Oscar Yang Terlalu Ribut

Tadinya, saya mau menulis sedikit tentang beberapa hal unik yang terjadi waktu saya ke Berlin selama dua minggu terakhir. Tetapi saat membuka Twitter, tiba-tiba teringat bahwa hari Senin pagi waktu Indonesia ada perayaan Academy Awards ke-91. Lantas saya memutuskan untuk menulis tentang prediksi peraih Oscar tahun ini. Cerita tentang Berlin bisa diendapkan dulu. Mungkin memang harus disimpan beberapa saat dulu, supaya bisa menulisnya dengan lebih jernih dan obyektif. Well, we’ll see.

Kok bisa, “tiba-tiba teringat” tentang Oscar? Padahal biasanya sangat tuned in terhadap film-film dan orang-orang pekerja film yang dinominasikan?

Jujur saja, saya mulai merasa lelah mengikuti pemberitaan seputar Oscar dengan aneka politik yang cenderung negatif.

Kekhawatiran saya mulai timbul saat film Roma mencuat. Memang, saya beruntung bisa menyaksikan di layar lebar, dan memang film itu indah sekali ditonton dengan intensitas tinggi di layar lebar. Namun itu tidak mengurangi kekaguman saya, bahwa film dengan intensitas tinggi seperti ini, bisa kita tonton berulang kali, bisa kita pause di momen-momen tertentu agar kita bisa mencerna luapan emosi yang kita rasakan, atau bisa kita hentikan untuk mengamati dengan lebih detil lagi adegan-adegan yang dibuat dan dikerjakan Alfonso Cuaron dengan kecermatan luar biasa.

Saya tidak anti Netflix, atau anti OTT platform atau video streaming app apapun, yang memungkinkan pembuat film membuat karya yang tidak mungkin didanai produser konvensional manapun. Sebagai penonton, saya gembira menyambut tontonan berkualitas di ruang tamu atau tempat tidur saya, yang tidak bisa didapat di bioskop. Toh saya masih pergi ke bioskop untuk menonton dengan tujuan bersosialisasi, baik itu sekedar menonton sendiri, atau bersama pasangan (yang belum ada juga sampai tulisan ini dibuat).

Memang kehadiran video streaming platform yang demikian agresif sempat menyulitkan pekerjaan saya. Toh film tidak hanya satu. Masih ada film-film lain yang perlu ajang untuk ditayangkan.

Berbicara mengenai ajang atau wadah, Oscar memang selalu menjadi sasaran empuk untuk melancarkan aksi kampanye yang penuh muatan politis. Apa tidak bisa mengkritik Green Book dari sisi lain? Apa iya Black Panther sebagus itu? Apa tidak capek menggonggongi Bohemian Rhapsody melulu?

Yang jelas, kalau ada yang masih menganggap Academy Awards adalah penghargaan untuk film-film dan para pembuat film “terbaik”, oh boy. Seperti yang selalu saya katakan berulang-ulang, paling tidak setahun sekali, Oscar recipients are those who campaign the hardest, the loudest, and the most consistent ones. Karya boleh “biasa-biasa saja”, tapi selama kampanye berjalan efektif (dan mahal), para Oscar voters pun pasti akan menengok.

Berhubung saya bukan anggota Academy, jadi pilihan saya kali ini pun bukan alat prediksi yang mumpuni. Saya memilih berdasarkan apa yang saya mau lihat maju ke podium untuk menerima Oscar. Bahkan saya rasa pilihan kali ini akan banyak melesetnya.

Tapi kalau sampai bagian ini Anda masih membaca dan penasaran apa yang menurut saya layak mendapat Oscar tahun ini, here we go:

rbg-movie
RBG (source: Salon.com)

Best Picture: Roma

Best Director: Alfonso Cuaron – Roma

Best Lead Actor: Rami Malek – Bohemian Rhapsody

Best Lead Actress: Olivia Colman – The Favourite

Best Supporting Actor: Sam Elliott – A Star is Born

Best Supporting Actress: Regina King – If Beale Street Could Talk

Best Original Screenplay: The Favourite (Deborah Davis, Tony McNamara)

Best Adapted Screenplay: BlacKkKlansman (Charlie Wachtel, David Rabinowitz, Kevin Willmott, Spike Lee)

Best Animated Feature Film: Spider-Man: Into the Spider-Verse

Best Foreign Language Film: Roma

Best Documentary Feature: RBG

Best Documentary Short Subject: End Game

Best Live Action Short Film: Marguerite

Best Animated Short Film: Bao

Best Original Score: Black Panther (Ludwig Göransson)

Best Original Song: “Shallow” – A Star is Born

Best Sound Editing: First Man

Best Sound Mixing: Bohemian Rhapsody

Best Production Design: The Favourite

Best Cinematography: Roma

Best Makeup and Hairstyling: Border

Best Costume Design: The Favourite

Best Editing: Vice

Best Visual Effects: Ready Player One

Selamat menonton!

Advertisements

Pelecehan Seksual & Ketidakberdayaan: Sebuah Upaya

SEKALI lagi, topik ini rawan bias gender. Salah-salah, jatuhnya bisa jadi mansplaining–ketika laki-laki yang sok tahu dan arogan merasa paham tentang sesuatu, lalu memberikan komentar tanpa diminta–atau malah oversimplifying atau disepelekan, dianggap tak perlu mendapatkan perhatian sampai sebegitunya.

Padahal saat berbicara tentang pelecehan seksual yang dialami oleh wanita, urusannya tak segampang memberi tanggapan:

Mestinya kamu lawan dong!

Kenapa kamu biarkan dia begitu?

Tidak. Tidak sesederhana itu.

… dan itu pun bukan kesalahan mereka sebagai wanita.

Demi menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, tulisan di Linimasa hari ini dibuat oleh seorang wanita dan dititipkan kepada saya. Dia pernah merasakan dorongan kuat untuk memberontak dan melawan waktu dilecehkan beberapa tahun lalu, tetapi dia hanya bisa terdiam. Menyisakan trauma dan beban.

Tak menutup kemungkinan, secara tidak sadar saya pun pernah atau kerap melakukan pelecehan dengan beragam bentuknya. Berupa tindakan atau ucapan yang mustahil saya lakukan kepada sesama laki-laki.

