Jilbabphilia?

FEITICO. Sebuah kata yang kurang lebih bisa diartikan “pesona; pukau; pikat; atau daya tarik” dalam bahasa Portugis. Dari istilah ini sebutan fetish berasal, merujuk dan menggambarkan ketertarikan seksual-obsesif seseorang pada berbagai hal.

Seksual, lantaran bisa mengantarkan seseorang mencapai sensasi kenikmatan atau kepuasan seksualnya. Baik yang dilakukan dengan partner, atau hanya oleh diri sendiri.

Obsesif, lantaran membuat seseorang tersebut gandrung, memberikan dorongan yang tak terbendung secara psikis, sehingga cenderung selalu dikejar.

Tak mesti genitalia atau aktivitas seksual penetratif itu sendiri, objek fetish meliputi banyak hal yang bersifat unik dan personal. Termasuk bagian tubuh tertentu, benda-benda tertentu, tindakan atau aktivitas tertentu, maupun sensasi jasmani tertentu. Saking unik dan personalnya, terhitung ada lebih dari 549 fetish yang teridentifikasi—dinamai pakai istilah Latin—dan berpotensi terus bertambah.

Sebagai sesuatu yang atipikal, atau tidak sebagaimana biasanya, tanggapan terhadap ratusan fetish itu mengalami perubahan seiring waktu dan lingkungan sosial manusia. Ada yang dahulu dianggap aneh, kini dianggap wajar dan biasa-biasa saja. Namun, sebagian besar fetish masih/tetap dianggap ganjil, menabrak norma-norma sosial setempat, membuat tidak nyaman, bahkan membahayakan. Barangkali karena itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut fetish dengan parafilia, yang langsung diterjemahkan: Ketertarikan seksual pada hal-hal yang tidak biasa atau tabu.

Padahal menurut Justin Lehmiller, Ph.D, seorang psikolog-ilmuwan Harvard, hampir semua hal berkemungkinan memiliki asosiasi hasrat seksual bagi seseorang.

“Pretty much anything you can think of, someone out there probably has sexual associations attached to it.”

… dan bisa saja, inilah yang terjadi dengan fenomena Akhwat Hunter.

Dari sejumlah pernyataan dalam utas twit di atas, izinkan saya mengistilahkannya “Jilbabphilia”. Sebab—ini baru asumsi, dan harap koreksi saya bila keliru—entah mereka sadari atau tidak, fenomena Akhwat Hunter menyinggung fetishism. Mengacu pada dua komponen yang selalu hadir:

  1. Para wanita berjilbab sebagai objek yang dinikmati.
  2. Adanya ekspresi seksual dari para penikmat, baik secara perorangan maupun berkelompok.

Menyimak isi cuplikan percakapan tadi, para Akhwat Hunter itu—kelihatannya—belum menikah. Sejauh ini hanya bisa bermasturbasi sambil melihat foto-foto wanita berjilbab, dan belum diketahui apakah setelah menikah nanti mereka lebih suka pasangannya tetap berpenutup kepala saat senggama, atau telanjang sepenuhnya.

Seseorang dengan fetish tertentu, sejatinya tidak bisa mencapai klimaks seksual tanpa kehadiran objek fetish terkait. Bukan sekadar fantasi, atau bumbu keintiman (kinky). Dalam kasus Akhwat Hunter, tak menutup kemungkinan mereka mesum doang. Sampai akhirnya biar mereka sendiri yang membuktikan.

Di sisi lain, dikenal pula istilah garment fetishism. Yaitu hasrat seksual yang dipicu oleh jenis atau bagian pakaian tertentu. Misalnya, seragam, rok mini, lingerie, dan sebagainya, baik dikenakan salah satu atau kedua pihak terlibat.

Kembali lagi, fetish berada dalam spektrum yang unik dan personal. Bersifat pribadi, kecuali ketahuan atau sengaja diumbar-umbar kepada orang lain. Tatkala objek fetish berupa foto-foto wanita berjilbab sengaja diekspose dan ditunjukkan ke publik oleh akun-akun anonim, bahkan lengkap dengan ekspresi seksualnya, itu sudah merupakan pelecehan. Tak ada consent di situ, persetujuan dan kesepakatan kedua belah pihak.

Parahnya lagi, perbuatan tersebut mereka kait-kaitkan dengan narasi agama. Mengingat kerudung jilbab, beragam model hijab, sampai cadar nikab identik sebagai busana keagamaan dengan seperangkat argumentasinya. Dengan demikian, tak peduli seberapa tertutupnya pakaian para wanita tersebut, mereka akan selalu diseksualisasi—dieksploitasi seksual—oleh pria-pria Jilbabphilia. Baca saja alasan-alasan mereka yang begitu didramatisasi.

Atas narasi agama tersebut, alih-alih mengendalikan diri, para Akhwat Hunter itu lebih suka melempar kesalahan pada orang lain, mempertahankan posisi sebagai yang paling benar, dan seolah-olah berhak menghakimi. Seperti tulisan pertama saya di Linimasa, soal Jilboobs. Pasalnya, bagaimanapun juga, kita adalah tuan dari tubuh dan kehendak kita, bukan sebaliknya. Pengendalian diri bisa dilatih. Jangan manja.

Terlepas dari itu semua, mungkin saja para Akhwat Hunter atau pria-pria Jilbabphilia tadi hanya sekelompok orang ngacengan, punya latar belakang dan kebiasaan yang tak lazim mengenai jilbab, serta sok religius.

[]

Bisa dibaca juga:

https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/fetishistic-disorder
https://bigthink.com/philip-perry/are-sexual-fetishes-psychologically-healthy
Advertisements

One thought on “Jilbabphilia?

Leave a Reply