Berkunjung ke Loteng

Sekitar awal 2017, saya pernah menyebarkan sebuah film dokumenter Minimalism, A Documentary About Important Things yang sekarang bisa ditonton di Netflix. Joshua dan Ryan sepasang teman yang di puncak karirnya merasa kekosongan dalam hidup. Memiliki semua tapi tak memiliki semua. Dan akhirnya menemukan betapa sering mereka membeli barang hanya sekedar membeli hanya karena mampu. Namun berujung pada penumpukan barang-barang tanpa makna.

Pastinya film ini membekas lumayan dalam sehingga saya mencoba mulai mempraktekannya. Walau tak sedrastis mereka, namun sejak saat itu semua barang-barang yang sekiranya masih bernilai saya coba jual ke teman atau di online. Dan barang-barang yang tak bernilai jual, saya bagi-bagikan bagi yang menginginkannya. Pernah di liburan Lebaran, saya membagi-bagikan buku dan dasi yang memang selama ini hanya teronggok tanpa makna. Nyimpen debu istilahnya.

Terompet, alat musik yang selama ini sudah lama tak dimainkan berhasil saya jual. Sepeda yang baru dipakai sebentar berhasil saya berikan kepada teman yang lebih membutuhkannya. Dan yang terakhir menyambut hari Natal, hiasan dekor Natal saya lepas dengan sukacita. Ada beberapa saja yang saya simpan karena pemberian. Untuk kenang-kenangan dan menghias hunian sekedarnya saja. Belum lagi setiap menyambut Imlek, banyak pakaian, tas, sepatu yang sudah lama tak terpakai saya berikan kepada siapa saja di sekitar yang saya rasa akan lebih bahagia memilikinya.

Memang saya tidak melakukan seperti teori yang diajarkan seperti 6 bulan tak terpakai dan perkiraan 6 bulan ke depan tak terpakai. Atau teori dari buku best-seller Marie Kondo. Saya bikin aturan sendiri: dimulai dari gudang. Tempat menyimpan barang yang tak dipakai sehari-hari, atau menduga akan dipakai di kemudian hari. Barang berukuran besar tak terpakai diutamakan untuk dilepas. Menyusul barang-barang kecil sampai printilan.

Saat membongkar gudang, berulang kali saya terkejut karena menemukan banyak barang-barang yang terlupakan keberadaannya dan saya sudah membeli yang baru. Kado-kado yang masih dibungkus rapi belum sempat dibuka. Barang baru yang belum pernah dipakai sama sekali. Semua teronggok rapi tanpa arti. Perasaan bersalah langsung menyerang tanpa ampun. Betapa borosnya saya. Betapa sering saya buang-buang uang. Untungnya perasaan itu segera berganti dengan tekad untuk mengubah gaya hidup berlebihan ini.

Setelah setahun lebih mempraktekannya pelan-pelan, boleh percaya atau tidak, perasaan lega dan lapang datang. Teman-teman yang datang pun bilang kalau hunian saya sekarang “lebih bercahaya”. Kadang ada saatnya menyesal saat memerlukan barang yang ternyata sudah keburu dilepas. Tapi itu tak seberapa dibanding kelegaan yang lebih dahulu menghampiri. Bikin jadi ingin terus mempraktekkan ini.

Yang juga kemudian berujung pada kemawasan saat hendak membeli barang baru. Apakah benar saya menginginkannya? Apa sudah butuh sekarang? *Maaf saya bukan orang yang percaya manusia bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Dan sebelum membeli barang saya yakinkan berkali-kali kalau barang baru itu benar akan saya pakai dan membuat hidup saya kemudian lebih bahagia.

Baju. Bener nih kalau pake baju baru cocok dengan tubuh dan gaya hidup saya? Atau sekedar beli hanya karena lagi diskon? Sepatu. Bukannya sepatu udah banyak? Mau ke mana aja emang? Kalau sekedar untuk bergerak hunian, tempat kerja, olah raga, sepertinya sudah cukup. Buku. Yakin akan dibaca? Ada versi onlinenya aja gak? Daaan berbagai pertimbangan lainnya. Lumayan saya jadi bisa lebih menahan pengeluaran dan kalau pun belanja jadi bisa membeli kualitas ketimbang kuantitas.


Koleksi MangkokAyamID terbaru saya beri nama LOTENG. Banyak yang bertanya kenapa motif cross-stitch ini diberi nama Loteng. Jawabannya ada dua, pertama karena di sebuah film yang saya lupa judulnya apa, ada adegan di mana sebuah lukisan cross-stitch yang indah ditemukan di sebuah loteng dan yang menemukannya langsung bernostalgia. Sesuai dengan desain-desain MangkokAyamID.

Tapi jawaban “ngawang-ngawang”nya, saya merasa sudah waktunya untuk mulai membenahi loteng di dalam hati. Tempat segala perasaan lama dipendam. Terutamanya kemarahan, kekecewaan, kesedihan, dan kenangan-kenangan yang sebenarnya tak perlu dibawa untuk esok. Untuk seketika membuangnya, sepertinya mustahil. Tapi bisa dibenahi.

Perihal yang sebaiknya tak perlu dipikirkan. Belajar untuk memaafkan diri sendiri, kalau memang belum bisa memaafkan orang lain. “Orang lain juga kemungkinan besar udah lupa kali” kata saya berulang ketika mengingat hal-hal yang memalukan saya. Intinya, berbenah. Saya memberanikan diri untuk bertandang ke loteng, ruang gelap berdebu yang keberadaannya selama ini saya paksa lupakan.

Dari situ pula saya belajar tentang diri sendiri. Saya memang ternyata tak suka untuk dingat-ingatkan. Paling malas rasanya baca notifikasi postingan sendiri di masa lalu. Makanya IG Story menjadi tempat yang paling pas. 24 jam hilang. Kecuali ada yang screen cap :p

“Tapi kan akan selalu ada jejak digital” kata teman. Betul juga. Sepertinya untuk benar-benar menghilangkan diri di digital sudah mustahil. Seperti tulisan ini akan selamanya ada di dunia maya. Itu lah penyebab utama mengapa belakangan saya mengurangi keceriwisan di Twitter, lebih selektif saat posting di Instagram Feed. Dan mengapa tulisan di blog pribadi dan linimasa.com berkurang drastis. Currated Post, postingan yang dikurasi. Atau disaring dengan pemikiran yang matang agar tak menyesal di kemudian hari.

2019 sebentar lagi datang. Saya akan melanjutkan perjalanan bebenah ini. Satu-satu masalah akan saya selesaikan pada waktu dan kecepatan yang saya tentukan sendiri.

Advertisements

Terima Kasih, Sandra Bullock!

Tadinya saya ingin mengakhiri rangkaian tulisan di Linimasa tahun ini dengan tulisan tentang film-film pilihan 2018 yang sudah terbit beberapa hari lalu. Terus terang, mindset saya kalau sudah bulan Desember ini, inginnya menulis seputar daftar buku/musik/film/apapun yang menarik sepanjang 365 hari terakhir. Selain itu, memang tidak ada ide lain.

Sampai Sandra Bullock menyelamatkan saya.

Memang Sandra Bullock sedang di Jakarta?

Tentu tidak. Mungkin dia sedang berada di rumahnya, bersama anak-anaknya. Kalau pun dia sedang di Jakarta, tentu dia tidak mau tinggal di rumah saya. Kenal saja tidak.

Hubungan kami tentu saja adalah one-sided relationship, yang berarti saya penggemarnya, sementara dia sadar kalau dia punya penggemar milyaran orang di dunia ini, tanpa perlu tahu satu per satu siapa mereka. Sebagai penggemar, meskipun bukan kelas berat, saya memutuskan untuk memulai pagi tadi dengan menelusuri beberapa video wawancaranya akhir-akhir ini di Youtube, terkait dengan promosi film terbarunya di Netflix yang berjudul Bird Box.

Sebagian besar wawancara membuat saya tersenyum. Sampai saya melihat video wawancaranya dengan Stephen Colbert di bawah ini:

Dari judulnya saja cukup jelas, bahwa Sandra Bullock, sebagai mantan waitress atau pramusaji, merasa bahwa anak-anak muda, atau orang-orang secara umum, perlu merasakan pengalaman menjadi pramusaji sebelum memasuki lapangan kerja yang mereka inginkan. Stephen Colbert pun menambahkan, bahwa kita perlu punya pengalaman kerja blue collar, terutama dalam bidang pelayanan jasa, untuk bisa merasakan dan berempati terhadap mereka yang bekerja di bidang tersebut. Pekerjaan penyedia jasa ini sangat, sangat berat. Long hours, small payment, and nothing but hard work all around the clock. Sebagai mantan waiter sendiri, saya mengangguk setuju.

Lalu seperti saat menonton kebanyakan video di Youtube lainnya, saya melihat beberapa komentar. Di bagian ini, saya tertohok. Beberapa komentar menyuarakan kesetujuan mereka terhadap video tersebut. Beberapa komentar itu, sepertinya, ditulis oleh waiters dan waitresses, di mana mereka kompak mengatakan, bahwa intinya jangan sekali-kali berbuat kasar terhadap pramusaji atau staf di tempat makan. If you are rude, you will get bad treatment.
Sebagai mantan waiter, saya menghela nafas.

1445357291311

Helaan nafas ini karena ada sedikit rasa bersalah.
Beberapa hari lalu, di sebuah mal yang sedang ramai, saya pesan makan di sebuah restoran. Makanan datang dalam waktu yang tidak terlalu lama, tapi juga tidak terlalu cepat. Justru minuman saya yang tidak kunjung datang sampai makanan habis. Berkali-kali saya meminta perhatian, tidak digubris. Saat akhirnya ada staf yang datang, lalu saya bilang untuk membatalkan pesanan kalau minuman tidak datang juga, akhirnya barulah minuman itu datang beberapa menit kemudian.

Dalam suasana ramai, baik di restoran atau di mal, terus terang pengalaman makan tersebut jadi tidak terasa menyenangkan. Ditambah dengan pelayanan yang kurang memuaskan, saya jadi tidak terlalu apresiatif saat para staf meminta maaf atas kejadian tersebut dan berterima kasih atas kunjungan saya. Saat itu mood saya sudah terlanjur tidak karuan, jadi saya buru-buru menyelesaikan transaksi.