Bukan perkara meminta para wanita untuk lebih berhati-hati, atau memberikan mereka bekal menghadapi semua situasi, melainkan upaya mendidik para remaja berpenis agar tak tumbuh menjadi pria-pria brengsek yang merendahkan wanita.


Suatu pagi semasa masih sekolah, saya lamban bersiap-siap. Biasanya Ayah akan mengantar saya ke sekolah sebelum Beliau berangkat ke kantor, biar sekalian saja. Tetapi pagi itu Ayah ada rapat. Beda 5 menit saja sudah bisa menjadi penentu terlambat atau tepat waktu untuk sampai ke lokasi rapat. Ayah berangkat duluan dan saya terpaksa berangkat sekolah dengan Angkot dari depan kompleks perumahan.

Berjalan tergopoh-gopoh, saya sudah kesal memikirkan konsekuensi yang harus saya hadapi di sekolah bila akhirnya terlambat. Pagi itu frekuensi Angkot juga tidak bersahabat. Sudah beberapa lama menunggu, masih tidak ada yang lewat juga.

Lalu sebuah Innova hijau muda melipir dan berhenti di depan saya. Kaca diturunkan, seorang pria bertampang usia 40-an di kursi pengemudi memanggil saya dengan gestur tangannya. Di pikiran saya saat itu, ini bisa saja salah satu teman atau kenalan orang tua saya yang kenal wajah saya, tetapi saya tidak terlalu kenal mereka–mungkin saya bisa menebeng sampai sekolah.

Setelah mendekat, ternyata si bapak ini sudah separuh melepas celananya, dan mengayun-ayunkan penisnya dengan gerakan memutar. Jelas, bukan sesuatu yang saya pikir akan saya lihat pada Selasa pagi itu, di pinggir jalan besar kawasan utara Jakarta.

Saya mematung. Otak saya menjerit “PERGI, CEPAT MENJAUH DARI MOBIL!” Tetapi butuh waktu beberapa detik sebelum kaki saya akhirnya bekerja sama hingga akhirnya saya menjauh. Tanpa saya duga, mulut saya pun turut bekerja sama. “Oh, cuma segitu doang? Heh.

Ada Angkot mendekat di belakang mobil itu dan saya buru-buru memanggilnya. Innova itu pun meluncur pergi. Saya berangkat ke sekolah. Sisa hari itu kabur di ingatan saya. Di kepala saya berkecamuk pertanyaan: “What just happened there?” Emosi marah, kesal, sedih dan bingung campur aduk serta perasaan tidak berdaya yang mendominasi saya hingga berhari-hari, bahkan berminggu-minggu setelah itu.

***

Belasan tahun kemudian, saya tengah bekerja dengan seorang kolega senior di kantor, Pak Bos dan seorang klien. Berdiri agak jauh dari klien, kolega saya mengelus pantat saya tanpa permisi dan tanpa aba-aba. Refleks, saya menepis tangan itu dan lagi-lagi saya terpaku. Tidak langsung berpindah dari sebelah si pelaku. 

Kolega senior ini  juga sangat dekat dengan pemilik perusahaan. Setelah klien berlalu dan saya tinggal berdua dengan Pak Bos, saya melaporkan kejadian tersebut kepada Pak Bos.

Responnya saat itu (kurang lebih jika diterjemahkan dari bahasa Inggris), “Ya, saya tidak membenarkan perbuatannya. Tetapi ingat, bahwa dia bukanlah predator seksual, dia hanya orang tua yang… ya… begitulah.” Kala itu, saya hanya mengiyakan dan meminta Pak Bos untuk bertindak jika kali lain si kolega ini merasa akrab dan menyentuh saya tanpa persetujuan di lingkup pekerjaan.

Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk kemudian tersadar. “Sebentar. Kalau misalnya istri atau anak perempuan si Pak Bos yang mengalaminya, apakah Beliau akan menjawab seperti itu juga?” Setelah tersadar, saya menyesal sejadi-jadinya tidak berkata demikian kepada Pak Bos saat itu juga.

Apa gunanya menanggapi kejadian yang sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lewat?

Dan, pada kenyataannya, saya tidak berada di posisi yang menguntungkan dalam pekerjaan waktu itu. Apabila saya ngotot untuk melaporkan dan mempermasalahkan kejadian itu, bisa saja si pelaku hanya berkata bahwa kejadian itu tidak disengaja, atau saya membesar-besarkan masalah yang tidak ada buktinya, dan apa yang dia katakan akan lebih dipercayai daripada apa yang saya katakan. Lebih parahnya lagi, si pelaku adalah kesayangan pemilik perusahaan. Kemungkinan besar, kalau masalah ini naik hingga ke manajemen di atas Pak Bos, sayalah yang dipecat atau diminta mengundurkan diri, bukan dia. Karena posisi saya dibanding dia hanyalah butiran jasjus di perusahaan itu.

Walau pada akhirnya Pak Bos menegur si kolega senior secara halus separuh bercanda untuk berhenti menyentuh staf lain tanpa permisi dan tidak ada lagi kejadian serupa, setiap mengingat kejadian itu saya marah. Sedih. Tidak berdaya untuk melawan, tetapi bagaimana saya bisa melawan lebih lanjut tanpa membahayakan posisi saya di pekerjaan?

***

Beberapa hari yang lalu, saya sedang bekerja di sebuah perusahaan dan saya ditugaskan untuk mewakili kantor berhadapan dengan klien. Dari komputer kantor, saya menerima pesan dari salah satu klien bahwa ia meminta saya menunjukkan payudara serta memperbolehkan dia untuk memegangnya.

Saya terdiam sewaktu membaca pesan itu. Dan untuk beberapa saat, saya seperti tidak menyadari secara penuh apa yang telah terjadi. Saya mengalihkan perhatian dengan mengerjakan hal-hal lain. Kira-kira 15 menit kemudian, it hits me. Saya sudah dilecehkan. Saya ingin memaki. Mengasari. Marah. Tetapi posisi saya sebagai representatif kantor membuat saya ragu untuk melawan balik. Saya tidak tahu mau menjawab apa. Akhirnya, saya memutuskan untuk menghubungi atasan saya dan menceritakan apa yang telah terjadi.

