Bola Mati Meninggalkan Tanya

Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama. Lalu, jika media mati, dia akan meninggalkan apa?

Perkenalan saya dengan Marco Van Basten, Salvatore Schillaci, Lothar Matthaus hingga terbawa mimpi bukan diawali dengan bersalaman dengan mereka, atau menunggu mereka latihan lalu mengejar dan meminta tanda tangan di tepi lapangan hijau. Perkenalan saya dengan mereka adalah karena tulisan Rayana Jakasurya di tabloid Bola. Saat perhelatan Piala Dunia saya mengumpulkan seluruh data pemain berdasarkan buku koleksi sticker panini. Hanya saja sticker Panini cuma menampilkan wajah para pemain dan tim yang dibelanya. Tak ada kisah di balik layar. Tidak ada cerita soal bagaimana AC Milan termehek-mehek dengan trio Belanda dan tim rival sekotanya, Inter Milan, memilih trio Jerman. Saat itulah Bola hadir bercerita dengan giat kisah pemain, sejarah stadion, ruap semangat sepakbola dengan para suporternya.

Anehnya, dari tabloid bola juga saya menjadi tertarik dengan dunia kartun. Saat itu karikatur media dikuasasi grup Kokkang. Namun bola punya maskot tersendiri dengan “sepakbola Ria” dari Nunk. Bentuk wajah lonjong bagai ikan louhan. Tapi dari wajahnya yang unik dan kocak ini sungguh menampilkan karakter “orang Indonesia”.

Masa keemasan itu rupanya hanya sesaat. masa keemasan dalam ingatan. Ketika media televisi mulai rutin menayangkan Liga negara-negara eropa, tabloid Bola bisa jadi semakin berjaya. Masyarakat butuh literasi mumpuni. Siapa sih pemain jagoan yang piawai menggiring bola semalam? Mereka mencari profilnya dari tabloid bola. Untungnya bola begitu responsif. Pemain bola favorit dikupas tuntas. Walau masih muda, jika sedang naik daun, wartawan bola akan selalu menurunkan berita tentangnya. David Platt, David Beckham, Ryan Giggs, Bebeto, Steve McMannaman, Eric Cantona, David Ginola sering menjadi cover depan majalan Bola. Tentu saja salah satu alasannya karena aksi mereka di atas rumput membuat fans bola berdecak kagum.

Dahulu belum ada youtube, sehingga satu-satunya cara menyaksikan aksi mereka adalah pasrah. Menunggu siaran berita bola di sepertiga penghujung Dunia Dalam Berita. Juga menunggu dengan sabar liputan Max Sopacua dalam Arena dan Juara. Di era tivi swasta Bola makin terbantu dengan berita dalam siaran fitur Planet Football. Media saat itu saling bahu-membahu. Sebuah hubungan simbiosis mutualisme.

Lalu entah kenapa, di era digital hubungan manis antar media tak lagi terjadi. Darah media, termasuk media cetak, yaitu pemasukan dari iklan semakin menurun. Mana mungkin mencari untung dari penjualan koran semata. Apalagi sifat dari tabloid olahraga yang harus rajin beranjang sana meliput pertandingan, dihiasi foto yang apik dan tulisan dengan analisis tajam, sungguh menguras kocek.

Tabloid olahraga memang berbeda dengan media cetak yang bicara soal politik. beberapa media cetak politik juga banyak yang pernah wafat. Bedanya, sebagian dari mereka wafat karena dibredel. Sebuah wafat wajib hukumnya dikarenakan berseberangan dengan “pencabut nyawa”. Justru lebih menyakitkan jika wafatnya Bola dikarenakan kondisi ekonomi. Sebuah pilihan yang harus diambil sendiri dengan -tentu saja- berpikir masak-masak, termasuk di dalamnya sumbangsih dalam sejarah perkembangan olahraga nusantara.

Maka akhirnya sudah dapat diduga. Bola menyusul banyaknya media cetak lain yang terpaksa gulung tikar. Sebelumnya “Hai” versi cetak melakukan hal yang serupa. Bagaimanapun juga, media cetak, terutama milik gramedia, begitu sensitif soal ada tidaknya laba. Sesuatu yang lumrah. Mereka sedang tidak kerja bakti menyebar selebaran propaganda. Mereka sedang ingin membentuk kelompok patembayan, bukan paguyuban.

Jika manusia mati mengharap alam nirwana, maka kemanakah media cetak mati akan berlabuh?

Advertisements

Leave a Reply