudsman Republik Indonesia. Bisa juga dengan mengirim surat pembaca di koran nasional.

Gak perlu memaki, merendahkan profesi mereka. Trus ngomporin orang lain agar tak jadi PNS, agar tak jadi orang gajian seumur hidup. Menganjurkan anak-anak muda agar jadi enterpreneur aja.

Lha kalau semua jadi wirausaha, lebih memilih masuk perusahaan, gak ada yang mau jadi PNS; siapa yang bakal mengurus negri ini Maliih?

Justru negri ini butuh lebih banyak orang baik, orang-orang cerdas dan kreatif untuk menjadi PNS. Agar birokrasi menjadi lebih lincah, bersih dan gak bertele-tele. Supaya mereka tak kalah ketika menghadapi para mafia, politikus busuk dan pengusaha nakal.

Di Perancis dan Singapura, pegawai negeri adalah profesi elite. Selalu jadi rebutan lulusan terbaik. Alangkah sedihnya ketika PNS dijadikan pilihan karena kepepet. Karena punya canel orang dalam dan jatah jabatan.

Intinya, semua profesi itu sama. Mau jadi petani, nelayan, pedagang, pengusaha, dokter, tukang parkir, atau buruh pabrik. Tak ada yang lebih mulia, ataupun lebih hina. Tergantung bagaimana menjalani dengan penuh kesungguhan, jujur dan bertanggung jawab.

Dan gak perlu ngiri sama profesi orang lain. Kalau gak terima dengan kondisi saat ini, merasa penghasilan ala kadarnya, stuck; ya udah alih profesi aja.

Yang perlu disadari adalah, ada hal-hal lain yang tak bisa dinilai dengan materi. Mungkin gaji tak seberapa, tapi entah mengapa selalu cukup untuk kebutuhan keluarga, bisa bantu saudara, jiwa pun tenang karenanya. Lingkungan kerja yang nyaman, kesempatan belajar terbuka lebar, serta mampu mengoptimalkan diri; adalah beberapa alasan kenapa seseorang memilih sebuah pekerjaan.

Yang penting, cintai pekerjaanmu. Jangan pedulikan label yang orang lain berikan pada dirimu. Gak usah merasa paling berjasa, paling penting, atau paling apalah dibanding yang lain.

Kita berbeda jalan, beda profesi untuk saling melengkapi.

Berhenti Sok Tahu Mengejar “Kebahagiaan”

SAAT teman baikmu ada masalah dengan pacarnya‒yang lagi-lagi ketahuan selingkuh, kamu gemar, bahkan jago memberikan nasihat kepada dia.

Dengan kebijaksanaan laksana seorang begawan, kamu tunjukkan dan jabarkan hal-hal yang selama ini diluputkannya. Kamu berikan dia pandangan tentang bagaimana menyikapi masalah tersebut. Kamu juga mendorongnya menjadi wanita pemberani. Berani melihat kenyataan, berani mengambil keputusan, berani meninggalkan seseorang yang memang tak pantas didampingi.

Tanpa terlalu mencampuri kehidupannya seperti seseorang yang tak tahu batasan, kamu peluk dan kuatkan dia. Kamu dampingi dia dalam setiap langkah yang perlu diambil untuk menyudahi dan bangkit dari keterpurukan itu. Kamu berhasil mendorong dan menyemangati agar dia kembali menjadi dirinya sendiri. Menjadi seorang wanita yang berharga, yang semestinya diperlakukan dengan sebaik mungkin, yang pantas mendapatkan laki-laki terbaik di sisinya.

Usahamu berbuah manis. Temanmu kembali menjadi figur yang ceria, manis, dan bebas berekspresi. Kamu berhasil membantunya melewati momen-momen tidak menyenangkan yang kritis. Kamu menunaikan tugas sebagai seorang teman yang membantu di saat paling dibutuhkan, sekaligus sekali lagi membuktikan kemampuan sebagai penasihat yang baik. Pemberi panduan bagi mereka yang hilang arah, dan tak tahu harus berbuat apa. Kamu memang hebat.