Tangis saya pecah saat menceritakan insiden tersebut dengan klien. Saya bahkan sulit untuk menjelaskan dengan baik kejadian yang sebenarnya karena saya masih terguncang. Hati, pikiran saya tidak tenang. Saya merasa tidak aman. Kalut. Marah. Bingung.

*** 

Saya mengalami berbagai jenis pelecehan seksual dengan situasi yang berbeda-beda, belum termasuk insiden-insiden saat saya dilecehkan secara verbal atau catcalling. Tetapi insiden-insiden di atas ini adalah beberapa contoh saat saya, seorang perempuan yang dikenal asertif dan berani melawan, akhirnya tidak melakukan apa-apa saat dilecehkan. Sungguh, saya ingin bisa memukul, memaki, berkata-kata kasar dan membalas secara agresif jika waktu bisa diulang kembali. Tetapi kenyataannya, saya terpaku. Dan selewat kejadian-kejadian tersebut, saya sangat kecewa dengan betapa tidak berdayanya saya.

Baru-baru ini, saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Salah satu tujuan yang ingin saya capai adalah saya ingin bisa lebih baik menghadapi trauma semacam ini. Entah itu berarti saya tidak lagi terdiam saat “diserang” seperti ini atau lebih cepat pulih dari trauma hingga tidak berlarut-larut mengalami kecemasan di hari-hari berikutnya.

Kami akhirnya berdiskusi mengenai kecenderungan pelecehan seksual tersebut. Walau dianggap sebagai tindak kriminal, sejatinya sangat sulit untuk mengharapkan sebuah tanggapan yang tegas terhadap pelaku pelecehan seksual. Semisal, saat sedang berjejal-jejal di kendaraan umum, bagian intim kita dipegang. Bisa saja, saat kita teriak dan menuduh, si pelaku hanya bilang “Oh, kan kesenggol, tidak sengaja,” atau malah sekalian menyangkal. Tidak ada bekas tangan dengan sidik jari yang menjadi bukti konkret saat kita melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib. Masa kita harus membawa-bawa kamera atau perekam suara agar saat terjadi kita bisa melaporkan ke pihak berwajib? Seperti yang terjadi di sini, pelecehan seksual dapat dilakukan demikian halus tersembunyi sehingga menyulitkan korban untuk melawan balik.

Atau, seperti salah satu insiden yang saya alami. Bagaimana saya bisa membela diri tanpa takut kehilangan pekerjaan, karena saya berurusan dengan kolega yang hierarkinya lebih tinggi dari saya? 

Diskusi kami berlanjut, saya membicarakan bagaimana saat dihadapkan dengan “serangan” seperti itu, saya merasa tidak berdaya. Tidak mampu melawan. Dan saya menyalahkan diri saya sendiri, mengapa saya begitu tidak mampu? Begitu lemah? Begitu tidak berdaya? Saya kecewa karena tidak berhasil merespon lebih baik, lebih agresif, lebih vokal untuk mempertahankan diri sendiri.

Psikolog saya berkata bahwa kenyataannya, respons manusia terhadap serangan terbagi menjadi 3 jenis, fight-flight-freeze (melawan-kabur-membeku/terpaku).

Fight, jika insting bawah sadar merasa diri mampu mengalahkan penyerang.

Flight, jika insting bawah sadar merasa tidak mampu melawan dan dapat melarikan diri dari situasi secara konkret.

Freeze, merupakan respons diri saat tidak bisa melawan tetapi juga tidak bisa melarikan diri dengan aman. Lumpuh. Dan freeze adalah respons paling umum bagi korban pelecehan.

***

Lalu bagaimana solusinya? 

Mengenai bagaimana agar tidak mengalami pelecehan seksual, jujur saja saya masih agak mampet. Tidak ada cara untuk menjamin bahwa setelah bangun pagi, kita tidak akan mengalami pelecehan hari itu. Tidak ada jaminan juga bahwa kita pasti akan mengalaminya minimal sehari sekali. Apakah upaya pencegahan itu ada? Tidak. Seringnya, tidak ada tanda-tanda juga bahwa kita akan dilecehkan.

Bagaimana dengan upaya mempertahankan diri? Mungkin bisa membantu. Tetapi menurut psikolog saya, hanya belajar bela diri saja belum tentu cukup. Menurut cerita yang Beliau sampaikan, tetap ada kasus seorang praktisi bela diri yang freeze saat diserang. Solusi yang sepertinya mempunyai potensi yang paling sukses adalah memiliki mindfulness. Katanya, dengan menguasai kesadaran seperti itu, kita akan bisa menanggapi serangan dengan lebih rasional. Entahlah. Saya juga masih akan mencoba. Digabung dengan seni bela diri juga sekalian, mungkin.

Konklusi sementara saya adalah kita tidak bisa bergantung bahwa orang lain akan menolong atau membantu kita saat “serangan” semacam ini terjadi. Sebisa mungkin, jangan lengah. Tetapi di sisi lain, kita juga tidak bisa terlalu siaga yang malah membuat kita selalu tidak aman, terlalu responsif, yang bisa menyebabkan kelelahan fisik dan batin.

Mengenai bagaimana untuk bisa pulih dengan trauma, psikolog menyarankan beberapa hal yang sesuai dengan kondisi saya.

Bercerita mengenai kejadian ini. Saya menyadari bahwa saya perlu bercerita kepada orang-orang yang mendengar, peduli, dan bersimpati. Bukan kepada orang yang menyalahkan secara langsung (“Ya elu sih pake baju kurang bahan”), maupun secara tersembunyi (“Ih kok lu diem aja sih? Kalo gue mah udah gue tendang kali ‘barangnya’ biar impoten sekalian.”)

Berbicara mengenai kejadian ini membantu saya untuk memberi konteks, dan juga membantu emosi saya untuk mengejar rasional dan logika saya, sehingga saya lebih tenang dan bisa merasa lebih seimbang.

Merawat diri. Cukup tidur, cukup hidrasi, dan makan enak adalah bentuk tindakan self-kindness yang bisa meningkatkan mood untuk merasa lebih baik. Juga, katakan hal-hal yang positif. Sebagai contoh, sang psikolog menyarankan saya untuk memaafkan diri saya sendiri karena tidak mampu merespons lebih. Bahwa, tidak apa-apa, it’s okay, saya berada dalam situasi genting yang tidak memungkinkan saya untuk merespons secara maksimal.