I was fine, until I saw the video. Now I am not.

Saya jadi bertanya-tanya sendiri, where did it go? Where the understanding has gone? Apa karena sudah terlalu lama tidak menjadi waiter lagi, jadinya sekarang kurang apresiatif terhadap mereka?

Saya akui, bahwa sampai beberapa tahun setelah tidak lagi menjadi waiter, saya (sempat) menjadi ekstra attentive pada servis staf tempat makan yang saya kunjungi. Tanpa terkecuali.
Lalu seiring berjalannya waktu, dan pindah tempat tinggal, perhatian yang diberikan cenderung semakin biasa-biasa saja. Kalau servis yang diberikan baik, saya akan memuji. Kalau servis yang diberikan kurang baik, saya akan menegur. Apa berarti semakin bertambah umur, kita juga semakin gampang hilang kesabaran terhadap hal-hal kecil?

6a00e54ee3905b883301a511f5263f970

Beberapa waktu lalu, di Linimasa ini, pernah ada yang menanyakan, kenapa orang-orang yang dulu pernah menempuh pendidikan tinggi, ternyata sekarang melakukan atau mendukung hal-hal yang tidak mencerminkan kualitas pendidikannya. Saya jawab singkat, bahwa life happens. Seiring dengan berjalannya waktu, prioritas hidup berubah. Perubahan prioritas hidup membawa perubahan dalam pandangan hidup. Perubahan pandangan hidup membawa perubahan pada bagaimana kita memperlakukan orang lain, mau tidak mau.

Jadi saya ingin mengakhiri tahun 2018 ini dengan sedikit berjanji ke diri sendiri, supaya bisa tap into the inner self lagi. Kalau dulu bisa menghargai orang lain dengan lebih baik, mungkin sekarang bisa dicoba lagi. Meskipun kita sedang dalam suasana yang tidak nyaman, but hey, that shouldn’t stop us from being nice.
Karena dengan tersenyum dan bilang ‘terima kasih’, kita bisa membuat hari kita dan orang lain sedikit lebih baik.

Sandra Bullock, terima kasih sudah memberikan saya resolusi tahun 2019 nanti.

Happy New Year, everyone!

gettyimages-81386861

Rabu Terakhir 2018: Tempat Tinggal

SUDAH umum, anggapan bahwa menjadi dewasa berarti termasuk siap bertempat tinggal, atau memiliki tempat tinggal sendiri. Kedewasaan pun diidentikkan dengan kemapanan, kesuksesan finansial, serta kemampuan mengambil dan menjalani keputusan-keputusan besar dalam hidup.

Banyak orang tua yang merasa/dinilai berhasil mendidik dan membesarkan anak-anaknya, ketika mereka telah bisa membeli rumah. Sebab menunjukkan kemandirian, selain tiga aspek kedewasaan di atas. Pandangan ini pun langgeng, terus diturunkan lintas generasi.

Upaya memiliki hunian pribadi tentu bukan perkara mudah–terkecuali bagi sebagian kecil orang. Ada yang melihatnya sebagai tantangan dan target pencapaian dalam hidup; ada yang melihatnya sebagai bagian penting dari rencana masa depan; ada pula yang melihatnya sebagai beban, sesuatu yang sangat memberatkan. Padahal, masalahnya tidak berhenti sampai di situ saja.

Setelah mulai menempati rumah sendiri, apa pun bentuk dan konsepnya, kita akan berhadapan dengan pertanyaan “Mau diisi apa?“, dan “Bagaimana menatanya?” Dalam hal ini, setiap orang memiliki pandangan dan pertimbangannya masing-masing. Ada yang menginginkan kesan mewah dan lengkap untuk kenyamanan maksimal, ada yang menginginkan efisiensi dan efektivitas segala hal di dalam rumah tersebut, ada yang lebih berat kepada desain cantik dan indah untuk dipamerkan di media sosial, serta lain sebagainya. Pada akhirnya, semua kembali ke preferensi, selera, gaya hidup, dan ketersediaan dana.

Ada orang yang gampang bosan, ada yang tidak terlalu acuh, ada yang sangat rapi dan tertata, ada yang sederhana dan mudah merasa puas, ada yang kreatif, ada yang ambisius, ada yang mengedepankan kenyamanan privat, ada pula yang lebih suka keramaian dan kumpul-kumpul bersama teman atau keluarga. Semua kondisi tersebut memengaruhi hunian mereka, dan bisa kita rasakan saat berkunjung dan berkegiatan di sana.

Bagi saya, yang baru setahun terakhir merasakan tinggal dan bertanggung jawab atas hunian sendiri, gaya minimalis ternyata lebih cocok diterapkan. Simpel, mudah diurus, dan sesuai bujet. Lebih intens dibanding saat masih indekos dahulu, karena kesan bahwa senyaman-nyamannya, tempat tersebut tetaplah milik orang lain. Sementara.

…dan berikut barangkali adalah beberapa hal yang menggambarkannya.

  • Kalau kebetulan berjodoh dengan apartemen, pilih lantai tertinggi. Apalagi kalau lingkungan sekelilingnya tidak banyak gedung menjulang, dan berjendela menghadap selatan atau utara. Supaya tanpa dipasangi gorden pun, unit tidak akan panas ditembak sinar matahari. Privasi pun tetap terjaga, termasuk dari balkon unit sebelah. Apabila jendela berada di kamar tidur utama, bonus pemandangan langit.
  • Rangka tempat tidur memang memberikan kesan tinggi dan nyaman. Namun, akan ada kolong yang mesti disapu dan dipel berkala. Kita berada di Indonesia, debu halus berterbangan di mana-mana. Kasur dapat diletakkan langsung di atas lantai, memang mirip kamar kos, tetapi sama-sama nyaman dan mudah dibersihkan. Cukup dialasi. Bisa dengan karpet (asal harus sedia penyedot debu), atau karpet bilah kayu serupa parket.
Sumber: FLjasmy
  • Masih tentang tempat tidur, sangat menarik, hemat tempat, dan cakep pula jika menggunakan dipan lipat. Bermanfaat untuk ruang yang kecil atau sempit.
  • Begitu pula terhadap sofa. Pilih dengan bahan, bobot, dan desain yang sedemikian rupa agar mudah saat ingin membersihkan bagian bawahnya. Tidak ada salahnya juga bila membeli bean bag, terutama jika hunian akan lebih sering dikunjungi teman dekat. Sehingga bisa bersantai tanpa sungkan, macam ketika menerima tamu formal.
  • Sudah punya kulkas? Maka, apakah masih memerlukan mesin dispenser panas dan dingin? Perlu air dingin, silakan ambil dari kulkas. Perlu air panas, bisa masak air. Suhu didihannya pun bisa relatif berbeda dibanding di mesin dispenser. Hanya saja, dispenser akan menyediakan air dingin dan panas saat itu juga, dengan catatan selama mesinnya beroperasi.
  • Masih menonton lewat televisi? Tempelkan di dinding, agar meja di bawahnya bisa digunakan untuk barang-barang lainnya. Padahal makin banyak orang yang menghabiskan sebagain besar waktunya di luar. Sesampainya di rumah hanya tersisa sedikit waktu dan tenaga untuk mengerjakan yang perlu, lalu beristirahat.
  • Ada berapa orang di rumah? Sendirian atau berdua? Bisakah bila meja makan dijadikan meja bekerja, atau tetap harus dengan meja dan ruang berbeda? Apabila bisa, gunakan meja berbahan kayu solid agak panjang. Gunakan satu sisi untuk makan, agar masih ada sisi lainnya untuk buka laptop dan melakukan beragam aktivitas lain.
  • Belilah barang yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar diinginkan. Apabila fungsinya masih bisa digantikan dengan barang yang lain, maksimalkan yang telah ada. Pemanas air untuk mandi? Seberapa sering mandi dini hari atau subuh? Sedingin apakah air yang mengalir?
  • Perlukah menggunakan cooker hood atau kipas penyedot yang kencang? Jika tinggal di apartemen model loft atau berkonsep studio, akan seberapa sering memasak? Terutama masakan yang heboh, tumisan, gorengan, panggangan. Sebab aroma dan partikel minyak akan berterbangan, dan menempel bahkan sampai di tempat tidur (tidak terhalang dinding). Di sisi lain, apartemen tipe studio mengingatkan kita dengan kamar-kamar hotel yang lumayan cukup.

Selain hal-hal tersebut, bisa jadi masih terdapat banyak “inspirasi” hidup minimalis yang layak, bukan ngenes. Oleh sebab itu, beruntunglah mereka yang sudah pernah merasakan jadi penghuni indekos semasa muda, dan kemudian berkemampuan memiliki tempat tinggal pribadi pada waktunya. Mereka setidaknya bisa menakar kadar ugahari saat mengisi dan menata hunian. Agar tidak malah menjadi beban tambahan yang sebenarnya bisa dihindarkan. Terlebih bagi mereka yang berkuliah arsitektur atau desain interior. Pasti bisa jadi kece. Kalau teknik sipil, bisa membangun rumah secara efisien.

Teriring doa dan harapan di Rabu terakhir 2018 ini, semoga kita semua dilancarkan/bisa memiliki tempat tinggal sendiri yang ideal, mudah diisi, mudah ditata, dan nyaman dihuni.

Selamat Natal, dengan berkat dan kasih yang menenteramkan.
Selamat tahun baru, dengan masa depan yang menyejahterakan.

[]

Delapan Belas Film Yang Memukau di Tahun 2018

Memilih 18 film dari (sedikit lagi) hampir 1.000 jam durasi film yang saya tonton di tahun 2018 ternyata bukan perkara yang mudah dilakukan. Terlebih lagi, kita selalu berpatokan pada hal yang absolut, bahwa satu film berbeda dengan yang lain, yang nyaris mustahil untuk dibandingkan secara kuantitatif.

Akhirnya daftar ini saya buat dengan prinsip yang sangat mendasar, yaitu pada saat menonton film-film ini, I have a memorable time. Bukan sekedar had a good time, tapi film itu masih membekas di ingatan dan hati saya usai film itu berakhir, dan saya sudah beranjak pergi dari bioskop, atau mematikan layar televisi, layar komputer atau sekedar berpaling dari layar ponsel.

