Buku(-Buku) Tahun Ini

Kalau saya hanya boleh mengutip satu buku saja dari beberapa buku yang saya baca tahun ini, maka mau tidak mau saya akan hanya bisa mengutip bagian terakhir dari buku berjudul “The Humans” karya Matt Haig. Kenapa? Karena di bagian ketiga buku ini, Matt Haig membuat daftar bertajuk “Advice for a Human” sebanyak 97 poin. Saya menyebutnya sebagai manifesto kehidupan.

Kalau beberapa poin terkesan seperti ‘menggurui’, mungkin itu memang disengaja oleh penulisnya. Lagi pula, poin-poin ini masih sesuai dengan sudut pandang karakter utama yang menjadi narator novel ini, yaitu “seorang” alien yang datang ke bumi, menyamar menjadi profesor dengan jenis kelamin laki-laki. Kedatangan alien ke muka bumi untuk, seperti tipikal cerita fiksi ilmiah kebanyakan, menghancurkan kehidupan umat manusia. Namun dalam penyamarannya, alien ini malah takjub dengan flawed characteristics of human beings, dan jatuh cinta dengan cara manusia menjalani kehidupannya.

71VpFLTP-bL

Kalau terdengar klise, memang novel ini klise. Tidak ada yang baru. Tapi bukan berarti hal itu menjadikan novel ini tidak layak baca. Justru sebaliknya. Bab demi bab dihadirkan dengan mulus dalam jalan penceritaan, membuat kita susah berpaling. Seperti layaknya buku cerita yang baik, dengan mudah kita jatuh cinta pada karakter utama, dan rela mengikuti perjalanan beratus-ratus halaman, sampai di bagian akhir.

Kalau tidak percaya, baca saja beberapa poin dari bab “Advice for a Human” di buku “The Humans” ini:

[one] Shame is a shackle. Free yourself.

[two] Don’t worry about your abilities. You have the ability of love. That is enough.

[four] Technology won’t save humankind. Humans will.

[five] Laugh. It suits you.

[nine] Sometimes, to be yourself you will have to forget yourself and become something else.

[eleven] Sex can damage love but love can’t damage sex.

[fifteen] The road to snobbery is the road to misery. And vice versa.

[twenty-two] Don’t worry about being angry. Worry when being angry becomes impossible. Because then you have been consumed.

[twenty-four] New technology, on Earth, just means something you will laugh at in five years. Value the stuff you won’t laugh at in five years. Like love. Or a good poem. Or a song. Or the sky.

[thirty] Don’t aim for perfection. Evolution, and life, only happen through mistakes.

[thirty-seven] Don’t always try to be cool.The whole universe is cool. It’s the warm bits that matter.

[forty-one] Your brain is open. Never let it be closed.

[forty-four] You have the power to stop time. You do it by kissing. Or listening to music. Music, by the way, is how you see things you can’t otherwise see.

[forty-six] A paradox: The things you don’t need to live – books, art, cinema, wine and so on – are the things you need to live.

[fifty-one] Alcohol in the evening is very enjoyable. Hangovers in the morning are very unpleasant. At some point you have to choose: evenings or mornings.

[fifty-three] Don’t ever be afraid of telling someone you love them. There are things wrong with your world, but an excess of love is not one.

[fifty-eight] It is not the length of life that matters. It’s the depth.

[sixty-one] One day, if you get into a position of power, tell people this: Just because you can, it doesn’t mean you should. There is a power and a beauty in unproved conjectures, unkissed lips, and unpicked flowers.

[sixty-five] Don’t think you know. Know you think.

[seventy-three] No one will understand you. It is not, ultimately, that important. What is important is that you understand you.

[seventy-five] Politeness is often fear. Kindness is always courage. But caring is what makes you human. Care more, become more human.

[eighty-two] If you think something is ugly, look harder. Ugliness is just a failure of seeing.

[ninety-five] Be kind to your mother. And try to make her happy.

[ninety-seven] I love you. Remember that.

Wow. There you go.

Bahkan saya sempat gemetaran sendiri saat menulis ulang poin-poin di atas. Padahal buku ini selesai saya baca di bulan Juni, namun efeknya masih terasa sampai sekarang.

Demikian juga dengan buku-buku lain yang membuat saya tersenyum sendiri saat membacanya, yaitu “Less” karya Andrew Sean Greer dan “Spoiler Alert: The Hero Dies” karya Michael Ausiello. Bahkan judul kedua membuat saya diam-diam menitikkan air mata, walaupun sambil tersenyum.
Kok bisa?

Baca saja sendiri, ya. Mumpung cukup banyak waktu luang di akhir tahun.

Selamat membaca!

1_C76PXdoMXtysxqiwkS5iow

PS: Apa buku kesukaan Anda tahun ini?

Advertisements
Spark firework

Ribet Tak Usah Dicari

TAK kenal maka tak sayang, setelah kenal kok malah jadi bajingan?

Banyak dari kita yang pernah, atau tengah merasakan situasi ini. Sebab manusia dengan segala dimensi perasaannya, pasti cenderung tidak netral saat menghadapi sesuatu dalam kehidupannya.

Ada sesuatu yang diharapkan dari seseorang, atau suatu keadaan. “Mudah-mudahan nanti begini“; “semoga nanti begitu“; dan sebagainya. Di sisi lain, ada keraguan dan kekhawatiran baik kepada seseorang yang sama maupun berbeda. “Kenapa begitu, sih? Jangan-jangan…“; “khawatirnya, dia nanti begini…

Tanpa banyak disadari, dua aspek yang saling sebelah-menyebelah ini merupakan sumber kekecewaan. Dari kekecewaan berkembang menjadi kesedihan, ketidaknyamanan, ketidakterimaan atau penolakan, ratapan, penyesalan, atau penderitaan secara umum.