Bersosialisasi. Tidak melulu membicarakan apa yang telah terjadi, tetapi berada dengan orang lain membantu untuk saya kembali ke kehidupan normal. Bahwa sesungguhnya masih banyak hal lain di hidup ini yang bisa saya pikirkan dan lakukan. Bahwa walaupun insiden-insiden tersebut terjadi, saya mempunyai pilihan untuk tetap beraktivitas.

***

Akhir kata, saya juga masih tidak punya solusi permanen dalam menghadapi pelecehan seksual secara spesifik. Saya sendiri masih dalam proses. Akan tetapi, jika kamu di luar sana mengalami hal yang sama, kamu tidak sendiri. Dan jika kamu mendengar orang lain mengalami pelecehan seksual, tolong jangan disepelekan. Paling tidak, jadilah seorang pendengar tanpa menilai atau memojokkan. 

Dan tolong, jangan lecehkan orang lain. Kalau melihat ada orang yang sepertinya melecehkan, lakukan sesuatu.

Tolong.

[]

Belajar Menjual Diri

TAHUN baru, pekerjaan baru di kantor yang baru, tentu dengan suasana dan nominal gaji yang baru pula. Itu yang biasanya berlaku di kota-kota besar. Terutama bagi mereka yang (merasa) memiliki keleluasaan untuk bekerja bukan demi penghasilan dan nafkah, sehingga bisa dengan mudahnya menolak sebuah tawaran pekerjaan dengan alasan: “Kantornya gak asyik, ah.” 

Banyak hal mengejutkan yang saya temui di tahun pertama merantau ke Jakarta. Durasi bekerja, salah satunya. Ketika banyak yang mengeluh susahnya mencari pekerjaan—entah apa pun alasan dan faktor penyebabnya, tetapi tak sedikit pula yang berhenti bekerja (kurang dari 18 bulan) dengan ringannya, untuk langsung aktif berkantor di tempat baru sekira dua bulan kemudian. Seseorang yang angka usianya belum 30 dan bekerja hampir sepuluh tahun di satu perusahaan tampaknya adalah sesuatu yang langka—atau, agak bodoh, menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, barangkali.

Tidak ada yang salah dari keputusan tersebut. Setiap orang berhak untuk memilih pekerjaan; kantor yang ingin mereka datangi; dan bebas membuat pertimbangan atas setiap keputusan yang diambilnya. Lagipula, kalau ada tawaran pekerjaan serta tempat bekerja yang lebih baik dari segi kenyamanan, penghasilan, reputasi, sistem kerja, sistem pengembangan kemampuan personal, dan sebagainya, mengapa tidak? Bisa lebih maju, lebih ternama, dan lebih kaya. 

Baru di Jakarta pula saya menyadari bahwa mereka yang bekerja bisa terbagi dalam dua kategori: Bekerja karena pekerjaan itu sendiri, dan Bekerja demi taksiran nilai diri (valuation). 

Kelompok pertama, mereka yang bekerja karena pekerjaan itu sendiri, memiliki beragam alasan dan latar belakang. Termasuk;

  • Harus bekerja demi mendapatkan penghasilan,
  • Bekerja karena tuntutan orang tua atau keluarga,
  • Bekerja di perusahaan orang tua,
  • Bekerja karena menyenangi pekerjaan itu,
  • Bekerja karena sesuai dengan keahlian,
  • Tetap bekerja karena komitmen pada diri sendiri,
  • Tetap bekerja karena ingin menuntaskan atau mencapai sesuatu terkait pekerjaan tersebut (terfokus pada hasil pekerjaan, bukan siapa yang mengerjakannya),
  • Tetap bekerja karena telah menjadi zona nyaman atau malas untuk memulai lagi,
  • Bekerja karena pekerjaan itu terlalu spesifik bagi orang lain, atau
  • Bekerja karena tuntutan sosial, dan banyak lagi. 

Berbeda dengan kelompok kedua, yang bekerja sedemikian rupa untuk meningkatkan “banderol diri”. Caranya dengan terus menambah, melengkapi, dan mempercantik portofolio pekerjaan yang sudah maupun sedang berlangsung. Dengan atau tanpa penjelasan tentang eksekusi, apalagi capaian akhir dari pekerjaan tersebut. Secara garis besar, yang mereka lakukan adalah tentang memasarkan diri sendiri, sebagai seseorang yang berkeahlian dan mampu mengerjakan sesuatu/beberapa hal. Self-marketing and personal branding

Caricature for LinkedIn job titles meme
Source: Pinterest

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan self-marketingself-promotion, maupun personal branding. Wajar, lantaran setiap orang mengejar aktualisasi diri. Perasaan sebagai seseorang yang signifikan, yang patut dikejar karena kualitasnya, dan punya fungsi eksistensi khusus. Sebab, baik mereka di kelompok pertama atau pun kelompok kedua pasti harus berurusan dengan ekspektasi. Menghadapi ekspektasi atas diri sendiri, dan menghadapi ekspektasi orang lain/atasan/perusahaan terhadap diri sendiri.

Sementara itu, mengapa mereka berusaha meningkatkan taksiran nilai diri? Entah. Ego-feeding, mungkin? Karena merasa sedemikian berharganya dalam industri. Terutama yang punya segmentasi sempit. Misalnya seperti di era ekonomi digital sekarang ini, kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi informasi untuk Developer, Programmer, Project Manager, dan lain-lain sedang tinggi-tingginya. Setiap perusahaan, startup dan korporasi, seakan-akan berlomba-lomba mempekerjakannya. Sebagai konsekuensi, tentu ditawarkan penghasilan dan fasilitas yang menggoda. Yang bersangkutan pun bisa dengan santainya melakukan negosiasi demi mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Jika penawaran dirasa kurang cocok, dia bisa menjawab “Ehm… saya coba pikir-pikir dulu, ya,” dengan penuh keyakinan dan percaya diri.

Ya! Kepercayaan diri. Ekspresi yang menunjukkan bahwa “Ini, lho. Aku.