Pilihan jenis layar tontonan tersebut saya pilih karena tuntutan pekerjaan yang memang mengharuskan saya untuk hampir selalu menonton film. Saat makan siang sendirian di food court, saat sedang berlari di atas treadmill, atau bahkan saat menunggu pintu bioskop masuk, selalu ada tontonan dalam genggaman.

Lagi pula, as much as I believe the following statement to be a bit passé, ternyata 2018 adalah a good year in cinema. Variasi cerita yang kaya mendorong film-film yang dirilis sepanjang 2018 beragam. Bahkan penonton pun tak segan untuk berpaling dari film-film yang mengandalkan gimmick semata (kecuali ada pemborong tiket).

Tentu saja, tak semua eksperimen berhasil. At least tidak berhasil membuat saya mengagumi film yang telah ditonton. Dari sekian banyak film dengan high concept of ideas, ada 5 Film Yang Mengecewakan di Tahun 2018, yaitu:

Suspiria
Thugs of Hindostan
Peterloo
Vox Lux
The Little Stranger

Obat untuk mengatasi kekecewaan setelah menonton film yang gagal membuat kita senang? Tentu saja dengan menonton film lain! Itulah yang selalu saya lakukan dari dulu, termasuk di tahun 2018, sampai akhirnya saya menemukan 18 Film Favorit di Tahun 2018. Ini dia:

[eighteen] The Death of Stalin

death_of_stalin(IMP)
The Death of Stalin (Source: IMP)

[seventeen] First Man

first_man-IMP
First Man (Source: IMP)

[sixteen] The Man Who Surprised Everyone

the-man-who-surpised-everyone-IMDB
The Man Who Surprised Everyone (Source: IMDB)

[fifteen] Tel Aviv on Fire

Tel-Aviv-On-Fire-poster_Bristol_Palestine-FilmFest
Tel Aviv on Fire (Source: Bristol Palestine Film Fest.)

[fourteen] Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)

memories-of-my-body-IMDB
Memories of My Body (Source: IMDB)

[thirteen] A Star is Born

star_is_born-IMP
A Star is Born (Source: IMP)

[twelve] Whitney

whitney-IMP
Whitney (Source: IMP)

[eleven] Spider-Man: Into the Spider-Verse

spiderman_into_the_spiderverse_ver2-IMP
Spider-Man: Into the Spider-Verse (IMP)

And now, the top 10 of the year:

[ten] Cold War

cold-war-_RogerEbert
Cold War (Source: RogerEbert.com)

Satu kata yang terlontar usai menonton film ini adalah “gorgeous!” Terutama buat penggemar jazz, perhatikan bahwa film ini dibuat dengan pacing melodi musik jazz yang megah, yang dimulai dengan kekosongan, diisi dengan riots and chaotic notes, dan diakhiri dengan a beautiful and lingering devastation. Film ini juga sarat dengan imaji indah dalam sinematografi hitam putih dengan komposisi yang tak biasa, yang membuat kita tak berpaling dari layar. Durasi film boleh singkat, namun impresi yang ditinggalkan masih berbekas sampai sekarang.

[nine] A Twelve-Year Night

a-twelve-year-night_Unifrance
A Twelve-Year Night (Source: Unifrance)

Kalau ada film di daftar ini yang membuat saya berkata “I urge you all to watch the film”, maka inilah filmnya. Sepintas mirip The Shawshank Redemption, ada pula yang menyebut filmnya mirip 12 Years a Slave. Kesamaan dengan kedua film hanya sebatas pada dasar ceritanya saja: ini film kisah nyata tentang José Mujica yang ditahan bersama tawanan politik lainnya selama 12 tahun, sebelum akhirnya dia menjadi presiden Uruguay. Film ini menggambarkan keadaan mereka di penjara, dan mengikuti kisah hidup mereka di penjara sepanjang film, saya tidak bisa berkata-kata lebih banyak lagi. They are harrowing, they can be gruesome, but they can be hopeful. Visualisasi tentang usaha mereka bertahan hidup di penjara sangat fantastis. The quietness, you have to see it yourself to feel it. Film ini hadir di Netflix mulai 28 Desember 2018.

[eight] Girl

Girl-ThePlaylist
Girl (Source: The Playlist)

Elegan dan halus. Itulah catatan saya selesai menonton film ini. Performa luar biasa Victor Polster sebagai Lara yang bertekad keras menjadi perempuan seutuhnya membuat film ini berhasil memukau kita. Tak hanya sekedar mengubah fisik, tapi karakter Lara di film ini ditampilkan lengkap dengan perjalanan emosi yang membuat kita tertegun sepanjang film. Pilihan Lara untuk bertahan hidup membuat saya mau tidak mau menorehkan kata berikut untuk film Girl ini: “powerful!

[seven] Andhadhun

andhadhun-TheWire
Andhadhun (Source: The Wire)

Saya sudah penasaran dengan film ini dari trailernya yang sangat unik. Terlebih untuk sebuah film Hindi komersil. Dan rasa penasaran itu sangat, sangat terpuaskan oleh filmnya sendiri. Apalagi di paruh pertama film, dengan puncak keseruan film saat karakter utama mengalami kejadian yang membawa cerita bergulir dengan sangat nyaman untuk diikuti. Silakan baca sendiri semi-spoiler moment di tulisan saya minggu lalu. Yang jelas, film ini adalah film Hindi paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini. Dan film ini sudah ada di Netflix!

[six] One Cut of the Dead

one-cut-of-the-dead-Variety
One Cut of the Dead (source: Variety)

Kalau sensasi film ini harus ditulis besar-besar dalam huruf kapital: FUN! Rasanya tidak ada film lain sepanjang tahun 2018 yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai ada penonton lain yang berdiri dari kursi dan terus tertawa sambil bertepuk tangan di beberapa bagian film. Sebuah film dengan konsep yang kalau diceritakan secara lisan atau kita baca cuma bisa membuat kita bingung, namun saat akhirnya kita saksikan sendiri, kita hanya bisa terperanjat dan kagum. Film yang sangat brilian. Sekaligus film ini adalah film yang membuat kita sadar, kenapa kita sangat mencintai film secara umum. Semakin sedikit Anda tahu sebelum menonton film, the more fun you will have. The funniest film in a long time.

[five] Tully

tully-charlizetheron_SlashFilm
Tully (Source: SlashFilm)

Twist film ini membuat saya berpikir berhari-hari. Semacam mengetuk kesadaran dalam diri. Tenang saja, ini bukan spoiler sama sekali. Film ini berhasil membuat saya tertegun, dan akhirnya mengakui bahwa kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan menyelamatkan kita? Semakin saya memikirkan film ini, semakin saya paham bahwa tidak hanya penampilan Charlize Theron yang luar biasa bagusnya yang membuat film ini menjadi salah satu film favorit saya tahun ini, tapi cerita film ini yang sangat humanis yang membuat film ini layak untuk ditonton. Jason Reitman dan Diablo Cody adalah tim sutradara dan penulis yang sangat paham tentang human beings and their desire to be human.

[four] Shoplifters

shoplifters_RogerEbert
Shoplifters (Source: RogerEbert.com)

Film ini menantang pemikiran kita tentang konsep keluarga dengan cara yang sangat subtle, yang tanpa kita sadari merasuki perasaan kita, yang membuat kita sampai meneteskan air mata di akhir cerita. Selain itu, Hirokazu Kore-eda juga mempertanyakan kembali, apakah konsep villain dan protagonis yang sebenarnya dalam hidup sehari-hari. Bagian ini yang membuat saya terus berpikir sepanjang film, dan terus mencari jawaban pertanyaan tersebut sampai film berakhir. Disajikan dengan cara bertutur yang pelan namun pasti, film ini berhasil memanusiakan manusia dalam konteks yang mudah kita pahami, sekaligus meninggalkan kesan yang mendalam.

[three] Amanda

amanda_-_mikhael_hers__Variety
Amanda (Source: Variety)

Waktu saya menonton film ini, saya hanya berniat untuk menonton paling tidak separuh durasi, karena ada jadwal diskusi yang harus saya hadiri. Namun niat itu tidak saya penuhi, karena hanya dalam guliran menit-menit pertama, film in berhasil membuat saya tidak beranjak dari kursi, dan menontonnya sampai selesai. Dengan mata berkaca-kaca, saya bertanya ke rekan saya, “What was that we just watched?” Film ini sangat sederhana: seorang pria harus membesarkan keponakannya setelah kakaknya, yang notabene adalah ibu keponakan ini, tewas akibat serangan terorisme. Pergulatan batin dua orang ini menjadi perjalanan utama cerita film yang tertutur dengan rapi, tanpa menghakimi sama sekali, tanpa berpihak sama sekali. How is it possible? Sutradara Mikhael Hers membuat film ini dengan tampilan bak film keluarga di televisi tahun 1970-an, yang menjadi efektif, karena kita bisa menikmatinya dengan tenang, despite all the big questions and anxiety about life in the film. Tidak perlu menjadi melodramatis dan sentimentil untuk membuat film yang menentramkan hati. Film ini membuktikannya.

[two] The Guilty

theguilty-Fotogramas
The Guilty (Source: Fotogramas)

Ada kalanya kita menonton film dan terpukau dengan sense of filmmaking film tersebut. Film ini salah satunya. Mirip dengan film-film seperti Buried atau Locke dan Gravity, di mana keseluruhan cerita dalam satu film dibuat dalam satu kurun waktu, in real time, dan hanya ada satu karakter sepanjang film. Film-film seperti membutuhkan kedisiplinan yang tinggi dalam membuatnya. Skenario harus dibuat serapi mungkin agar dramatic moments pas munculnya, serta tentunya, aktor yang memainkan karakter utama harus tampil meyakinkan sepanjang film, karena dialah satu-satunya yang selalu muncul sepanjang film. Ryan Reynolds, Tom Hardy dan Sandra Bullock sudah membuktikannya, dan sekarang, Jakob Cedergren juga membuktikan lewat film The Guilty ini. Duduk dalam satu ruangan tertutup menerima panggilan telpon darurat, ketegangan demi ketegangan film tersaji lewat raut muka, gerak tubuh dan intonasi suara Cedergren yang selalu berubah seiring dengan perkembangan kejadian. Sutradara Gustav Möller menorehkan debut film panjang yang sangat istimewa, perhaps among the best debut films of all time. Tentu saja, film ini pun adalah film thriller terbaik tahun ini.