Nasib orang siapa yang tahu.

Menjadi seseorang yang cantik, pintar, baik, lucu, menggemaskan, dan pandai menampilkan diri bukan jaminan bisa terhindar atau terlepas sepenuhnya dari orang-orang yang tak tahu diuntung.

Kamu diselingkuhi oleh pacarmu sendiri. Seseorang yang sudah diajak menjalani hubungan dua tahunan lamanya.

Kamu terpukul hebat, tentu saja. Untuk beberapa waktu lamanya, giliran kamu yang kehilangan arah. Kamu sadar penuh bahwa kamu adalah korbannya, dan dia, seseorang yang pernah (atau masih) kamu anggap sebagai rumah tempat kelelahan dan hati berlabuh, ternyata tidak lebih dari sekadar bocah. Tak peduli berapa usianya, apa pekerjaannya, berapa yang dia hasilkan, dan pencapaian-pencapaiannya yang lain, dia hanya anak-anak yang dengan mudahnya beralih perhatian dari satu mainan ke mainan lain. Kadang ia pegang di kedua tangannya, bersamaan, tanpa mau melepaskannya. Dibawa saat tidur, dibawa saat mandi, dibawa saat makan, dibawa saat berak. Dia cuma seperti anak-anak, yang manakala dijauhkan dari mainan-mainannya sebentar saja, akan menangis meraung mengamuk tantrum tanpa peduli di mana dia berada, di hadapan siapa dia melakukannya.

Dia tak ubahnya anak-anak. Bukan laki-laki dewasa, seseorang yang seharusnya tahu betul apa arti dari komitmen, tanggung jawab, kejujuran, dan kepatutan. Soal pernikahan dan menjadi pasangan seumur hidup dalam ikatan cinta? Oh, belum tingkatannya. Masih jauh. Banget. Terlepas dari apa pun hal-hal indah yang pernah kalian jalani sebelumnya. Termasuk janji, serta ucapan-ucapan menyenangkan dan menyamankan yang pernah dia sampaikan. Baik lewat teks, dengan berbicara langsung, maupun yang dibisikkannya secara lembut lirih perlahan langsung di depan liang telingamu.

Bila masalah ini dilihat oleh dirimu yang dahulu; yang menasihati, membantu menyadarkan, dan menguatkan teman baikmu kala menghadapi perkara serupa, kamu pasti langsung tahu harus ngapain dan berbuat apa. Baik untuk dirimu sendiri, maupun kepada seseorang yang belum becus menjadi laki-laki dewasa sepenuhnya.

Namun, mendadak kok jadi tidak “segampang” itu? Tak lancar seperti sebelumnya? Kamu justru butuh mendapatkan masukan dari orang lain. Perlu dinasihati dan dibantu menuju solusi.

Itulah kita, yang jago memberikan nasihat bagi orang lain tetapi malah jadi pengambil keputusan yang payah bagi diri sendiri. Meskipun seringkali untuk masalah yang sama. Kan lucu.

Diistilahkan sebagai Solomon’s Paradox, hal ini dikenal sebagai salah satu “keunikan” lazim pada manusia. Yakni ketika seseorang bisa melihat masalah orang lain dengan begitu jelas, sehingga dapat langsung mengidentifikasi inti/fokus utamanya. Dibanding saat menghadapinya sendiri.

Di sisi lain, perbedaannya adalah sudut pandang dan apa yang dialami. Bagi orang lain, masalah tersebut dapat dilihat dari satu atau dua dimensi. Sedangkan bagi yang mengalami sendiri, terdapat banyak faktor dan pertimbangan tambahan. Belum lagi soal perasaan yang hanya diketahui oleh mereka‒dan bikin bias‒secara eksklusif.