Related image
Source: smokeylemon.com

Selebihnya, tak hanya ditawari pekerjaan di perusahaan baru nan bonafide, peningkatan taksiran nilai diri juga membuatnya berpeluang mendapatkan peningkatan status profesional. Berkedudukan sebagai supervisor di perusahaan sebelumnya, ditawari menjadi manajer di perusahaan baru. Berkedudukan sebagai General Manager (GM) di perusahaan saat ini, ditawari menjadi Vice President (VP) di perusahaan berikutnya. Bangga? Tentu saja.

Apabila penawaran diterima, tinggal dilihat saja pembuktiannya. Pakai ungkapan: “Sejago-jagonya seseorang memasarkan dirinya sendiri, pada akhirnya tetap tergantung penilaian orang lain juga.” 

Kemampuan memasarkan dan meningkatkan nilai diri, mestinya sepaket dengan kemampuan melindungi dan menjaga reputasi. Termasuk kemampuan bekerja sebaik mungkin. Toh, namanya juga pekerja, seseorang yang bekerja pada sang pemilik.

Jangan sampai terlampau terguncang, ketika dikomentari: “Oh, ternyata begitu doang.”

[] 

Diganggu Suara

SUARA berkecap (bukan kécap), yaitu ketika seseorang mengunyah makanan dengan antusias tanpa mengatupkan bibir, alias dengan mulut terbuka. Suara itu muncul ketika lidah–yang basah–terlepas dari langit-langit mulut. Terdengar berulang, dan tentu saja nyaring.

Suara berserdawa. Setelah makan, gas terdorong keluar beserta aromanya. Dalam beberapa komunitas budaya, berserdawa adalah tanda kepuasan, kenikmatan dari bersantap, sekaligus ekspresi terima kasih kepada si pemberi makanan (karena sudah memberikan hidangan senikmat itu). Namun, ada sejumlah komunitas lain yang berpendapat sebaliknya. Begitu pula dengan suara menyeruput minuman.

Suara berdecak, tetapi bukan decak kagum, melainkan ekspresi rasa kesal. Kita pasti tahu bahwa seseorang sedang kesal, atau merasa tidak suka terhadap sesuatu jika dia berdecak. Tak hanya dari orang lain, kita sendiri pun bisa saja mengeluarkan suara tersebut tanpa sadar … dan membuat suasana jadi kurang nyaman.

Suara berdengus, yaitu ketika seseorang berusaha mengembuskan napas lewat hidung dengan keras dan kencang, seolah-olah ingin mengenyahkan sesuatu karena merasa gatal atau tidak nyaman. Bisa debu, rambut hidung rontok, upil, ingus, serangga, dan sebagainya.

Suara berludah dan mendahak. Tahu sendiri, kan, ya. Suara yang dihasilkan ketika seseorang berusaha mendorong sesuatu–lendir–dari area pangkal lidahnya. Tak ada yang salah dari aktivitas ini, selama tidak dilakukan secara terbuka di depan umum lengkap dengan hasil akhirnya.

Suara menyedot udara dari sela atau lubang gigi. Biasanya dilakukan setelah makan, ketika ada serat daging atau secuil sayuran kasar tersangkut di celah-celah gigi. Aktivitas ini dilakukan untuk mencopot potongan makanan tersebut dari posisi awalnya.

Suara mengembuskan napas lewat mulut untuk menyuruh diam, tidak berisik. Karena bertujuan untuk menghentikan kebisingan, suara “ssst…” tersebut justru terdengar lebih nyaring, dan justru menambah keributan. Makin keras embusan napasnya, makin kencang suaranya.

Bagi kita yang kerap terganggu dengan bunyi-bunyian tersebut, selalu timbul perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Pokoknya tidak suka, saja. Apabila sudah tak tertahankan, kita pun bisa memberikan respons yang tak kalah negatifnya. Mulai dari ekspresi wajah, sekadar raut muka, sampai menegur yang bersangkutan.

Pertanyaan pertama: Mengapa kita terganggu?

Ada yang mengaitkannya dengan standar nilai dan kepatutan sosial, lantaran bunyi-bunyian tersebut dibuat dan didengar di ruang umum. Bagi pelaku, bunyi-bunyian tadi mungkin dianggap wajar karena begitulah kebiasaan yang terjadi di lingkungannya. Sebaliknya, bagi orang lain yang terpaksa harus mendengar, tindakan tersebut dinilai tidak sopan dan mengusik.

Sayangnya, penilaian yang demikian berpotensi menarik masalah lebih jauh; memunculkan ilusi derajat. Dalam lingkungan pergaulan modern masa kini, si pelaku bisa saja dianggap kampungan, tidak terdidik, berperilaku miring, berkelakuan jorok, beretiket rendah, dan menjadi cibiran lebih lanjut. Padahal, si pelaku mungkin tidak tahu bahwa kebiasaannya tersebut bukanlah sesuatu yang lazim bagi orang lain. Dia tak sepenuhnya salah dalam ketidaktahuannya tersebut.

Lalu, pertanyaan kedua: Bagaimana menyikapi perasaan terganggu itu?

Orang lain yang mengeluarkan suara, tetapi kita yang merasa terganggu dan merasa tidak nyaman. Wajar bila kita merasa sebagai korban, sebagai yang tertimpa dan berada di situasi tidak menyenangkan. Kita dibuat susah oleh suara, sementara si pemilik suara tersebut tetap bersikap biasa-biasa saja.

Apakah perasaan terganggu itu sedemikian penting untuk diperhatikan? Idealnya, akan lebih baik bila waktu, tenaga, dan perhatian yang kita miliki saat itu diarahkan kepada hal-hal produktif serta bermanfaat. Kalau tidak bisa, ya tidak apa-apa. Silakan beranjak, menyingkir dari situ. Sebab pada dasarnya kita tidak memiliki tanggung jawab moral untuk mendidik orang lain begitu saja. Lagipula, apa hak kita memberikan pengajaran kesopanan di depan umum?

Apakah sebaiknya kita lampiaskan dengan marah-marah, atau kita tinggalkan saja?

Kembali mengacu pada pandangan di atas, ada tenaga dan waktu yang kita curahkan saat marah-marah. Emosi dan suasana hati pun ikut berubah karenanya. Silakan ditanyakan kembali kepada diri sendiri, apakah hal itu berfaedah?