[one] Roma

roma-Empire

Film seperti Roma belum tentu hadir setahun sekali. Bahkan mungkin belum tentu sepuluh tahun sekali. Film ini memang personal untuk Alfonso Cuaron, pembuatnya. Namun rasa itu berhasil diterjemahkan menjadi sebuah karya seni yang dibuat dengan sepenuh hati, dan akhirnya bisa kita nikmati juga dengan sepenuh hati. Sebagai orang yang lebih menyukai film dengan penuturan cerita yang naratif, saya surprised sendiri bisa menikmati film ini. Mungkin Cuaron tidak akan pernah lupa, bahwa frame dan adegan indah pun perlu kekuatan cerita dan karakter yang membuat momen-momen tersebut tak lepas dari ingatan. Adegan di hutan, adegan di pantai, pemberontakan di jalan, menyaksikan ini semua seperti membuat kita menyaksikan adegan hidup dalam tatanan gambar dan suara yang menakjubkan. This is a work of art worth seeing. This is a beautiful rarity.

Apa film favorit Anda tahun 2018 ini?

Ulang Tahun Istimewa

Alkisah, ada seorang mahasiswi yang lugu dan baru pacaran, belum pernah hari ulang tahunnya dirayakan begitu spesial oleh orang selain keluarganya. Mendekati hari istimewa itu, dia semakin berdebar dadanya; kira-kira apa ya, yang direncanakan oleh pacar baru (dan pertama) untuk merayakannya? Apakah dia akan diberi kejutan romantis seperti yang dilakukan di film-film? Atau pacarnya akan mengundang teman-teman dekatnya untuk merayakan bersama? Entahlah, yang jelas dia sudah sering melamun sambil senyum senyum sendiri.

Pagi pagi sekali di hari ulang tahunnya, pacarnya sudah muncul di tempat dia kos. Tentu yang diucapkan pertama kali adalah selamat ulang tahun, tetapi dia melihat bahwa mata pacarnya merah, dan bajunya lusuh tidak seperti baru keluar dari rumah pagi.

“I have bad news”
“OMG what”

Dengan tidak percaya dia mendengar pacarnya cerita. Kalau malam sebelumnya dia menyetir ke luar rumah jam 8 malam untuk membeli kado untuknya. Ketika dia menyetir dengan kecepatan sedang, ada anak yang mendadak menyeberang jalan dan dia tidak sempat mengerem, sehingga tersenggol mobilnya. Kemudian dia tadi malam membawa anak tersebut ke rumah sakit terdekat dan mengurus pemeriksaan anak tersebut semalaman.

“Maaf aku enggak sempat siapin apa-apa untuk ulang tahun kamu.”
“Enggak apa-apa, yang penting kamu aman. Anaknya gimana?”
“Masih observasi khawatir gegar otak. Selain itu enggak ada luka parah, hanya pusing katanya. Nanti kalau kamu selesai kuliah aku ajak ke rumah sakit ya.”

Dia mengiyakan, walau dalam hati dia 80 persen yakin ini hanya cerita yang dikarang pacarnya untuk membuat kejutan di hari ulang tahunnya.

Setelah selesai kuliah, pacarnya menjemputnya dan membawa ke rumah sakit. Dalam hati: OMG dia betulan mengajak aku ke rumah sakit. Masa dia niat banget atur ini sama pihak rumah sakit? Mereka jalan di koridor rumah sakit tua itu. Masuk ke sebuah kamar opname yang isinya lima ranjang. Salah satu ranjang itu ada seorang anak perempuan usia delapan tahun – kurang lebih – dan beberapa orang duduk di sekitarnya. Pacarnya pun memperkenalkan dia dengan orangtua si anak. Dia hanya bisa berpikir, bahwa sepertinya tidak bisa dipungkiri lagi memang terjadi kecelakaan, dan pacarnya tidak ada rencana buat memberikan dia kejutan sambil membuat skenario yang njelimet. Setelah itu semua terasa unreal.

Ketika sudah selesai urusan di rumah sakit, dia pun berkata ke pacarnya kalau dia ingin kembali ke kos. Pacarnya mengiyakan dan mengantarnya. Begitu sampai dia pun tak bisa menahan tangisnya. Air matanya pun mengucur. Dia meminta maaf sekaligus marah ke pacarnya. Maaf karena dia merasa egois, ada orang tertimpa kemalangan, tetapi dia malah merasa malang juga karena tidak bisa merayakan ulang tahun bersama pacarnya. Dia juga meminta maaf karena dia tetap menyalahkan pacarnya yang tidak berhati-hati menyetir mobilnya. Tetapi dia marah juga, karena PACARNYA BARU MENCARI KADO BUATNYA JAM 8 MALAM DI HARI SEBELUMNYA.

5b486fc220e3a823008b464a-750-562Memang kenyataan tidak pernah sebaik ekspektasi ya.

3 Keterampilan Dasar & Krusial untuk Ngetwit Saat Ini

BUKAN hanya Twitter-an, sebenarnya, keterampilan-keterampilan berikut dibutuhkan hampir setiap saat dalam berkomunikasi. Termasuk berbicara, menulis, mendengar, dan membaca. Sementara Twitter merupakan platform media sosial dengan ruang isi yang relatif sempit. Hanya 280 karakter tulisan.

Mengapa sedemikian penting? Karena kita—sebagian besar—terlalu gampang gusar, kesal, sebal, merasa terganggu, dan membenci manakala tidak mengerti sesuatu, maupun saat tidak dimengerti oleh orang lain. Kita ciptakan sendiri sebuah ketidaknyamanan; kita terisap dalam pusaran ketidaknyamanan itu; lalu kita meratap seolah-olah paling teraniaya dan sengsara akibat ketidaknyamanan itu. Padahal, semampu kita menciptakan perkara, semestinya semampu itu pula kita menghadapi dan menjalaninya.

1. Memahami pesan sejelas-jelasnya, semaksimal mungkin

Boleh dibilang hampir semua masalah berawal dari kesalahpahaman atau kekeliruan terhadap sesuatu. Bentuknya semakin nyata bila kesalahpahaman atau kekeliruan tersebut disikapi, dilanjutkan dengan tindakan. Dari situ, masalah tercipta hingga merembet ke mana-mana. Makanya, kemampuan memahami sejelas-jelasnya merupakan landasan terpenting. Langkah pencegahan paling dini, pereda potensi konflik. Intinya, tanpa kesalahpahaman atau kekeliruan, tidak akan muncul masalah. Kecuali jika memang itu yang dicari, sengaja dibuat dan diadakan.

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pemberi kepada penerima. Ada kesan bahwa sang pemberi pesan adalah pihak aktif (yang melakukan), sedangkan sang penerima adalah pihak yang pasif (sekadar mendapatkan).

Kemampuan memahami sejatinya bersifat aktif, atau justru proaktif. Bukan sekadar membaca atau mendengar informasi dari pihak lain secara pasif, tetapi sang penerima pesan juga melakukan aktivitas berpikir, mempertimbangkan hal-hal yang diterimanya, dan mempergunakan logika dalam mengolah pesan yang diterima, sebelum akhirnya memberikan tanggapan. Ia menghindari bersikap gegabah, atau terburu-buru, atau menelan mentah-mentah informasi yang didapatkannya.

Caranya bisa relatif sederhana. Berawal dari sebuah pertanyaan singkat: “Benarkah begitu?” atau “Masa, sih, begitu?

Pertanyaan di atas mampu mengusik kita untuk mencari tahu dan memahami lebih jauh. Sebab saat ini, rendahnya kemampuan memahami pesan memicu banyak pertikaian. Termasuk di media sosial.

Gara-garanya~

● Ada yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya memahami, kendati keliru dan salah kaprah. Saking tingginya rasa percaya diri itu, dia malah bisa mengelak, menyangkal, dan melemparkan kesalahan kepada orang lain, atau menyalahkan situasi bila dia terbukti salah.

● Ada yang terkesan bodoamat. Benar atau tidak benar, yang penting ia memberikan tanggapannya dahulu. Bisa karena merasa dirinya–dan pernyataannya–sangat penting, sehingga harus disampaikan sesegera mungkin; bisa juga lantaran telanjur benci dengan objek dan subjek pembicaraan. Jadi, menyerang dahulu selagi ada kesempatan. Sebanyak apa pun, sekeras apa pun.

● Ada yang sekadar ikut-ikutan, dan ini berdampak paling mematikan. Secara harfiah. Pasalnya, ketika hanya ada satu orang yang keliru, orang-orang di sekitarnya masih mampu mengingatkan dan mencegahnya bertindak lebih lanjut. Namun, ketika satu orang yang keliru dikelilingi orang-orang dengan kekeliruan yang sama, mereka malah berhimpun dan saling memperkuat, mendorong untuk bertindak lebih lanjut. Nyawa bisa jadi taruhannya. Parahnya lagi, mereka tidak sadar bahwa tindakan tersebut salah. Setelah peristiwa terjadi, hanya ada wajah-wajah menyedihkan yang seakan-akan meneriakkan pembelaan: “Aku, kan, tidak tahu.

Ya~ kalau tahu, tidak bakal bertindak begitu, kan?

2. Menyampaikan pesan dengan ringkas, cermat, dan mudah dipahami

Setelah mampu memahami pesan dengan jelas dan baik, tantangan berikutnya adalah bagaimana menyampaikannya dengan jelas dan baik pula. Sehingga informasi yang diteruskan tidak berpotensi keliru serta menimbulkan kesalahpahaman.

Keterampilan ini beranjak dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki kemampuan berpikir dan memahami yang berbeda-beda. Sangat tidak bijaksana apabila kita menggantungkan “nasib” sebuah perkara pada penangkapan dan pemahaman orang lain semata. Jangan lupa, pada saat sebuah masalah muncul akibat kekeliruan dan kesalahpahaman komunikasi, pemberi maupun penerima pesan sama-sama punya andil.