Dengan demikian, kita akan selalu rentan untuk menjadi sok tahu tentang masalah orang lain. Belum lagi jika kita menyuapkan (baca: memaksakan) saran-saran yang terdengar positif, tetapi sejatinya beracun.

Sebab segala masalah yang mereka alami, kerap tidak sesederhana yang kita pahami. Hingga akhirnya terjadi pada diri kita sendiri.

[]

Sisi Sebelah Sono dari Takut

Apa yang membuatmu takut?

Kegelapan selamanya yang katanya akan dialami ketika mati? Atau bayangan bahwa semesta begitu luasnya dan manusia begitu tidak signifikannya, lebih kecil dari debu, sampai memikirkannya membuat napas sesak? Mungkin ada ketakutan yang lain, yang membuat film horor yang paling mengerikan sekalipun (untuk saya; Hereditary dan Ringu) jadi seperti kisah fabel untuk anak sebelum tidur?

Seperti bayi baru yang sudah terbiasa dengan ruang terbatas di rahim ibu, ketika merasa ada di ruang terlalu terbuka seringnya merasa kurang aman, karena itu tak jarang mereka dibungkus dalam selimut atau dibedong sehingga bisa tidur dengan ayem.

Begitu juga manusia dewasa yang mungkin ketakutannya adalah jagat yang demikian luas, membuat bumi hanyalah salah satu planet dari entah berapa juta atau milyar makhluk surgawi yang ada. Dengan premis seperti itu sepertinya sulit mempertahankan pemikiran kalau kita makhluk yang paling sempurna dan segalanya diciptakan untuk kita. Apa ya, bedongnya kira kira jika ketakutannya itu? Mungkin mencari ideologi dan teori lama geosentris, kemudian menambah dengan apa yang dikira dibaca di kitab suci, dan jadilah kepercayaan bahwa bumi datar. Bahwa langit tidak bolong sampai lapisan ke tujuh, di jagat, jagat kedua, multi jagat dan lebih luas lagi, tapi ada lapisan firmamen yang melindungi kita. Lalu matahari dan bulan diciptakan hanya untuk kebutuhan manusia di bumi.

Sepertinya semua manusia, paling tidak satu waktu dalam hidupnya terpikir soal kematian dan takut karenanya. Memang lebih nyaman untuk berpikir bahwa kita akan bangun lagi di alam yang berbeda dan abadi, dan apa yang kita kerjakan di dunia berpengaruh dengan apa yang akan kita alami di alam tersebut. Kegelapan abadi tentu tak membuat nyaman. Tetapi mengingatkan diri dengan teori kekekalan energi, sehingga ruh manusia adalah energi yang tidak bisa dihilangkan hanya berubah bentuk, tentu lebih membuat nyaman menghadapi kematian.

Apa yang kita rela korbankan demi rasa nyaman? (Sementara nyaman adalah musuh dari … kemajuan? Sukses?)

Mungkin juga rasa takut tidak terlalu buruk, bukan untuk diubah jadi nyaman, tapi diterima saja. Lebih baik kalau jadi cinta. Karena dalam hidup kita hanya dua pilihan; untuk menjalaninya mengikuti rasa takut, atau rasa cinta.

everything-you-want-is-on-the-other-side-of-fear-24042728

Petuah Yang Selalu Kita Usahakan

Salah satu nasihat yang pernah diberikan ayah saya kurang lebih begini:

“Jangan kamu ingat semua kebaikan yang pernah kamu lakukan ke orang lain. Tapi selalu ingat semua kesalahan yang pernah kamu lakukan ke orang lain.”

Berat? Tentu saja. Namanya juga petuah. Kalau tidak berat, itu namanya basa-basi. Atau konten meme.

Apalagi ini pedoman hidup yang disampaikan ke orang tua pada anaknya, dengan harapan agar anak bisa mengamalkan atau menjalankan itu dalam hidup.