Meninggalkannya begitu saja merupakan salah satu respons yang alamiah. Sayangnya, hal ini tidak bisa dilakukan ketika Anda sama-sama terjebak dalam satu ruang dengan si pelaku. Beruntung ada earphone, yang bisa membantu kita terhindar dari bunyi-bunyian tersebut. Apabila tidak punya, ya, mohon maaf, saatnya kita mengamati batin kita sendiri.

Apakah kita mampu mengabaikannya? Pertanyaan ini relatif susah dijawab. Kemampuan mengabaikan sesuatu yang mengganggu memiliki beberapa dimensi. Termasuk aspek psikologis, dan kekuatan/kebebalan sendiri.

Dari perspektif psikologi, ketidaknyamanan itu disebut misophonia. Khususnya yang sudah mencapai kadar berat. Secara alamiah, orang-orang dengan misophonia akan mencari cara untuk terhindar dari gangguan bunyi tersebut. Ibarat berusaha melarikan diri, mereka akan merasa gelisah dan bisa saja memilih untuk keluar ruangan, mengenakan pengedap suara, atau mencari cara lain agar terpisahkan dari bunyi-bunyian tersebut berupa pengalihan. Termasuk dengan menutup telinga dan sambil bersenandung sendiri. Semua itu dilakukan sampai bunyi-bunyian berlalu.

Uniknya, para pemilik misophonia hanya terganggu apabila bunyi tersebut berasal dari orang lain. Dia tidak akan seterganggu itu jika bunyi yang sama berasal dari dirinya sendiri. Belum ada studi mendalam lebih lanjut tentang ini, dan misophonia baru dianggap sebagai bentuk sinestesia (tautan indra) antara suara serta perasaan. Kendati demikian, tercatat belum ada penyebab pasti dari munculnya kondisi misophonia tersebut.

Di sisi lain, pendekatan berbeda akan diambil oleh para meditator–orang-orang yang berlatih meditasi. Alih-alih mengalihkan perhatian, atau berkeras hati menahan ketidaknyamanan yang timbul, mereka akan berusaha melalui dan mengamati bunyi-bunyian tersebut. Hanya mengamati, menonton perubahan batin. Tidak semudah kedengarannya, memang, sebab pengamatan dilakukan dengan apa adanya. Tanpa menganalisis, tanpa menilai, tanpa membubuhkan apa-apa. Konon, di level paling halus, sang meditator dapat menyadari kemunculan sesuatu yang asalnya terasa netral, hingga kemudian berangsur-angsur berkembang menjadi perasaan tidak nyaman tersebut. Lewat proses pemahaman yang tepat, batin mereka tak lagi mudah digoyahkan oleh perasaan tak nyaman dari bunyi-bunyian tersebut. Tidak reaktif, tidak meledak-ledak. Kemunculan sampai hilangnya respons batin tersebut terlihat dengan gamblang. Ibarat Neo dari “The Matrix” atau Flash yang mampu menghindari peluru dan membiarkannya lewat tanpa perlu melakukan apa-apa.

Apabila tak lagi terganggu dengan suara–asupan indra pendengaran–tersebut, hidup kita sedikit lebih tenteram. Bukan lantaran menghilangkan sumber suara, atau menghilangkan perasaan maupun kemampuan merasa, melainkan kokoh, tak tergoyahkan. Energi dan perhatian pun bisa dialihkan untuk hal-hal lain yang lebih penting.

[]

“10 Annoying Sounds People Need to Stop Making”
“Mipsohonia: Triggers & Management”

Pasal 5 RUU Musik Bukan Pasal Karet, Namun Pasal Kondom Karena Mencegah Lahirnya Kreativitas Bermusik Anak Bangsa

Apakah anda pernah membayangkan jika kata “musik” tidak pernah berdekatan dengan kata “seni”? Maka musik menjadi kering dan sunyi.

Lantas beberapa manusia yang dibekali amanah untuk memajukan dunia kebudayaan, kesenian, justru merusak kebahagiaan umat Indonesia dengan keisengannya melemparkan kerikil RUU permusikan dalam ketenangan danau nusantara. Menimbulkan riak-riak kecil. Tidak mengganggu kita, hanya bikin risih saja. Tidak menyakitkan, namun bikin mual. Tidak berdarah, hanya jadinya bikin muntah.

Jika Anda belum pernah membaca RUU ini, sebaiknya tidak perlu dibaca. Tak ada guna. Namun jika daripada waktunya untuk ghibah sana-sini, silakan bisa tengok berkas ini: RUU Musik

Bagaimana Cara Membedah RUU?

Sama seperti membedah masakan. Kita juga sebaiknya mengetahui bagaimana cara memasaknya, apa saja bahan-bahannya, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Tapi sebelum jauh kesana, yang sifatnya terlalu teknis, cobalah anda baca sedikit RUU ini yang begitu memilih diksi dengan saringan berupa “pengharaman kata SENI” di dalam draft RUU. Sebuah upaya kejahatan kemanusiaan paling serius ketika “musik” dipisahkan dari bundanya tercinta: Seni.

07_b

Bahkan dalam mitologi Hindu, Seorang Dewi bernama Saraswati, melindungi jiwa-jiwa manusia yang berkesenian. Senantiasa menumbuhkan harapan berkreativitas dan mengekspresikan diri hingga larut dalam karya.

Jiwa suatu undang-undang terletak dalam bagian konsiderans atau pertimbangan. Disanalah pijakan filosofis dari sebuah peraturan mulai dibangun.

bahwa musik sebagai bagian dari budaya berfungsi sebagai perekam nilai kehidupan dan jejak sejarah peradaban bangsa Indonesia serta menjadi aset penting dalam pemajuan kebudayaan perlu dipelihara, dilestarikan, dan dikembangkan;

bahwa saat ini masih terdapat permasalahan dalam permusikan yang terkait dengan penyelenggaraan, pelindungan, dan pendataan serta pengarsipan sehingga perlu dilakukan penataan yang komprehensif agar permusikan dapat berkembangsecara berkesinambungan dan memberikan manfaat bagi kemajuan bangsa;

bahwa peraturan perundang-undangan yang ada belum mampu memenuhi perkembangan hukum dan dinamika masyarakat sehingga diperlukan payung hukum yang dapat mewujudkan penyelenggaraan permusikan yang baik dan memberikan kepastian hukum;

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Permusikan;

Bayangkan betapa najisnya kata “Seni” dipergunakan dalam ketentuan ini. Bagi perancang undang-undang ini, Seni adalah kata yang sangat berbahaya. Karena disana terkandung makna tak tepermanai. Seni membebaskan ekspresi. Seni membebaskan diri dari belenggu kemunafikan. Seni membuat manusi tetap waras menjadi manusia.