Dengan keterbatasan ruang penyampaian pesan, Twitter adalah salah satu media sosial yang pas untuk melatihnya. Pengguna berusaha menyampaikan informasi sejelas-jelasnya, selengkap-lengkapnya, secermat-cermatnya, tetapi juga seringkas-ringkasnya supaya lebih mudah dibaca, tidak terlewatkan dari perhatian, serta tak membingungkan.

Yang patut diwaspadai adalah perbedaan sudut pandang. Kita seringkali beranggapan bahwa pesan yang kita susun sudah sedemikian jelas, benar, ringkas, dan mudah dipahami. Sayangnya, realitas berkata lain. Para pembaca pesan sama sekali tidak paham, atau justru salah paham. Ujung-ujungnya berkembang menjadi masalah baru.

Itu sebabnya, sama seperti pada keterampilan pertama, proses menyusun dan menyampaikan pesan tetap memerlukan proses berpikir yang intensif, mempertimbangkan banyak faktor, serta pertukaran perspektif. “Kalau aku yang jadi dia, apa yang akan aku dengar/baca/pahami dari pesan ini?” atau berusaha memastikan dengan pertanyaan “Apakah pesan ini sudah benar-benar jelas?

Serumit atau sesulit apa pun sebuah pesan dirumuskan, seseorang dengan keterampilan ini tetap tidak ingin gegabah atau terburu-buru menyampaikannya. Apalagi sampai dibuat jadi utas berpanjang-panjang.

Tak semua orang betah membaca, atau suka diajak berbicara lama-lama.

3. Selalu bersikap tenang (atau cuek)

Keterampilan ini memiliki beberapa aspek, yang salah satunya justru lebih tepat ditempatkan paling pertama; dijadikan landasan sebelum berpayah-payah memahami pesan dengan benar dan sejelas-jelasnya.

A) Tenang ketika terpapar sebuah pesan, untuk kemudian dapat memutuskan apakah pesan tersebut cukup penting untuk diperhatikan, dipahami, dan ditanggapi, atau cukup dibiarkan berlalu begitu saja. Tidak semua hal perlu, patut, atau pantas.

B) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, disalahpahami. Lumrahnya, seseorang akan berusaha keras mengerahkan semua kemampuan untuk mengkoreksi kesalahpahaman yang terjadi. Sebab, perasaan sebagai yang salah itu tidak menyenangkan, dan tidak ada seorang pun yang mau mengalaminya. Dengan tetap bersikap tenang, kita berkesempatan untuk mengetahui “apa kesalahpahaman yang muncul“, dan “mengapa kesalahpahaman itu muncul” dengan sejelas-jelasnya. Agar upaya koreksi dan perbaikan yang akan kita lakukan tepat sasaran, efektif, dan efisien.

C) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, ditanggapi negatif. Terutama tanpa dasar argumentasi yang solid. Misalnya berupa penolakan, penghinaan dan makian, serta cemoohan. Merujuk kembali kepada poin A), semua tanggapan negatif tersebut bisa kita anggap sebagai paparan pesan yang tidak penting untuk diperhatikan. Tidak usah ditanggapi lagi. Biarlah mereka bermasturbasi dengan ego sendiri. Merasa menang bertarung melawan angin.

D) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, ternyata salah. Dalam ketenangan, kita bisa menerima kesalahan dengan pandangan lebih jernih, lebih bertanggung jawab, dan lebih apa adanya. Menyesal, tentu saja harus. Menandakan bahwa kita sadar atas perbuatan tersebut. Namun, rasa gusar hanya akan membuat segalanya makin terasa tidak enak, tanpa faedah apa pun terhadap kebijaksanaan dan pemahaman. Dalam ketenangan pula, kita terkondisi untuk dapat menerima ganjaran dan menjalani hukuman dengan penuh integritas. Secuil kemuliaan manusia.

[]

Lima Adegan dan Lima Penampilan Mengesankan di 2018

Sedikit break away dari tradisi menampilkan 10 film favorit setiap tahunnya, tahun ini saya melihat banyak sekali momen-momen dan penampilan di film yang patut kita apresiasi.

Sering kali kita malah mengingat sebuah adegan tertentu dari suatu film. Belum tentu film tersebut berhasil memukau kita secara keseluruhan, namun ada beberapa momen dalam film tersebut yang membekas dalam ingatan kita. Jangan heran juga, even good small moments can be found in not so good films.

Some scenes do excellent work on their own.

Oleh karena itu, inilah lima momen dalam film yang dirilis sepanjang tahun 2018, yang sangat mengesankan buat saya:

Crazy Rich Asian – adegan mahjong

crazyrichasians-mahjong-AngryAsianMan_dot_com
Crazy Rich Asian (source: Angry Asian Man)

Kalau sekedar mau memperlihatkan teknis permainan mahjong lengkap dengan psychological undertone, maka anda bisa melihat cuplikan adegan mahjong di fim Lust, Caution karya Ang Lee. Sementara di film Crazy Rich Asian, adegan mahjong ditampilkan apa adanya. Lengkap pula dengan makna permainan yang disampaikan Rachel (Constance Wu) kepada Eleanor (Michelle Yeoh). Namun yang membuat keseluruhan adegan mahjong ini sangat membekas di ingatan justru terletak di akhir permainan, saat ibu Rachel (Tan Kheng Hua) berdiri, menjemput Rachel, dan menatap Eleanor dari kejauhan tanpa kata-kata. That scene, that particular scene between two single mothers. Dua orang tua tunggal, dua ibu, dua orang yang seharusnya menjadi rival satu sama lain, namun akhirnya sama-sama mengerti keputusan yang diambil untuk melindungi anak masing-masing, dilakukan tanpa dialog sama sekali. Acknowledging two single mothers in an Asian (themed) movie? Brilliant.

Museo – adegan perampokan museum

Museo-THR
Museo (source: The Hollywood Reporter)

Film Museo menceritakan kisah nyata perampokan museum antropologi di Mexico City oleh pelaku amatir yang menggegerkan kota tersebut di tahun 1985. Dibintangi Gael Garcia Bernal yang bermain cemerlang, film ini sebenarnya lebih fokus kepada konflik keluarga antara karakter Bernal dengan orang tuanya. Namun adegan perampokan yang dihadirkan pada babak pertama film justru mencuri perhatian dan membuat kita teringat terus sepanjang film. Selama 15 menit, adegan perampokan dihadirkan tanpa kata-kata, minim musik, dan membuat adegan serupa lain di film Ocean’s 8 yang juga dirilis tahun ini tidak ada apa-apanya.

** SPOILER ALERT BEGINS **

Andhadhun – adegan pemindahan jasad

andhadhun-ZeeNews
Andhadhun (source: Zee News)

Bisa jadi film Andhadhun adalah the sleekest thriller from Hindi cinema this year. Mungkin tidak hanya dari India saja, ya. Film ini sangat mengesankan, karena dari awal, ide cerita untuk menempatkan seorang pianis menjadi pura-pura buta dibuat untuk kesan playful. Namun seiring dengan cerita berjalan, sang pianis terpaksa harus menjadi saksi pembunuhan di depan mata, or the lack of them for the sake of pretending. Adegan pelaku pembunuhan yang harus memindahkan jasad yang mereka bunuh di depan pianis yang berpura-pura tidak mengetahui seluruh kejadian tersebut, sungguh sangat menakjubkan.

*** SPOILER ALERT ENDS ***

Roma – adegan penyelamatan di pantai

Roma-DenOfGeek
Roma (source: Den of Geek)

Sungguh susah memilih hanya satu momen yang paling berkesan di film Roma, karya terbaik Alfonso Cuaron ini. Setiap adegan dibuat dengan teliti, membuat kita seolah-olah melihat karya seni yang dibuat dengan pendalaman yang luar biasa. Kalau boleh memilih satu, maka adegan penyelamatan anak-anak di pantai yang membuat saya terkesan. Tingkat kesulitan pengambilan gambarnya sangat tinggi. Namun Cuaron tidak melupakan emosi di setiap karakter yang membuat kita mengambil nafas panjang saat melihat adegan ini, dan menghela nafas panjang penuh kelegaan di akhir adegan.

First Man – adegan pendaratan di bulan

first_man-Polygon_com
First Man (source: Polygon)

Film Alien sudah berikrar di tagline poster mereka, bahwa “in space, no one can hear you scream”. Tidak cuma menjerit, namun mungkin berkata-kata. Itulah mengapa adegan pendaratan di bulan di film First Man sangatlah bermakna. Bahwa saat pertama kali menginjakkan kaki dan melihat bagian dari alam semesta di luar bumi, tidak ada ekspresi atau kata yang bisa mewakili perasaan diri. It’s just silence, and nothing but silence. Maka keheningan di film ini menjadi suatu kemegahan tersendiri yang layak kita alami di layar lebar.

Adegan-adegan lain di film-film yang saya tonton sepanjang tahun 2018 yang juga membuat saya terkesan adalah bagian konser Live Aid di film Bohemian Rhapsody dan dialog panjang di dalam mobil di film Lemonade.

Sementara itu, inilah lima aktor dengan penampilan akting yang paling mengesankan di tahun 2018:

• Gading Marten (Love for Sale)

gading-love-for-sale-(duniakudotnet)
Gading Marten – Love for Sale (source: Duniaku.net)

Less is more. Saya selalu percaya bahwa (hampir) setiap aktor yang terbiasa melawak, bermain di film atau serial komedi, tahu pentingnya timing saat mereka berakting. Gading Marten membuktikan hal itu dalam film Love for Sale. Tanpa perlu terjebak menjadi terlalu dramatis, karakter Richard dihadirkan secara natural, yang membuat karakter ini semakin nyata dan dekat dengan kita. Penampilan terbaik Gading Marten sejauh ini.

• Eva Melander (Border)

eva-border-(bfi_dot_org_dot_uk)
Eva Melander – Border (source: BFI)

Dengan muka semi-monster yang membuat kita bergidik saat melihat karakter Tina pertama kali di film Border, kita malah diajak semakin berempati dengan karakter ini seiring cerita bergulir. Inilah kehebatan Eva Melander yang memerankan karakter ini. Dia memberikan sentuhan humanis di setiap tatapan Tina yang menyiratkan hasrat untuk diterima, dan dalam konteks film ini, dicintai orang lain. Penampilan yang tidak mungkin kita lupakan.