Tentu saja pertanyaan yang muncul setelah itu, naturally, adalah: apakah saya sudah menjalankan pesan ayah saya ini?

Dengan menghela nafas yang dalam dan panjang, saya menjawab dengan mantap dan tegas, “Belum.”

Kenapa belum? Karena ini berat sekali dilakukan.

Terlebih di saat kita lagi dilanda gejolak emosi yang berlebih, apalagi belakangan ini. Ditambah lagi, katanya sekarang bumi sedang mengalami fenomena Mercury Retrogade. (Walaupun kalau dipikir-pikir, asyik juga menyalahkan fenomena alam terhadap perasaan kita yang sedang carut marut tak karuan.)

Saat kita sedang emosi, sedang merasa kesal terhadap orang lain, sangat mudah kita untuk berkacak pinggang sambil bilang, “Dasar elo ya! Gak tahu terima kasih, gue udah kerjain semua saat elo gak ada, sekarang elo semua yang take the credit and praise!” Kalau perlu sambil melotot seperti Leily Sagita di sinetron … Ah, Google saja kalau tidak familiar dengan nama ini.

Saat kita sedang emosi, sangat mudah buat kita mengasihani diri sendiri, menempatkan diri kita sebagai korban. Kita sibuk mendramatisir berbagai kejadian di benak kita, membayangkan kita seolah-olah bak anak sebatang kara yang disia-siakan orang tuanya sehingga harus menyambung hidup di jalanan ibu kota yang bengis, seperti Faradila Sandy di film … Ah, Google saja kalau tidak tahu referensi ini.

Trust me, I know this, I can write this, because I have been experiencing this. Shamefully, sometimes I still do that.

aid319399-v4-728px-Ask-a-Friend-to-Forgive-You-Step-1

Sangat berat bagi kita untuk mendinginkan kepala saat hati masih berapi-api. Sangat berat bagi kita untuk bisa tenang, saat kesempatan untuk marah-marah lebih terbuka lebar. Biasanya kemarahan kita jadi tidak fokus, tidak terpusat pada hal yang memicu konflik, malah merembet ke hal-hal lain di masa lalu yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali dengan masalah at the present time.

Jujur, saya punya anger management problem. Terlebih saat sendiri, dan merasa sendiri menghadapi masalah dengan orang lain. Sangat susah untuk mengakui kesalahan, dan berbesar hati mau bicara terbuka dengan orang atau kelompok yang mempunyai masalah dengan saya, untuk mencari jalan keluar.
Sometimes we think our way is the best way, until we talk it out loud, and we realize it’s not.

Kalau sudah dalam posisi ini, sebelum “meledak” lebih jauh, maka saya akan retreat. Mundur sejenak, kalau perlu diam lebih lama lagi. Dan tidur. Saya percaya bahwa sleep on it kadang menyelesaikan masalah.

Dan meskipun saya tidak relijius, saya percaya bahwa waktu 3 hari atau 72 jam itu waktu yang cukup untuk marah kepada seseorang, terlebih dalam konteks marah terhadap rekan kerja, teman sekolah, atau sejawat lainnya. Setelah waktu tersebut selesai, mungkin marah kita belum reda, tapi paling tidak kita sudah punya perspektif lain terhadap masalah yang kita hadapi, karena kita kepikiran terus selama waktu itu ‘kan? At least this is what I believe.

And I still believe in the power of forgiveness. Mau kita yang meminta maaf, mau kita yang memaafkan, yang jelas forgiveness gives closure.

Dan bukankah kita hidup selalu mencari closure ini?

So, Dad, if you’re reading this, and I know you sometimes are, I am still working on your advise, all the time.

father-and-son1

Ngegas Ergo Sum: Aku Ngegas, Maka Aku Ada


ENGGAK peduli yang disampaikannya benar atau salah, tepat atau tidak, pokoknya ngegas dulu. Supaya “ada”, atau lebih tepatnya supaya dianggap dan merasa “ada”.

