Belajar Menjual Diri

TAHUN baru, pekerjaan baru di kantor yang baru, tentu dengan suasana dan nominal gaji yang baru pula. Itu yang biasanya berlaku di kota-kota besar. Terutama bagi mereka yang (merasa) memiliki keleluasaan untuk bekerja bukan demi penghasilan dan nafkah, sehingga bisa dengan mudahnya menolak sebuah tawaran pekerjaan dengan alasan: “Kantornya gak asyik, ah.” 

Banyak hal mengejutkan yang saya temui di tahun pertama merantau ke Jakarta. Durasi bekerja, salah satunya. Ketika banyak yang mengeluh susahnya mencari pekerjaan—entah apa pun alasan dan faktor penyebabnya, tetapi tak sedikit pula yang berhenti bekerja (kurang dari 18 bulan) dengan ringannya, untuk langsung aktif berkantor di tempat baru sekira dua bulan kemudian. Seseorang yang angka usianya belum 30 dan bekerja hampir sepuluh tahun di satu perusahaan tampaknya adalah sesuatu yang langka—atau, agak bodoh, menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, barangkali.

Tidak ada yang salah dari keputusan tersebut. Setiap orang berhak untuk memilih pekerjaan; kantor yang ingin mereka datangi; dan bebas membuat pertimbangan atas setiap keputusan yang diambilnya. Lagipula, kalau ada tawaran pekerjaan serta tempat bekerja yang lebih baik dari segi kenyamanan, penghasilan, reputasi, sistem kerja, sistem pengembangan kemampuan personal, dan sebagainya, mengapa tidak? Bisa lebih maju, lebih ternama, dan lebih kaya. 

Baru di Jakarta pula saya menyadari bahwa mereka yang bekerja bisa terbagi dalam dua kategori: Bekerja karena pekerjaan itu sendiri, dan Bekerja demi taksiran nilai diri (valuation). 

Kelompok pertama, mereka yang bekerja karena pekerjaan itu sendiri, memiliki beragam alasan dan latar belakang. Termasuk;

  • Harus bekerja demi mendapatkan penghasilan,
  • Bekerja karena tuntutan orang tua atau keluarga,
  • Bekerja di perusahaan orang tua,
  • Bekerja karena menyenangi pekerjaan itu,
  • Bekerja karena sesuai dengan keahlian,
  • Tetap bekerja karena komitmen pada diri sendiri,
  • Tetap bekerja karena ingin menuntaskan atau mencapai sesuatu terkait pekerjaan tersebut (terfokus pada hasil pekerjaan, bukan siapa yang mengerjakannya),
  • Tetap bekerja karena telah menjadi zona nyaman atau malas untuk memulai lagi,
  • Bekerja karena pekerjaan itu terlalu spesifik bagi orang lain, atau
  • Bekerja karena tuntutan sosial, dan banyak lagi. 

Berbeda dengan kelompok kedua, yang bekerja sedemikian rupa untuk meningkatkan “banderol diri”. Caranya dengan terus menambah, melengkapi, dan mempercantik portofolio pekerjaan yang sudah maupun sedang berlangsung. Dengan atau tanpa penjelasan tentang eksekusi, apalagi capaian akhir dari pekerjaan tersebut. Secara garis besar, yang mereka lakukan adalah tentang memasarkan diri sendiri, sebagai seseorang yang berkeahlian dan mampu mengerjakan sesuatu/beberapa hal. Self-marketing and personal branding

Caricature for LinkedIn job titles meme
Source: Pinterest

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan self-marketingself-promotion, maupun personal branding. Wajar, lantaran setiap orang mengejar aktualisasi diri. Perasaan sebagai seseorang yang signifikan, yang patut dikejar karena kualitasnya, dan punya fungsi eksistensi khusus. Sebab, baik mereka di kelompok pertama atau pun kelompok kedua pasti harus berurusan dengan ekspektasi. Menghadapi ekspektasi atas diri sendiri, dan menghadapi ekspektasi orang lain/atasan/perusahaan terhadap diri sendiri.

Sementara itu, mengapa mereka berusaha meningkatkan taksiran nilai diri? Entah. Ego-feeding, mungkin? Karena merasa sedemikian berharganya dalam industri. Terutama yang punya segmentasi sempit. Misalnya seperti di era ekonomi digital sekarang ini, kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi informasi untuk Developer, Programmer, Project Manager, dan lain-lain sedang tinggi-tingginya. Setiap perusahaan, startup dan korporasi, seakan-akan berlomba-lomba mempekerjakannya. Sebagai konsekuensi, tentu ditawarkan penghasilan dan fasilitas yang menggoda. Yang bersangkutan pun bisa dengan santainya melakukan negosiasi demi mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Jika penawaran dirasa kurang cocok, dia bisa menjawab “Ehm… saya coba pikir-pikir dulu, ya,” dengan penuh keyakinan dan percaya diri.

Ya! Kepercayaan diri. Ekspresi yang menunjukkan bahwa “Ini, lho. Aku.

Related image
Source: smokeylemon.com

Selebihnya, tak hanya ditawari pekerjaan di perusahaan baru nan bonafide, peningkatan taksiran nilai diri juga membuatnya berpeluang mendapatkan peningkatan status profesional. Berkedudukan sebagai supervisor di perusahaan sebelumnya, ditawari menjadi manajer di perusahaan baru. Berkedudukan sebagai General Manager (GM) di perusahaan saat ini, ditawari menjadi Vice President (VP) di perusahaan berikutnya. Bangga? Tentu saja.

Apabila penawaran diterima, tinggal dilihat saja pembuktiannya. Pakai ungkapan: “Sejago-jagonya seseorang memasarkan dirinya sendiri, pada akhirnya tetap tergantung penilaian orang lain juga.” 

Kemampuan memasarkan dan meningkatkan nilai diri, mestinya sepaket dengan kemampuan melindungi dan menjaga reputasi. Termasuk kemampuan bekerja sebaik mungkin. Toh, namanya juga pekerja, seseorang yang bekerja pada sang pemilik.

Jangan sampai terlampau terguncang, ketika dikomentari: “Oh, ternyata begitu doang.”

[] 

Leave a Reply