• Jakob Cedergren (The Guilty)

jakob-the-guilty-Vulture_dot_com
Jakob Cedergren – The Guilty (source: Vulture)

Apakah film Buried bisa berhasil tanpa penampilan Ryan Reynolds? Apakah film Locke bisa berhasil tanpa penampilan Tom Hardy? Pertanyaan yang sama patut kita sampaikan untuk film The Guilty ini. Sepanjang film, hanya ada satu aktor, yaitu Jakob Cedergren, yang memandu kita menyusuri kisah tegang di satu lokasi, dengan bermodalkan voice over lewat telepon, dan penampilan Jakob Cedergren seorang diri. Raut muka, suara dan gerak tubuhnya selalu mengindikasikan perubahan yang terjadi di cerita, dan membuat kita tidak beranjak dari kursi. Such a brilliant actor in an equally brilliant film.

• Zain Al Rafeea (Capernaum)

zain-capharnaum03-AsiaPacificScreenAwards
Zain Al Rafeea – Capernaum (source: Asia Pacific Screen Awards)

Anak kecil yang tumbuh di jalanan mempunyai ekspresi berbeda dengan anak kecil kebanyakan. Air muka yang keras di wajah yang muda adalah kombinasi yang sulit ditemukan di film. Namun sutradara Nadine Labaki lewat film Capernaum berhasil menemukannya lewat penampilan gemilang aktor cilik Zain Al Rafeea. Mulai dari adegan pertama saat dia menuntut orang tuanya di pengadilan karena melahirkan dirinya, kita dibuat ternganga oleh penampilannya yang menjadi the main anchor film ini. Rasanya susah untuk percaya bahwa inilah penampilan pertama kali Zain Al Rafeea di film. A remarkable debut.

• Rami Malek (Bohemian Rhapsody)

rami-bohemian-NME_dot_com
Rami Malek – Bohemian Rhapsody (source: NME

Tidak perlu dijelaskan lebih panjang lagi: Rami Malek is Freddie Mercury. Komitmen luar biasa Malek untuk menjadi Mercury tak perlu kita telaah dan telusuri lagi. It’s all there on the screen. Memang banyak yang menyebutkan bahwa kesuksesan fenomenal film Bohemian Rhapsody sebagian besar terletak pada katalog lagu-lagu Queen yang dihadirkan dalam porsi pas di film ini. Namun apakah mereka bisa menjadi efektif tanpa penampilan Malek? He is, indeed, the champion.

Penampilan lain yang juga berkesan buat saya adalah performa dari these leading ladies: Charlize Theron (Tully), Rani Mukerji (Hichki), dan Toni Collette (Hereditary).

Coming up next: film-film yang paling berkesan di tahun 2018!

Apa adegan dan penampilan di film yang membuat anda terkesima tahun ini?

Sepuluh Tayangan Televisi Yang Membuat Betah di Rumah di Tahun 2018 – #rekomendasistreaming

Sejak kembali beraktivitas mengkurasi dan memprogram festival film, terus terang waktu saya untuk menonton serial televisi makin terkikis tahun ini. Ada beberapa serial yang sampai sekarang masih belum sempat saya tonton karena tidak ada waktu luang (“Maniac”, “The Kominsky Method”), ada beberapa serial yang sudah saya lepaskan dari jadwal rutin menontonnya, dan ada juga beberapa serial yang sudah saya sempatkan cari waktu luangnya, namun malah berujung kekecewaan (“House of Cards” season 6).

Untungnya, sebagian besar tayangan televisi yang saya tonton tahun ini, for the lack of better word, sangat memuaskan. Lagi-lagi televisi dan internet masih lebih berani dan beragam dari film layar lebar untuk urusan cerita dan kekuatan karakter. Lihat saja, sebagian besar karakter perempuan yang kompleks dan kuat ada di televisi. Meskipun saya kecewa dengan “House of Cards” terakhir, mau tidak mau saya akui bahwa Claire Underwood adalah salah satu karakter perempuan paling tajam yang pernah ada di era televisi modern. Mungkin malah sepanjang masa.

Tidak ada cerita yang “itu-itu lagi” maupun orang yang “itu-itu lagi” di tayangan televisi. Apalagi kehadiran televisi sekarang sangat beragam, ditambah dengan video streaming applications yang menawarkan konten yang beraneka rupa. Saking banyaknya serial televisi, tidak mungkin kita bisa menghabiskan seluruh waktu kita untuk menonton semua serial yang ada. Konon katanya perlu 7 kehidupan manusia in their entire lifetimes untuk menghabiskan tontonan yang ada di Netflix sekarang.

Jangan khawatir. Tidak perlu menghabiskan seumur hidup sampai akhir hayat untuk menonton serial-serial pilihan saya tahun 2018 ini. Cukup beberapa hari sepanjang liburan akhir tahun, dan selesai! Ini dia:

[sepuluh] The Americans – Season 6

theamericans-season6
The Americans

Puas! Itu kesan pertama saya saat melihat episode terakhir di season terakhir serial tentang keluarga yang berprofesi sebagai mata-mata Rusia di Amerika Serikat di era 1980-an ini. That long confrontation scene in the garage! The wordless shock of the stare on the train! The final scene! Susah rasanya buat saya sekarang membayangkan Matthew Rhys dan Keri Russell sebagai karakter lain selain Philip dan Elizabeth Jennings yang mereka mainkan dengan gemilang selama 7 tahun. Kedua karakter inilah yang memang membuat Rhys dan Russell dikenal sebagai aktor handal. Perhatikan saja di setiap adegan yang tidak memerlukan banyak dialog di sepanjang serial ini. Their eyes speak volumes. And they really do elevate and grow with the series. Saya akan merindukan serial ini.

[sembilan] Wild Wild Country

Wild Wild Country Netflix documentary in six parts 2018
Wild Wild Country

Miniseri dokumenter ini memang dibuat untuk mengagetkan kita. Cukup dengan menyajikan cold hard fact and findings, ditambah dengan testimoni di wawancara para pelaku kejadian yang masih menyiratkan rasa tidak bersalah mereka, maka kita cuma bisa menggelengkan kepala sepanjang menonton miniseri ini. Susah dipercaya bahwa negara sebesar Amerika Serikat di tahun 1980-an pernah nyaris jatuh ke tangan segelintir orang yang memanipulasi agama, but hey, isn’t it still happening right now in c-e-r-t-a-i-n parts of the world? Sebuah tontonan yang membuka dan membelalakkan mata kita.

[delapan] Killing Eve – Season 1

killing-eve-poster

Tiga kata berawalan huruf S patut disematkan untuk serial ini: smart, sassy, sexy. Tidak pernah saya duga sebelumnya kalau Sandra Oh bisa tampil meyakinkan sebagai detektif cekatan, dan dengan matching rival di tangan Jodi Comer sebagai Eve, maka cat-and-mouse-game plot di serial ini menjadikannya sebuah tontonan yang cerdas, sekaligus adiktif.

[tujuh] BoJack Horseman – Season 5

bojack_horseman_ver4_xlg
BoJack Horseman

Pernah punya teman atau kenalan yang nyinyirnya luar biasa, namun semakin tua, malah jadi semakin dewasa? Belum tentu bijak ya, tapi jadi lebih mature? Demikianlah yang bisa saya deskripsikan dari favourite has-been celebrity saya yang bernama BoJack Horseman ini. Cerita komedi satir serial animasi tentang kultur selebritas yang kejam ini masih penuh sarkasme dan dialog yang menohok. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa karakter BoJack pelan-pelan sadar akan usianya yang semakin menua, dan dalam beberapa episode mulai terkesan wistful dalam menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Hal yang malah membuat serial ini semakin mengesankan saat ditonton.

[enam] The Marvelous Mrs. Maisel – Season 2

marvelous-mrs-maisel-poster-season2-408x600
The Marvelous Mrs. Maisel

Season pertama serial ini hadir bagaikan pelangi setelah hujan panjang. It’s magical. Lalu bagaimana dengan season kedua yang baru saja hadir di awal bulan Desember? Ternyata masih penuh dengan kejutan dan, ini yang penting, masih sangat lucu. Terima saja episode season finale yang terasa terburu-buru dan terlalu menumpuk cliffhangers untuk keterlanjutan serial ini. Toh itu tidak bisa menutupi kecemerlangan beberapa episode awal, seperti adegan stand-up comedy dalam bahasa Perancis dan Inggris secara simultan yang brilian, dan setiap penampilan Mrs. Maisel di atas panggung yang kali ini terasa jauh lebih matang. This is a gem worth watching.

[lima] Bodyguard

bodyguard-poster
Bodyguard

Now this, this is sexy. Sempat saya kira serial ini adalah adaptasi dari film berjudul sama yang pernah dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston tahun 1992 dulu, namun kemiripan hanya terletak pada judul. Serial dari Inggris ini memang sedikit mengingatkan dengan cerita spionase di film-film 1990-an, lengkap dengan bumbu intrik, skandal, dan sejenisnya. Dibalut dengan latar cerita soal terorisme, serial ini sebenarnya mengungkap banyak hal tentang PTSD (post traumatic stress disorder). Namun kalau kita lebih tertarik mengikuti serial ini karena keseksiannya, ya sudah, nikmati saja.

[empat] The Looming Tower

theloomingtower
The Looming Tower

Now this, this is serious. Awalnya saya sempat “takut” mengikuti serial yang terlihat serius dari trailer dan posternya. Setelah menonton episode pertama, saya sadar bahwa serial ini memang serius. Namun saya tertarik untuk terus mengikuti, karena perlahan-lahan serial ini membawa kita memahami aneka peristiwa yang terjadi sebelum 9/11, yang mempengaruhi proses dan hasil investigasi terkait kejadian naas tersebut. Serial ini sengaja tidak memberikan konklusi yang sahih, karena masih terlalu banyak lapisan soal 9/11 yang belum tuntas di kehidupan nyata.