Diawali dengan satu pertanyaan: “Kenapa mesti ngegas, sih, anjjj…” (lah, kok ngegas juga?)

Ini barangkali bukan sekadar soal eksistensi. Bukan semata-mata tentang keberadaan seseorang, terutama menurut dirinya sendiri. Ego memang menjadi landasan utama, tetapi ada berbagai alasan dan latar belakang lain yang mendorong seseorang untuk bersikap demikian.

Emosional

Ada orang yang awalnya sabar, mampu menjaga sikap, dan mengendalikan diri. Namun, lama-lama mulai kehilangan kesabaran, gemas, geregetan, jengkel, sampai kesal ketika berinteraksi sosial. Nada bicara yang mulanya terdengar biasa-biasa saja, mulai meninggi, bahkan sampai membentak. Di titik yang paling parah bahkan bisa berupa teriakan. Bukan lagi berbicara atau diskusi seperti biasa, melainkan amukan amarah atau debat pakai urat.

Seseorang menjadi emosional lantaran banyak hal. Bisa karena pembawaan yang temperamental; tidak menyenangi lawan bicaranya; merasa terganggu dengan lawan bicaranya; si lawan bicara yang terkesan bebal atau susah dinasihati; bisa juga karena pembawaan yang memang tidak sabaran, atau judes dan suka ketus.

Kalau sudah begini, mesti dihadapi dengan luwes. Ngegas jangan dibalas dengan ngegas balik. Biarkan saja dia ngegas kenceng sampai saatnya harus tarik napas, lalu mulai kembali pembicaraan dengan landai dan santai. Kembali ke tujuan utama berlangsungnya pembicaraan tersebut; komunikasi, ada yang perlu disampaikan. Bukan adu-aduan mana yang lebih baik, lebih benar, dan seterusnya. Tidak menutup kemungkinan dia ngegas karena kita juga.

Butuh Perhatian

Semua orang butuh diperhatikan, dipedulikan, didengar, diiyakan, dianggap ada sebagai seseorang/sesuatu yang signifikan. Untuk tujuan ini, ngegas yang dilakukan sebatas konteks atau bungkusnya saja. “Notice me, Senpai!” Setelah diperhatikan dan mendapat tanggapan, gembira hatinya.

Ada banyak cara untuk ngegas demi mendapatkan perhatian. Bukan hanya meninggikan suara, atau berbicara lebih nyaring dan keras—awalnya dipikir dapat meredam suara lain, membuat suaranya saja yang didengar, padahal jadi tambah berisik—apalagi pakai gebrak meja. Ngegas bisa ditunjukkan secara virtual lewat media sosial. Cukup sambar twit seseorang, hujani dengan kritik, argumentasi perlawanan, bantahan dengan gaya yang diinginkan. Bisa juga ditambah gaya khas netizen yang berasanya ramah padahal sejatinya penuh penghakiman: “Sekadar mengingatkan 🙏🏼”

Enaknya kalau ngegas di media sosial, jika terbukti keliru atau salah cukup ditinggal ngilang

Aku Benar, Kamu Salah

Faktor ini juga bersinggungan dengan emosi, hanya saja seringkali dibarengi kebanggaan diri dan superioritas. Dengan merasa sebagai seseorang yang benar, dan sedang berhadapan dengan seseorang yang salah, timbul semangat untuk muncul dan mengemukakan diri sebagai pihak yang benar. Terkadang malah hanya gara-gara sok tahu.

Sayangnya, semangat kebanggaan diri ini rentan bikin kepleset. Harga diri dan gengsi sebagai seseorang yang benar tadi seolah-olah menjadi perisai kritik, tinggi hati, dan membuat seseorang tersebut susah menerima kenyataan bahwa dia salah. Ngeles terus sebisa mungkin, atau justru melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Banyak banget contohnya.