Sekarang, ingin melakukan pendekatan model apa? Yang lebih berorientasi pada diri sendiri, atau justru terfokus pada yang lain?

Pada Diri Sendiri

Kita, diri sendiri ini, adalah subjek sekaligus objek harapan, kekhawatiran, dan kekecewaan. Kita yang menjalani dan terlibat dalam segala prosesnya, kita jugalah yang mengalami hasilnya. Hal-hal yang berada di luar sana merupakan pengkondisi, komponen-komponen yang memberikan stimulus, dan memengaruhi ke mana arah penerimaan kita. Hingga akhirnya, kita sendirilah yang “memutuskan” (secara sadar atau tidak) ingin menerima dan menyikapinya seperti apa.

Pada saat kita memilih untuk berorientasi pada diri sendiri demi menghindari segala hal-hal di atas, maka secara garis besar kita tidak membiarkan diri ini digoyang ke sana kemari oleh perasaan sendiri.

Mustahil memang, untuk sepenuhnya kebal atau tidak takluk terhadap perasaan. Namanya saja sudah “rasa”, sedikit banyak pasti meninggalkan kesan bagi kita selaku penderita. Namun, jangan lupa, “rasa” dan penerimaan kita terhadap “rasa” juga dipengaruhi oleh lingkungan, serta pembiasaan.

Contohnya, kita cenderung terbiasa meratap saat kehilangan. Tak hanya kehilangan sesuatu yang kita usahakan atau hasilkan sendiri, melainkan juga kehilangan sesuatu yang sebenarnya kita peroleh sebagai pemberian. Bukan benar-benar milik kita, tidak sepenuhnya dimiliki oleh kita.

Pada yang Lain

Dari judulnya saja, jelas perspektif ini berorientasi pada segala sesuatu yang berada di luar diri kita. Alih-alih menata respons batin dan pikiran, kita berusaha agar semua hal bisa berjalan dengan baik sesuai keinginan–meskipun tidak ada jaminan bahwa keinginan kita pasti berujung baik. Harapannya, apabila berjalan sesuai gambaran atau kehendak, setidaknya bisa merasa tenteram, tanpa perlu khawatir lagi. Padahal, hidup terus bergulir. Satu urusan kelar, pasti akan muncul urusan berikutnya.

Lantaran berorientasi pada hal-hal lain di luar diri sendiri, pendekatan ini tentu lebih melelahkan fisik dan batin. Setiap dari kita yang mengusahakannya, harus mengalokasikan tenaga, perhatian, sumber daya, dan ketabahan dalam menjalaninya. Lagi-lagi, kita mengerahkan segenap hal, mengupayakan agar semua yang berhubungan dengan kita dapat sesuai harapan. Tatkala gagal dan berjalan di luar rencana, kita kembali harus mengalokasikan tambahan tenaga, perhatian, sumber daya, dan keteguhan baru dalam menghadapinya. Intinya, lebih melelahkan. Walaupun kebanyakan orang malah lebih memilih yang ini, dibanding pendekatan satunya.

Ya sudah. Apa yang terjadi pada mereka dan objek-objek lain di luar kita, terjadilah. Tak perlu ngoyo. Ibarat memencet klakson sekeras dan selama mungkin saat gerbong kereta sedang melintas. Sampai jari pegal atau klakson meledak sekalipun, Anda tidak akan bisa bergerak. Justru dilihat aneh dan mengganggu orang lain, dan andaikan Anda tetap memaksa lewat, selamat bertaruh pakai nyawa. Silakan. Suka-suka Anda sajalah. Kurang lebih seperti itu.

Meminjam perspektif Schopenhauer–filsuf pesimisme–kita, manusia, mustahil bisa terpuaskan. Terhadap keinginan-keinginan yang selalu memenuhi ruang batin kita, akan muncul polemik. Ketika kita mencapainya, kita bisa merasa bosan dan excitement atau kesenangannya dapat menurun; tetapi ketika kita gagal mencapainya, kita dilanda kekecewaan. Manusia, menurut filsuf yang lebih sayang anjing pudelnya ketimbang manusia-manusia lain itu, akan selalu berayun antara penderitaan (akibat tidak mendapatkan yang diinginkan) dan kebosanan atau kejenuhan. Di sisi lain, kita pun cenderung selalu dibuat resah oleh diri sendiri. Resah karena akan selalu muncul keinginan-keinginan baru, bahkan saat keinginan-keinginan sebelumnya masih menggantung.

Dipenuhi tumpukan keinginan yang entah bagaimana atau kapan bisa tercapai, silakan dibayangkan seperti apa rasanya menjalani kehidupan yang begitu? Maka, kita memerlukan keterampilan menyikapi dan menjalani hidup. Banyak pilihannya, mau menggunakan sudut pandang agama, kepatutan sosial, etika dan moralitas, dan sebagainya. Dua pendekatan di atas, hanya sekelumit dari beragam pilihan yang tersedia.

Tak kenal maka tak sayang. Setelah kenal pun tidak mesti harus sayang.

Setelah kenal kok malah jadi bajingan? Bajingan terhadap siapa? Apakah dia menjadi bajingan bagi dirinya sendiri; bagi orang lain; atau bagi dirimu? Lalu, apakah dia menyadari dan memandang dirinya sendiri sebagai bajingan? Apakah orang lain juga merasa dan memandangnya sebagai bajingan? Apakah kamu merasa dan menganggapnya sebagai bajingan? Kalau iya, mengapa kamu memberikan kesempatan padanya untuk bisa menjadi bajingan? Kesempatan, bisa berupa penerimaanmu sendiri terhadapnya, atau keteledoranmu untuk jatuh dalam kebajinganannya.

[]