[tiga] Barry – Season 1

Barry season 1 poster HBO key art
Barry

Serial ini sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak dari episode pertama. What can I say, Bill Hader memang jenius. Ide cerita untuk menempatkan seorang pembunuh bayaran mengikuti kelas akting, menurut saya adalah ide gila yang kalau eksekusinya tidak meyakinkan akan gagal total. Namun serahkan saja pada Hader untuk membuat awkward comedy menjadi sebuah tontonan komedi kelas tinggi yang sangat, sangat menghibur. You won’t regret watching every single episode.

[dua] The Good Place – Season 2

thegoodplace

Terus terang saya telat menonton serial ini. Setelah berulang kali diyakinkan teman saya untuk menonton serial ini, akhirnya baru di pertengahan tahun mulai menonton musim penayangan pertamanya. Beberapa episode awal membuat saya merasa aneh, karena humornya tidak biasa. Lama kelamaan akhirnya saya mulai suka, karena sudah terbiasa dengan karakternya. (Kok seperti proses PDKT waktu mau pacaran ya?) Tapi di season kedualah yang membuat saya takjub dengan serial ini. Muatan teori filsafat, etika dan humaniora dengan mulus diselipkan dalam dialog dan alur cerita, tanpa mengesampingkan pentingnya sebuah serial komedi menjadi lucu. It’s one smart show, if not the smartest comedy show of the year.

[satu] QUEER EYE – Season 1 & 2

queereye

How many shows can make us laugh, cry and feel good at the same time? Rasanya tidak banyak. Dari yang tidak banyak itu, hanya satu yang paling spesial dan sangat membekas di hati saya, yaitu serial “Queer Eye”. Belasan tahun yang lalu, saya mengikuti serial asli “Queer Eye for the Straight Guy” yang menjadi basis serial reality show yang sekarang menjadi program andalan Netflix ini. Alih-alih sekedar mengulang serial aslinya, serial baru justru lebih dari sekedar make-over show. Kelima pria yang menjadi tulang punggung acara ini jelas-jelas membuat dunia lebih baik lewat misi mereka untuk mengubah hidup satu orang.
Menonton “Queer Eye” tidak hanya membuat kita kagum dengan perubahan yang dialami setiap satu orang di satu episode. Namun perubahan yang kita lihat mau tidak mau membuat kita mengakui bahwa setiap orang berhak untuk hidup lebih baik. Dan kesadaran ini, harus diakui, eventually makes us a better person.
And we become a better person, indeed, after watching the show, and accepting the show.
Pantaslah kalau serial ini menjadi pilihan saya sebagai serial favorit saya tahun ini.

Apa tontonan favorit Anda tahun ini?

Bertukar untuk Kebutuhan dan/atau Keinginan

SENDIRIAN di salah satu meja Starbucks depan halte Harmoni, pandangannya menerawang. Jelas, ia tak sedang menatap etalase gelas dan botol-botol minum yang terpajang di samping pintu, sebab pikiran dan kesadarannya sedang tak berada di situ.

Sama sekali tak terusik dengan orang yang berlalu lalang di depannya; yang menggeser-geser meja dan kursi di sebelahnya; yang naik dan turun tangga di sudut ruangan. Ia sepenuhnya tercerap dalam benaknya sendiri.

Enaknya menulis tentang apa?” Ia membatin. Jelas tak mengharapkan munculnya jawaban seketika.

Lagu-lagu berbahasa Inggris soal Natal diputar sebagai latar. Maklum, sudah bulan Desember. Itu sebabnya pula, koleksi gelas dan botol-botol minum yang dijual di sana berhias ornamen setema. Sesekali menarik perhatian pengunjung, membuat mereka berdiri dan mengamati untuk beberapa lama. Ada beberapa di antaranya yang langsung membeli, ada juga yang harus pakai acara berdiskusi.

Kamu ngapain beli? Buat apa?
Ya buat dipakai. Buat minum.
Kan tumbler-mu sudah banyak di rumah, masih bagus-bagus. Ngapain beli lagi?
Ini kan lucu. Edisi Christmas 2018.
Terus kenapa? Kenapa mesti beli?
“Pengen punya.

Mendengar potongan percakapan itu, dia berpikir bahwa adalah hak setiap orang untuk membeli apa pun yang ia inginkan. Asalkan punya uang yang cukup, dan barang tersebut memang tersedia dan memang dijual. Tak ada yang aneh dari realitas tersebut.

Namun, bagaimana dengan kegunaannya? Kadar manfaat dan pemanfaatannya, apa pun benda yang dibeli. Bagaimana dengan perihal kesia-siaan, kemubaziran, dan kekurang-bergunaan yang biasanya baru disadari belakangan? Bagaimana bila justru saking tidak bergunanya barang yang dibeli tadi, ujung-ujungnya malah menjadi sampah, rongsokan, yang bukan hanya membuang-buang uang, tetapi juga menyita tempat penyimpanannya, dan bahkan berpotensi menjadi limbah yang meracuni air, merusak lingkungan, sukar terurai.

Apakah seseorang bisa lepas dari tanggung jawab tersebut? Tanggung jawab atas apa yang ia beli, apa yang ia pergunakan, apa yang tak ia pergunakan, termasuk apa yang ia buang.

Apakah juga merupakan hak setiap orang untuk lalai dalam pengeluaran dan pengaturan keuangan? Jika demikian, seseorang semestinya juga hanya berhak untuk menyesali dan menyalahkan dirinya sendiri ketika tengah mengalami kekeringan finansial atau kurang uang.

Ia teringat akan ungkapan:

Membeli karena butuh, bukan sekadar ingin.

Ada guna, berguna, dan kegunaan di dalamnya.

Antara kebutuhan dan keinginan. Mustahil untuk dapat membahasnya dalam poin-poin kesimpulan yang sumir. Setiap orang memiliki segudang pertimbangan berbeda dalam mengkategorisasi hal-hal yang ia butuhkan, dan yang dia inginkan. Kendati di sisi lain, tak menutup kemungkinan ada orang-orang yang malah belum tahu atau belum mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Wajar saja, tak semua orang memiliki pemahaman, latar belakang sosial ekonomi, serta perilaku ekonomi yang sama. Apa yang dinilai penting bagi seseorang, belum tentu sepenting itu pula bagi seseorang lainnya. Hal ini memberi dampak pada pengalaman kehidupannya masing-masing. Kenyamanan dan keleluasaan, kesusahan dan kesempitan tentu dialami secara perorangan. Ada banyak faktor yang memengaruhinya pula.

Terlepas dari semua itu, terdapat beberapa hal yang disepakati bersama. Kita perlu uang untuk membeli sebagian besar barang keseharian; kita memperoleh uang lewat berbagai cara, termasuk bekerja maupun mendapatkan pemberian; dengan memiliki simpanan, kita cenderung leluasa untuk melakukan pembelian. Maka, saat kita membeli apa pun, itu artinya kita mempergunakan uang yang barangkali telah didapatkan dan kumpulkan lewat usaha.Tak elok bersikap kikir dan melekat, akan tetapi boleh-boleh saja untuk bersikap cermat. Orang Jawa menyebutnya dengan sikap éman-éman~ sayang. Seyogianya dipergunakan sebagaimana mestinya.

Di sisi lain, ada ungkapan berbeda yang terlintas:

We’re creating the demand. We make people buy things they don’t need.

Keberhasilan eksistensial sebuah perusahaan tergambarkan lewat omzet, aset, capaian, dan raihan. Semua diukur secara progresif, artinya selalu meningkat dari waktu ke waktu. Terus memberikan angka yang positif dan surplus, menghindari angka yang negatif dan minus. Lihat saja, angka target pasti selalu bertambah, setidaknya berupa persentase.

Begitupun dengan para pekerjanya. Seorang pemasar, atau tim pemasar yang baik, adalah yang mampu mendorong terjadinya peningkatan penghasilan. Tentu saja lewat peningkatan penjualan. Menggunakan berbagai cara, sudut pandang, dan pendekatan, mereka membuat orang menjadi ingin; mereka mengubah keinginan seolah-olah menjadi kebutuhan; mereka mendorong terjadinya penjualan. Itulah gambaran dasar dari sebuah kesuksesan profesional. Silakan refleksikan pada pekerjaan Anda saat ini.

Semua pekerjaan sejatinya adalah jual beli. Tak hanya barang serta benda-benda fisik, tenaga, suara, komunikasi, pemikiran, sampai identitas, dan jati diri. Selalu ada yang dipertukarkan. Seorang abdi menjual kepatuhan dan dedikasinya kepada sang tuan. Sang tuan membelinya dengan kepercayaan dan sejumlah imbalan.

Sama halnya dengan Anda dan perusahaan tempat Anda bekerja. Anda memang menjual produk dan jasa kepada orang lain, tetapi Anda pun sebenarnya menjual komitmen dan kemampuan kepada perusahaan, demi karier dan penghasilan rutin. Lihatlah secara netral dan apa adanya; apakah itu yang Anda butuhkan, atau inginkan?

Jangan sampai terjebak dilema,” ia bicara dalam hati. Kemudian bersiap pergi. Dia lapar.

Selamat berbelanja.

[]

Buku(-Buku) Tahun Ini

Kalau saya hanya boleh mengutip satu buku saja dari beberapa buku yang saya baca tahun ini, maka mau tidak mau saya akan hanya bisa mengutip bagian terakhir dari buku berjudul “The Humans” karya Matt Haig. Kenapa? Karena di bagian ketiga buku ini, Matt Haig membuat daftar bertajuk “Advice for a Human” sebanyak 97 poin. Saya menyebutnya sebagai manifesto kehidupan.

Kalau beberapa poin terkesan seperti ‘menggurui’, mungkin itu memang disengaja oleh penulisnya. Lagi pula, poin-poin ini masih sesuai dengan sudut pandang karakter utama yang menjadi narator novel ini, yaitu “seorang” alien yang datang ke bumi, menyamar menjadi profesor dengan jenis kelamin laki-laki. Kedatangan alien ke muka bumi untuk, seperti tipikal cerita fiksi ilmiah kebanyakan, menghancurkan kehidupan umat manusia. Namun dalam penyamarannya, alien ini malah takjub dengan flawed characteristics of human beings, dan jatuh cinta dengan cara manusia menjalani kehidupannya.