Seringkali yang ngegasnya lebih kencang justru orang yang jelas-jelas salah. Itu mereka lakukan demi menutupi kesalahan tersebut, atau mengalihkan perhatian supaya tidak terlampau malu.

Selain urusan benar atau salah, seseorang bisa ngegas karena banyak aspek lainnya. Superioritas tersebut mencakup status sosial dan ekonomi; “Aku lebih tinggi daripada kamu,” senioritas; “Aku lebih duluan daripada kamu,” dan ilusi moral; “Aku lebih baik daripada kamu.” Seakan-akan semua kondisi tersebut membuat mereka berhak untuk ngegas.

Sindrom Sang Penyelamat

Ini berhubungan dengan prioritas, atau hal yang dianggap penting oleh seseorang tetapi dianggap biasa-biasa saja bagi orang lain. Berkaitan juga dengan seberapa tenang seseorang saat menghadapi sesuatu. Ada yang bisa woles, ada juga yang panik, padahal ujung-ujungnya tidak serumit yang dibayangkan.

Maka, orang-orang dengan Sindrom Sang Penyelamat ini akan berusaha sekeras mungkin agar bisa didengar, diiyakan, dan dituruti oleh orang lain.

Berbeda dengan dorongan sebelumnya, orang-orang yang ngegas demi tujuan ini sebenarnya tidak memiliki niatan buruk. Mereka hanya terfokus pada hal-hal yang dianggap penting, bukan selebihnya. Lagi-lagi, yang membuat ngegas itu terjadi adalah perbedaan sikap dan pandangan terhadap sesuatu. Oleh sebab itu, dorongan ini bebas dari baper. Setelah sesuatu selesai, langsung move on.

Memang Dasar Mulutnya Jelek, Aja!

[]

Mengelak dari Kesusahan Kini atau Nanti? Kita Memang Makhluk yang Sangat Pamrih

TENTU saja! Mustahil bagi kita untuk benar-benar tanpa pamrih, tanpa berhitung, atau tanpa mempertimbangkan sejumlah hal sesedikit apa pun dalam menjalani hidup. Hal ini lazim, selazimnya kita menikmati hal-hal yang menyenangkan, dan menolak hal-hal yang tidak menyenangkan.

Sederhananya, disadari atau tidak, kita pasti melakukan sesuatu demi sesuatu yang lain. Begitu pula sebaliknya, kita pasti tidak melakukan sesuatu demi menghindari sesuatu yang lain. Dalam bentuknya serendah atau sekasar apa pun (bertahan hidup, pahala dan bisa masuk surga, mendapatkan uang dan harta, makanan, belas kasihan, kesempatan bersetubuh atau disetubuhi, reputasi dan popularitas, kedudukan, hadiah, dan sebagainya), sampai yang seluhur atau sehalus apa pun (merasa memiliki tujuan hidup, rasa batin yang terpenuhi, rasa syukur, kepuasan batin, rasa senang dan syukur karena telah berkontribusi bagi kesejahteraan orang lain, merasa telah menjadi seseorang yang baik dengan moral terpuji, merasa berlatih ikhlas dan sukarela, rasa ingin menjadi orang yang lebih baik, rasa bakti, dan sebagainya) kita pasti mengharapkan sesuatu. Bahkan orang-orang dengan kegemaran menyakiti perasaan dan diri sendiri pun, cenderung terus melakukan hal-hal tidak menyenangkan demi tujuan dan kepuasan tertentu.

Image result for fruit of self control
Foto: Pinterest

Di luar kesadarannya, seorang anak mengalami tantrum. Ia menangis meraung-raung, melelahkan, terkadang sampai tersedak dan hampir muntah, serta tidak memberikan perasaan gembira, supaya diperhatikan dan kemauannya dituruti. Sebelum mendapatkan yang ia inginkan, tantrum akan terus berlangsung.