Lihat saja paragraf awal sebagai batu pondasi ketentuan ini. Musik oleh si perancang, adalah alat perekam. Jika sekarang dapat dikatakan sebagai recorder yang aplikasinya ada di setiap gawai pintar. Musik juga sebatas aset. Musik adalah jejak.

Perancang justru tidak memiliki jiwa relijius. Musik adalah seni. Sebuah naluri manusia yang diteteskan dari sifat “Jamaliyah Tuhan”. Bahwa kodrat manusia adalah mencintai keindahan. Musik adalah cabang kesenian. Ia adalah bagian dari Keindahan. Jadi ia diciptakan bukan merekam manusia. Namun justru jauh lebih mulia dari itu:

Musik tidak dapat dikungkung semata-mata “Bangsa”. Dengan kalimat “jejak peradaban bangsa’, adalah pengkerdilan musik dari nilai universal dengan alat bonsai bernama chauvinistik.

Musik adalah ekspresi individu. Namun bisa jadi diminati dan dimainkan oleh sebuah kelompok dan komunitas. Bermusik dan berkesenian adalah tindakan manusia bukan sebagai warga negara suatu bangsa, bukan sebagai bagian dari suatu suku, melainkan dirinya yang mempersembahkan karya untuk kemanusiaan dirinya yang universal. Soal dimainkan dengan alat yang sifatnya lokal, seleranya lokal, itu adalah soal akar kemanusiaannya. Namun pohon musik mengarah pada langit luas kodrat manusia yang berekspresi.

Hal kedua yang perlu disikapi adalah pertanyaan besar bagi perancang undang-undang soal musik sebagai bagian peta lokal dari gambaran besar kemajuan industri kreatif. Justru DPR sebagai perancang melompat ke garis perlindungan, pendataan, tanpa bicara manfaat utama itu semua: Menjadi bagian dari sebuah wilayah profesi, wilayah industri, wilayah ladang rejeki.

Mengapa tidak sama sekali disinggung soal kejujuran kita bahwa kebermanfaatan  musik adalah sebagai ladang ekonomi juga. Bahwa musik adalah bagian dari cetak biru industri kreatif yang merupakan bagian dari hal utama yang dapat menjadi sumber penciptaan ekonomi baru bagi negeri ini. Jika saja itu tidak disinggung atau tidak dipikirkan, maka sudah ketahuan kemana larinya RUU ini.

Permusikan yang baik dan kepastian hukum. Itu kira-kira.

Sayangnya permusikan yang baik dalam RUU ini adalah sebatas musik yang sopan dan tidak menyinggung SARA, dan mengenai kepastian hukum adalah soal perlindungan industri rekaman komersil.

Padahal dalam pertimbangannya, RUU ini tidak secara tegas diatur soal musik sebagai budaya yang muncul dari paguyuban dan produksi musik yang muncul dari sebuah patembayan. Bagian mana musik tang ting tung semacam gamelan bermusik tradisional, dan mana genjrang genjreng musik sebagai produk komersil yang dijual di itunes.

Pada saat mengetik RUU ini, para wakil kita di DPR mungkin hanya ketitipan draft dan bukan murni buah pikir mereka. Mereka tidak tahu bagaimana besarnya industri musik Korea. Bagaimana laba itunes bisa diraup.

Siapa pengusul RUU ini

RUU ini hanya sebatas RUU sebagai pekerjaan rumah yang selesai-tidak selesai dikumpulkan demi janji kepada industri rekaman dan distribusi besar.

DPR terlalu banyak janji sehingga jelang ganti anggota Komisi di tahun 2019 lekas-lekas bikin RUU ini bagi para penyokongnya di dunia industri. “Kami sudah buat lho ya?”. Demikian kira-kira.

Dengan penggunaan Pasal 20, 21 dan pasal 32  ayat (1) UUD 1945, maka diketahui pasti bahwa pembuat rancangan ini adalah DPR. Pasal 20 bicara usulan DPR. Pasal 21 bicara hak DPR mengusulkan Undang-undang, dan Pasal 32 ayat (1) bicara soal Negara memajukan budaya nasional.

Poin Cacat

Beberapa poin cacat yang ada dalam RUU ini adalah:

Pasal 5. Ini adalah Pasal Kondom

Tinggal pilih saja merupakan titipan siapa: Penguasa, Polisi, atau Politisi yang cari muka. Keuntungan Pasal 5 adalah bagi penguasa bisa mencokok lagu lagu kontroversial. Bagi polisi, ini mesin ATM baru. Dengan pasal ini mereka bisa proses hukum siapapun dengan dugaan melanggar pasal 5.

Pasal 5

Dalam melakukan Proses Kreasi, setiap orang dilarang:

a. mendorong khalayak umum melakukan kekerasan dan perjudian serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya;

b. memuat konten pornografi, kekerasan seksual, dan eksploitasi anak;

c. memprovokasi terjadinya pertentangan antarkelompok, antarsuku, antarras, dan/atau antargolongan;

d. menistakan, melecehkan, dan/atau menodai nilai agama;

e. mendorong khalayak umum melakukan tindakan melawan hukum;

f. membawa pengaruh negatif budaya asing; dan/atau

g. merendahkan harkat dan martabat manusia.

Nafas dari pasal ini adalah nafas kekuasaan. UU permusikan tidak sedang bicara sebagai alat rekam peradaban bangsa seperti yang ia sendiri cita-citakan atau sebagai arsip. Ini adalah pasal utama yang dikedepankan sebagai alat negara mengontrol jiwa berkesenian.

Parahnya adalah gandengan dari Pasal 5 adalah Pasal 50 yang bicara sanksi pidananya.