71VpFLTP-bL

Kalau terdengar klise, memang novel ini klise. Tidak ada yang baru. Tapi bukan berarti hal itu menjadikan novel ini tidak layak baca. Justru sebaliknya. Bab demi bab dihadirkan dengan mulus dalam jalan penceritaan, membuat kita susah berpaling. Seperti layaknya buku cerita yang baik, dengan mudah kita jatuh cinta pada karakter utama, dan rela mengikuti perjalanan beratus-ratus halaman, sampai di bagian akhir.

Kalau tidak percaya, baca saja beberapa poin dari bab “Advice for a Human” di buku “The Humans” ini:

[one] Shame is a shackle. Free yourself.

[two] Don’t worry about your abilities. You have the ability of love. That is enough.

[four] Technology won’t save humankind. Humans will.

[five] Laugh. It suits you.

[nine] Sometimes, to be yourself you will have to forget yourself and become something else.

[eleven] Sex can damage love but love can’t damage sex.

[fifteen] The road to snobbery is the road to misery. And vice versa.

[twenty-two] Don’t worry about being angry. Worry when being angry becomes impossible. Because then you have been consumed.

[twenty-four] New technology, on Earth, just means something you will laugh at in five years. Value the stuff you won’t laugh at in five years. Like love. Or a good poem. Or a song. Or the sky.

[thirty] Don’t aim for perfection. Evolution, and life, only happen through mistakes.

[thirty-seven] Don’t always try to be cool.The whole universe is cool. It’s the warm bits that matter.

[forty-one] Your brain is open. Never let it be closed.

[forty-four] You have the power to stop time. You do it by kissing. Or listening to music. Music, by the way, is how you see things you can’t otherwise see.

[forty-six] A paradox: The things you don’t need to live – books, art, cinema, wine and so on – are the things you need to live.

[fifty-one] Alcohol in the evening is very enjoyable. Hangovers in the morning are very unpleasant. At some point you have to choose: evenings or mornings.

[fifty-three] Don’t ever be afraid of telling someone you love them. There are things wrong with your world, but an excess of love is not one.

[fifty-eight] It is not the length of life that matters. It’s the depth.

[sixty-one] One day, if you get into a position of power, tell people this: Just because you can, it doesn’t mean you should. There is a power and a beauty in unproved conjectures, unkissed lips, and unpicked flowers.

[sixty-five] Don’t think you know. Know you think.

[seventy-three] No one will understand you. It is not, ultimately, that important. What is important is that you understand you.

[seventy-five] Politeness is often fear. Kindness is always courage. But caring is what makes you human. Care more, become more human.

[eighty-two] If you think something is ugly, look harder. Ugliness is just a failure of seeing.

[ninety-five] Be kind to your mother. And try to make her happy.

[ninety-seven] I love you. Remember that.

Wow. There you go.

Bahkan saya sempat gemetaran sendiri saat menulis ulang poin-poin di atas. Padahal buku ini selesai saya baca di bulan Juni, namun efeknya masih terasa sampai sekarang.

Demikian juga dengan buku-buku lain yang membuat saya tersenyum sendiri saat membacanya, yaitu “Less” karya Andrew Sean Greer dan “Spoiler Alert: The Hero Dies” karya Michael Ausiello. Bahkan judul kedua membuat saya diam-diam menitikkan air mata, walaupun sambil tersenyum.
Kok bisa?

Baca saja sendiri, ya. Mumpung cukup banyak waktu luang di akhir tahun.

Selamat membaca!

1_C76PXdoMXtysxqiwkS5iow

PS: Apa buku kesukaan Anda tahun ini?

Ribet Tak Usah Dicari

TAK kenal maka tak sayang, setelah kenal kok malah jadi bajingan?

Banyak dari kita yang pernah, atau tengah merasakan situasi ini. Sebab manusia dengan segala dimensi perasaannya, pasti cenderung tidak netral saat menghadapi sesuatu dalam kehidupannya.

Ada sesuatu yang diharapkan dari seseorang, atau suatu keadaan. “Mudah-mudahan nanti begini“; “semoga nanti begitu“; dan sebagainya. Di sisi lain, ada keraguan dan kekhawatiran baik kepada seseorang yang sama maupun berbeda. “Kenapa begitu, sih? Jangan-jangan…“; “khawatirnya, dia nanti begini…

Tanpa banyak disadari, dua aspek yang saling sebelah-menyebelah ini merupakan sumber kekecewaan. Dari kekecewaan berkembang menjadi kesedihan, ketidaknyamanan, ketidakterimaan atau penolakan, ratapan, penyesalan, atau penderitaan secara umum.

Sekarang, ingin melakukan pendekatan model apa? Yang lebih berorientasi pada diri sendiri, atau justru terfokus pada yang lain?

Pada Diri Sendiri

Kita, diri sendiri ini, adalah subjek sekaligus objek harapan, kekhawatiran, dan kekecewaan. Kita yang menjalani dan terlibat dalam segala prosesnya, kita jugalah yang mengalami hasilnya. Hal-hal yang berada di luar sana merupakan pengkondisi, komponen-komponen yang memberikan stimulus, dan memengaruhi ke mana arah penerimaan kita. Hingga akhirnya, kita sendirilah yang “memutuskan” (secara sadar atau tidak) ingin menerima dan menyikapinya seperti apa.

Pada saat kita memilih untuk berorientasi pada diri sendiri demi menghindari segala hal-hal di atas, maka secara garis besar kita tidak membiarkan diri ini digoyang ke sana kemari oleh perasaan sendiri.

Mustahil memang, untuk sepenuhnya kebal atau tidak takluk terhadap perasaan. Namanya saja sudah “rasa”, sedikit banyak pasti meninggalkan kesan bagi kita selaku penderita. Namun, jangan lupa, “rasa” dan penerimaan kita terhadap “rasa” juga dipengaruhi oleh lingkungan, serta pembiasaan.

Contohnya, kita cenderung terbiasa meratap saat kehilangan. Tak hanya kehilangan sesuatu yang kita usahakan atau hasilkan sendiri, melainkan juga kehilangan sesuatu yang sebenarnya kita peroleh sebagai pemberian. Bukan benar-benar milik kita, tidak sepenuhnya dimiliki oleh kita.

Pada yang Lain

Dari judulnya saja, jelas perspektif ini berorientasi pada segala sesuatu yang berada di luar diri kita. Alih-alih menata respons batin dan pikiran, kita berusaha agar semua hal bisa berjalan dengan baik sesuai keinginan–meskipun tidak ada jaminan bahwa keinginan kita pasti berujung baik. Harapannya, apabila berjalan sesuai gambaran atau kehendak, setidaknya bisa merasa tenteram, tanpa perlu khawatir lagi. Padahal, hidup terus bergulir. Satu urusan kelar, pasti akan muncul urusan berikutnya.

Lantaran berorientasi pada hal-hal lain di luar diri sendiri, pendekatan ini tentu lebih melelahkan fisik dan batin. Setiap dari kita yang mengusahakannya, harus mengalokasikan tenaga, perhatian, sumber daya, dan ketabahan dalam menjalaninya. Lagi-lagi, kita mengerahkan segenap hal, mengupayakan agar semua yang berhubungan dengan kita dapat sesuai harapan. Tatkala gagal dan berjalan di luar rencana, kita kembali harus mengalokasikan tambahan tenaga, perhatian, sumber daya, dan keteguhan baru dalam menghadapinya. Intinya, lebih melelahkan. Walaupun kebanyakan orang malah lebih memilih yang ini, dibanding pendekatan satunya.

Ya sudah. Apa yang terjadi pada mereka dan objek-objek lain di luar kita, terjadilah. Tak perlu ngoyo. Ibarat memencet klakson sekeras dan selama mungkin saat gerbong kereta sedang melintas. Sampai jari pegal atau klakson meledak sekalipun, Anda tidak akan bisa bergerak. Justru dilihat aneh dan mengganggu orang lain, dan andaikan Anda tetap memaksa lewat, selamat bertaruh pakai nyawa. Silakan. Suka-suka Anda sajalah. Kurang lebih seperti itu.

Meminjam perspektif Schopenhauer–filsuf pesimisme–kita, manusia, mustahil bisa terpuaskan. Terhadap keinginan-keinginan yang selalu memenuhi ruang batin kita, akan muncul polemik. Ketika kita mencapainya, kita bisa merasa bosan dan excitement atau kesenangannya dapat menurun; tetapi ketika kita gagal mencapainya, kita dilanda kekecewaan. Manusia, menurut filsuf yang lebih sayang anjing pudelnya ketimbang manusia-manusia lain itu, akan selalu berayun antara penderitaan (akibat tidak mendapatkan yang diinginkan) dan kebosanan atau kejenuhan. Di sisi lain, kita pun cenderung selalu dibuat resah oleh diri sendiri. Resah karena akan selalu muncul keinginan-keinginan baru, bahkan saat keinginan-keinginan sebelumnya masih menggantung.

Dipenuhi tumpukan keinginan yang entah bagaimana atau kapan bisa tercapai, silakan dibayangkan seperti apa rasanya menjalani kehidupan yang begitu? Maka, kita memerlukan keterampilan menyikapi dan menjalani hidup. Banyak pilihannya, mau menggunakan sudut pandang agama, kepatutan sosial, etika dan moralitas, dan sebagainya. Dua pendekatan di atas, hanya sekelumit dari beragam pilihan yang tersedia.

Tak kenal maka tak sayang. Setelah kenal pun tidak mesti harus sayang.

Setelah kenal kok malah jadi bajingan? Bajingan terhadap siapa? Apakah dia menjadi bajingan bagi dirinya sendiri; bagi orang lain; atau bagi dirimu? Lalu, apakah dia menyadari dan memandang dirinya sendiri sebagai bajingan? Apakah orang lain juga merasa dan memandangnya sebagai bajingan? Apakah kamu merasa dan menganggapnya sebagai bajingan? Kalau iya, mengapa kamu memberikan kesempatan padanya untuk bisa menjadi bajingan? Kesempatan, bisa berupa penerimaanmu sendiri terhadapnya, atau keteledoranmu untuk jatuh dalam kebajinganannya.

[]