Kecenderungan perilaku tersebut bertahan seiring usia, tetapi berubah sesuai keadaan baik dari dalam maupun luar. Dengan pengkondisian yang tepat, ada nilai sekaligus hal baru yang ditanamkan dari lingkungan di sekitarnya. Berproses bersama kepribadian dan tabiat yang bersangkutan, membentuk kebiasaan.

Mulai mengenali gadget dan tablet sebagai benda-benda yang menarik perhatian, atau permen, atau diajak jalan dan dibawa ke suatu tempat baru, atau donat, atau cokelat, atau kukis, atau uang, atau mainan, dan atau-atau yang lainnya, si anak tadi bersedia melakukan sesuatu demi mendapatkan yang diinginkan. “Nanti dikasih permen, ya.” Bila tidak begitu, si anak akan menggerutu ketika diminta ibunya melakukan ini dan itu saat tengah asyik bermain.

Sekali lagi, disadari atau tidak, kecenderungan itu bertahan sampai dewasa dan seterusnya. Dengan tujuan yang positif maupun negatif, kita terus berhitung kendati tidak berupa angka.

“Ya, sudah, tidak apa-apa lah, hitung-hitung beramal.”
“Kamu boleh senang-senang sekarang, lihat
aja nanti.”
“Biar lembur sekarang, supaya Jumat bisa pulang cepat.”
“Aku rela begini, supaya dia
enggak ninggalin aku.”
“Tak apa lah repot-repot sedikit, supaya hatimu bisa luluh nanti.”
“Ambil
aja kembaliannya, Pak (ribet pegang uang receh).”
“Cari muka, buang malu
dulu, biar nanti jadi orang kepercayaannya.”
“Sekarang susah-susah dahulu, biar nanti uangnya terkumpul buat bayar kuliah.”

“Ingat, tuhan tidak tidur.”
“Tidak apa-apa kita susah begini, mudah-mudahan kesabaran kita diganjar surga.”

Silakan amati perubahannya. Dari seorang bocah yang tidak sadar, tidak peduli, dan tidak mau tahu, bagaimanapun caranya harus mendapatkan yang diinginkan saat ini juga, menjadi seseorang yang akrab dengan ungkapan “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” dan melakoninya sendiri.

Delayed gratification atau menunda kenikmatan, demikian hal tersebut dikenal sebagai sebuah sikap hidup yang kita ciptakan sendiri. Menunda desakan ego, mengatasi godaan.

Kita mengenal, mempelajari, dan mempraktikannya melalui banyak nama. Ketekunan, kesabaran, kegigihan, keuletan, keterampilan, ketabahan, pengendalian diri (dari ganjaran yang tersedia saat ini demi mendapatkan sesuatu yang lebih nanti), kecermatan dan ketepatan, keuntungan maksimal, pilihan yang lebih baik, kebahagiaan, dan kebahagiaan yang sejati ialah beberapa di antaranya.

Semua adalah soal pilihan yang diambil lewat beragam alasan dan latar belakang. Sempat disinggung sebelumnya, beragam alasan dan latar belakang dipengaruhi oleh pengkondisian serta nilai-nilai yang diperoleh dari lingkungan.

Delayed gratification yang dilakukan oleh anak orang kaya dan bukan anak orang kaya; orang religius dan orang sekuler; orang konservatif dan moderat; orang paguyuban dan orang patembayan; tentu berbeda. Namun, yang berbeda hanyalah objek-objek pilihannya. Sementara prinsip dan cara kerjanya sama: Menunda dari mendapatkan kesenangan saat ini, demi merasakan kesenangan yang lebih intensif di masa yang akan datang. Termasuk setelah datangnya kematian.

Iya, ini berlaku dalam beragama.

Terima saja, kita memang makhluk yang sangat pamrih … atau mungkin tuhan memang menciptakan kita sebagai makhluk yang sangat pamrih, dan dalam situasi kehidupan yang memang mesti dijalani pakai pamrih.

Jadi, cobalah santai sedikit saja.

[]