Pasal 50

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan Proses Kreasi yang mengandung unsur:

a. mendorong khalayak umum melakukan kekerasan dan perjudian sertapenyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya;

b. memuat konten pornografi, kekerasan seksual, dan eksploitasi anak;

c. memprovokasi terjadinya pertentangan antarkelompok, antarsuku, antarras, dan/atau antargolongan;

d. menistakan, melecehkan, dan/atau menodai nilai agama;

e. mendorong khalayak umum melakukan tindakan melawan hukum;

f. membawa pengaruh negatif budaya asing; dan/atau

g. merendahkan harkat dan martabat manusia, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dipidana dengan pidana penjara paling lama … tahun atau pidana denda paling banyak …

Jika saja penguasa dan pemilik kepentingan atas RUU ini agak pandai, maka biarkan musik diberlakukan minimal seperti dunia perfileman. Perluas saja lembaga sensor filem menjadi sensor filem dan musik. Jika ada hal yang berkaitan dengan isu-isu tertentu, silakan sensor, namun bukan bermain di wilayah pidana.

Ini adalah pilihan terburuk. Sensor adalah kuno. Namun jauh lebih kuno jika musik menjadikan seseorang bisa dipidana. Inilah alasa utama betapa najisnya “kata seni” muncul di RUU ini. Karena jika ada kata seni, maka kebebasan berekspresi yang dikandungnya mencegah pihak berwenang melakukan tindakan-tindakan hukum yang telah dipesankan oleh entah siapa.

Sebagian pemusik bicara soal pasal karet. Bagi saya, pasal ini adalah pasal kondom, Mencegah lahirnya kreativitas dunia bermusik. Semua warga jika bercinta harus pakai kondom. Lambat laun maka negeri ini akan hilang dari muka bumi karena kehabisan warga negara.

Matre

Perlu juga disikapi sifat matre pembuat undang-undang ini dengan lahirnya Pasal 12.

Pasal 12

(1) Pelaku usaha yang melakukan Distribusi wajib memiliki izin usaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2) Selain memiliki izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelaku usaha yang melakukan Distribusi wajib memperhatikan etika ekonomi dan bisnis.

Pertanyaannya simpel: Bagaimana dengan kelompok musik indie, yang menjual kasetnya dan CD-nya atau apapun format medianya, melalui jalur indie juga, dari tangan ke tangan, dari individu ke individu, dan dari hati ke hati.

Tidak semua orang bermusik ingin pakai izin sana sini. Mereka hanya ingin banyak pendengar. Bukan ingin banyak laba. Izin usaha semacam apa yang diperlukan? Ini jauh lebih karet. karena memberikan keleluasaan tak terbatas apa saja izin usaha yang nantinya akan dirancang.

Bukan rahasia lagi jika ada izin berarti ada “cost”.

Cost berarti pitih, duit, money, uang. Apakah industri musik juga berfungsi sebagai alat pemasukan negara non pajak? Seharusnya tidak, karena dalam RUU musik sama sekali tidak disinggung soal peta industri kreatif. Jika tidak, maka izin ini seharusnya ditegaskan bagi sebuah indutri musik komersial.

Pasal 31 Yang Kontraproduktif

Akibat Pasal 20 dan 21 yang bilang bahwa:

Pasal 20

(1) Penyelenggaraan Musik harus didukung oleh Pelaku Musik yang memiliki kompetensi di bidang Musik.

(2) Dukungan Pelaku Musik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan mewujudkan sumber daya manusia yang profesional dan kompeten di bidang Musik.

Pasal 21

Kompetensi di bidang Musik diperoleh melalui jalur pendidikan atau secara autodidak.

 

Maka tentu ada uji kompetensi. Sejak kapan skill seni, selera seni, dapat ditakar dalam sebuah parameter bernama kompetensi? Gilalundro. Norma yang sungguh gondrong ikan!

Pasal 31

(1) Kompetensi yang diperoleh secara autodidak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dilakukan dengan cara belajar secara mandiri.

(2) Pelaku Musik yang memperoleh kompetensi secara autodidak dapat dihargai setara dengan hasil jalur pendidikan formal setelah melalui uji kesetaraan yang memenuhi standar nasional pendidikan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah.

 

Selain pasal kondom dan soal matrealistis industri musik yang akan dibangun, maka ada baiknya RUU ini yang merancangnya ngobrol dengan Menteri Tenaga Kerja dan Bekraf dan Diknas:

“Mengapa RUU ini bicara juga soal uji kompetensi?”

Padahal sejak awal RUU ini tidak secara tegas bicara soal musik bagian dari seni maupun musik bagian dari industri kreatif. Awalnya RUU ini bicara musik sebagai alat rekam. Butuh jejak yang ditatausahakan. Namun dalam perjalanan pasalnya justru mengarah pada tindakan pengungkungan konten musik dengan Pasal kondom, dan kewajiban izin usaha layaknya sebuah industri besar. Ada kebancian yang dibangun dengan malu-malu. Sejatinya RUU ini RUU apa.

Mereka lupa bahwa musik adalah seni. Seni dalam jiwa manusia juga terdapat bagian “bakat”, walau tidak sepenuhnya. Ada sebagian manusia yang tidak perlu diujikan kompetensinya, tapi telah dianugerahi sebuah kemampuan luar biasa mencipta atau memainkannya.

RUU ini tidak kenal istilah bakat. 🙂

Pasal kondom titipan penegak hukumkah?

Pasal matre titipan industri besarkah?

Lalu ada uji kompetensi dan asosiasi musik. Ujikompetensi dilakukan oleh LEM BA GA YANG DI TUN JUK PE ME RIN TAH…

hadirin tepuk tangan.

Apakah hendak membuat kolam jabatan baru untuk sebuah industri yang seharusnya justru diperkuat soal penegakan HAKI, integritas penegak hukum dalam pengentasan pembajakan, serta soal kejelasan prosedur mengadakan pertunjukan langsung agar masyarakat negeri ini tidak hampa hanya disuguhi pembodohan intelektual semata.

Maka, jika anda masih ingin membuat RUU musik, maka buatlah saja yang baru. Yang memuliakan musik seperti seni-seni lainnya.

Ini bukan titipan siapa-siapa. Ini hanya titipan ilahi.

Dan dengarkanlah lagu ini.

 

Salam anget,

Roy